Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 83


__ADS_3

"bagaimana?" tanya Zafa. kini Zafa dan Tristan sudah berada di ruang kerja Tristan.


"aneh! dari informasi yang gue dapat Jira sudah yatim piatu sejak bayi, makanya ia berada di panti asuhan. gue selidiki lebih dalam gue nggak menemukan data orang tua Jira. semua bersih tak ada jejak" terang tristan memberikan sebuah amplop pada Zafa.


"lalu bagaimana dengan uncle Jhon itu?"


Tristan menggeleng "tidak ada informasi selain itu" jelas Tristan lagi.


Zafa menghembuskan nafas panjang. ada sesuatu yang disembunyikan istrinya.


"sebaiknya lo tanya sama Jira" saran Tristan.


"Jira sepertinya sengaja menutupinya dari gue" jelas Zafa


"hhmm... coba bicara dulu baik-baik, pasti dia punya alasannya. oh ya... gue sudah mendapatkan orang untuk pengganti gue. " kata Tristan.


"siapa? apa dia bisa dipercaya untuk jadi tangan kanan gue? " tanya Zafa penasaran.


"besok dia akan datang kesini dan langsung bekerja.gue sudah memastikan orang yang akan bekerja untuk lo pastinya dia bisa jadi tangan kanan lo"


"ok kalau begitu besok pagi dia langsung keruangan gue. gue pulang dulu" kata Zafa bangkit dari duduknya.


"masalah Jira tadi usahakan bicara baik-baik, jangan sampai dia tau kita mencari informasi tentang identitas nya" inggat Tristan.


Zafa keluar dari ruang kerja Tristan menjemput istrinya yang sedang di ruang divisi disain lalu pulang menuju hunian mereka yang terletak di puncak sebuah gedung.


* esok pagi *


"kamu duluan ke atas ya, aku ketemu anak-anak disain dulu, ada sedikit masalah di sana. jadi aku mau bantu sedikit" kata Jira pada suaminya.


"hhmm... jangan lama-lama" pinta Zafa mencium pipi istrinya saat mereka berpisah di lift.


sampai di ruangannya Zafa sudah ditunggu oleh Tristan dan juga seorang pria bertubuh tinggi dan kekar. tampangnya hampir seumuran dengan Zafa. hanya saja wajahnya terlalu serius.


"perkenalkan ini Devin Zen" kata Tristan pada Zafa.


pria itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Zafa "bisa di panggil Zen tuan".


" Zafa" balasnya.


"Zen sudah tau dan paham akan pekerjaannya. jadi lo bisa mulai memperkerjakan Zen. gue balik dulu ke ruang kerja ada banyak kerjaan yang sudah menunggu" kata Tristan. "Zen selamat bekerja" ucap Tristan menepuk bahu pria itu dan melangkah pergi.


"Zen mulai sekarang kamu akan menjadi tangan kanan saya, sesuai yang dijelaskan Tristan saya yakin kamu sudah paham dengan tugas kamu. untuk pekerjaan saya di kantor ini akan di urus istri saya, kamu juga harus menjaga istri saya. sebentar lagi dia akan datang" jelas Zafa panjang lebar duduk di bangku kebesarannya.

__ADS_1


tugas Zen disini adalah untuk menjaga Zafa yang paling utama. juga Zen akan diberikan tugas yang tak berhubungan dengan kantor.seperti menyelidiki seseorang, mencari informasi yang diperlukan pokoknya tugas yang selama ini dilakukan Tristan yang pastinya Jira tak bisa melakukan itu.


"baik tuan saya mengerti" jawab Zen


tiba-tiba pintu ruang kerja Zafa terbuka.


"saya... ng" Jira kaget saat melihat kehadiran Zen di sana.


"honey, sini" pinta Zafa . "ini Zen dia akan mengantikan tugas Tristan. dan Zen perkenalkan ini istri saya Jira".


" selamat pagi nona Jira" sapa Zen membungkuk.


"pa... pagi" jawab Jura gugup.


"kenapa sayang?" tanya Zafa heran melihat raut wajah istrinya terlihat tegang.


Jira menggeleng "a.. aku nggak apa-apa, hanya kaget saja ada seorang pria baru disini" jelas Jira terbata.


"Zen kamu bisa keluar di sana sudah ada meja kerja untuk kamu, patinya Tristan sudah mengirim email tugas kamu" jelas Zafa.


"saya permisi tuan dan nona" kata Zen kembali membungkuk.


"kamu kenapa? kok kaget gitu ketemu Zen? kamu kenal?" tanya Zafa.


"nggak aku kaget aja! oh ya Tristan dapat dari mana itu penggantinya?"


Jira memaksakan senyum "ayo sekarang kamu sudah mulai memeriksa laporan dan beberapa berkas".


" kiss" Zafa memberikan pipi


"muach " Jira mengecup pipi suaminya dan berpindah ke meja kerjanya.


entah apa yang ada dipikiran Jira saat ia melihat Zen bekerja bersama suaminya.pasti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.ia harus menemui Zen dan bicara empat mata dengan pria itu untuk memastikan sesuatu.


sore hari sudah datang. cahaya mentari sudah tampak merah menandakan ia kan segera terbenam dan malam akan segera hadir.


"mulai sekarang Zen juga akan menjadi supir pribadi kita" jelas Zafa pada Jira saat mereka sudah didalam mobil.


Jira mengangguk paham "kamu tinggal dimana zen?"


"saya tinggal di gedung yang sama dengan nona dan tuan.di lantai 40 kamar 39" jawab Zen


sampai di basement pasangan suami istri itu memaiki lift pribadi menuju tempat tinggal mereka.

__ADS_1


sampai di rumahnya jira menganti pakaian dan segera memasak untuk makan malam.


"kok kamu masak banyak sayang?" tanya Zafa tiba-tiba datang memeluk istrinya dari belakang.


"ih, kamu kebiasaan deh kagetin aku" kesal Jira memukul tangan suaminya.


"maaf istri ku. kenapa tumben masak banyak?"


"aku mau antar untuk Zen. kasian ini pertama kali di kerja dan juga dia sendiri kan disini" jelas Jira.


Zafa mengangguk paham lalu duduk di kursi meja makan.mereka berdua menyantap makan malam sambil bercerita sedikit soal pekerjaan. lalu membahas hal-hal lain. Zafa sengaja belum menanykan kembali tentang orang tua Jira ia akan memilih waktu yang tepat pikirnya.


"hubby, aku antar makanan dulu untuk Zen ya" izin Jira


"aku ikut".


"nggak usah" tolak Jira dengan kelima jarinya. "kamu kan ada pekerjaan yang harus di selesaikan. lagian aku cuma sebentar" jelas Jira.


"ok deh, janji ya jagan lama-lama"


Jira tersenyum senang dan mengangguk. ia bergegas memasuki lift turun kelantai 40.sampai di sana Jira menekan bel kamar 39.


tin... tong...


bip... pintu terbuka.


"nona Jira" kaget Zen di depan pintu.


Jira menerobos masuk meletakkan rantang berisi makanan di atas meja.


"kenapa kamu bisa kerja sama Zafa? mana uncle Jhon? dan bagaimana bisa Tristan merekrut kamu?apa mereka tau kamu anak buah uncle Jhon?"


tanya Jira beruntun berkacak pinggang.


"nona pertanyaan mana yang harus saya jawab dulu? tanya Zen menunduk.


"semuanya"


"maaf nona semua ini sudah di atur oleh tuan Jhon. saya hanya menjalankan perintah.tuan Jhon berpesan agar anda bersabar menunggu kedatangan beliau" jelas Zen.


Jira mondar mandir lalu menghembuskan nafas " jika sampai uncle Jhon tidak menepati janjinya aku akan jelaskan semuanya pada Zafa" ancam Jira.


"nona, mohon bersabar lah. jangan sampai perjuangan tuan Jhon sia-sia".

__ADS_1


"tapi aku lelah Zen, jika harus terus bersembunyi. apalagi aku sudah punya suami, aku ingin hidup tenang bersama keluarga ku Zen" terang Jira emosi.


"nona mohon tunggu saja kedatangan tuan Jhon. beliau sedang mencari bukti agar nona bisa mendapatkan harta itu".


__ADS_2