Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 112


__ADS_3

"Jira nggak apa-apa Ma,tadi mualnya kambuh lagi, sampai dia pucat, lemas terus pingsan," jawab Zafa masih setia memandang wajah istrinya yang masih tampak pucat.


"Kok bisa?"


"Tadi aku coba masak makan siang buat Zafa Ma,ternyata bau bahan makanan mentah bikin aku mual lagi dan mualnya nggak mau hilang," terang Jira yang menjawab pertanyaan Mama mertuanya.


"Tapi calon cucu Mama nggak apa-apa kan?"


"Mereka baik-baik aja kok Mam, dan juga sehat. dokter juga bilang berat badan mereka juga sudah bertambah," jelas Zafa mengelus lalu mencium perut buncit istrinya.


"Mereka? maksud kamu... "


"Ia Mam, Jira hamil kembar, Mama bakalan punya cucu dua," tambah Zafa.


"Alhamdulillah, ini rezeki lebih namanya.Tuhan membalas keikhlasan kita saat menerima kemungkinan terburuk waktu Jira tetap ingin mempertahankan anak kalian," seru Fanya menitikkan air mata.


"Kami berdua juga pikir begitu Ma.Aku keluar dulu pangil Zen, pasti dia masih khawatir sama kondisi Jira," kata Zafa menitip sang istri pada Mamanya lalu melangkah keluar memanggil Zen.


"Ayo, kalian boleh masuk.keadaan Jira sudah membaik," ajak Zafa pada Zen dan Lila.


"Gimana kondisi adek gue? dari tadi gue tanya lo nggak jawab," ketus Zen kesal pada adik iparnya itu.


"Sorry bro, gue lupa karena terlalu senang jadi gue nggak ingat buat jelasin kondisi Jira."


"Ia terus gimana kondisinya kak Jira Pak Zafa," giliran Lila yang sewot akhirnya karena Zafa tak kunjung menjelaskan.


"Mending kalian masuk kedalam dulu, kita ngobrol di dalam," putus Zafa kembali menuju ruang rawat istrinya di ikuti Zen dan Lila dari belakang.


"Kakak" panggil Jira kala Zen sudah berada di ruang rawatnya.


"Gimana kondisi kamu Ra? kamu sudah merasa baikan? "


Jira mengangguk lalu memeluk Zen yang berdiri di samping brankar.


"Kondisinya sehat, cuma lemas aja tadi karena muntah terlalu banyak jadinya kekurangan cairan.kata dokter habis cairan infus Jira boleh pulang," jelas Zafa ikut duduk di sisi brankar. "Dan lo, bakalan nambah lagi satu ponakan."


"Maksudnya? Jira hamil lagi gitu?" bingung Zen

__ADS_1


"Masak gitu aja nggak ngerti sih Mas?aku pikir kamu pintar, tapi bisa bodoh juga ternyata," timpal Lila menarik Zen mundur sedikit agar ia bisa memberi selamat pada Jira calon adik iparnya.


"Selamat ya Kak, semoga dedek kembarnya sehat-sehat terus sampai nanti melahirkan," kata Lila merangkul ibu hamil itu.


"Terimakasih tante Lila," balas Jira menirukan suara anak kecil.


"Jadi Jira hamil anak kembar?" tanya Zen yang masih bingung.


"Ia" jawab semua orang serempak lalu mereka menertawakan kebodohan Zen bersama.


🌵🌵🌵


"Gimana acara peresmian besok sayang?" tanya Jira pada Zafa yang sedang menyuapi sang istri makan malam di kamar mereka.Karena tadi sore kondisi Jira sudah baik-baik saja dokter memperbolehkan ibu hamil itu pulang dengan syarat tidak boleh melakukan kegiatan di luar rumah.


"Zen sudah mengurusnya, besok cuma akan ada media dan wartawan.beberapa tamu yang di undang di batalkan."


"Maaf ya aku bikin kamu dan Kak Zen kerepotan."


"Nggak kok sayang.Aku senang acaranya simpel dan nggak banyak tamu,cuma beberapa rekan bisnis juga media.Setelah itu aku bisa langsung pulang."


"Ada Papa ada uncle Jhon ,Tristan dan ada Zen juga. Aku mau menemani istri dan juga anak-anak kita," jelas Zafa mengelus perut istrinya. "Sekarang minum vitamin ya." Jira bisa dibilang wanita yang beruntung bisa menikah dengan pria tampan dan kaya raya seperti Zafa. Laki-laki yang penyayang istri itu bukan hanya pintar dalam mengurus perusahaan tapi ia juga hebat dalam mengurus dalam merawat sang istri.Semua kebutuhan Jira ia sendiri yang menyiapkannya.


"Hubby, sini," ajak Jira manja saat Zafa kembali dari dapur.


"Kenapa, hem?" Zafa ikut duduk di samping sang istri di atas kasur.


"Kangen."


"Hahaha... aku cuma tinggal sebentar udah kangen," tawa Zafa memeluk sang istri.


"Nggak tau, kangen aja pokoknya," jawab Jira manja mengeratkan pelukannya dan menempelkan wajahnya di dada bidang itu menghirup dalam aroma tubuh suaminya."


"Jangan gini sayang, jangan goda aku," tolak Zafa saat jira mengecup bibirnya.


"kenapa?"


"Nanti aku takut khilaf, kamu ingat kan pesan dokter tadi nggak boleh dulu seminggu ini. kamu harus istirahat," jelas Zafa.

__ADS_1


"Aku nggak goda kamu, cuma mau cium aja.kamu nya aja yang mesum," bantah Jira memanyunkan mulutnya. "Bobok yuk, aku ngantuk."


"Sini tidurnya aku peluk," ajak Zafa menepuk dadanya, tempat favorit sang istri saat tidur.


🌳🌳🌳


Pagi ini Zafa menghadiri acara peresmian dan penandatanganan bahwa ZF Corp dan GM Group menjadi JIZA Company serta peresmian gedung baru.Dua jam acara itu berlangsung ia juga sempat melakukan konferensi pers.Setelah menyapa para tamu ia pun memutuskan untuk pulang.Tapi sebelum pergi Zafa pamit dulu pada Papanya dan Jhoni.


"Aku pulang dulu, kasian Jira sendirian. Papa dan Uncle tolong sapa dan temani tamu yang lain," pintanya saat pamit.


"Zen mana?" tanya Jhoni.


"Mungkin di luar," jawab Zafa.


"Sepertinya ada ribut-ribut di luar, ada apa ya?," tanya Zavier mengarahkan pandangannya keluar gedung.


Mereka bertiga melangkahkan kaki keluar menuju arah keributan di depan gedung.


"ZEN" panggil Zafa menahan tubuh pria itu yang sudah di kuasai amarah dan emosi. "Apa-apaan ini, kenapa kamu pukul dia?" tanya Zafa dengan suara tinggi tak suka dengan tingkah Zen yang seperti preman.


"Kenapa laki-laki bajingan ini ada di sini? dan kau," tunjuk nya pada pria yang tersungkur di tembok itu "Berani sekali kau menunjukkan batang hidung itu kemari setelah aku patahkan," kata Zen dengan muka merah padamnya dan tangan yang terkepal.


"Memangnya dia kenapa?sampai kau memukulnya?" tanya Zafa meminta penjelasan.


"Dia ini yang sudah melecehkan Jira malam itu di penthouse. kalau saja aku tidak datang tepat waktu adikku sudah diperkosanya.apa kau yang mengundangnya?" Zen menjelaskan dengan dada yang naik turun karena nafasnya yang sesak sehabis mengajari Ben olahraga.


Ya pria yang datang itu adalah Benard biasa dipanggil Mr.Ben sahabat Zafa.waktu itu Zen tak sempat bicarakan pada Zafa siapa pria yang melecehkan adiknya karena pada saat itu mereka terlalu fokus dengan masalah penculikan Jira.


"BAJINGAN" umpat Zafa melayangkan pukulannya tepat di rahang Benard yang baru saja dipukul Zen.


"Zafa, kenapa lo malah ikutan?" tanya Tristan yang baru sampai di sana.


"Dia yang sudah mau melecehkan Jira," jawab Zafa menyisir rambutnya kebelakang.


"BANGSAT LO," tambah Tristan memukul perut Ben.


Lengkap sudah penderitaan Benard.Tiga laki-laki itu memberinya pelajaran karena berani menyentuh wanita mereka.Adik tersayang Zen, istri tercinta Zafa dan kakak ipar yang pengertian buat Tristan.Tidak ada yang tau kalau Jira adalah tempat curhatnya Tristan.

__ADS_1


__ADS_2