Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 100


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul 9 Jira bagun dari tidurnya.Mendapati dirinya seorang diri di atas ranjang ia memangil nama sang suami.Tak kunjung ada balasan Jira turun dari ranjang dan keluar kamar.


"Zafa ... " panggil Jira dari lantai dua.


"Selamat pagi nona," sapa seorang pelayan wanita.


"Pagi.Mbak pelayan di rumah mama kan?"


"Ia nona, tadi pagi saya di bawa tuan Zen kesini untuk menemani nona,"jawabnya.


"Suami saya mana?"


"Tuan Zafa sudah berangkat tadi pagi sama tuan Zen. Nona mau sarapan apa? biar saya siapkan."


"Terserah mbak aja.Saya bersih-bersih dulu ya," kata Jira kembali masuk kamar.ia mengambil ponselnya di atas meja lalu duduk di tepi kasur mencoba menghubungi Zafa.


tut... tut... tut...


📱morning honey...


📱morning, kok kamu nggak bangunin aku kalau mau berangkat kerja...


📱aku nggak mau ngerepotin kamu sayang...kamu sarapan ya dan jangan lupa minum obat juga vitaminnya...


📱hhmm... ok. cepat pulang ya..


📱ia,aku tutup dulu ya. aku mau meeting. dada sayang love you...


📱love you to hubby...


Jira bangkit dari duduknya menuju kamar mandi. membersihkan diri lalu berganti pakaian dengan dress floral sampai lutut. sangat sesuai dengan tempat tinggalnya sekarang yang dekat dengan pantai.Penampilannya sudah pas Jira turun dari kamarnya menuju ruang makan.


"Mari nona, sarapannya sudah siap," ajak pelayan.


Jira mendudukkan diri di kursi meja makan. "Ada titipan nggak mbak dari Tristan?" tanya Jira mulai menyuap makanan.


"Tidak ada nona."


Jira memaksa senyum di wajahnya. Kesal sih,tapi nanti coba hubungi Zafa deh pikir Jira menghabiskan sarapan paginya.


"Mbak aku duduk di dekat kolam ya, tolong bikinin jus stroberi."


"Baik nona"


Jira melangkahkan kaki menuju belakang rumahnya. Sesekali ia berdecak kagum dan mulutnya melengkung membentuk senyuman. Interior rumah yang terkesan sangat moderen mewah dan mahal ini di persembahkan sang suami untuknya. Seperti mimpi pikir Jira.Karena kemaren ia belum sempat menjelajahi hunian barunya ini.Jadi mungkin sekarang saja ia berkeliling sambil menikmati pemandangan dari jendela rumah yang hampir seluruhnya dari kaca.


"Nona, sebaiknya anda istirahat. Dari tadi saya melihat anda berkeliling rumah," pelayan itu mengingatkan Jira sambil mengantarkan jus.


"Mbak, ini sudah siang tapi Tristan kok nggak datang juga ya," tanya Jira mulai bosan menunggu.


"Memangnya nona ada perlu apa sama tuan Tristan?"


"Aku lagi pengen mangga muda di rumah mama tapi Tristan yang ambil."

__ADS_1


" O, o... nona ngidam?"


"maksud mbak?"


"Itu namanya ngidam nona, setiap ibu hamil muda pasti mengalaminya. Coba saja nona hubungi tuan Tristan," saran pelayan yang sudah berumur 40 tahun itu.


Jira mencoba menghubungi Tristan.Nada sambungnya terdengar tapi tak ada jawaban dari sang pemilik ponsel. "Nggak di angkat mbak," kata Jira kesal.


"Mungkin tuan lagi sibuk nona. Minum jus ini saja dulu," Siti memberikan segelas jus stroberi yang diminta Jira tadi.


"Buat mbak aja, aku nggak mau," tolak Jira.


Siti menghela nafas "Bagaimana kalau nona hubungi tuan Zafa?"


"Dia lagi meeting mbak," jawab Jira raut wajahnya tampak sedih.


"Sebaiknya nona istirahat saja dulu di kamar.Kita tunggu sebentar lagi, siapa tau tuan Tristan datang setelah makan siang."


" Ya udah deh aku nonton tv aja di sana," kata Jira menunjuk ruang keluarga.


Sesuai pesanan Zen, Siti pun menghubungi kakak yang protektif itu.


tut... tut... tut...


📱ada apa mbak...


📱itu tuan, nona Jira ingin mangga muda, tapi kemaren dia sudah minta sama tuan Tristan mengambil mangga muda yang ada di rumah nyonya...


📱belum tuan, nona Jira dari tadi tampak sedih menunggu...


📱ya sudah nanti saya akan bawa Tristan kesana...


Zen menutup sambungan telpon.ia menghampiri Zafa di tengah-tengah rapat dan membisikkan sesuatu.


"Karena sudah hampir jam makan siang, rapat kita tunda dulu," kata Zafa mengakhiri meeting hari ini.


Semua karyawan dan kepala divisi meninggalkan ruang meeting.


"Tris" panggil Zafa kala Tristan hendak keluar. "Jangan bilang kalau lo lupa sama permintaan Jira kemaren?"


Tristan tampak berfikir "Ia gue lupa. terus gimana?"


"Kita kerumah sekarang, Jira dari tadi nungguin," jelas Zen.


"Ya tapi kan nggak mungkin gue pulang kerumah mama dulu buat manjat itu pohon mangga."


"Kita beli di toko buah aja kalau gitu," usul Zafa


"Yakin?" tanya Zen.


"Ia, kalau kerumah mama dulu makin lama.Buruan berangkat," ajak Zafa keluar dari ruang meeting.


Atas kesepakatan mereka, akhirnya Tristan membeli buah mangga muda di toko buah.Nanti tinggal bilang aja kalau ini mangga di rumah mama, bereskan pikir Tristan tersenyum senang, jadi ia nggak perlu repot memanjat pohon mangga.lalu kembali masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Kalian yakin?kalau Jira marah nanti gimana?" tanya Zen ragu.


"Yakin! dia nggak akan tau. awas aja kalau lo bilang kita beli di toko buah," ancam Tristan.


Zen hanya mengangkat alis dan menipiskan bibirnya cuek. lebih baik fokus pada kemudi. 30 menit mereka sampai di rumah baru Zafa dan Jira.


"Sayang" panggil Zafa mencari istrinya.


"Ia" jawab Jira datang.


"Ini Tristan datang bawa mangga mudanya."


bibirnya mengukir senyum lebar, wajahnya berseri. Akhirnya yang di idam-idamkan datang juga pikir Jira senang.


"Ini pesanan lo," Tristan memberikan kantong plastik berisi 4 buah mangga muda.


Dengan semangat Jira membuka kantong plastik itu.Tapi setedik kemudian raut wajahnya berubah sendu. "Nggak mau." tolak Jira memberikan kembali pada Tristan.


"Kenapa?" tanya Tristan dan Zafa bersama.


"Ini bukan mangga di rumah mama,kalian bohongin aku," tutur Jira mulai sedih.


Tristan tergugu "Ngg - nggak kok, tadi ini gue ambil di rumah mama. Benarkan Fa," kilah Trsitan meminta bantuan kakaknya. Sedangkan Zen hanya menyimak saja.


"Hhmm ... ia sayang. Lagian semua mangga muda sama kok rasanya," bujuk Zafa dan di angguki Tristan.


"Kamu bohong! ini mangga yang di jual di toko. Aku nggak mau ini, pokoknya aku mau mangga di rumah mama," rajuk Jira mulai menangis.


"Loh kok nangis?" bingung Zafa


"Malah jadi gini?" Tristan juga bingung.


Zen menghela nafas. "Dari tadi saya sudah pastikan sama kalian. Tapi kalian tetap aja nggak mau dengar omongan saya," beber Zen mencoba menghampiri adiknya.


"Sudah jangan nangis, sekarang kita kerumah mama Fanya ya. Nanti kakak akan suruh Tristan petik buah mangga nya langsung," bujuk Zen.


"Serius?" tanya Jira menghapus air matanya.


Zen mengangguk.


"Ia nanti kalau dia nggak mau bakalan aku paksa," tambah Zafa.


Tristan hanya melongo dan memelas menyandar di sofa. dia pikir masalahnya akan beres,tapi akhirnya ia harus juga memanjat pohon mangga.


"Kalau gitu ayok kita kerumah mama," ajak Jira semangat.


"Kamu nggak kasih kita makan dulu sayang?" tanya Zafa karena perutnya sudah sangat lapar.


"Nggak! hukuman buat kamu karena bantuin Tristan bohong," kata Jira ketus melangkah keluar rumah.


Zafa hanya bisa menghela nafas.


"Ayok" teriak Jira yang sudah di depan mobil.

__ADS_1


__ADS_2