
"untuk bagian paru-paru saya melihat ada sedikit cairan disana, saya tidak tau pasti kenapa ia menghirup air. tapi kami sudah berhasil menanganinya. dan terakhir untuk bagian luka semua sudah dibersihkan ada beberapa yang perlu di jahit karena kami menemukan serpihan kaca disana dan sudah dibersihkan" jelas Riko lagi
"ada pertanyaan" tanya Riko pada Zafa yang hanya diam mendengar kondisi Jira saat ini
"kapan calon istri gue sadar?" tanya Zafa dingin
"untuk kondisinya stabil, karena hanya mengalami luka luar. tapi suhu tubuhnya meningkat sepertinya dia demam. kita tunggu 1x 24 jam karena masih dalam pengaruh obat bius" jelas Riko
Riko menghembuskan nafas kasar. "fa sepertinya calon istri lo mengalami pelecehan seksual. dari yang gue lihat ada beberapa tanda kissmark dibagian leher dan juga dadanya serta bibirnya sedikit bengkak dan ada bekas gigitan" jelas Riko sedikit sesal
tanpa sepatah katapun Zafa langsung meninggalkan dokter Riko di ruangannya.amarah Zafa memuncak saat mendengarkan penjelasan Riko yang terakhir. dadanya bergemuruh hebat karena tak terima wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu di lecehkan oleh orang yang sampai sekarang ia tak tau siapa pelakunya.
Jira sudah dipindahkan keruang rawat VPIP . Zafa masuk ke ruang rawat Jira. melihat keadaan calon istrinya masih belum sadarkan diri. ia menggenggam erat tangan Jira. sesekali Zafa meneteskan air matanya melihat gadis yang selalu ceria, pintar dan gesit itu terbaring lemah tak berdaya.
Zavier dan Fanya juga khawatir dengan kondisi Jira. padahal baru sebentar tadi rasanya gadis itu meninggalkan rumah mereka dalam keadaan sehat dan bugar. tapi sekarang ia terbaring lemah di hadapan mereka. ada sedikit sesal di hati Fanya karena tak memaksa calon menantunya untuk tetap tinggal. tapi untuk apa menyesal semua sudah terjadi.
sekarang mereka semua hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Jira.
"sayang mama sama papa pulang dulu ya" pamit Fanya menghampiri Zafa. "kamu jangan lupa istirahat! besok pagi mama kesini lagi gantiin kamu jaga Jira".
Zafa hanya bisa mengangguk. " mama sama papa hati" ucapnya lemah.
baru kali ini Fanya dan Zavier melihat anak mereka lemah tak berdaya. selama ini Zafa yang mereka kenal adalah pria yang kuat. tapi malam Zafa benar-benar berubah. Zafa hanya diam dan murung duduk di samping ranjang Jira.
"masalah perusahaan biar papa yang urus, kamu fokus aja rawat Jira" timpal Zavier
Fanya dan Zavier pergi meninggalkan rumah sakit malam itu dan pulang kerumah.
"sayang.... " panggil Zafa mengelus lembut pipi Jira. "kamu cepat sembuh ya! aku nggak bisa lihat kondis kamu kayak gini" ucap Zafa lirih meneteskan air mata. "aku bakalan disini buat jagain kamu terus, jadi please kamu buka matanya" pinta Zafa mengecup kening calon istrinya.
...🥯🥯🥯🥯🥯...
jam 8 pagi Fanya telah sampai dirumah sakit. ia langsung menuju ruang rawat Jira. disana ia melihat Zafa yang tertidur di samping Jira beralaskan lengan.
__ADS_1
"sayang... Zafa bangun" panggil Fanya menggoyangkan bahu anaknya.
"hhheemmm... sory mam aku ketiduran" pinta Zafa menggosok wajahnya.
"nggak apa-apa. Jira masih belum sadar?" tanya Fanya
Zafa menggeleng " belum mam" jawab Zafa sedih.
"sini" ajak Fanya menarik tangan Zafa menuju sofa.
"mama bawain kamu makanan sama baju ganti. kamu pasti nggak mau ninggalin Jira hem?" kata Fanya menatap anaknya.
Zafa hanya mengangguk
"kamu mandi dulu, habis itu sarapan. biar mama yang jagain Jira. sebentar lagi dokter juga akan datang" jelas Fanya lembut
Zafa mendengarkan saran sang mama. ia bergegas untuk membersihkan diri. selesai menganti pakaian Zafa mencoba untuk makan meski sedikit karena nafsu makannya hilang entah kemana mengingat kondisi Jira yang belum juga sadarkan diri.
9.30 dokter beserta beberapa perawat masuk untuk memeriksa keadaan Jira. pagi ini yang bertugas adalah dokter Hartono sahabat Zavier.
"tapi kenapa Jira belum siuman dok" tanya Zafa panik
dokter Hartono menepuk pundak Zafa. "tenang kita tunggu sebentar lagi!. saya tinggal dulu untuk periksa pasien lain" ucapnya meninggalkan ruang rawat Jira.
perlahan Jira membuka matanya sedikit demi sedikit untuk menyesuaikan silau sianar matahari yang menerpa wajahnya.
"sayang" panggil Zafa lembut memegang jemari tangan Jira. "akhirnya kamu sadar juga, aku khawatir sama kamu dari semalam" jelas Zafa
"kamu mau sesuatu sayang?" tanya Fanya yang datang menghampiri Jira
"aku mau ketoilet" jawab Jira lemah
Fanya memanggil beberapa suster untuk membantu Jira. selesai menunaikan hajatnya Jira keluar dari dalam toilet dibantu oleh suster. namun ia terhenti saat menatap pantulan dirinya di depan cermin toilet.
__ADS_1
"suster bisa tinggalkan saya sendiri! " pinta Jira
suster pun keluar meninggalkan Jira di sana.
"pak, ibunya minta di tinggal sendiri" kata suster pada Zafa dan ia segera menyusul Jira ke toilet.
melihat Jira yang sedang berdiri di depan cermin Zafa memeluknya dari belakang. sadar akan kedatangan calon suaminya dari pantulan cermin.Jira membuka beberapa kancing baju di bagian dada di sana terdapat beberapa tanda merah akibat perbuatan Miko.
"pastinya kamu akan merasa jijij sama aku" kata Jira lirih melihat dirinya dicermin. "pastinya kamu akan meninggalkan aku dan membatalkan pernikahan kita" katanya lagi meneteskan air mata.
Zafa memutar tubuh Jira kehadapan nya dan memakaikan kembali kancing baju Jira.memegang wajah Jira dengan kedua telapak tangannya.
"aku tidak merasa jijik, aku tidak akan meninggalkan kamu dan aku juga tidak akan membatalkan pernikahan kita" jelas Zafa memeluk Jira. "sekarang kamu kembali istirahat ya" ajak Zafa mengendong Jira kembali keatas brankar.
"kamu makan dulu" ajak Zafa menyuapi Jira
Jira Mengangguk "mama mana?" tanya Jira
"mama udah pulang tadi pas kamu di toilet. bantuin papa di kantor" kata Zafa yang terus menyuapi Jira.
selesai Jira makan Zafa kembali memanggil dokter untuk memeriksa kembali kondisi Jira.
"kapan saya bisa pulang dok?" tanya Jira
"semuanya baik dan normal, tidak ada masalah. apa kamu merasakan sesuatu" tanya Hartono memastikan
"cuma pusing sedikit" jawab Jira
Hartono mengangguk "2 hari lagi kamu boleh pulang. untuk luka jahitnya tidak perlu dibuka kembali. karena akan menyatu dengan daging" jelas Hartono. "pusing nya itu karena masih pengaruh obat bius nanti juga akan hilang" jelasnya lagi.
"baiklah dok terimakasih" pinta Zafa
kini keduanya tengah berbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Zafa membawa Jira kedalam pelukannya. "aku bakalan jagain kamu terus" kata Zafa mengelus rambut panjang Jira. "aku nggak mau hal seperti ini terjadi lagi! kamu tau perasaan aku saat melihat kondisi kamu malam itu?" tanya Zafa menerawang kejadian malam itu.
__ADS_1
"apa" tanya Jira mendongakkan wajahnya pada Zafa.