
"Sedang apa kau disini?" tanya Zen dingin pada sopir pribadi Gumalang.
Zen sengaja menghampiri mereka di parkiran saat keluar dari restoran hendak pulang.
"Saya diminta tuan Gumalang untuk mengantar tuan pengacara ini pulang," jawab pria itu tertunduk.
Zen menyipitkan matanya. "Kenapa kalian bertemu dengan Reza?"
"Maaf tuan muda, tadi saya merasa lapar, jadi memutuskan untuk makan direstoran ini dan tak sengaja bertemu dengan tuan Reza," jawab si pengacara bertubuh gemuk itu.
Zen mengangguk tapi ia menangkap sesuatu dari kedua orang itu. Entah apa? yang pasti hanya Zen yang tau.
Ia pergi meninggalkan dua orang itu kembali menuju mobilnya karena Putri sudah menunggu di sana untuk segera pulang kerumah.
Sampai di rumah hari mulai sore,Putri juga sudah tertidur sejak dari perjalanan. Zen membawa adiknya naik menuju kamar dan membaringkan Putri di kasur beralas seprei warna pink dan menyelimutinya. Lalu ia keluar menuruni anak tangga menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Ia juga ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar di atas kasur.
Tok... tok... tok... Zen terbangun dari tidurnya. ia melirik jam dinding menunjukkan pukul 6 lewat.
Zen bangkit dari ranjang untuk membukakan pintu.
"Bersiap lah tuan, makan malam akan segera di hidangkan," kata salah satu pelayan.
"hhmm.. " jawab Zen dan kembali menutup pintu.
"Kemana yang lain?" tanya Zen saat dirinya sendiri yang duduk di meja makan.
"Tuan dan nyonya menghadiri undangan makan malam dari nyonya besar tuan Reza," jawab pelayan.
"Lalu Putri?"
"Nona Putri sedang di suapi oleh susternya di kamar," kata pelayan itu lagi.
Zen mengangguk ia mulai menyantap hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Sambil mengunyah otaknya terus berfikir. Ada yang aneh, tapi apa? pikirnya.
__ADS_1
Selesai makan Zen menuju kamarnya. Malam ini ia akan mulai belajar dan memilih beberapa fakultas untuknya melanjutkan pendidikan nanti.Zen keluar dari kamar menuju halaman samping duduk di sana sambil membaca beberapa buku.
"Kenapa anda disini tuan?" tanya Zen melihat ayahnya baru turun dari mobil. "Kemana paman dan bibi?"
"Saya baru saja kembali dari kantor,katanya ada masalah di sana, tapi semua baik-baik saja," jelas Jhoni. "Memangnya mereka kemana?"
"Pergi makan malam kerumah bajingan itu," jawab Zen mendudukkan diri kembali. "Oh ya, ada urusan apa pengacara gendut itu kekantor tadi siang? aku tak sengaja bertemu dengannya saat di antar sopir pribadi.mereka juga bertemu dengan Reza di restoran."
Jhoni juga ikut duduk di samping anaknya. "Tuan Gumalang mengubah wasiatnya. Semua hartanys akan diwariskan pada Putri," jelas Jhoni.
Zen hanya diam tapi otaknya mulai mencerna.
"Oh, sial" umpat Zen menutup buku yang dibacanya.Ia bergegas berlari menuju garasi menaiki motornya.
"Ada apa Zen?" tanya Jhoni mengejar anaknya.
"Ini jebakan! sopir dan pengacara itu penghianat!" kata Zen cemas lalu ia memacu motornya meninggalkan sang ayah yang masih mencerna ucapan Zen.
Zen sudah berada jauh di depan. Jhoni memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Hatinya harap-harap cemas, semoga apa yang ia takutkan tak akan terjadi.
"Itu motor tuan muda," tunjuk salah satu anak buahnya.
Jhoni menepikan mobil,mereka turun dan menghampiri motor Zen.
"Tuan, disana" tunjuk anak buahnya mengarah ke sebrang jalan.
"Itu mobil tuan besar," kata salah satu anak buahnya lagi melihat sebuah mobil sudah terbalik.
Jhoni dan anak buahnya berlari menghampiri Zen yang sedang berusaha mengeluarkan pamannya dari dalam mobil.
"Paman, bertahanlah aku akan membawamu kerumah sakit," kata Zen cemas dan berusaha menarik pamannya.
"Dengar Zen, maaf kan paman yang tak percaya padamu dari awal. sekarang paman titipkan Putri pada mu Zen jaga adik mu jangan biarkan mereka mendapatkan Putri," lirih Gumalang yang bersimbah darah di wajahnya.
__ADS_1
"TUAN" panggil Jhoni membantu Zen.
"pu...pulang lah, kalian ha...harus pulang, bawa Putri pergi," kata Gumalang meringis.
"Tapi paman" Zen menangis.
"Jho.. n bawa Zzen pergi."
"TIDAK" tolak Zen tegas saat di tarik oleh Jhoni.
Zen berontak, menangis kala di paksa dan diseret oleh ayah dan anak buahnya meninggalkan sang paman dan istrinya yang masih terjepit di dalam mobil.
"TTTTTIIIIDDDAAAKKKK... " raung Zen saat mobil itu meledak di depan matanya.
"KITA HARUS KEMBALI, SELAMATKAN PUTRI," hardik Jhoni di depan wajah anaknya.
"hah... hah... hah... " nafas Zen sesak menahan amarah.Ia bangkit dan kembali naiki dan memacu motornya menuju kediaman Gumalang. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menangis dan bersedih. Masih ada hal penting lainnya yang harus ia lakukan segera sebelum terlambat.Di tengah perjalanan ia menyeka air matanya yang terus turun tak mau berhenti.Memang Zen tampak kuat tapi hatinya begitu rapuh.
Di rumah Gumalang Zen menaiki tangga dengan gegas nya menuju kamar Putri.Hatinya lega mendapati sang adik sudah tertidur pulas di atas ranjang. Zen menyandar di pintu badannya merosot kebawah lantai ia menangis dan meraung.Ibu dan pamannya mati di depan matanya.
"Zen" panggil Jhoni
Zen mengangkat wajahnya menatap sang ayah dengan tersedu-sedu.
"Sebaiknya kau bawa Putri pergi malam ini!sebelum mereka datang.Ini, pergi lah ke alamat ini, tinggal lah di sana sampai aku datang menjemput mu," kata Jhoni memberikan secarik kertas.Sampai di sana berikan amplop ini pada orang yang kau temui."
"Lalu bagaimana dengan mu?"
"Aku akan melakukan beberapa hal dan memastikan semuanya aman dan aku akan menjemputmu. tenanglah dia tidak akan membunuh ku."
Zen mengangguk ia menyeka air matanya.Bangkit dan membawa Putri kedalam gendongannya memasuki mobil. "Tetap waspada" kata Jhoni melepas kepergian Zen malam itu.Dan Zen membawa roda empatnya melaju menuju alamat yang diberikan sang ayah.
Perjalanan jauh menuju sebuah desa terpencil. Jalanan berlubang dan penuh kerikil harus di lewati. Juga hutan belantara mengapit kiri dan kanan. Tapi itu tak membuat Zen takut. Saat ini yang ada di benaknya adalah pergi sejauh mungkin membawa Putri pergi.Entah apa yang akan ia hadapi di depan nanti,Zen tak peduli. Ia terus menginjak pedal gas sesekali melirik kaca spion untuk memastikan tak ada orang yang mengikutinya.
__ADS_1