
"Mas, kalau mau mandi duluan aja. aku mau hapus make up dulu," kata Lila pada Zen saat mereka memasuki kamar hotel.
"Bisa bantu aku melepas jas dan dasi ini," pinta Zen menghempaskan bokongnya dengan kasar di tepi kasur.
Lila berjalan mendekati suaminya yang tampak kelelahan akibat melayani tamu undangan di acara pernikahan mereka.Lila sadar mulai sekarang ia adalah seorang istri, pastinya tugas utamanya adalah melayani sang suami. Ia sudah tau apa saja tugasnya sebagai seorang istri. itu semua berkat Jira yang menjelaskan dan mengajarinya agar bisa menjadi istri yang baik untuk Zen dan Lila tidak keberatan untuk hal itu.
"Aku siapkan dulu air panasnya," ucap Jira hendak melangkahkan kaki.
"Tidak perlu, aku tidak biasa mandi dengan air panas," jelas Zen.
"Ya sudah, ini handuknya.Aku akan siapkan baju gantinya."
Zen melenggang menuju kamar mandi dengan tubuh bagian atas yang sudah telanjang. Lila menatap punggung tegap suaminya yang menghilang di balik pintu.
"Hhhhuuuufff... kenapa jantungku tidak tenang," gumam Lila sendiri memegang dadanya.Lalu ia mengambil koper yang ada di dekat meja rias.
Menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Tapi kemudian Lila mengerutkan dahinya karena tak ada baju ganti untuknya di dalam koper.Lila mengambil ponselnya di atas meja lalu menghubungi Jira.
📱hallo, ia La...
📱kakak yang siapkan baju dalam koper kan? baju ganti buat aku mana...
📱ada di sana, cek aja dulu...
📱ia sih ada, tapi...
📱pakai aja yang ada...
tut tut tut
Jira memutuskan sambungan telpon.Lila tampak kesal pada adik iparnya itu.Tak ada satupun baju ganti yang layak di pakai pikir Lila.Yang ada hanya lingerie berbahan tipis dan sexy juga warna-warna yang mencolok.
"Aaaarrggghh... kak Jira, awas ya," geram Lila mengepalkan tangannya di udara.
__ADS_1
Karena tak mau Zen menemukan semua lingerie itu Lila bergegas menutup koper lalu ia segera membersihkan make up yang menempel di wajahnya.
ceklek... pintu kamar mandi terbuka. Zen keluar dari sana hanya menggunakan lilitan handuk di pinggang.
Tak munafik Lila mengagumi tubuh indah suaminya. Untuk pertama kali ia melihat secara langsung roti sobek atau perut kotak-kotak. Biasanya Lila cuma lihat di drama Korea, tubuh aktor tampan yang ia gemari. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya, takut ketahuan oleh Zen jika ia ingin menyentuh tubuh itu.
"Hhmm... aku mandi dulu mas," kata Lila buru-buru kekamar mandi.
Di dalam kamar mandi bayangan tubuh Zen tadi tak mau hilang dari benaknya. "Gila, badannya bagus banget kayak oppa-oppa Korea yang sering gue nonton. serius nggak sih gue punya suami nggak kalah tampan dari oppa Korea," gumam Lila sendiri sambil memukul-mukul pipinya saat berendam dalam bath up.
Karena takut Zen menunggu lama Lila menyelesaikan acara bersih-bersih badan itu. Dengan hati mantap ia mengenakan lingerie berwarna merah maroon berbahan satin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin sebelum keluar dari kamar mandi.
Lila menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya. "Ok, aku harus tenang dan rilex," gumamnya sendiri sambil memastikan penampilannya.Dan sekali lagi ia menghela nafas panjang dan melangkahkan kakinya keluar menghampiri suami.
Zen yang sedang asik memainkan ponselnya di atas ranjang mengangkat wajahnya saat mendengar pintu kamar mandi itu terbuka. Ia menarik sudut bibirnya dan tersenyum.
"Kemarilah," pintanya dengan gerakan tangan.
"Ini pasti ulah Jira," ucap Zen memeluk pinggang wanita itu. "Aku tau kita menikah bukan karena saling cinta. Kalau kamu risih mengunakan pakaian ini aku bisa minta Leo cari baju ganti.Dan jika malam ini kamu belum siap kita menyatu, aku tidak akan memaksa," tutur Zen menatap wajah Lila.
Yakin, ya itulah yang di rasakan Lila.Saat ia menerima pernikahan ini ia akan ikhlas memberikan hidupnya pada pria yang baru ia kenal itu.Cinta akan datang dengan sendirinya jika ia mulai memberi cintai dan membuka hatinya untuk di cintai.
"Aku siap kok Mas," jawab Lila mantap merangkum wajah Zen dengan kedua telapak tangannya.
"Yakin?"
"Sangat yakin."
"Baiklah, aku harap kamu tidak akan menyesalinya," kata Zen tersenyum misteri.
"Saat aku memutuskan untuk menerima pernikahan ini,aku yakin tidak akan menyesali apapun yang akan terjadi kedepannya," tutur Lila tegas.
Zen mengangguk paham. "Boleh aku mulai dengan ini?" tunjuk nya pada bibir yang tampak masih merah karena bekas lipstik.
__ADS_1
Lila mengangguk. "Semua milik kamu Mas," jawabnya.
Zen meraih tengkuk sang istri merasakan bibir istrinya.Perlahan ia mencobanya dengan lembut menikmati kenikmatan benda kenyal itu.Lila juga membalas permainan suaminya. meski tak pernah melakukannya ia hanya belajar dari drama Korea yang sering di tonton nya.
Zen melepaskan bibir sang istri lalu ia mengangkat tubuh Lila membaringkannya di atas kasur dan menghimpit tubuh kecil itu dengan tubuhnya.
"Nikmati," bisiknya di telinga Lila.
Wanita itu hanya mengangguk menerima perlakuan lembut Zen.Laki-laki itu mulai membenamkan kepalanya di leher Lila,aroma sabun mandi yang masih melekat di tubuh istrinya membuatnya semakin menggelitik leher jenjang itu. Tangannya mulai meremas benda yang merupakan sumber kehidupan.
Satu ******* lolos dari mulut Lila.Ia mengigit bibir bawahnya menahan agar suara erotis itu tak keluar lagi.
"Jangan ditahan, aku suka mendengarnya," kata Zen serak tepat di wajah Lila.
Lila mengangguk setuju.
Zen kembali menikmati permainannya.Ia sudah mendapatkan benda bulat dan kenyal itu.Memghisap dan menggelitiknya membuat yang punya semakin menggelinjang geli dan nikmat secara bersamaan.
Zen juga mulai meraba area bawah.Terasa basah Ia menarikan jari-jemarinya di sana membuat Lila meremas kuat kepala dan rambut Zen.Sensasi nikmat itu untuk pertama kalinya ia rasakan.
"Ah, Mas," ucap Lila membenamkan kepala Zen di dadanya.
Inikah yang dinamakan surga dunia? pikir Lila.Permainan yang diciptakan Zen membuatnya merasakan terbang menuju sebuah puncak.
"Aku akan mulai,nikmati dan rasakan saja," kata Zen dengan nafas yang memburu karena yang dibawah sana sudah tak sabar untuk ikut bermain.
Bendanya yang sudah berdiri tegak dengan kerasnya menandakan ia siap untuk memulai pertempuran malam ini. Dengan perlahan Zen menuntun bendanya menuju sang istri.Dan tepat saat benda itu masuk Lila melengkungkan badannya sambil meremas lengan suaminya menahan sakit di bawah sana.
Zen mengecup lama kening sang istri. "Aku sudah peringatkan tadi, jangan menyesalinya," kata Zen mengusap air mata Lila.
Lila menggeleng. "Aku tidak menyesalinya Mas, aku bahagia bisa menjadikan kamu,suami ku yang mendapatkannya untuk pertama kali.
"Terimakasih," pinta Zen mengecup kembali kening dan pipi istrinya. "Aku akan lanjutkan permainan ini dan kita akan sama-sama mencapai puncak," kata Zen memainkan kembali bendanya.Penyatuan malam ini masih terus berlangsung.Malam pertama bagi ke duanya untuk lebih dekat dan mengenali satu sama lain dan juga malam pertama bagi keduanya untuk memulai kehidupan mereka untuk menumbuhkan cinta di hati masing-masing.
__ADS_1