Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 87


__ADS_3

* RUMAH SAKIT *


"Siapa kalian?" tanya para penjaga yang berada di depan ruang rawat Jira.


"maaf kami dokter yang bertugas malam," jawab seorang pria.


"Kalian bukan dokter yang ditugaskan oleh Zen," hadang mereka.


"Dokter tadi sudah pulang, dia hanya bertugas sampai pukul 9,sekarang gantian saya yang bertugas malam," terangnya dengan nada tinggi.


"Tidak kalian tidak di izinkan masuk! silahkan pergi biar besok saja pemeriksaannya." para penjaga itu tak mengizinkan 2 pria yang berpakaian dokter itu masuk.


Dua pria itu saling memberi kode lewat mata. dan terjadilah baku hantam. meski para penjaga itu memiliki tubuh kekar dan jumlah mereka banyak. tetap saja dapat dikalahkan oleh 2 orang pria itu. mereka menyuntikkan obat bius pada anak buah Tristan.


Jira bangun saat tidurnya terganggu kala mendengar suara ribut dari arah luar kamarnya. ia turun dari ranjang untuk melihat apa yang terjadi di depan ruang rawatnya.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Bbbhhuugg.... Zen melayangkan pukulannya pada Jhoni. "Dasar pria tua bangka keras kepala, egois," umpat Zen


"Zen kenapa kau ada di sini?" tanya Zafa heran.


Bbbhhuuugg... Zen membalas pertanyaan Zafa dengan sebuah pukulan. "Dan kau tuan, suami yang egois, meninggalkan istri anda dalam keadaan tak sehat malah kau juga tak menghubunginya," geram Zen


"Ada apa Zen? kenapa kau kembali?" tanya Jhoni


"Seharusnya saya yang bertanya tuan! kenapa anda tak menepati janji anda pada nona Jira. bahkan semua nomor kau tak ada yang bisa saya hubungi," jawab Zen marah.


"Jelaskan apa yang terjadi sampai kau harus menyusul kesini?" tanya Jhoni serius. dia yakin pasti ada hal yang membuat Zen menemuinya.


"Tunggu... kalian mengenal Jira? apa maksudnya ini jelaskan pada saya!" Zafa bingung dan marah.


kring... kring... kring... ponsel Zen berdering.


πŸ“±zen... nona Jira di culik..

__ADS_1


πŸ“±apa? bagaimana kalian menjaganya, dasar tak becus...


Zen geram lalu menghempaskan ponselnya ke tanah. "Ini semua gara-gara kau tua bangka, akan kubunuh kau jika adik ku dalam bahaya," geram Zen di tahan oleh anak buah Jhoni.


"Adik? ada apa ini sebenarnya jelaskan pada saya!" bentak Zafa.


"Jelaskan Zen," bentak Jhoni dengan wajah merah padamnya.


"Mereka sudah mengetahui keberadaan Jira. dan sekarang Jira di culik. puas kau hah? dari kemaren sudah saya bilang agar kau menemuinya tapi kau masih keras kepala," marah Zen berusaha memukul ayahnya tapi di tahan oleh semua anak buah Jhoni.


"aaakkhhh.... sial, dasar bajingan akan ku bunuh mereka," umpat Jhoni marah besar. "DANI" teriak Jhoni memanggil tangan kanannya.


"Siap tuan."


"Hubungi semua anak buah kita, aktifkan satelit dan lacak keberadaan Jira. SEKARANG," bentak Jhoni memberi perintah.


"Tuan Zafa maaf, untuk saat ini saya belum bisa menjelaskan semuanya. tapi anda harus ikut kami karena nona Jira dalam bahaya," jelas Zen.


"Aku tunggu penjelasan kalian," tunjuk Zafa mengancam dengan tatapan membunuh.


"Ayo" ajak Jhoni.mereka berempat segera masuk pesawat menuju kota J.


"Dani, saya sudah memberikan GPS pada Jira. tolong lacak keberadaannya," titah Zen


"Baik tuan muda."


"Ada apa ini sebenarnya tolong jelaskan pada saya," pinta Zafa serius.


"Tuan Zafa, istri anda adalah putri tunggal dari tuan Gumalang.dia pewaris harta dan kekayaan tuan Gumalang," jelas Zen.


"Lalu siapa yang menculiknya?apa alasan mereka?"


"Biar ayah saya yang akan menjelaskannya nanti tuan," jawab Zen


"ayah?"

__ADS_1


"Tuan Jhoni adalah ayah saya. beliau menikah dengan adik tuan Gumalang. Jira adalah adik sepupu saya tuan," sambung Zen.


"Kenapa kau bisa di pilih Tristan bekerja untuk saya?dan kenapa kalian pura-pura tak kenal saat di kantor?" tanya Zafa


"Semua sudah di atur oleh tuan Jhoni dan maaf saya kesana hanya untuk memastikan jika nona Jira tidak bicara apa-apa pada anda tuan. sebenarnya istri anda ingin menjelaskan semuanya pada anda tapi saya mengancamnya akan membawa dia pergi memisahkan kalian berdua," terang Zen tertunduk.


Bbhhuuuggg.... Zafa melayangkan pukulannya pada Zen. ia marah karena Zen ia meninggalkan Jira dalam keadaan emosi.ia juga mengabaikan sang istri dan bahkan kini istrinya sedang bahaya.


"Maaf kan saya tuan, tapi ini semua karena perintah dari tuan Jhon. beliau berjanji pada nona Jira akan datang dan menjelaskan semuanya pada anda. tapi si tua bangka itu tak datang. ia masih saja sibuk mencari bukti kecelakaan tuan Gumalang.bahkan saya sudah memaksanya untuk segera datang,tapi dia malah tak bisa di hubungi," tambah Zen lagi.


"Apa ada hal lain yang belum saya ketahui Zen, selain siapa dan alasan penculikan istri saya?" tanya Zafa dengan rahang yang mengeras.


"hhmm... tadi malam ada seorang pria yang datang ke penthouse anda tuan. dia ingin melecehkan istri anda. tapi saya segera datang dia tak berhasil menyentuh nona Jira.saya juga sudah mengurusnya tuan," terang Zen


"lalu di mana istri saya berada sampai dia bisa di culik?"


"Nona Jira berada di rumah sakit tuan. saya terpaksa meninggalkannya karena ingin menemui Tuan Jhon. tapi saya sudah meminta anak buah bos Tristan untuk menjaga istri anda di sana."


"Rumah sakit?" kenapa istri saya di rumah sakit?" tanya Zafa khawatir dan cemas.


"Nona Jira hamil tuan"


Ddduuuaaarrr....


Zafa seperti di sambar petir, istrinya sedang mengandung anak mereka tapi apa? ia pergi meninggalkan sang istri saat keadaannya sedang lemah dan juga tak menghubunginya. bahkan kejadian yang membuat sang istri trauma terulang kembali dan sekarang Jira dalam bahaya. ini semua bukan salah Zen sepenuhnya. jika saja ponselnya aktif pasti ia akan langsung pulang saat Jira menghubunginya.


"aaaakkkhhh..... sial kenapa gue bodoh? kenapa gue terbawa emosi?" sesal Zafa memukul kepalanya.


"Tuan tolong tenangkan diri anda! saat ini yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan dan membawa nona Jira kembali," Zen berusaha menenangkan


"Apa kau yakin bisa menemukan istri saya?" tanya Zafa mengepal kuat tangannya.


"Saya yakin tuan, saat kita mendarat kita akan langsung menyerang mereka dan mendapatkan istri anda! percayalah pada saya tuan, karena selama ini saya yang selalu menjaganya," kata Zen meyakinkan Zafa.


"Saya pegang kata-kata kamu Zen.jika sampai istri saya celaka, saya akan membunuh kamu," tunjuk Zafa mengancam.

__ADS_1


"Silahkan tuan, saya akan rela mati jika nona Jira celaka. karena saya sangat menyayanginya tuan, saya yang menjaganya selama ini dam nyawa saya sebagai taruhannya," jelas Zen serius.


__ADS_2