Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 95


__ADS_3

"Paksa dia mengakuinya, sekarang dia sudah di tangan anda," usul Tristan.


Jhoni mengangguk "Ide yang bagus, bisa dicoba nanti."


"Zafa" panggil Fanya "Jira sudah sadar dan dokter sedang memeriksa keadaannya."


Zafa segera melangkahkan kakinya lebar menuju pembaringan sang istri. "Bagaimana dok?"


"Untuk saat ini kondisi istri anda masih lemah, tolong jaga dan pastikan dia tetap beristirahat.Dan jangan bebankan pikirannya atau membuat dia stres," terang dokter dan di pahami oleh Zafa. "Kalau begitu saya pergi dulu, 1 jam lagi saya akan kembali."


Zafa mengangguk "Hey" sapanya lembut mengelus pipi sang istri.


Jira memaksakan senyum di wajahnya.


"Jagan banyak bicara dulu, tetaplah tenang dan istirahat. Semua baik-baik saja,percaya padaku! Saat kamu sehat aku akan jelaskan semuanya," kata Zafa menjelaskan pada sang istri bahwa dari mata Jira tersirat banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan.


"Kamu makan dulu ya, aku suapin," ajak Zafa memegang sebuah mangkuk berisi bubur.Dengan telaten dan penuh kasih sayang Zafa memastikan istrinya makan dan meminum obat serta vitamin yang diberikan dokter.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Zen saat Zafa kembali.Jira di berikan obat tidur lagi oleh dokter setelah mengisi perutnya. Agar ia bisa beristirahat dengan tenang.Kejadian yang menimpanya tadi pasti akan membuat Jira gelisah.Takutnya nanti akan berpengaruh pada janin dalam kandungan Jira.


"Untuk saat ini sebaiknya kita tidak membahas kejadian tadi.Dokter menyarankan agar Jira tetap tenang dan jangan sampai stres."


Zen mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kami harus kembali ke markas untuk mengurus bajingan itu dan merebut kembali milik Jira."


"Jika nanti Jira sembuh kami akan datang dan menjelaskan apa yang sudah terjadi," timpal Jhoni.


......................


"Bagaimana kondisi kandungan istri saya dok?" tanya Zafa saat mereka sudah berada di ruangan dokter pagi hari.


"Hasil pemeriksaan istri anda meminum cairan yang dapat mengugurkan kandungan.Tapi syukurnya setelah kita berikan vitamin dan transfusi darah janinnya masih bisa bertahan meski keadaannya masih lemah." terang dokter


"Apa ada kemungkinan istri saya kehilangan bayinya?"


"Kemungkinan nya sangat besar pak Zafa. Jadi kita akan tetap berusaha dan berdoa. Pastikan saja istri anda tetap tenang menghadapi kondisi kandungannya saat ini. Jagan sampai pikirannya terbebani justru itu akan berdampak buruk pada kesehatannya."

__ADS_1


"Baik, terimakasih dokter. Kalau begitu saya permisi," pamitnya keluar dari ruangan dokter.


Zafa sampai di depan ruang rawat Jira. sebelum masuk ia menarik nafas dalam dan menghembuskan.Agar hatinya sedikit tenang. Zafa tak mau Jira melihat wajah khawatirnya nanti. Sebisa mungkin ia harus bersikap tenang di hadapan sang istri.


"Sudah selesai makannya?" tanya Zafa. Saat ia pergi menemui dokter Jira di suapi oleh sang mama.


Jira mengangguk "Bagaimana kata dokter?" tanya Jira lemah.


Zafa memasang senyum terbaik di wajahnya "Semua baik-baik saja, kamu harus tetap tenang dan jangan banyak pikiran agar bayi kita sehat di dalam sini," terang Zafa mengelus perut istrinya.


Jira ikut mengelus punggung tangan Zafa di perutnya. "Maaf aku nggak bisa menjaganya," lirih Jira.


Zafa menggeleng. "Jangan pikirkan kejadian kemarin.Sekarang fokus saja pada bayi kita,ok!" Zafa menangkup pipi Jira dan mengecup kening istrinya lama menyalurkan rasa sayang dan cintanya meyakinkan sang istri kalau semua akan baik-baik saja.


Sudah 1 minggu Jira dirawat di RS.Zafa dengan setia menemani dan mendampingi sang istri. Bahkan semua pekerjaan kantor ia hibahkan pada Tristan. Zafa tak mau meninggalkan Jira seorang diri di saat kondisi istri dan calon anaknya lemah.


Dan syukurnya janin di kandungan Jira masih bisa bertahan. Karena cairan itu hanya sedikit yang tertelan oleh Jira.


"Hari ini ibu Jira sudah bisa pulang kerumah. Tapi, tetap ibu Jira tidak boleh banyak bergerak harus bed rest dan juga jangan banyak pikiran dan jangan stres.Resep obat serta vitaminnya tolong di tebus di apotik.Dua minggu lagi bu Jira harus kembali untuk kontrol," jelas dokter pada Jira dan Zafa di ruang rawat.


Dokter mengangguk "Tapi kita harus tetap pantau ya buk sampai trimester pertama ini bisa kita lewati. Dan juga nanti tiap bulan ibu harus transfusi darah untuk meningkatkan kadar HB darah bu Jira. Agar kita bisa menghindari kemungkinan terburuk nantinya," lanjut dokter lagi.


"Terimakasih banyak dokter atas bantuan anda," kata Zafa.


"Sama-sama pak Zafa. Memang ini tugas saya sebagai seorang dokter. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Kalau begitu saya pamit, untuk memeriksa pasien lainnya," balas dokter lalu meninggalkan ruang rawat Jira.


"Ayo, kita pulang, semuanya sudah menunggu kita di rumah papa," ajak Zafa mengangkat istrinya dari atas brankar dan mendudukkan Jira di atas kursi roda.


"Kenapa kita pulang kerumah papa?"


"Sementara sampai keadaan kamu membaik kita tinggal di sana ya, aku juga lagi bagun rumah buat kita."


"Penthouse kita gimana?"


"Akan aku jual lagi. Aku nggak mau nanti kamu trauma gara-gara ingat kejadian malam itu."

__ADS_1


Jira mengangguk setuju


"Kita berangkat sekarang tuan?" tanya Zen membuka pintu ruang rawat.


Zafa mengangguk lalu ia mendorong kursi roda sang istri menuju parkiran sedangkan Zen mengiringi dari belakang membantu membawa beberapa barang Jira dan Zafa.


"Bagaimana kabar uncle Jhon Zen?" tanya Jira.Sebenarnya sudah sejak kemarin ia ingin bertanya banyak pada Zen. Tapi pria itu tak datang menjenguknya karena mengigat kondisi Jira yang lemah Zen memutuskan akan menemui adiknya nanti setelah keluar dari RS. Dan baru hari ini mereka bertemu kembali.


"Baik nona, beliau juga sedang menunggu kedatangan anda." kata Zen di balik kemudi."Sebaiknya nona simpan saja pertanyaan yang ada di benak nona.Sampai di rumah, uncle jhon akan menjelaskan," sambung Zen sebelum Jira membuka suara.


Jira memaksakan senyumnya.


"Tenanglah sayang, semua baik-baik saja. Aku juga sudah mendengar penjelasan dari uncle Jhon. jadi kamu nggak perlu mikir apa-apa lagi. Fokus saja pada kandungan kamu ya," tutur Zafa menenangkan istrinya.


Sampai di kediaman Farjana mereka langsung menuju ruang tamu. Di sana Zavier, Fanya dan Tristan juga Jhoni sudah menunggu kedatangan mereka.


"Uncle" sapa Jira mendekat.


"Bagaimana kondisi kamu?" Jhoni memeluk wanita yang duduk di kursi roda itu.


"Seperti yang uncle lihat sendiri," jawab Jira.


Jhoni menghela nafas lalu tersenyum.dan ia kembali duduk di tempat semula. "Terimakasih sudah bertahan. Maaf uncle membuat kamu dan kandungan kamu dalam bahaya," pinta Jhoni menggenggam jari jemari Jira. "Mulai sekarang kita tidak perlu bersembunyi lagi dan uncle janji akan merebut milik kita."


Jira menggeleng "Jira hanya mau hidup tenang bersama anak dan suami.Hanya itu, Jira tidak membutuhkan harta itu," sanggahnya lirih.


"Tapi uncle akan merebutnya kembali. Ini janji uncle sama tuan Gumalang dan uncle akan membalaskan apa yang sudah mereka lakukan pada kamu."


"Tidak perlu uncle! serahkan saja mereka pada pihak yang berwajib," bantah Jira.


Jhoni mengalah. "Uncle juga sudah jelaskan semuanya pada Zafa dan mertua kamu.Mereka sudah tau semuanya tentang kamu."


"Syukurlah, jadi aku nggak merasa bersalah lagi sama Zafa juga Mama Papa."


"Nggak apa-apa sayang, aku mengerti.Memang sulit berada di posisi kamu. Tapi semua sudah jelas sekarang tak ada yang perlu di khawatirkan lagi." timpal Zafa.

__ADS_1


__ADS_2