Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 68


__ADS_3

"aku minta maaf" pinta Zafa menggenggam tangan istrinya yang sedang duduk bersandar di atas kasur.


"hiks... hiks... hiks... harusnya kamu nggak menghindari aku! aku butuh kamu!" kata Jira menangis.


"ssssuuuuttt.... ia aku tau aku salah, aku minta maaf ya sayang, seharusnya aku benar-benar ada buat kamu" kata Zafa mengusap air mata Jira."jangan nangis lagi".


Jira menghembuskan nafas "kamu nggak apa-apakan?" tanya Jira khawatir memeriksa luka dikepala suaminya.


"aku nggak apa-apa, cuma luka kecil! tapi kamu juga baik-baik aja kan?" tanya Zafa balik.


Jira mengangguk "aku minta maaf" kata Jira lirih.


"kamu nggak salah! ini semua karena aku yang berusaha menghindari kamu.dan nggak seharusnya tadi aku terbawa nafsu. aku janji kedepannya kita akan terus coba perlahan kapan pun dan dimana pun. untuk menebus kesalahan, aku akan membuat kamu menginginkan sentuhan aku dan melupakan kejadian malam itu" kata Zafa lembut menyelipkan anak rambut Jira dibalik telinga.


"janji?"


"ia aku janji sayang! aku nggak akan menghindari kamu lagi, aku nggak mau kamu terus di bayang-bayangi kejadian itu. aku akan bantu kamu untuk melupakannya" jelas Zafa meyakinkan Jira lalu memeluk istrinya.


"ekhem... ekhem... " mama Fanya berdehem.


"mama bawa teh hangat buat kalian berdua" kata Fanya.


"terimakasih ma" pinta Zafa.


Fanya menghembuskan nafas kasar "besok pagi mama ikut ya nemani Jira terapi" pinta Fanya.


"boleh" jawab Jira.


"ya sudah, kalian istirahat gih! anggap kejadian tadi sebagai pembelajaran untuk kalian berdua.jangan disesali terlalu lama. tapi perbaiki untuk kedepannya" nasehat mama Fanya. "mama juga pamit ya ke kamar".


Jira dan Zafa mengangguk " malam ma" kata mereka bersamaan.


...🐛🐛🐛🐛🐛...


jam 9 pagi Zafa, Jira dan mama Fanya sudah berada di tempat prakter dokter Miranda.


mereka sedang menunggu untuk di panggil masuk.


"bu Jira dan pak Zafa mari masuk" ajak dokter Sachi dari balik pintu.

__ADS_1


"loh kok dokter ada disini?" tanya Jira heran karena tak biasanya Sachi ikut membantunya terapi.


"silahkan duduk" kata Sachi lagi.


mereka berdua duduk berhadapan dengan dokter Miranda. wanita berumur 45 tahun itu tersenyum sekilas pada mereka.


"saya sudah tau kejadian semalam dari Sachi. dan saya sangat menyayangkan kalian sudah berbohong pada saya tentang kalian sudah pernah mencobanya" kata Miranda langsung pada intinya.


"maaf dok" lirih Jira tertunduk.


"bagi saya tidak masalah, tapi jangan salahkan saya jika trauma ibu tidak dapat disembuhkan kalau kalian tidak terbuka pada saya" jawab Miranda tegas.


"saya minta maaf dok! sebagai suami saya tidak bisa membantu istri saya dalam mengatasi traumanya. saya hanya terlalu takut melihat istri saya histeris dan saya harus menamparnya agar ia tenang" jelas Zafa sungguh.


Miranda menarik nafas dalam "sesuai keterangan Sachi saya menarik kesimpulan kalau terapi nya berjalan dengan baik.seminggu kedepan kita akan terus lakukan terapi, tapi frekuensi waktunya hanya 30 menit. dan setelah itu saya serahkan pada kalian untuk mencoba kembali di rumah." jelas Miranda.


"lalu?" tanya Zafa.


"pak Zafa kesembuhan istri anda sekarang berada di tangan anda.saya harap anda mau membantu istri anda untuk melupakan kejadian malam itu.bantu ingatkan alam bawah sadarnya bahwa ketika anda menyentuh tubuhnya itu adalah anda suaminya. apa anda bisa?" tanya Miranda menatap Zafa lekat-lekat.


Zafa mengangguk.


"kalau saya sampai lepas kontrol lagi bagaimana dok?" tanya Jira khawatir.


"ibu kan sudah melakukan terapi, sudah belajar mengendalikan emosi dan fikiran. terapkan yang sudah kita ajarkan. jika merasa mulai sulit bernafas segera hentikan dan atur kembali pernafasan ibu. beri sugesti bahwa yang menyentuh ibu adalah suami ibu sendiri" terang Miranda.


"dokter resepkan obat aja deh buat jaga-jaga nanti kalau saya histeris lagi" pinta Jira.


Miranda menolak "tidak! kalian harus mencobanya dengan benar sesuai arahan saya!" jawab Miranda tegas dan tatapan tajam.


"baik kita langsung terapinya" ajak dokter Sachi.


Jira sudah duduk di sofa agar bersiap untuk melakukan terapi pagi ini.berbeda dari biasanya, terapi kali ini terasa lebih cepat.mama Fanya juga ikut menyaksikan Jira saat di terapi ia juga sempat bertanya pada dokter Miranda tentang kondisi Jira. dan Fanya merasa bersyukur kalau taruma menantunya itu bisa sembuh secepatnya jika saja Zafa dan Jira saling bekerja sama.


"mama langsung pulang ya, tadi mama sudah pesan taxi online" kata Fanya saat mereka keluar dari tempat praktek dokter Miranda.


"kok nggak bareng kita ma?" tanya Jira.


"kasian Zafa harus bolik-balik ngantar mama, terus antar kamu. kan Zafa mau kekantor" jelas Fanya. "itu taxinya sudah datang mama pulang ya!" kata Fanya memeluk Jira dan Zafa bergantian.

__ADS_1


"dada.." lambai Jira saat mobil yang dinaiki mama mertuanya meninggalkan mereka.


"ayok, masuk mobil" ajak Zafa mengandeng istrinya menuju tempat parkir.


"aku ikut ke kantor ya" pinta Jira saat sudah duduk di bangku kemudi.


"boleh! kita makan siang dulu. kamu mau makan apa?" tanya Zafa di balik kemudi.


"yang jelas aku pengen makan nasi. lapar bangat soalnya" kata Jira mengelus perutnya.


"ok, bagaimana kalau kita makan di restoran padang?" ajak Zafa.


Jira mengangguk cepat. dan Zafa segera melajukan mobilnya menuju salah satu restoran Padang yang terkenal.


...🐖🐖🐖🐖🐖...


balik dari makan siang Zafa dan Jira menuju gedung perusahaan ZF Corp. Jira merasa rindu dengan suasana kantor yang sudah hampir 3 bulan ini tak pernah ia datangi.


"aku tempat anak-anak disain dulu, kamu duluan ke atas nanti aku susul" kata Jira pada Zafa saat hendak menaiki lift.


"jangan lama-lama" pinta Zafa mengecup puncak kepala istrinya. dan di balas Jira kecupan di pipi Zafa.


sampai di lantai 10 Jira melangkah dengan lebar serta penuh semangat untuk segera bertemu dengan teman-teman yang sudah sangat dirindukannya.


"siang... " sapa Jira langsung masuk keruangan yang beberapa bulan belakangan sempat ia tepati.


"kak Jira" Lila


"miss Jira" Banyu


"Jira" Andika dan Siska


mereka langsung menghampiri Jira dan memeluk teman dan rekan kerja yang sangat mereka rindukan itu.


"gimana kabarnya?" kita khawatir loh sempat tau kalau lo mengalami trauma" tanya Siska.


"seperti yang kalian lihat! gue baik-baik aja" jelas Jira tersenyum.


"maaf ya kita nggak datang jengguk lo. soalnya pak Zafa nggak kasih izin" timpal Andika.

__ADS_1


"nggak apa-apa. gue yang minta maaf sejak gue nikah kita jadi jarang ketemu. maaf ya! suami gue cuma protektif aja sejak tau gue trauma" jelas Jira duduk di meja bundar tempat biasa mereka diskusi.


__ADS_2