Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 85


__ADS_3

"Ini yang kau minta," kata seorang pria tua melemparkan ke atas meja sebuah map berisi surat-surat.


Orang yang ada di hadapan pria tua itu membacanya lalu wajahnya tersenyum senang karena permintaannya di penuhi semua. bahkan ia juga di bebaskan dari dalam penjara dan juga di beri jaminan.


"Terimakasih tuan, senang berbisnis dengan anda," kata Miko


Pria tua itu hanya menarik sudut bibirnya. "Sekarang katakan dimana orang yang mempunyai sempel DNA yang kau berikan kemarin!?"


"Sebelum saya tunjukkan orangnya, saya punya satu permintaan lagi," pinta Miko.


"hey... jangan main-main kau dengan kami ya," geram Moses mencengkram krah baju Miko.


"Saya hanya minta setelah kalian berhasil mendapatkan hartanya, kalian hancurkan suami serta perusahaannya. kalau bisa bunuh suaminya tapi wanita itu harus tetap hidup dan serahkan dia pada saya," kata Miko santai.


Ini memang tujuan Miko. ia akan melakukan segala cara agar Jira bisa menjadi miliknya kembali. ia tidak peduli jika nyawa Jira dalam bahaya.


Anak dan ayah itu saling menatap seolah berbicara meminta pendapat lewat mata.


"Baik katakan perusahaan mana yang harus kami hancurkan dan siapa yang harus kami bunuh?" tanya Moses melepaskan cengkeramannya.


"ZF Corp."


"Apa?" tanya ayah dan anak itu. mereka berfikir sejenak. lalu saling menatap lagi.


"Jadi wanita yang kau maksud adalah istri dari Zafa Farjana?" tanya Reza Arianda.


Miko mengangguk.


"hahahaha.... ini benar-benar menarik," tawa Reza. "Permintaan mu adalah hal yang ingin aku lakukan dari dulu, hanya saja saya harus memiliki harta dari Gumalang terlebih dahulu agar bisa menghancurkan perusahaan itu," kata Reza senang.


"Lalu apa rencana ayah?" tanya Moses juga ikut senang. ia juga memiliki maksud lain setalah ia tahu kalau Jira istri Zafa adalah orang yang mereka cari selama ini dan juga wanita yang pernah menolaknya.


"Kita culik dia."


"Itu tidak akan mudah, sekarang ia di kelilingi banyak penjaga sejak saya ingin memperkosanya. makanya saya mendekam dipenjara karena di tuntut oleh suaminya itu. bahkan saya juga sempat dibuat babak belur oleh nya," kata Miko geram mengigat Zafa.


"Kita cari cara lain. pasti mereka akan lengah. dan setelah kita dapatkan harta Gumalang, kita hancurkan si Zafa itu dan juga bisnisnya," usul Moses.


Ayah dan anak itu benar-benar licik. mereka menghubungi rekan bisnis lainnya untuk membantu mereka mendapatkan Jira dengan imbalan 5% dari harta Gumalang yang nantinya akan mereka dapatkan.

__ADS_1


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


Zen sudah mengetahui siapa yang sudah membebaskan Miko. ia juga tau kalau Miko sudah menceritakan pada orang itu kalau Jira adalah gadis yang selama ini mereka cari. Zen hendak pergi menemui Jhoni Purnama karena ini hal yang harus ia sampaikan segera.


kring... kring... ponsel Zen berbunyi.


πŸ“±hallo nona...


πŸ“±Zen tolong jemput saya,antar saya kerumah sakit kepala saya sangat pusing...


πŸ“±baik nona, saya akan sampai setengah jam lagi...


Zen memutus sambungan telpon. lalu ia menekan tombol telpon darurat karena ia tak bisa meninggalkan Jira sekarang.


tut, tut, tut...


"akh... sial. dasar pria tua keras kepala.kenapa saat genting seperti ini semua nomornya tidak bisa dihubungi," geram Zen mengacak rambutnya frustasi.


"Aku kirim pesan terlebih dahulu," gumam Zen sendiri sambil mengetik pesan.


Zen memacu mobil nya menuju kediaman Jira dan Zafa.


"ting" suara lift menandakan ada orang yang datang di penthouse nya.


Jira mengerutkan dahinya "Mr.Ben."


"Selamat malam Mrs. Jira," sapa Ben tersenyum.


"Malam.ada keperluan apa anda kesini. suami saya sedang tidak ada dirumah. dan dari mana anda tau kalau kami tinggal disini?" tanya Jira khawatir.


Ben memberikan senyuman terbaiknya. "Apa saya tidak di persilahkan duduk?"


"hhmm... maaf mari," ajak Jira menuju ruang tamu.


"Awalnya saya ingin membeli hunian ini, tapi ternyata sudah di beli oleh suami anda, makanya saya datang kesini." jelas Ben.


"Baik lah tapi maaf Zafa sedang tidak ada dirumah bisa anda pergi sekarang?! saya juga sedang tidak enak badan," jelas Jira.


"Kamu kenapa? biar saya bantu, ayo kita kerumah sakit," ajak Ben mendekati Jira di sofa sebelahnya.

__ADS_1


"Maaf, saya akan pergi dengan Zen," tolak Jira


"Tidak apa-apa mari saya antar," paksa Ben mencoba mengangkat Jira.


"Singkirkan tangan anda dari saya," pekik Jira marah.


Ben tersenyum penuh maksud "Kenapa? kau wanita pertama yang menolak pesona saya.kemarilah saya ingin mencicipi tubuh indah ini," Ben mulai memaksa Jira.


"Pergi sebelum saya panggil penjaga," ancam Jira menjauh dari Ben.


"hahaha... para penjaga itu sudah aku lumpuhkan saat aku naik kesini. kau pikir aku sengaja mampir. aku tau suami mu itu sedang di luar negri makanya aku segera ke kota ini hanya ingin mencicipi dirimu," jelas Ben mendekati Jira.


"Pergi, dasar bajingan." Jira mulai ketakutan ia melemparkan benda apa saja pada Ben.tapi pria itu terus mendekatinya.


Merasa ada celah Jira berlari menuju lift. "akh..." pekik Jira kala tangannya di tarik Ben.


"Kesini kau cantik, akan aku buat kau merasa puas. permainan ku jauh lebih hebat dari suami mu itu. karena aku sudah banyak pengalaman nya," tutur Ben memaksa Jira di atas sofa, mengukung tubuh wanita itu dibawahnya.


"Lepas kan saya brengsek, saya tidak tertarik dengan pengalaman mu itu," geram Jira dan meludahi wajah Ben.


"Berani kau... "Plak... Ben menampar pipi mulus Jira


wanita itu sudah tak sadarkan diri.ia mencoba mencicipi bibir Jira hingga... bbhhuugg... seseorang memukul Ben dari belakang.


" aakkhh... " erang Ben memegang kepalanya bagian belakang.


"Nona, maaf saya terlambat," pinta Zen menggoncang tubuh Jira.


"Sial siapa kau?" tanya Ben marah masih memegang kepalanya.


bbhhuugg... Zen kembali memukul Ben.terjadilah baku hantam antara kedua pria itu. tapi Zen bukan lah orang sembarangan. ia adalah anak didik Jhoni Purnama pastinya menghadapi Ben merupakan hal ringan baginya. dan benar saja Ben sudah terkapar tak berdaya.hunian mewah dan megah itu hancur berantakan akibat perkelahian barusan.


"Nona,nona Jira," panggil Zen.wajah Jira tampak pucat. Zen yang khawatir segera mengangkat tubuh Jira turun kebawah.masuk ke mobil dan meluncur kerumah sakit.


Sampai di rumah sakit Jira langsung dilarikan ke UGD.Zen dengan cemas menunggu di sana. mencoba menghubungi Zafa tapi nomornya tak aktif. lalu menghubungi Tristan, ternya ia sedang di luar kota.pada siapa lagi ia harus meminta bantuan untuk menjaga Jira. apalagi mertua Jira juga sedang berada di inggris.


"aakkhh... kenapa semua nya mendadak seperti ini," frustasi Zen kembali menghubungi Jhoni.


"Sial, sial, sial," umpat Zen menendang tembok.

__ADS_1


ceklek...dokter keluar dari UGD.


__ADS_2