
Jira menghembuskan nafas lalu memeluk laki-laki bertubuh kekar itu mengelus punggung suaminya memberikan kenyamanan agar suaminya merasa tenang. "diluar sana banyak orang yang menginginkan kamu, mereka iri dengan posisi aku sekarang! lalu apa tanggapan kamu?" tanya Jira lembut menyisir rambut Zafa dengan jarinya.
"aku nggak peduli, karena aku cuma mau kamu" jelas Zafa yakin.
Jira tersenyum "lalu apa yang membuat kamu gusar dan khawatir saat ada orang lain yang ingin merebut aku dari kamu? aku juga nggak peduli, karena aku cuma mau kamu.jadi kamu cukup percaya sama aku" jelas Jira "aku juga bisa marah karena banyak perempuan diluar sana yang ingin menjadi istri kamu bahkan mereka akan rela jadi istri kedua atau ketiga asal kamu mau menikahi mereka, tapi aku percaya dan yakin sama kamu".
" cih... segitunya. aku cukup punya istri satu, karena aku tidak menginginkan mereka" jawab Zafa kesal.
"sekarang kamu paham kan"
Zafa mengangguk dan tersenyum "maaf tadi aku hanya terbawa emosi, aku tidak rela kalau tubuh ini dimiliki orang lain".
"orang akan sadar kalau tubuh ini sudah ada pemiliknya. kamu tau saat aku di spa mereka khawatir sama aku.bahkan mama juga ngeri lihat tubuh aku yang merah semua" kata Jira menipiskan bibir.
"hahaha... maaf sayang" pinta Zafa memeluk Jira.
"pakai bajunya kita turun makan malam. papa sama mama pasti sudah di meja makan" kata Jira memberikan pakaian pada Zafa.
Jira dan Zafa turun menuju meja makan. disana sudah ada mama Fanya yang sedang menata makanan.
"kamu sudah pulang, Tristan mana?" tanya Fanya pada Zafa.
"bentar lagi juga pulang mam, tadi dia masih urus kerjaan" jawab Zafa duduk di kursi."papa mana mam? "
"itu dia, panjang umur" jawab Fanya melihat suaminya turun.
"mari kita santap makan malamnya" ajak Zavier.
"makan malam kita spesial loh pa, kita dimasakin sama mantu" terang Fanya tersenyum senang.
"wah... ini pertama kali kita coba masakan Jira" balas Zavier.
"silahkan di nikmati, semoga mama dan papa suka" tawar Jira ia mengambilkan makanan untuk suaminya.
"terimakasih sayang" pinta Zafa menerima piring berisi nasi dan lauk.
"wah... kayaknya enak nih" timpal Tristan yang baru datang dan langsung duduk. "ini pasti masakan Jira".
"kok kamu tau?" tanya Fanya
"Jira suka antar makanan ke kantor mam" jelas Tristan mengambil nasi dan lauk.
"dari mana Tris" tanya Zavier
"ada sedikit urusan pah".
"kenapa pulang nggak bareng Zafa?" tanya Zavier lagi
__ADS_1
"Tristan urus sisanya pa, aku sengaja pulang duluan karena capek" timpal Zafa
Zavier hanya mengangguk dan menikmati masakan menantunya yang ternyata memang lezat.begitu pula dengan Fanya beserta anak menantu mereka. tak ada yang bicara.mereka menikmati makan malam dengan hikmat hanya dentingan sendok dengan piring yang menemani suasana di atas meja makan.
"kalian ikut papa" ajak Zavier pada anak-anaknya.
"aku sama mama nonton tv ya" kata Jira kala Zafa mencium pipinya.
"dari mana kalian" tanya Zavier dingin di kursi kebesarannya. mereka berada di ruang kerja Zavier.
Tristan hanya melirik Zafa meminta persetujuan kakaknya untuk bicara.Zafa tau papanya itu tak bisa dibohongi.
"Tristan sudah menangkap Miko pa, pria yang sudah mencelakai Jira. dan aku sudah menghajarnya.sekarang dia sudah di kantor polisi" jelas Zafa.
Zavier mengangguk "lalu?"
"semua bukti sudah diserahkan pa. kita hanya menunggu tanggal persidangan" sambung Tristan.
"bagus.lalu bagaimana kelanjutan pencarian kamu Tris?" tanya Zavier.
Tristan kembali melirik Zafa.
"maaf pa, sedikit tertunda,karena aku minta bantuan Tristan untuk mengurus bajingan itu" jelas Zafa
"aku sudah memerintahkan anak buah ku untuk terus menyelidiki dan mencarinya pa" sambung Tristan.
Tristan membacanya tampak ia mengerutkan dahi.
"bukannya nama ini sama dengan nama orang tua Jira" tanya Tristan pada Zafa.
Zafa ikut membaca kertas yang dipegang Tristan."yang dipakai Jira Surya Gumala sedangkan ini Hendri Surya Gumalang, sedikit sama" jelas Zafa
"tapi Jira juga punya paman yang namanya uncle Jhon" timpal Zavier.
"dan kita sedang mencari Jhoni Purnama" sambung Tristan.
mereka bertiga terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"sebaiknya lo tanya sama Jira" saran Tristan
Zafa mengangguk "aku susul Jira dulu" pamitnya keluar.
di ruang keluarga Jira dan Fanya sedang mengobrol. sesekali mereka juga tertawa etah apa yang sedang di bahas,menantu dan mertua itu tampak akrab.
"sayang" panggil Zafa "bisa kita bicara sebentar? mam aku bawa Jira kekamar ya" izin Zafa.
"ya udah deh, mama juga mau istirahat" kata Fanya.
__ADS_1
"besok kita ngobrol lagi ya ma" pamit Jira.
"ada apa?" tanya Jira heran saat mereka sudah di kamar.
"aku mau tanya, nama papa kamu siapa?"
"kenapa? kok tumben? kamu nggak inggat saat nikah aku binti apa? balas Jira.
"aku ingat cuma mau memastikan. soalnya papa punya teman lama namanya Hendri Surya Gumalang" jelas Zafa.
"itu beda sayang, emang sedikit sama" jelas Jira merangkak keatas kasur.
"terus nama uncle kamu?"
kring... kring... kring... ponsel Jira berdering.
Jira mengerutkan dahinya saat melihat layar ponsel. nomor yang tak dikenal menghubunginya.
"sebentar aku angkat telpon ini dulu" jelas Jira dan diangguki oleh Zafa
📱hallo...
📱ini uncle... selamat atas pernikahan kamu. maaf uncle baru hubungi.untuk saat ini jangan jelaskan apa-apa pada suami kamu, tunggu uncle datang untuk menjelaskan semuanya...
📱tapi uncle Zafa suami aku, dan aku percaya padanya...
📱Jira, belajar dari hubungan kamu dan Miko kalian yang kenal bertahun-tahun tapi dia mengkhianati kamu, apalagi suami kamu kalian kenal hanya beberapa bulan..
📱tapi uncle...
📱tunggu uncle Jira! 1 bulan uncle pasti datang.inggat pesan uncle!
tut... tut... tut... sambungan telpon langsung terputus. Jira dilema, satu sisi Zafa adalah suaminya yang pasti Zafa tidak akan melukai dan menyakitinya apa lagi mengkhianati kalau Zafa tau identitas aslinya. tapi Jira juga tidak bisa mengabaikan pesan uncle Jhon, bagaimana pun pria itu yang selama ini selalu menjaga dan melindunginya.
"siapa sayang" tanya Zafa menyadarkan Jira dari lamunan.
"hah.. itu uncle Jhon. dia akan datang kesini 1 bulan lagi" jelas Jira
Zafa mengangguk "siapa nama asli uncle Jhon itu?"
Jira tampak berfikir "kata uncle Jhon dia akan mendatangi kamu dan papa untu menjelaskan sesuatu" jelas Jira
"tentang apa?"
Jira mengangkat bahu "kita tunggu saja kedatangannya. sekarang ayo tidur aku capek" ajak Jira membaringkan tubuhnya.
Zafa ikut berbaring di sisi istrinya. tapi otaknya mulai berpikir. ada yang di tutupi Jira, tapi apa? apakah memang ada hubungannya dengan yang dicari Tristan selama ini? ini aneh! mencurigakan!
__ADS_1