
saat bangun tidur Jira kembali mengecek suhu tubuh Zafa dengan menempelkan telapak tangannya di kening Zafa.
"masih panas" gumam Jira pelan. lalu ia memutuskan untuk memasak sarapan pagi. beberapa bahan makanan sudah selesai di olahnya. Jira kembali ke kamar Zafa untuk mandi dan berganti pakaian. pagi ini Jira memang memutuskan untuk tidak berangkat kekantor karena kondisi Zafa yang belum fit.
jam menunjukkan pukul 9 pagi. Zafa sudah bagun dari tidur.tangannya meraba-raba di atas kasur mencari keberadaan calon istrinya. kemudian Zafa turun dari kasur keluar kamar karena Jira tak ditemukannya.
"sayang..." panggil Zafa berjalan ke arah dapur. tapi sosok yang dicari juga tak ada di sana. "Jira... sayang... " panggil Zafa lagi.
"ia,aku di ruang tamu!" jawab Jira setengah berteriak agar Zafa dapat mendengar.
Zafa datang menghampiri Jira. ternyata di sana sudah ada Toni.
"ngapain kamu disini?" tanya Zafa pada Toni
"aku tadi pagi yang minta Toni datang kesini bawa laptop dan juga beberapa laporan. soalnya aku butuh bantuan dia buat bikin laporan, karena aku lagi sibuk atur ulang jadwal kamu" jawab Jira menjelaskan.
📱hallo... selamat siang
📱bla... bla... bla...
📱ia maaf karena saya baru mengabari. nanti akan saya atur ulang jadwalnya. sekali lagi saya minta maaf.
📱bla... bla... bla...
📱baik, secepatnya akan saya kabari lagi. terima kasih.
percakapan Jira dengan asisten atau sekretaris klien yang sudah keberapa lewat telpon. mengkonfirmasi beberapa meeting yang batal harus di jadwal ulang karena keadaan Zafa yang masih sakit.
"kamu mau minum kopi atau teh dulu atau mau sarapan? " tanya Jira pada Zafa tapi masih fokus pada layar laptopnya
"aku minum kopi dulu deh, sarapannya nanti aja" kata Zafa yang juga ikut duduk di soffa
"aku bikinin dulu ya, sekalian buat Toni" pamit Jira menuju dapur
"hhmm... " balas Zafa. "bikin apaan sih lo ton?" tanya Zafa pada Toni yang sedang serius
__ADS_1
"ini pak ada beberapa laporan yang di minta dewan direksi dari kemarin. tapi bapak nggak masuk akhirnya tadi mbak Jira jadi kena imbasnya. belum lagi ada beberapa klien yang marah-marah karena mereka sudah datang untuk meeting tapi bapak nggak datang" jelas Toni panjang lebar
"ini kopinya" Jira membawa 2 cangkir kopi.
"sayang maaf ya, kamu jadi repot karena aku" pinta Zafa merasa bersalah.
"sekarang kamu bantuin aja, karena aku lagi repot banget. belum lagi anak-anak disain bilang sama aku ada beberapa proyek yang kemaren aku urus di hentikan karena ada miss komunikasi sama kepala disain yang baru" jelas Jira sibuk pada ponselnya
📱ia la...
📱bla... bla... bla...
📱apa dibatalkan? kok bisa?
📱bla... bla... bla...
📱ok nanti aku coba cari solusi
"ada apa? " tanya Zafa penasaran
"rugi besar maksudnya? " tanya Zafa tak paham
"pasti rugi besar dong Zafa. kamu tau nggak keuntungan dari klien yang satu ini tuh bisa puluhan miliyaran. aku sampai rela loh datangi kantor mereka 3 kali sampai mereka mau menerima konsep disain kita. tapi sekarang sia-sia" jelas Jira lesu
"Toni,telpon bagian HRD sekarang. pecat kepala disain yang baru" titah Zafa tegas
"itu bukan solusi Zafa" kesal Jira menghempaskan diri di sofa.
"kamu punya solusinya? " tanya Zafa lembut
Jira tampak berfikir sejenak. "gini aja aku akan atur ulang jadwal kamu. lalu untuk beberapa laporan akan dikerjakan Toni. untuk divisi disain sebisa mungkin aku akan minta Lila untuk menghubungi klien dan membuat janji agar bisa bertemu mereka. sementara aku akan minta Andika sama siska untuk meeting dengan beberapa klien yang masih bisa mereka tangani,tapi kalau masih ada masalah aku harus turun lapangan.untuk kamu sebisa mungkin aku akan minta Toni mulai ikut meeting dan membantu kamu dalam membuat laporan. aku rasa Toni pasti bisa" jelas Jira mengutarakan isi fikirannya.
Zafa mengangguk setuju. "ok menurut aku ide yang bagus.ternyata kamu pintar juga ya mengatasi situasi darurat ini" puji Zafa kagum
"maaf pak,kepala disain nya jadi dipecat atau tidak? " tanya Toni memastikan
__ADS_1
"pecat" kata Zafa tegas. "biar calon istri saya yang akan mengurus divisi disain selanjutnya" jelas Zafa yakin.
Jira tersenyum senang. "makasih sayang" pinta Jira mengelus pipi Zafa. "sekarang kamu bantu aku ya cek beberapa laporan yang sudah dibikin Toni. aku masih harus telpon beberapa Klien untuk atur ulang jadwal meeting" terang Jira memberikan setumpuk dokumen.
Sudah hampir jam makan siang tapi mereka masih disibukkan dengan pekerjaan yang sempat di tinggalkan Zafa. belum lagi pekerjaan Jira akan bertambah karena kembali mengurus divisi disain yang sudah berantakan karena ditinggalnya.
"kita makan siang dulu yuk" ajak Jira. "tadi pagi aku udah masak, tinggal dipanasin aja lagi.tunggu ya aku kedapur dulu buat siapin makanan" jelas Jira menuju dapur.
"hhmm..." balas Zafa sibuk dengan dokumen ditangannya.
"hhmm... pak jadi udah yakin nih, mau nikahin mbak Jira?" tanya Toni
"maksud lo apa?" tanya Zafa dingin
"hehehe... saya cuman mau memastikan aja pak!" jelas Toni cengengesan.
"jangan bilang lo mata-mata si Tristan" tebak Zafa yakin
"hhmm... nn.. nnggak" jawab Toni gugup.
"ngaku aja deh lo, gue tau lo itu diminta Tristan buat laporin semuanya sama dia kan" tunjuk Zafa pada Toni.
"tau aja si bapak. tapi kan saya hanya bekerja sesuai perintah pak" jawab pria yang masih berusia 25 tahun itu.
"cih... dasar lo. sekarang lo bilang sama bos lo itu. ia gue mau nikahin Jira secepatnya. jadi suruh dia balik cepat buat urus perusahaan karena gue mau cuti 2 bulan habis nikah mau honeymoon. tuh catat jangan sampai lo lupa" jelas Zafa pada Toni.
"hehehe... siap pak dengan senang hati" jawab Toni memberi hormat. lalu segera mengetik pesan di ponselnya.
"ngapain lo?" tanya Zafa
"saya kirim pesan buat bos Tristan sesuai yang bapak sampaikan tadi" jelas Toni santai.
"ih... gila lo ya, kalau bukan lagi butuh lo. udah gue pecat lo" geram Zafa kesal
"lah salah saya dimana pak?" kan tadi bapak sendiri yang minta saya buat sampaikan sama bos Tristan. kenapa sekarang bapak malah marah? " tanya Toni bingung.
__ADS_1
"pantas lo ya bisa jadi anak buah nya si Tristan. lo sama kayak dia, bikin kesal" gerutu Zafa meninggalkan Toni menuju meja makan.