Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 101


__ADS_3

"Loh, ada apa ini? kok datang rame-rame?" tanya Fanya heran menyambut kedatangan anak menantunya dan juga Zen.


"Mama nggak ingat kemaren Jira minta apa sama Trsitan?" tanya Jira.


"Aduh, maaf sayang Mama lupa. lagian tadi pagi Mama juga nggak ketemu sama nih anak," jelas Fanya memukul lengan Tristan,"Sana cepat panjat pohon mangga di halaman belakang."


"Mam, kasih makan dulu kek anaknya. Lapar ini," rengek Trsitan.


"Nggak! nanti aja, hukuman buat kamu karena lupa penuhi permintaan ponakan," tukas Fanya mendorong anaknya menuju halaman belakang.


Dengan langkah gontai Tristan melangkah menuju pohon mangga.ia berdiri sejenak di bawah pohon lalu mendongakkan kepalanya keatas menatap buah mangga.Tristan menghembuskan nafas malas melepas stelan jas mahal yang melekat di tubuhnya menggulung lengan kemeja sampai siku. akhirnya Tristan memulai misinya.


"Ayo Tris, yang itu, "tunjuk Jira dari bawah.


"Ia, ia" jawab Tristan kesal. "Zafa bantuin dong." pinta Tristan berteriak dari atas pohon.


"Nggak! kan lo yang di minta Jira. jadi gue nggak ikutan.Cepatan Tris, udah lapar ini," kilah Zafa dari bawah mendongakkan kepala ke atas melihat Tristan yang lagi memetik buah mangga.


"Ia ... gue juga lapar tau," sahutnya."Woi Zen tangkap ini," Tristan melempar buah mangga.


dengan sigap Zen menangkap mangga muda yang berhasil di petik Tristan. "Ra ini udah banyak.kasian Tristan,udah ya biar dia turun," bujuk Zen.


Jira mengangguk lalu melenggang masuk kedalam rumah. "Bawain ya kak, mangga nya."


"Sudah Tris, kamu boleh turun,"teriak Zen.


"Akhirnya" syukur Tristan mulai turun dengan perlahan.


"Perlu tangga nggak?" tanya Zafa


"Nggak perlu, ini gampang buat gue," jawab Tristan sombong.perlahan ia menapakkan kaki menginjak dahan. tangannya berpengangan pada dahan lainya untuk bertahan.


"Cepat Tris!" lanjut Zafa


Tristan sedikit buru-buru. tak melihat dengan baik tempat berpijak. tak sadar ia menginjak dahan lunak dan... bbbbrruuugghhhh..... ia terjatuh dari atas pohon mangga dengan posisi terlentang.


"Aduh punggung gue!" pekik Tristan meringis.


Zafa dan Zen mengulum senyum.antara senang melihat Tristan jatuh tapi juga kasian dia meringis kesakitan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Fanya khawatir menghampiri mereka.


"Ini Ma Tristan jatuh," jawab Zafa


"Ya di bantuin dong, kok malah kalian ketawa."


"ia tante," balas Zen lalu ia membantu Tristan berdiri dan memapahnya masuk kedalam rumah.


"Makanya jangan sok! tadi gue tawarin pakai tangga katanya gampang," ledek Zafa


"tau ah, ini juga gara-gara istri lo minta aneh-aneh," sungut Tristan di bantu duduk oleh Zen. "lagian istri lo kenapa sih,tiba-tiba minta mangga muda yang harus dari pohonnya?"


"Jira itu lagi ngidam. Namanya ibu hamil itu pasti akan minta yang aneh-aneh.Kata orang permintaan bayi,kalau nggak di turuti nanti anaknya ileran," jelas Fanya menghampiri Tristan. "Sini mama lihat punggungnya."


"Tapi dari kemaren dia nggak minta apa-apa tuh Mam. Makan aja susah kalau nggak di bujuk," imbuh Zafa heran.


"Kemaren kan kondisi Jira lagi nggak sehat Zafa. sekarang Jira sudah sembuh jadi selera makannya mulai bangkit," lanjut Fanya. "Udah kalian pada makan gih, Mama udah minta bibik siapin makanannya. Mama bantu Jira dulu bikin rujak."


"Tapi punggung aku nggak apa-apa kan Mam?" tanya Tristan.


"Nggak apa-apa, cuma lecet sedikit udah mama kasih obat merah," terang Fanya meninggalkan Trio pria gagah itu.


"Kamu nggak apa-apa kan Tris? maaf ya kalau Jira bikin repot," pinta Zen saat mereka sudah duduk di meja makan.


Zen mengangguk.


"Habis ini kita balik kekantor," cetus Zafa


"Gue nggak. gue mau tidur, punggung gue sakit karena permintaan anak lo yang aneh itu. lagian kenapa mintanya sama gue, lah bapaknya yang bikin enak-enak aja." gerutu Tristan menyendok makanan.


"Biar saya aja yang balik kekantor tuan," saran Zen


"Baik, biar nanti saya pulang bareng Jira. kamu nggak perlu antar kami," putus Zafa.


Mereka bertiga menyantap makanan yang terhidang dengan lahap. karena memang perut sudah keroncongan dari tadi,jam makan siang sudah terlewatkan akibat memenuhi ngidamnya bumil yang baru sembuh itu.


"Saya pamit kekantor dulu tuan.tante terimakasih makanannya, saya balik kekantor dulu," pamit Zen.


"Hati-hati ya Zen," balas Fanya dengan senyuman.

__ADS_1


"Ra, kakak balik kantor ya. nanti kalau mau apa-apa telpon aja. kakak pergi."


"Hati-hati kak," kata Jira melambaikan tangan pada Zen yang sudah di dalam mobil.


"Sudah puas makan mangga mudanya?" tanya Zafa menoleh kesamping istrinya.


Jira mengangguk tersenyum senang. "Kita pulang yuk, aku capek mau istirahat."


"Kita pamit sama mama dulu," ajak Zafa.


karena hari sudah mulai sore Zafa dan Jira memutuskan untuk pamit pada Fanya kalau mereka akan kembali kerumah baru.Waktunya Jira istirahat, minum vitamin dan juga obat.


Malam harinya usai makan malam Zafa dan Jira memutuskan bersantai sambil nonton tv di ruang keluarga.Ditemani cemilan yang mereka beli saat perjalan pulang.


"Aku kemaren ngomong sama Zen soal kita akan mengenalkan dia sama cewek," Zafa memulai obrolan.


"Terus?" tanya Jira yang menyandar di bahu suaminya.


"Dia setuju sayang, tapi kita cuma sebatas mengenalkan saja.Untuk lebih lanjut,itu keputusan mereka. gimana kamu setuju?"


"Boleh,tapi siapa ya yang kira-kira cocok sama kak Zen?" Jira mulai berfikir.


"Aku juga nggak tau. Itu jadi urusan kamu aja deh. Aku nggak ngerti soal nya," jawab Zafa mengambil kaki Jira lalu memijitnya.


"Aku juga bingung. Soalnya aku kan nggak punya banyak teman cewek."


"Santai aja, nggak usah buru-buru.Besok kamu ikut aku kekantor ya,soalnya kita akan meeting dengan pemegang saham. jadi kamu harus ikut memberikan keputusan dan juga biar nanti kamu tau hasil akhirnya," saran Zafa


Jira mengangguk sambil memasukkan cemilan kedalam mulutnya. "Ok deh,siapa tau nanti aku nemu calon istri buat kak Zen."


"Tapi kamu jangan terlalu maksa Zen untuk segera menikah. Kasih dia waktu."


"Ia.Kita kekamar yuk. Besok kan mau berangkat kekantor. Aku takut bagun kesiangan. Soalnya sekarang aku bawaannya tidur mulu," ajak Jira


"Ayok sini aku gendong," Zafa mengangkat tubuh istrinya ala bridal.


Jira tersenyum malu-malu mengalungkan lengannya di leher Zafa. "Beruntungnya aku punya suami pengertian."


"Ini nggak seberapa kok sayang dibandingkan perjuangan kamu mempertahankan anak kita. Aku sempat kasihan lo lihat kamu muntah-muntah belakangan ini. Makan juga kalau nggak di paksa nggak mau.Apa lagi kamu harus transfusi darah dan suntik vitamin. Aku jadi merasa apapun yang aku lakukan dan berikan untuk kamu nggak akan bisa membayar pengorbanan kamu," urai Zafa saat mereka sudah sampai di kamar.

__ADS_1


"Dengan kamu memperlakukan aku seperti ini aja aku udah senang kok," jawab Jira mengelus lembut pipi Zafa. "Muach terimakasih hubby," kecup Jira di bibir Zafa.


Zafa tersenyum. "Sekarang kita bobok yuk."


__ADS_2