Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 108


__ADS_3

"Apa ada hal lainnya yang ingin kamu sampaikan atau di pertanyakan, sebelum kita membicarakan pernikahan kalian?" tanya Jira


"Ke - kenapa harus aku kak?" tanya Lila gugup. "Diluar sana pasti banyak wanita lain yang jauh lebih baik dari aku."


"Jadi kamu bukan wanita baik-baik?"


Lila menggeleng dengan cepat menggoyangkan kesepuluh jarinya didepan Jira. "Bukan begitu maksud ku kak," sanggah Lila menggaruk kepalanya merasa bingung bagaimana cara menjelaskan isi hatinya.


"Maksud ku, di luar sana banyak wanita yang pastinya jauh lebih cantik dari aku, juga jauh lebih pintar. pokoknya lebih cocok lah bersanding dengan pak Zen," tutur Lila berusaha menjelaskan.


"Memang banyak wanita yang cantik, pintar atau **** di luar sana. tapi aku memilih kamu, karena kamu memiliki hati yang tulus, dan itu sudah cukup," tekan Jira.


"Tulus?


Jira menghela nafas. "Bagaimana pendapat kamu kalau perjodohan ini di batalkan?"


"Aku lega karena tidak jadi menikah dengan pria asing yang tidak aku kenali dan aku cintai."


"Bukankah kamu akan merasa rugi jika tidak jadi menikah dengan Zen?"


"Rugi?" Lila berfikir sejenak, "Aku tidak mengerti, letak ruginya dimana? malah aku merasa sedih jika menikah tanpa cinta. karena di saat kami menikah,kami tidak merasakan kebahagiaan seperti pasangan lainnya yang menikah atas dasar cinta," jelas Lila mengutarakan isi hatinya yang merasa keberatan.


"Jika kamu menikah dengan Zen kamu akan memiliki suami yang tampan.Pria yang di kagumi oleh banyak wanita.kamu juga tidak perlu lagi bekerja, karena Zen akan memberikan apa yang kamu butuhkan juga yang kamu inginkan.meski Zen hanya seorang tangan kanan Zafa dia juga memiliki harta yang berlimpah dari orang tuanya, pastinya kamu akan sangat rugi jika menolak pernikahan ini," terang Jira.


Lila mengangguk paham dengan penjelasan Jira, lalu ia tersenyum. "Aku buka seorang tuan putri yang harus menikah dengan seorang pangeran kerajaan.


Aku hanya wanita biasa dan sederhana jadi aku akan menikah dengan pria sederhana yang bisa mencintai kekurangan ku, dan juga mau bekerja keras untuk menghidupi aku," pungkas Lila menerangkan.


Jira tersenyum lebar merasa puas dengan jawaban yang diberikan Lila. "Baik, kalau begitu kamu dan Zen tetap akan menikah."

__ADS_1


"Loh, kak untuk apa aku menjelaskan alasan keberatan ku yang panjang lebar tadi jika akhirnya perjodohan ini tetap terjadi," resah Lila memegang bahu Jira.


"Aku cuma minta pendapat kamu. dan keputusan ada di tangan aku," kata Jira.


"Tapi kak -,"


"Kalian akan tetap menikah! Jika kamu ingin dicintai maka mulailah mencintai,jika kamu ingin memiliki kebahagiaan, mulailah menciptakan kebahagiaan," saran Jira .


"Ini permintaan aku sebagai seorang adik La, tolong jadilah istri yang bisa mencintai dan memberikan kebahagiaan untuk kakak ku, Zen," mohon Jira menggenggam kedua tangan Lila menatap kedalam bola mata gadis itu berharap ia dapat merasakan yang dirasakan Jira.


"Kak, jangan seperti ini, jangan membuat aku merasa dilema," keluh Lila.


"Aku yakin kamu yang terbaik untuk Zen dan juga sebaliknya, percayalah kamu tidak akan menyesali pernikahan ini," mohon Jira lalu bersimpuh dihadapan Lila.


"Apa yang kakak lakukan?" tanya Lila tak percaya turun dari duduknya menghampiri Jira di lantai.


"Please, kamu mau ya menikah dengan Zen,!? pinta Jira menyatukan telapak tangannya di dada.


"Jawab dulu," desak Jira


Lila menghela nafas panjang dan dalam. "ia, baiklah aku akan menerima perjodohan ini dan akan menikah dengan pak Zen," jawab Lila meyakinkan hatinya.


"Janji? kamu nanti nggak akan kabur kan?"


Lila membawa Jira duduk di sofa kembali.lalu ia bersimpuh di hadapan Jira. "Aku tidak mungkin mengecewakan Kakak.Selama ini Kakak selalu baik sama aku, Kakak sudah seperti saudara bagi ku. Aku yakin Kakak pastinya ingin yang terbaik untuk aku juga pak Zen.Dengan ikhlas aku menerima pernikahan ini dan aku akan mulai belajar untuk mencintai calon suami ku," ungkap Lila menggenggam jari jemari Jira meyakinkan wanita di hadapannya ini lewat sorot matanya.


Jira membawa Lila kedalam pelukannya. "Terimakasih, terimakasih banyak," ucap Jira meneteskan air mata dibalik punggung Lila.


Lila mengusap punggung ibu hamil itu "semoga keputusan ini yang terbaik untuk kami semua," batin Lila.

__ADS_1


"Kita masuk kedalam untuk membicarakan pernikahan kalian," ajak Jira mengurai pelukan mereka.


Jira dan Lila masuk kembali kedalam rumah.Mereka menghampiri para pria yang sedang asik bercengkrama di ruang tamu.


"Uncle," sapa Jira pada Jhoni kala ia dan Lila sudah duduk di sofa. "Perkenalkan ini Lila, wanita yang akan menjadi calon istrinya kak Zen," kata Jira memperkenalkan gadis pilihannya.


" Lila, ini Jhoni Purnama ayahnya kak Zen," tambah Jira


Lila hanya menunduk sedikit sambil memberikan senyum pada Jhoni.


"Lila ini teman sekantor aku, dan aku sudah mengenalnya dengan baik.Lila baru saja kehilangan orang tuanya beberapa hari yang lalu.karena ia sudah tidak memiliki keluarga lagi, jadi aku memilih dia untuk dijodohkan dengan kak Zen," terang Jira.


"Uncle tidak memerlukan asal usulnya,yang penting dia bisa menjadi istri dan partner hidup untuk Zen. seperti yang kamu bicarakan tadi.dan juga Uncle yakin kamu akan memberikan yang terbaik untuk Zen, begitu pula sebaliknya," tutur Jhoni seolah memberikan restu.


"Bagaimana pendapat kakak sendiri?" tanya Jira pada Zen yang tampak melamun.


Zen berdehem. "Seperti yang dibilang ayah,jika memang dia yang terbaik menurut kamu. maka kakak setuju dengan pernikahan ini," jawab Zen memaksakan senyum diwajahnya.


"Tapi kamu tidak dipaksa oleh istri saya kan Lila?" timpal Zafa.


"Tidak Pak Zafa.Saya menyetujui pernikahan ini dengan hati ikhlas," jawab Lila tenang.entah dari mana ketenangan itu ia dapatkan tapi pikiran,hati dan jantungnya seirama mengatakan kalau ia sudah membuat keputusan yang tepat.


"Kalau begitu kalian akan menikah satu bulan lagi. mulai besok Lila akan cuti bekerja karena kita akan menyiapkan pernikahan.dia juga harus bersiap menjadi istri yang baik. dan kak Zen aku minta mulai besok kalian pergilah mencari sebuah rumah baru untuk hunian kalian nanti."


"Tidak perlu buru-buru kak, pernikahan ini juga tidak perlu dirayakan.sederhana saja sudah cukup," usul Lila.


Jira menggeleng. "Ini pernikahan pertama dan terakhir untuk kalian berdua,jadi pestanya harus meriah.untuk rumah juga penting karena aku tidak mengizinkan kalian tinggal di apartemen."


"Ada hal lain lagi yang ingin dibicarakan? tanya Jira menatap Zen lalu Lila.

__ADS_1


Yang di tatap hanya diam.entah apa yang ada di benak mereka saat ini.apa yang harus mereka bicarakan lagi kalau semua pasti akan diputuskan oleh ibu hamil itu.


" Karena semuanya diam, berarti kalian setuju dengan keputusanku," kata Jira tersenyum bahagia.


__ADS_2