Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 80


__ADS_3

puas menyantap istrinya di atas meja makan. Zafa menggendong Jira menuju kamar. tujuannya untuk membersihkan diri, tapi Zafa kembali menghujam istrinya. 1 jam mereka mendesah dan mengerang nikmatnya surga dunia.


Zafa membantu membersihkan tubuh sang istri dan kembali menggendongnya menuju ruang ganti.


"lapar" rengek Jira.


"ok, aku akan bawa makanan kesini. tunggu ya" kata Zafa bergegas turun kedapur.


makan malam kali ini mereka nikmati di kasur karena Jira sudah sangat lelah jika harus turun lagi.


"aku lupa bertanya kemaren, bagaimana kabar Miko?" tanya Jira.


"aku sudah serahkan dia kepolisi, kita tunggu tanggal sidang" jelas Zafa.


"hhmm...aku izin ya,besok mau kerumah orang tuanya Miko".


" buat apa? " Zafa tak suka.


"sayang... kalau Miko dipenjara siapa yang akan menafkahi ibu dan adiknya.aku cuma ingin membantu." jelas Jira.


"kamu nggak perlu kesana, biar aku kirim Toni untuk menjelaskan perbuatan anaknya. dan nanti juga aku akan beri mereka uang tiap bulannya" terang Zafa dingin.


Jira menghembuskan nafas "kalau kamu keberatan nggak usah".


" aku ikhlas membantu, tapi aku keberatan kalau kamu pergi menemui mereka".


"hhmm... baik aku nggak akan kesana. silahkan kamu kirim Toni. tolong jelaskan pada mereka dan sampaikan permintaan maaf aku" pinta Jira.


"kamu nggak perlu minta maaf, karena ini bukan salah kamu" kata Zafa datar.


"bagaimana pun aku merasa bersalah, karena Miko mendekam dipenjara. pasti ibu dan adiknya kesusahan sekarang" jelas Jira sedih.


"bisa kita tidak membahasnya lagi?" pinta Zafa kesal.


"hehehe... maaf, tapi jangan marah dong! " rajuk Jira mengelus pipi Zafa.


"aku sampai sekarang masih kesal dengan bajingan itu" sungut Zafa.


"ia, ia... aku sudah selesai makannya, aku kebawah dulu antar piring kotor kedapur" Jira beranjak.


"biar aku aja sayang".

__ADS_1


" nggak apa-apa, aku masih kuat jalan. katanya kamu mau meeting lewat VC? " jelas Jira.


"ia aku di balkon ya, cuma sebentar" jawab Zafa dan Jira mengangguk meninggalkan suaminya.


Jira turun kedapur mencuci piring bekas makan mereka. lalu mematikan lampu ruangan serta menutup gorden. memastikan semuanya Jira kembali melangkah menuju kamarnya. tampak sang suami tengah berbicara di depan laptop.


Jira memilih untuk membersihkan muka lalu kekamar ganti untuk memakai skin care. Jira juga menganti baju nya dengan night gown warna rose gold sampai paha menampilkan dada dan paha mulusnya serta lekuk tubuh indah Jira.ia juga menggerai rambut segi warna coklatnya.


Jira memang selalu tampil cantik dan seksi saat malam hari. karen itu permintaan suaminya. bahkan Zafa sudah menyiapkan 1 lemari penuh lingerie dan night gown sexy untuk dipakai sang istri.Jira keluar dari kamar ganti. tanpa sengaja dirinya tersorot kamera laptop Zafa yang sedang melakukan VC.


"begitulah perkiraannya mr. Ben" kata Zafa pada pria di layar laptopnya.


namun pria itu lebih fokus pada latar belakang Zafa.di sana menampakkan Jira yang sedang menutup gorden kaca balkon kamar di mana Zafa duduk dibalik kaca itu mengarahkan laptop pada dirinya. sudah pasti Zafa berlatar belakang kamarnya.


Zafa menyadari tatapan Ben yang menatap istrinya yang berada di dalam kamar. "ekhem... maaf mr. Ben kita akhiri dulu obrolan malam ini."


"akh... ia mr. Zafa. maaf saya menganggu waktu istirahat anda" basa-basi Ben.


"tidak masalah, kalau begitu selamat malam dari saya" kata Zafa segera memutus sambungan VC.


"sial, seharusnya gue di ruang kerja aja tadi. gue lupa kalau Jira memakai baju harom" guman Zafa sendiri merasa kesal mengigat tatapan Ben rekan bisnisnya.


"sayang" panggil Zafa menutup pintu balkon.


"lain kali jagan suka muncul kalau aku VC dengan klien".


" kenapa?"


"tadi Ben lihat tubuh indah kamu ini"


"mana aku tau, aku pikir kamu pakai green screen seperti biasa" terang Jira santai.


"ia ya, kok aku lupa. aakkhh... sial" umpat Zafa kesal.


"kenapa sih kamu sayang?" tanya Jira heran.


"pasti Ben sedang membayangkan tubuh kamu, aku nggak rela" gerutu Zafa.


"mulai lagi deh" tebak Jira


Zafa menarik nafas panjang dan menghembuskan nya pelan."sini peluk dulu" Zafa meraih tubuh istrinya kedalam pelukan.

__ADS_1


"kita lanjut lagi yuk" ajak Zafa menaik turunkan alisnya.


"tuh kan, kebiasaan deh kalau lagi kesal kamu suka gitu" cibir Jira nggak suka.


"habis kamu itu enak sayang, bikin aku candu! aroma tubuh kamu bikin aku tenang" jelas Zafa menindih istrinya.


"tapi itu lampunya belum ma... eeemmm... " mulut Jira kembali dibungkam oleh Zafa.mereka kembai meneguk nikmatnya surga dunia.tak ada kata lelah bagi pria bertubuh kekar itu untuk menjamah istrinya.


......................


lelah akibat pertempuran semalam dua sejoli itu masih betah memejamkan mata di atas kasur. padahal hari sudah siang, mereka melewatkan sarapan pagi dan juga makan siang.


"gila, jam 2" seru Zafa kaget melihat jam di ponselnya.


"baby... bagun" panggil Zafa lembut mengelus wajah cantik istrinya.


Tapi Jira semakin mempererat pelukannya dan merebahkan kepala di dada bidang suaminya.


"aku masih mau tidur, capek" gumam Jira.


"ayo lah sayang, jangan sampai aku menerkam kamu lagi! ayo bangun ini sudah pukul 2 siang" jelas Zafa memainkan rambut istrinya.


"hah" pekik Jira mengangkat wajahnya menghadap Zafa. "ya ampun maaf ya aku telat bangunnya nggak sempat masak deh" pinta Jira segera bangkit dari ranjang namun tangannya di tahan oleh Zafa.


"nggak masalah sayang,kamu capek dan itu ulah aku. jadi aku ngerti kok. kita pesan makanan aja ya" terang Zafa lembut."kamu mandi dulu sana biar aku pesan makanan dulu".


"hehehe... muach... terimakasih hubby" kata Jira tersenyum senang dan pergi menuju kamar mandi.Zafa juga tersenyum menatap punggung polos istrinya lalu meraih ponsel memesan makanan lewat aplikasi.


Jira turun kebawah kala kurir datang mengantarkan makanan mereka. pastinya kurir itu sudah melewati para penjaga, anak buah Zafa dan Tristan.


Zafa juga menyusul sang istri selesai membersihkan diri. ia turun sambil menyisir rambut basahnya dengan jari memakai kaos hitam dan celana pendek putih.ketampanan nya benar-benar semakin terlihat jelas.Jira senyum-senyum sendiri melihat suaminya turun. kadang ia merasa mimpi kalau Zafa adalah suaminya.


"kenapa hah? terpesona ya!" ucap Zafa yang sudah berdiri di depan Jira.


"hah... eh itu rambutnya kok nggak dikeringkan dulu" ngeles Jira tak mau mengakui.


"hahaha... sayang nggak usah malu mengakui ketampanan suami sendiri" gelak Zafa.


"iisshh... apaan sih. ayok makan" elak Jira lagi.


"tapi kamu juga cantik kok, apalagi mendesah di bawah aku" bisik Zafa ditelinga istrinya dan menggigitnya sedikit.

__ADS_1


"mesum ih" kesal Jira mendorong dada Zafa.


"hahahaha... muach" Zafa mengecup pipi Jira yang merah merona malu.


__ADS_2