
Usai bersedih mendengarkan cerita Lila tentang kisah hidupnya.Jira, Banyu dan Siska mengalihkan topik pembicaraan mereka.Tujuan mereka datang menemui Lila adalah untuk menghibur gadis muda yang masih berusia 23 tahun itu.
Mereka bercengkrama dan tertawa bersama. Juga merasa geli dengan tingkah manja dan kemayu Banyu.Jira juga memesan beberapa makanan serta cemilan lewat aplikasi online sebagai pelengkap obrolan mereka di siang hari menuju sore ini.
"Banyu, kontrakan kamu yang mana?" tanya Jira.
"Di sebelah miss, miss Jira mau mampir?" tawar Banyu.
"Lain kali deh, ini Zafa udah otw kesini. tadi dia minta aku kirim alamat kontrakan Lila."
"Yah,udah sore aja ya, padahal kita baru aja ketemu dan ngobrol.nggak terasa ya," keluh Lila.
"Kalau gitu aku juga pulang deh,ojek online pesanan aku juga udah otw kesini," timpal Siska.
Nampak sebuah mobil sedan BMW berhenti tepat di depan rumah kontrakan Lila.Turunlah seorang pria gagah dalam stelan jas kerja memakai kaca mata hitam, menambah kesan tampan dan gagah pada pria itu yang melangkah dengan tegap mendekat menuju rumah sesuai dengan alamat yang ditujunya.
"Hubby," panggil Jira menyambut kedatangan suaminya di ambang pintu.
Zafa membuka kaca matanya. "Kita pulang sekarang?"
Jira mengangguk. "Lila aku pulang dulu," pamit Jira.
"Lila, maaf saya baru tau kalau orang tua kamu meninggal.Saya turut berduka cita," ucap Zafa.
"Tidak masalah Pak, saya izin kerja juga mendadak. jadi orang kantor pada nggak tau," balas Lila.
"Besok perusahaan akan berikan uang duka," tambah Zafa datar.
"Sebelumnya terimakasih Pak, tapi tidak perlu," tolak Lila halus.
"Nggak baik tolak rezeki," timpal Jira menepuk pundak Lila.
Lila membalas dengan senyuman dan sedikit menundukkan kepalanya merasa tak enak.
"Kita pulang ya," kata Jira pada teman-temannya lalu berjalan beriringan bersama Zafa menuju mobil mereka dan Zen sudah berdiri di sana bersiap membukakan pintu untuk Tuan dan adiknya.
Jira membalas lambaikan tangan Siska, Banyu dan Lila yang menatap kepergian mobil mewah itu meninggalkan komplek kontrakan sederhana.
"Kamu sudah makan sayang?" tanya Zafa mengelus puncak kepala istrinya yang menyandar pada bahu kekar Zafa.
__ADS_1
"Sudah, kita tadi pesan makanan.bagaiman rapatnya? apakah sudah ada keputusan akhir?" tanya Jira mengangkat wajahnya menatap sang suami.
Zafa mengangguk. "Rapatnya berjalan lancar sayang, dan keputusan final juga sudah mencapai kesepakatan, kita tinggal melakukan pengesahan dan penandatanganan."
"Syukurlah, aku sempat pusing tadi berada di sana," keluh Jira memainkan dasi Zafa.
"Apa kamu mau beli sesuatu, Ra?" tanya Zen yang duduk di depan saat mobil mereka melewati jejeran pedagang kaki lima yang menjual berbagai jenis makanan.
"nggak kak, aku mau langsung pulang."
Mobil yang mereka naiki melesat menuju kediaman Zafa dan Jira, karena senja sudah menampakkan dirinya dan cahaya merah sudah menghiasi ujung langit.
"Kak, bisa kita bicara?" tanya Jira saat turun dari mobil.
"Baik," jawab Zen dengan anggukan kepala cepat.
Mereka bertiga masuk kedalam rumah dan disambut oleh para pelayan.
"Aku kekamar dulu," ucap Zafa mengecup kening istrinya sebelum meninggalkan Jira dan Zen. "Gue ke atas dulu Zen," kata Zafa pada Zen, mereka sudah tak kaku lagi dalam berbicara di luar jam kerja.
Zen mengangguk, lalu ia menyusul Jira yang sudah berjalan dulu di depannya menuju ruang tamu.
"Aku langsung to the poin," kata Jira memulai pembicaraan. "Kakak setuju kan kalau aku kenalkan dengan seorang wanita?"
"Besok saat jam makan siang kakak bawa Lila teman aku yang dari divisi disain kemari.aku berencana untuk menikahkan kalian berdua."
"APA?" pekik Zen kaget dengan ucapan adiknya.
Jira mengangkat alisnya bibirnya tersenyum dan kepalanya mengangguk.
"Tapi Ra, kakak sama dia nggak saling kenal."
"Kalian bisa mengenal setelah menikah!"
"Nggak mungkin Ra! pernikahan tanpa cinta itu nggak mungkin!" kekeh Zen.
"Kalian bisa belajar untuk saling mencintai setelah menikah," Jira tetap pada keyakinannya.
"Kenapa kamu memutuskan secepat ini sih Ra, kasih Kakak waktu," bujuk Zen.
__ADS_1
Jira menggeleng. "Nanti aku akan hubungi Uncle Jhon untuk membicarakan hal ini. Aku nggak minta pendapat Kakak tentang pernikahan ini, cukup Kakak bersedia menikahi Lila," kata Jira tegas.
"Kalau dia nggak mau?"
"Itu akan menjadi urusan ku! dan Kakak nggak boleh menolaknya. Kakak juga nggak boleh mengancam Lila atau membuat perjanjian di belakang aku," ancam Jira.
"Apa alasan kamu memilih wanita itu untuk menjadi istri Kakak?"
Jira menghela nafas. "Lila itu wanita yang baik Kak. dan sekarang dia hidup sebatang kara. Aku tau bagaimana perasaannya saat ini. dan aku meminta Kakak untuk menikahinya bukan karena kasihan. tapi aku merasa kalian akan bisa saling mengisi kekosongan di hidup ini.percayalah, Kakak akan bahagia bersama Lila," jawab Jira sendu menatap mata Kakaknya.
Zen menghela nafas dalam. "Baik, tapi beri Kakak waktu untuk mengenalnya terlebih dahulu."
"1bulan! dan dalam satu bulan itu kalian akan mempersiapkan pernikahan," tukas Jira tak bisa dibantah.
"Tapi Ra - "
"Nggak ada tapi-tapian.sekarang Kakak pulang gih. tapi , tunggu sebentar...
" Mbak" Jira memanggil pelayan.
"Ini nyonya, semua sesuai pesanan nyonya," jawab pelayan bernama Yati memberikan rantang makanan.
"Terimakasih" jawab Jira tersenyum menerima rantang itu.
"Ini, tadi aku minta mbak masak makan malam untuk kakak," tutur Jira lembut menyerahkan rantang pada Zen.
"Kamu nggak perlu tiap hari seperti ini Ra, Kakak bisa cari makan sendiri di luar," balas Zen tak enak.
Karena setiap hari adiknya itu tak pernah lupa mengurusnya mulai dari makan sampai pakaian yang dikenakan Zen selalu Jira perhatikan.Tiap minggu Jira akan mengirim 1 pelayannya membereskan apartemen Zen dan mengurus pakaian kotor Zen.Jira juga datang kesana setiap minggu menyiapkan pakaian kerja untuk Zen. Jira memilihkan dan kemeja, celana dan dasi untuk Zen kenakan nantinya.semua sudah di atur oleh Jira sesuai hari kerja. itu akan mempermudah Zen saat berangkat kerja karena tak perlu lagi memilih pakaian yang akan dikenakannya.
"Itu sudah tugas ku kak,aku nggak keberatan.dan ini bentuk perhatian ku karena selama ini kamu selalu menjaga aku," balas Jira.
Zen menghela nafas jika adiknya sudah bertekad tak ada lagi yang bisa membantahnya keinginannya.
"Kakak pulang ya, sampaikan juga sama Zafa," pamit Zen memeluk adiknya. lalu ia mengelus perut Jira. "Paman pulang dulu, bilang sama mommy kamu, jangan suka memaksakan kehendak," bisik Zen tapi masih dapat di dengar Jira.
Jira mencubit gemas pinggang kakaknya.
"aaaww... iiiss... sakit Ra," keluh Zen mengelus pinggangnya.
__ADS_1
"Makanya, jangan bilang aku pemaksa," ketus Jira kesal.
Zen hanya tersenyum gemas melihat wajah adiknya yang cemberut.ia jadi teringat masa kecil wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu.