Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 60


__ADS_3

"mam, sepertinya Jira sudah bangun. aku samperin dulu" kata Zafa segera berlari menaiki tangga dan di ikuti mama Fanya dari belakang tapi tertinggal karena langkah besar kaki Zafa.


"sayang... kamu udah bagun?" sapa Zafa pada Jira yang sedang duduk di atas kasur.


"kamu kemana? semalam kamu ninggalin aku ya!? kok aku bagun kamu nggak ada?" tanya Jira beruntun dengan raut wajah cemas.


"semalam aku tidur sama kamu! tadi aku bagun duluan soalnya mama datang. jadi aku temanin mama di bawah sayang" jelas Zafa lembut menenangkan Jira sambil merapikan anak rambut calon istrinya.


"pagi sayang" sapa Fanya yang baru tiba di kamar.


"pagi mama" balas Jira tersenyum


"gimana kondisi kamu?" tanya Fanya lagi duduk di samping Jira setelah di beri ruang oleh Zafa.


"udah lumayan kok ma, cuma masih ada yang sedikit sakit di bagian paha" jelas Jira. mereka mengobrol ringan saat Zafa turun kebawah memanggil suster Meri untuk membantu Jira mandi dan merawat lukanya.


"permisi nyonya, waktunya mbak Jira mandi dan menganti perban" kata suster Meri


Jira mengangguk "tapi aku mau ditemani Zafa" pinta Jira santai.


Zafa dan Fanya saling pandang.


"hhmm... kalau mama aja yang temani kamu boleh nggak?" bujuk Fanya. "biasanya di rumah sakit kan mama yang bantuin kamu, lagian Zafa kan belum sah jadi suami kamu, jadi Zafa belum bisa temani kamu mandi" jelas Fanya lembut mengelus tangan Jira


Jira tampak ragu "tapi mama temani aku sampai selesai ya, aku nggak mau di tinggal sama suster aja, aku... takut" jelas Jira khawatir.


Fanya mengangguk "ia sayang mama pasti bantu dan temani Jira. ayok kita siap-siap, biar Zafa tunggu dibawah aja" bujuk Fanya meyakinkan.


Fanya memang memiliki jiwa keibuan.apalagi saat merawat Jira, ia sangat telaten,lembut dan penuh kasih sayang. Fanya sudah menganggap Jira sebagai putrinya sendiri. Fanya juga membantu suster meri membersihkan luka-luka Jira dan menganti perban.meski sudah pernah melihat luka-luka Jira, ia masih bergidik ngeri ketika kembali melihat luka-luka itu. Fanya benar-benar tak habis pikir kenapa calon menantunya ini harus mengalami kejadian seperti ini.


"sudah selesai, kamu cantik sekali sayang" puji Fanya setelah memakaikan Jira baju dan menyisir rambut. "sus tolong panggil anak saya ya" pinta Fanya pada suster Meri.


"baik nyonya" jawab suster Meri membereskan perlengkapannya.


saat di minta suster Meri, Zafa bergegas menjemput Jira untuk menggendongnya turun kebawah menuju meja makan. pagi itu mereka sarapan bersama sambil membahas pernikahan mereka. Jira sudah mulai banyak bicara seperti biasa.karena perutnya sudah terisi suster Meri memberikan obat yang harus di minum Jira lalu gadis itu meminta untuk di antar keruang keluarga untuk menonton tv.meninggalkan Zafa dan Fanya.

__ADS_1


"aku udah minta Tristan pulang mam" kata Zafa. "aku juga butuh dia buat cari bajingan yang sudah nyakitin Jira" jelas Zafa geram.


"hhmm... syukurlah anak itu pulang juga. mama udah kangen sama dia, di rumah sepi kalau nggak ada dia, kurang rame gitu" kata Fanya memanyunkan mulutnya.


"tenang aja mam, ntar habis aku nikah bakal aku bikinin cucu yang banyak buat mama, biar rumah mama rame" kata Zafa ketawa.


"satu aja belum, udah mau banyak" celetuk Fanya


"kan nikahnya belum" ujar Zafa lalu ibu dan anak itu tertawa bersama.


"ZAFA" lagi-lagi Jira memanggil Zafa yang belum juga tampak dimatanya.


"mam yuk, Jira udah panggil" ajak Zafa pada Fanya menuju ruang keluarga.


"ada apa sayang?" tanya Zafa duduk di samping Jira.


"ponsel aku mana? aku mau hubungi anak-anak buat tanya kerjaan" tanya Jira menampung telapak tangannya di depan Zafa


"sayang, kamu masih sakit. jadi soal kerjaan kamu nggak usah mikirin dulu. kamu istirahat aja biar cepat sembuh" jelas Fanya lembut


Fanya melirik Zafa "gini aja, kemaren mereka pengen jenguk kamu, tapi masih belum di izinkan oleh Zafa. besok pagi mereka kesini aja biar kamu bisa ngobrol tentang kerjaan dan juga biar kamu nggak bosan sama Zafa mulu" saran Fanya


Jira memohon menatap Zafa "boleh ya sayang?" bujuk Jira


Zafa menghembuskan nafasnya karena tak sanggup menolak permintaan calon istrinya itu. "ok boleh tapi cuma 2 jam, setelah itu mereka harus balik kekantor buat kerja" jelas Zafa tegas.


Jira tersenyum senang "terima kasih".


" kalau gitu mama pulang dulu ya, besok mama kesini lagi. nanti kalau kamu udah sembuh kita jalan-jalan ke mall. sekalian kesalon sebelum kamu jadi manten" ajak Fanya antusias.


"boleh, Jira mau" terang Jira senang.


Fanya pamit dan memeluk Jira juga mengecup puncak kepala calon menantunya itu.Zafa merasa senang karena mamanya bisa menerima Jira dan menyayanginya. lalu Zafa mengantar Fanya sampai ke depan lift pribadinya.


...🍔🍔🍔🍔🍔...

__ADS_1


pagi hari rekan kerja Jira sudah datang berkunjung ke griya tawang mewah itu. mereka seakan tak percaya melihat kemewahan tempat tinggal Jira dan Zafa.


"Jira mama tinggal ya, kamu silahkan ngobrol sama teman-teman kamu, kalau ada apa-apa panggil mama atau Zafa. kita di balkon" jelas Fanya meninggalkan Jira.


Jira mengangguk "ia, terimakasih ma".


"gimana kondisi lo ra?" tanya Andika


"lumayan udah membaik, cuma ada beberapa luka yang masih sedikit sakit" jelas Jira memaksakan senyum.


"miss maaf ya kita baru jenguk, soalnya kita nggak dikasih izin pak Zafa waktu mau kerumah sakit" pinta Banyu dengan gaya centilnya.


"ia nggak apa-apa.sekarang kalian kan di sini" balas Jira paham.


"kita sempat khawatir loh sama kak Jira. lagian kakak juga sih yang PHP sama si... siap ya namanya? pokoknya mantan kakak itu lah" jelas Lila kesal


Jira tampak murung, benar apa yang dibilang Lila. kalau dari awal ia menjauhi Miko. pasti kejadian ini tak pernah terjadi.


"hhhuuusss... kita kesini mau jenguk Jira, bukan bahas masalah itu" bisik Siska


"maaf ya ra, ni mulut anak satu ni emang kurang rem" pinta Siska tak enak


"nggak apa-apa, yang dikatakan Lila ada benarnya juga" jawab Jira tersenyum sekilas. "gimana kantor? dik apa kamu udah bisa tangani semuanya?" tanya Jira mengalihkan pembicaraan.


"aman kok ra. alhamdulillah berkat saran, masukan dan bimbingan lo gue, Siska dan anak-anak ini juga di bantu anak magang kami bisa menyelesaikan semua pekerjaan dari klien" terang Andika semangat.


Jira mengangguk "bagus! artinya lo udah bisa gantiin gue dong, jadi kepala disain" goda Jira


"ah... nggak mungkin lah ra,lo itu lebih pantas buat mimpin dan bimbing kami semua. kalau gue masih harus belajar" jawab Andika sungkan.


"ok kita lihat aja nanti" kata Jira penuh maksud."eh dimakan loh kuenya, jangan pada nggak enak gitu gue jadi berasa kayak orang lain aja" tawar Jira menyuguhkan.


"hehehe... kita sungkan sama pak Zafa dan mamanya apa lagi ini rumah gede banget, kita nggak biasa masuk gedung semewah ini" kata Banyu sedikit berbisik.


"hahahaha... santai aja lagi, nggak akan ada yang marah. gue kangen deh ngumpul lagi sama kalian" kata Jira cemberut.

__ADS_1


"pokoknya lo harus sembuh dulu, nanti kita jajan makanan lagi, ada cafe baru buka dan lagi hits" timpal Siska menaik turunkan alisnya.


__ADS_2