Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 96


__ADS_3

"Uncle juga ingin mengatakan kalau sebenarnya kamu masih memiliki saudara sepupu."


Jira mengerutkan dahi memorinya berusaha mengingat."Tunggu! Jira ingat, dulu ada seorang anak laki-laki yang selalu menemani Jira bermain. Tapi setelah itu dia menghilang dan ... ."


"Kamu masih mengingat kejadian saat kamu kecil?" tanya Zafa.


"Tentu dia ingat! daya ingatnya sangat kuat." sela Zen.


"Tunggu jangan bilang kalau ... ."Jira tak meneruskan ucapannya.Ia malah menatap Zen dengan mata hitamnya yang berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.Zen yang mendapat tatapan dari Jira hanya menundukkan kepala.


"JELASKAN KENAPA KAMU PERGI" tuntut Jira dengan tegas.


Zen diam mematung di tempatnya.lidahnya kelu saat ingin bicara. tak ada kata yang mampu ia ucapkan.rasa bersalah terhadap adiknya sangat besar.


"Kenapa? kenapa kamu pergi saat aku membutuhkan kamu? kenapa kamu meninggalkan aku seorang diri? aku masih kecil saat itu, aku nggak mengerti apa-apa.dalam semalam hidup ku berubah dan kamu malah pergi, di saat aku butuh penjelasan kamu menghilang, kalian semua meninggalkan ku." tangis Jira pecah.


Zen berlutut di hadapan adiknya. bahunya bergetar menahan gemuruh di dada. "Maaf" lirih Zen


"Aku butuh penjelasan bukan kata maaf." tuntut Jira berusaha tegar.


"Maaf kakak Putri, kakak nggak bermaksud untuk meninggalkan kamu, kakak terpaksa. Keadaan menuntut agar kakak menjauh dari kamu." Zen menundukkan kepalanya di lutut Jira


"Kenapa saat itu kamu nggak memilih agar kita bersama? aku takut kak, aku sendiri, aku menderita, dan kamu hanya melihat ku dari jauh saat dunia yang kejam ini menyiksa ku .Aku nggak butuh perlindungan kamu kak, aku cuma butuh kamu untuk melawan dunia ini." lirih Jira dengan berlinang air mata. "Kamu jahat kak, kamu jahat!" Jira memukul dada bidang Zen.


Zen membawa Jira dalam pelukannya.merengkuh rasa itu bersama agar terasa ringan, tangisnya pun pecah. bagaimana pun ia juga merasakan hal yang sama dengan Jira, ia juga menderita saat harus terpisah dan membiarkan sang adik tumbuh sendiri dan berjuang. tapi apa? Zen tidak bisa melalukan apa-apa selain mengawasi Jira dari kejauhan.menjaganya tetap aman dan tenang dalam menjalani kehidupan ini.


"Aku juga ingin ada di dekatmu dan memeluk mu setiap waktu.Tapi rasa takut itu terlalu besar Putri,aku takut kehilangan kamu! bayang-bayang ibu dan paman meninggalkan ku membuat aku tak berani melawan dunia ini bersama kamu.Aku tersiksa melihat kamu sendiri, keadaan memaksa ku untuk menemanimu dan memelukmu hanya dari kejauhan.maaf,hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai kakak." racau Zen memegang kedua pipi Jira.


"Aku tau itu kamu,aku merasakan kehadiran kamu. tapi kenapa kamu tak mau mengakuinya?"


"Maaf Putri, aku pengecut. Ketakutan ku sangat besar untuk menjelaskan kalau aku adalah kakakmu." jawab Zen menggenggam erat jari jemari Jira.


Jira menghela nafas menenangkan hatinya yang bergemuruh, ia marah, ia kesal, ia sedih, tapi ia juga senang akhirnya pertanyaan nya selama ini tentang sosok anak laki-laki itu terjawab.

__ADS_1


Zen mengusap pipi Jira yang basah karena derasnya air mata yang mengalir. "Sekarang kamu harus tenang, ingat kamu sedang hamil jangan pikirkan apa-apa lagi.Semua masalah kita hampir beres.Percaya lah sama kakak setelah ini kita akan bersama dan semuanya akan baik-baik saja."


"Janji?" tanya Jira lemah.


"Kakak janji,sekarang kamu nggak akan sendiri lagi. ada kakak dan juga suami kamu. Dan sebentar lagi kamu juga akan memiliki seorang anak."


Jira mengangguk.


"Kalau begitu aku bawa Jira kekamar dulu untuk istirahat." potong Zafa.


"Bisa kita bicara?" ajak Zavier pada Jhoni.


"Baik" Jhoni mengikuti Zavier.


"Zen kau juga ikut dan Tris, saat Zafa turun kalian juga menyusul." sambung Zavier.


"Baik pa."


"Apa ini tuan?"


"Bukalah!"


Jhoni membuka amplop itu menarik selembar kertas dari dalamnya dan mulai membaca.raut wajahnya tampak bingung tapi kemudian raut wajahnya berubah senang.


"Dari mana anda mendapatkan ini tuan?" tanya Jhoni penasaran.


"Siang hari sebelum kecelakaan dia mendatangi rumah ku sendirian.lalu memberikan amplop ini dan dia berkata untuk membantu menyerahkan amplop ini pada putrinya nanti jika sesuatu terjadi padanya.


Itulah tujuan ku mencari Jira selama ini." jelas Zavier.


Jhoni menghembuskan nafas "Maaf tuan,saya sudah berprasangka buruk pada anda. Saat anak buah anda mencari keberadaan saya." pinta Jhoni.


"Tidak masalah, saya paham dan juga tau kalau para musuhnya juga ikut mencari keberadaan kalian. Mungkin itu sebabnya kau salah sangka pada ku sebab kita memang tak pernah bertemu.Gumalang orang yang sangat cerdas, dia tau apa yang harus di lakukan nya sendirian."

__ADS_1


"Ia anda benar tuan, saya tangan kanannya tak pernah tau tentang ini dan tentang persahabatan kalian."


"Lalu dari mana kalian mendapatkan biaya hidup selama ini?tanya Zafa penasaran. "Bahkan tim keamanan kalian saja sangat canggih."


Jhoni tersenyum "Tuan Gumalang memiliki perusahaan lain di luar negri termasuk di Inggris.Dari dulu ada orang lain yang mengelolanya, tapi setiap bulan saya yang akan datang untuk mengontrol.memang sengaja di sembunyikan agar tidak diketahui oleh Reza."


Zafa mengangguk. "Orang yang penuh rahasia." gumamnya.


"Ya, begitulah. tuan Gumalang orang yang sulit di tebak. Dalam diam otaknya bekerja. Seperti Zen, kadang aku melihat cerminannya pada Zen.Itulah alasan kalau Gumalang sangat menyayanginya." tambah Jhoni.


"Oh ya, lalu nama beliau yang sebenarnya siapa?Surya Gumala atau Hendri Surya Gumalang?" tanya Tristan bingung.


"Nama aslinya Surya Gumala dan sejak bisnis beliau berkembang beliau memutuskan untuk mengubah nama dan menambahkan nama sang ayah di depan jadi lah Hendri Surya Gumalang." jelas Zen.


"Baik lah, lalu apa kelanjutan dari cerita ini?" tanya Tristan santai.


"Dengan surat wasiat ini kami akan merebut kembali perusahaan dan harta Gumalang untuk Jira." terang Jhoni.


"Dan nasib Reza serta anaknya?" tanya Zavier


"Entah lah, untuk saat ini belum saya pikirkan.Yang pasti mereka kita tahan dulu sampai harta itu jatuh ketangan Jira." jawab Jhoni.


"Oh ya tuan, saya juga ingin mengatakan kalau Miko lah yang sudah mengatakan pada Reza tentang identitas Jira." timpal Zen


Zafa mengangguk. "Bereskan dia."


"Baik, kalau begitu kami pamit pulang."


"Tuan, terimakasih banyak." pinta Jhoni mengulurkan tangan.


"Sama-sama, saya senang bisa membantu. selesaikanlah segera masalah ini agar Jira benar-benar bisa tenang. jangan sampai pikirannya terbebani dan kandungannya bermasalah." balas Zavier menjabat uluran tangan Jhoni.


"Pasti tuan." jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2