Gadis Pewaris Tunggal

Gadis Pewaris Tunggal
bab 67


__ADS_3

melihat tubuh polos istrinya terpampang nyata di hadapannya membuat Zafa tak dapat lagi menahan hasrat yang seminggu ini selalu ditahannya.dengan sekali angkat Jira kini berada digendongan Zafa "ingat ini kamu yang memintanya" kata Zafa serak membawa Jira ke atas sofa sambil ******* bibir istrinya. dengan rakusnya Zafa menyicipi seluruh tubuh sang istri mengabsen satu persatu tubuh indah nan sexy itu.


"aaahh... " desah pertama Jira lolos dari mulutnya.


hasrat yang sudah di puncak kepala membuat Zafa buru-buru membuka kemeja yang di pakainya, lalu kembali menghimpit Jira menelusuri leher mulus istrinya dan turun bermain di 2 bukit kembar Jira yang berukuran sedang itu.


sesaat semuanya terasa menyenangkan mereka serasa mulai terbang ke awan menuju nikmatnya surga dunia, tapi Jira kembali merasakan sesak di dada "hah... hah... hah... Za... fa a... ku mohon sampai di...sini" kata Jira terbata karena tak sanggup bernafas normal.


namun karena nafsunya yang tak terbendung lagi Zafa tak mendengarkan ucapan istrinya ia masih saja terus dengan garangnya mengecup dan menikmati area sensitif istrinya menyalurkan geloranya yang tertahan belakangan ini.


"za... fa..." lirih Jira. "aaaarrrggghhh.... " pekik Jira mendorong Zafa dari atas tubuhnya. kini Jira tak sadarkan diri ia kembali di kuasai kenangan buruk itu lagi, Jira lepas kontrol.


"lepas bajingan, pergi! jangan sentuh gue" histeris Jira


Zafa sadar bahwa dirinya terlalu memaksakan hawa nafsunya membuatnya tak dapat bertindak dengan akal sehatnya. "ini aku sayang, Zafa suami kamu" jelas Zafa dengan suara tinggi karena Jira terus berteriak dan bergumam tak jelas.


"lepas, pergi dari sini gue jijik disentuh sama lo" pekik Jira melemparkan gelas minum pada Zafa.


kkkrraannnggg.... pecahan gelas tepat mengenai kepala Zafa darah segar bercucuran dari keningnya.tapi kemudian Jira malah memecahkan kaca lemari buku Zafa dan ia mengambil pecahan kaca itu berusaha melukai dirinya.


"JIRA" pekik Zafa melihat Jira mulai menggores dadanya sendiri.ia berusaha merebut pecahan kaca itu dari tangan Jira. "sadar sayang, sadar" kata Zafa mengguncang bahu istrinya.


"lepas" tolak Jira kembali berontak.


PLAK... dengan terpaksa Zafa kembali harus menampar istrinya agar kembali sadar dan tak semakin histeris.


gadis itu terdiam mematung mencerna apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Zafa dengan segera memeluk tubuh polos istrinya ia terisak menangis dibalik punggung Jira. "maaf" lirih Zafa mempererat pelukannya.


Jira kembali tak sadarkan diri, ia pingsan dalam pelukan sang suami.Zafa bergegas memakaikan kembali handuk kimono pada Jira dan membawanya kekamar mereka.


tut... tut... tut...


📱hallo...


📱bawa dokter dan psikiater ke panthouse gue sekarang...


titah Zafa pada Tristan dengan suara tinggi dan penuh khawatir. 20 menit 2 orang yang diminta Zafa tadi sudah berada di griya tawang nan mewah itu.

__ADS_1


mama Fanya juga ikut bersama Tristan karena saat Zafa menelpon mereka sedang menonton tv.


"apa yang terjadi pada Jira?" tanya Fanya kahawatir


"dokter segera periksa dan obati istri saya" titah Zafa dingin pada dokter.


"tapi pak anda juga terluka! " kata salah satu dokter itu.


"saya bilang obati istri saya" bentak Zafa dengan raut wajah merah padam.


para dokter itu segera naik kelantai dua di antar Fanya agar anaknya tak semakin mengamuk nantinya.


"sini gue bantu obati luka lo" ajak Tristan pada Zafa.


"gue bodoh Tris, gue bodoh! bisa-bisanya gue bernafsu untuk melayani keinginannya" sesal Zafa


"maksud lo apa?" tanya Tristan membersihkan darah di kening Zafa.


"Jira sengaja menggoda gue agar gue menyentuhnya dan bodohnya,gue malah benar-benar melakukannya sampai gue nggak bisa kendalikan hasrat gue" jelas Zafa menyesal.


"lo harus tenang dong fa, jangan sampai lo ikutan depresi" tenang Tristan.


"lo tenang dulu kita tunggu dokter turun dan kita minta penjelasannya. lo jangan terpuruk gini dong Fa" bujuk Tristan lagi.


tiba-tiba Fanya turun menghampiri anak-anaknya yang sedang duduk menunggu di ruang keluarga.


"Zafa, istri kamu sudah sadar dan dokter meminta kamu untuk ke atas" jelas Fanya


Zafa mengikuti mamanya ke kamar ia dan Jira.


dokter Riko dan dokter Sachi sudah selesai memeriksa keadaan istrinya.


"mari Fa gue bantu mengobati luka lo" ajak Riko


"bagaimana kondisi istri saya?" tanya Zafa meminta keterangan pada dokter Sachi.


"lukanya hanya goresan kecil jadi sudah dibersihkan dan dikasih salaf. lalu untuk kejadian tadi ibu Jira sudah menceritakan pada saya apa yang terjadi" jelas Sachi

__ADS_1


"lalu?" tanya Zafa meringis saat lukanya di obati Riko.


"saya rasa terapinya berhasil, ibu Jira juga bilang bahwa dia sudah bisa mengontrol emosi dan pikirannya" kata Sachi


"lalu kenapa istri saya histeris dan melukai dirinya sendiri Jika memang terapinya berhasil?" tanya Zafa marah.


"apa selama terapi kalian sudah mencobanya?" tanya Sachi


Jira menggeleng "ini pertama kalinya.sejak saya melakukan terapi suami saya tidak mau menyentuh saya" jelas Jira kesal


"lalu?"


"saya berinisiatif memaksanya, karena saya bingung dok apakah terapi itu berhasil atau tidak jika saya tidak pernah mencobanya" jelas Jira lagi


"begini pak Zafa dan bu Jira, saya harap kedepannya kalian harus saling kerja sama dan terbuka juga harus komunikasi. jangan sampai kejadian tadi terulang kembali. untuk pak Zafa anda harus membantu istri anda untuk sembuh dari traumanya, bagaimana ibu Jira akan sembuh jika dirinya tak merasakan sentuhan anda.buat dia melupakan sentuhan orang itu dengan sentuhan anda sebagai suaminya tanamkan itu di alam bawah sadarnya. kami sebagai dokter hanya bisa mengobati sejauh ini selanjutnya itu tergantung kalian berdua" jelas dokter Sachi sedikit kesal


Zafa menghembuskan nafas kasar "tapi saya nggak sanggup kalau Jira harus histeris dan saya harus menamparnya agar ia kembali sadar" jelas Zafa sedih.


"lakukan perlahan pak Zafa jangan terburu-buru dan terbawa nafsu.kalaupun ibu Jira kembali histeris anda bisa mengguyurnya dengan air dingin di bawah shower" terang Sachi lagi.


"lalu apa yang harus kami lakukan lagi?" tanya Jira


"apa ibu mengingat apa yang ibu lakukan saat histeris tadi?" tanya Sachi memastikan.


Jira mengangguk.


"bagus, artinya ibu sudah benar-benar bisa mengendalikan diri. hanya saja kita butuh waktu untuk alam bawah sadar ibu agar terbiasa dengan sentuhan suami ibu" jawab Sachi."saya sarankan kalian lebih sering untuk mencobanya, lanjutkan terapi seminggu lagi dan kita akan lihat perkembangan selanjutnya" sambungnya lagi.


"baik, terimakasih dokter" pinta Jira.


"sama-sama bu Jira, inggat kalian harus kerja sama jika ingin Traumanya sembuh. kami pamit kembali kerumah sakit" kata Sachi


"terimakasih ya dokter Sachi dan Riko, maaf loh malam-malam harus datang kesini, ganggu lagi tugas" pinta Fanya mengantar mereka ke bawah.


"nggak apa-apa tante, kita juga lagi sepi di rumah sakit" jawab Riko.


"Tris tolong antar dokter-dokter ini ya!" pinta Fanya lembut pada Tristan.

__ADS_1


"ok mam. tapi mama gimana pulangnya?" tanya Tristan yang sudah berdiri menuju pintu keluar.


"malam ini mama nginap disini aja, kamu dari rumah sakit langsung pulang kerumah ya" jelas Fanya menampilkan jejeran gigi putihnya.


__ADS_2