
Pagi ini Jira sudah bagun terlebih dahulu dari Zafa. Tak seperti biasanya ia bangun kesiangan, kali ini Jira sudah mulai memasak sarapan pagi untuk Zafa. Lalu ia juga sudah membersihkan diri dan sedikit berdandan.
"Bagun by, waktunya siap-siap berangkat kekantor," panggil Jira menggoyangkan tubuh suaminya yang masih betah di dalam selimut.
"Hhmm, ia," jawab Zafa bangkit dan langsung menuju kamar mandi karena matanya masih sangat mengantuk jadi lebih baik segera menyegarkan diri.
"Sini aku bantu mengeringkan rambut," ajak Jira saat Zafa keluar dari kamar mandi.
Jira pun mengurus dan membantu suaminya pagi ini yang hendak berangkat kerja. Memasangkan kemeja, dasi serta jas untuk Zafa. Lalu melayani suaminya di meja makan sampai mengantar Zafa ke pintu depan dan menantikan mobil mewah suaminya meninggalkan pekarangan rumah.
Ada sedikit pertanyaan yang terselip di hati dan pikiran Zafa tentang sikap istrinya pagi ini. Tapi ia menepisnya dan tetap berfikir positif bahwa semua pasti baik-baik saja. Mungkin ini hanya perasaannya saja yang terlalu khawatir dengan sang istri.
"Nyonya baik-baik saja," tanya pelayan saat Jira meringis kesakitan
"Sepertinya saya mau melahirkan mbak, sejak tadi pagi sakitnya sudah mulai terasa dan semakin lama semakin bertambah," jelas Jira berjalan-jalan di halaman belakang.
"Perlu saya telpon tuan sekarang?"
"Tidak perlu mbak, nanti kalau saya sudah tidak kuat baru kita kasih kabar Zafa."
Yati sang pelayang pun setia menemani Jira di halaman belakang, sesekali ia membuatkan Jira jus atau meminta pelayan lain membuatkan sang nyonya cemilan.
"Mbak" panggil Jira saat Yati tengah di dapur.
Pelayan itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri Jira di belakang. "ASTAGA NYONYA" pekik Yati saat mendapati Jira yang sudah terduduk lemas dan kakinya sudah basah.
"Mbak, sepertinya ini air ketuban, tolong kabari Zafa segera," pinta Jira masih tetap bersikap tenang.
Yati memapah Jira masuk keruang keluarga. lalu ia segera menghubungi Zafa. 30 menit Zafa dan Zen sampai di rumah.
"Maaf aku terlambat. kita kerumah sakit sekarang ya," ajak Zafa dengan raut wajah tegang dan khawatir.
Jira mengangguk.
__ADS_1
"Ra, kamu kuat kan?" tanya Zen yang juga ikut khawatir.
"Aku kuat kak, kenapa kalian tegang begitu? santai saja," kata Jira tetap tenang.
"Bagaimana bisa tenang, tiba-tiba pelayan bilang kalau air ketuban sudah pecah," timpal Zafa
"Ayo kita segera kerumah sakit, semua perlengkapan Jira dan baby semua sudah di mobil yang di garasi," kata Zafa mengendong istrinya keluar rumah memasuki mobil yang baru saja di ambil Zen di garasi.
Sampai di rumah sakit Jira pun diperiksa oleh dokter kandungan.Masih pembukaan 4 dan Jira tetap kekeh untuk melahirkan normal. Semua keluarga sudah berdatangan dan berkumpul di ruang VVIP yang dipersiapkan Zafa jauh hari.
Sudah 8 jam sejak pembukaan 4 tadi siang.malam ini tak juga ada tanda-tanda pembukaan jalan lahir akan bertambah.Dokter pun mulai khawatir dengan kondis bayi dalam kandungan Jira.
"Sepertinya kita harus melakukan operasi caesar karena sepertinya pembukaan leher rahim terhenti dan kalau kita menunggu lebih lama lagi itu akan membahayakan janin," usul dokter.
Akhirnya Jira pun setuju untuk melakukan operasi caesar malam ini.
"Ingat by, apa pun yang terjadi nanti tolong selamatkan anak kita," pinta Jira dalam pelukan Zafa.
Sebelum masuk keruang operasi Zafa dan Jira saling memberikan kekuatan dan keyakinan bahwa mereka bisa melewati ini lewat pelukan dan ciuman hangat.
"Ma, aku titip Zafa," kata Jira memeluk Mama mertuanya.
"Kak, apa pun nanti keputusan yang di ambil Zafa tolong dukung dan dampingi dia terus," pinta Jira memeluk Zen.
"Jangan berkata seperti itu, kamu membuat Kakak takut saja," balas Zen
Kini Jira sudah di ambang pintu ruang operasi, sekali lagi Zafa memeluk erat istri tercintanya, perasaan berat dan engan untuk melepas sang istri datang memasuki relung hatinya, sebuah rasa takut yang teramat besar bersarang di sana.
"Aku harus pergi by, aku harus melahirkan anak-anak kita agar kamu bisa di panggil Deddy nantinya," kata Jira melepaskan pelukan itu.
Zafa menghela nafas. "Kamu harus kembali," pintanya melepas kepergian Jira masuk kedalam ruang operasi.
Zafa tak di izinkan oleh dokter masuk ke ruang operasi karena akan memakan waktu yang lama.Semua keluarga menunggu dengan cemas, khawatir dan juga tegang di depan ruang operasi. Satu setengah jam terlewati tangisan bayi pertama pun terdengar. Keluarga pun dapat merasakan sedikit kelegaan.Senyuman mulai terukir di wajah Zafa.
__ADS_1
Ceklek... pintu ruang operasi terbuka.
"Pak Zafa, istri anda mengalami reaksi anastesi. dia kejang-kejang dan detak jantungnya semakin melemah. beberapa tubuhnya tampak membiru.Kami tidak bisa melakukan dua tindakan sekaligus, maaf anda harus memilih antara anak dan istri anda," jelas salah satu dokter.
"Ma, Aku nggak bisa kehilangan Jira," kata Zafa pada sang Mama.
"Kamu harus mengambil keputusan Zafa," ingat Fanya memberi kekuatan.
Dengan mengangkat wajahnya keatas Zafa berucap. " Selamatkan anak saya," katanya yakin.
"Baik, kami akan melanjutkan operasi caesar," balas dokter kembali masuk kedalam ruangan operasi.
Zafa langsung ambruk dan terduduk di atas lantai rumah sakit. Tangisnya pecah hatinya sakit dan hancur. Begitu pula dengan Zen yang terduduk lemas di bangku tunggu. Menurutnya inilah hal yang paling menakutkan selama ia hidup menjaga sang adik. Saat Jira di culik segala cara akan ia lakukan demi menyelamatkan Jira, tapi sekarang tak ada yang bisa ia lakukan.
"Sabar sayang, ingat kamu masih memiliki anak-anak kamu dan Jira, mereka membutuhkan kamu," ingat Fanya memeluk anaknya.
"Tapi aku dan anak-anak kami membutuhkan Jira Ma, aku nggak bisa hidup tanpa dia," ucap Zafa merasa dunianya sudah hancur.
Zen pun berdiri dari duduknya. "Jangan cengeng kau Zafa, bangkit dan hapus air mata kau itu tanpa Jira kita bersama-sama akan membesarkan si kembar," kata Zen tegas menarik lengan adik iparnya.
"Gue nggak bisa tanpa Jira Zen," raung Zafa.
"Lo harus bisa karena anak-anak lo membutuhkan lo Zafa, kita semua ada buat lo," tambah Tristan meyakinkan.
Terdengar tangis bayi kedua Zafa dan Jira membuat suasana sedikit lebih tenang.Zafa pun mulai menata hatinya untuk kedua anak kembarnya.
"Selamat anak pertama Pak Zafa laki-laki dan yang kedua perempuan," kata dokter yang sudah keluar dari ruang operasi.
"Istri saya?" tanya Zafa berharap.
"Maaf, tubuh istri anda sedang di bersihkan," jawab dokter sedikit tertunduk dan dengan rasa penyesalan.
"Sebaiknya kamu azan kan dulu anak-anak kamu," ucap Zavier menepuk pundak anaknya.
__ADS_1