
Dua insan yang masih nyenyak tertidur dalam nyamannya dekapan itu di sadarkan oleh dering alarm yang sengaja di pasang oleh Jira.
Jira mengerjapkan matanya bangkit dan duduk di atas kasur. menghilangkan rasa kantuk dan mengusir rasa malas yang menjalar ditubuhnya.Entah lah sejak hamil ia memang hobi tidur dan bermalas-malasan.Mungkin efek dari bed rest kemarin.
"Sayang bagun," panggil Jira mengguncang tubuh suaminya.
"hhmm... ia" sahut Zafa dengan suara serak khas bagun tidur.
"Mandi yuk! bantu aku,biasanya pagi ini aku suka pusing. Aku takut jatuh di kamar mandi," jelas Jira yang masih duduk di atas kasur.
Meski kehamilannya sudah masuk trimester kedua, sesekali Jira memang masih merasakan pusing dan mual di pagi hari.Itu sebabnya Zafa berangkat kekantor sering agak siang, karena ia akan mengurus sang istri terlebih dahulu.
"Tunggu disini dulu, aku siapkan air panasnya," balas Zafa berjalan menuju kamar mandi.
Ini memang sudah rutinitas Zafa setiap paginya sejak tiga bulan yang lalu. Meski sang istri menyarankan agar menyewa suster untuk mengurus dan merawatnya tapi Zafa tetap pada keputusannya bahwa ia sendiri yang akan mengurus dan merawat istrinya sendiri.
Usai membantu sang istri.Kini gilirannya untuk membersihkan diri dan bersiap berangkat kekantor.
"Sudah siap dandannya sayang?" tanya Zafa menghampiri Jira di meja rias.
"Sudah.mau aku bantu pasangkan dasinya?"
Zafa mengangguk memberikan dasi pada sang istri.
"Aku rindu moment ini, di mana setiap pagi aku akan masak dan menyiapkan keperluan kamu untuk berangkat kekantor," ucap Jira.
Zafa mengelus kepala istrinya. "Sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu dan anak kita.Aku nggak mau kamu nanti capek dan kelelahan.Jadi jangan khawatirkan aku," jelas Zafa mengelus perut Jira.
"Sudah" kata Jira merapikan krah baju Zafa.
"Belum" lanjut Zafa.
"Apanya yang belum?"
Zafa merangkul pinggang Jira membawa istrinya merapat ketubuhnya. "Morning kissnya belum," tunjuk Zafa di bibir.
Jira tersenyum lalu ******* lembut bibir suaminya.Hanya morning kiss jadi tak perlu lama pikir Jira melepaskan ciumannya.
"Lagi" pinta Zafa tak puas.
__ADS_1
Jira menggeleng "Nanti akan berakhir di atas kasur. Ayo kita turun untuk sarapan.aku sudah lapar," tukas Jira menarik suaminya untuk turun menuju meja makan.
"Selamat pagi" sapa 3 pelayan baru di rumah mereka.
"Pagi" balas Jira sedangkan Zafa hanya memasang wajah datar.
"Selamat pagi" sapa Zen yang baru datang.
"Pagi juga kak, ayo mari sekalian sarapan," ajak Jira.
"Pagi Zen" balas Zafa.
"Kamu berangkat kekantor?" tanya Zen melihat adiknya yang sudah berpakaian rapi.
Jira mengangguk.
"Jira juga harus ikut rapat pemegang saham, biar nanti Jira juga bisa memberikan keputusan dan tau hasil akhirnya sebelum peresmian," sahut Zafa
"Saya pikir juga begitu.Tapi kamu yakin sanggup menghadiri rapat Ra?"
"Kakak tenang aja, aku udah kuat kok. Rapat kan nggak butuh tenaga extra."
"Yang penting Jira hadir aja dulu untuk menghormati pemegang saham dari GM Group. Nanti kalau Jira capek kamu antar pulang aja Zen," putus Zafa
Mereka setuju dan menikmati santapan pagi yang terhidang di atas meja dalam diam.Zafa sesekali membujuk sang istri untuk menghabiskan sarapannya.Memang selera makan Jira suka berubah-ubah sesuai moodnya.Kadang ia bisa makan dengan lahap tapi bisa juga nanti selera makannya hilang entah kemana.
"Udah sayang, aku kenyang," tolak Jira mendorong suapan dari Zafa.
"Sekarang minum obat dan vitaminnya," sodor Zafa memberikan obat sang istri.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Zen memastikan pasangan suami istri itu sudah selesai dengan kegiatannya.
"Ayo" Zafa membantu sang istri berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
Seperempat perjalanan menuju kantor dari rumah mereka Jira sudah kembali tertidur di bahu suaminya.Matanya tak sanggup lagi untuk menikmati pemandangan selama perjalanan.
"Jira gampang capek ya?" tanya Zen yang duduk di bangku depan.
"Sekarang dia sering mengeluh sesak nafas, juga mudah mengantuk," terang Zafa.
__ADS_1
Zen mengangguk paham. "Perutnya juga tampak lebih besar dari umur kehamilannya."
"Saya pikir juga begitu, mama juga pernah pikir kalau Jira hamil kembar.Tapi dokter nggak ngomong apa-apa.Jadi ya kita nggak terlalu ambil pusing, yang penting janin dan ibunya sehat," terang Zafa mengelus perut istrinya.
Sampai di depan gedung perusahaan Jira mau tak mau harus bangun dari tidur nyenyak nya.Kedantangannya di sambut oleh para karyawan yang selama ini penasaran akan kondisi Jira sejak kejadian penculikan itu.
Pasti saja mereka penasaran karena Zafa tak mengizinkan seorangpun untuk menjenguk istrinya. Bahkan teman-teman Jira yang dari divisi disain pun dilarang keras oleh Zafa. Alasannya Zafa tak mau nanti ada pertanyaan yang keluar dari mulut mereka.Apa lagi menyampaikan kabar berita tentang Miko yang terjerat kasus korupsi yang sebenarnya tak pernah ia lakukan.
"Aku rindu kantor ini,"ucap Jira saat mereka berada di dalam lift.
"Setelah pengesahan kedua perusahaan kita bergabung.Kita akan pindah ke gedung yang lebih besar," imbuh Zafa.
"kenapa?"
"Karena kita akan memiliki puluhan ribu karyawan nona, jadi pastinya gedung ini tidak akan cukup untuk menampung mereka semua," lanjut Zen memberi keterangan.
"Sekali lagi panggil aku dengan panggilan itu, aku pecat kau kak," ancam Jira tak suka.
"Ini di kantor, dan aku harus menjaga profesionalitas ku," tukas Zen.
"Aku tidak menuntut profesional mu dalam hal memanggil ku kak."
"Baik lah," jawab Zen mengalah kala mendapatkan sorotan mata tajam dari Zafa. Pasti tuannya itu tak suka istrinya dibantah batin Zen.
Mereka sampai di ruang kerja Zafa. "Saya akan keruang meeting dulu tuan, untuk memastikan rapatnya bisa segera dimulai," ujar Zen.
"Pergilah, dan siapkan kursi ternyaman untuk istriku," balas Zafa melepas jasnya.
"Baik tuan" Zen pergi menjalankan tugasnya.
"Sayang, nanti aku boleh ketemu anak-anak disain ya. Aku kangen sama mereka," izin Jira.
"Boleh, tapi kamu di temani Zen ya!"
"Nggak usah sayang, dibawah ini kok,cuma sebentar," tolak Jira.
"Ok, tapi kamu hadiri dulu meeting nya.Nanti habis makan siang kamu boleh kunjungi teman-teman kamu," saran Zafa.
"Ok" Muach... "Makasih hubby".
__ADS_1