
"Karena pembicaraan ini sudah selesai, Uncle pulang dulu," ujar Jhoni berdiri dari duduknya.
"Biar saya antar ayah," tawar Zen juga ikut bangkit.
"Tidak perlu, supir ayah sudah menunggu di depan. kamu antarlah calon istri mu pulang. mulai sekarang kalian harus saling mengenal," tolak Jhoni.
"Nak, Uncle pamit kamu jaga kesehatan," pamit Jhoni memeluk Jira.
"Hati-hati Uncle."
"Zafa, Uncle pamit dulu, kalau butuh saran untuk perusahaan jangan sungkan hubungi Uncle," tambah Jhoni memeluk suami Jira.
"Pasti Uncle, anda juga jaga kesehatan. sering-seringlah menghubungi kami," balas Zafa menepuk pelan punggung Jhoni.
"Nak Lila, Ayah pulang.Ayah harap pernikahan kamu dan Zen membawa kebahagian untuk kalian berdua," pamit Jhoni pada calon menantunya.
"Ia A-ayah," jawab Lila gugup mencium punggung tangan pria tua yang akan segera menjadi ayah mertuanya sebentar lagi.
Mereka semua mengantar kepergian Jhoni menuju halaman depan. di sana mobil Jhoni sudah terparkir menunggu sang pemilik.Zen pun membukakan pintu untuk sang ayah.dan Jira melepas kepergian Uncle nya dengan lambaian tangan.
"Aku juga pamit pulang ya kak," kata Lila setelah memastikan mobil Jhoni meninggalkan halaman rumah Jira.
Jira mengangguk. "Kak Zen akan mengantar kamu pulang. Mulai sekarang kalian harus sering jalan berdua agar saling mengenal satu sama lain," tutur Jira.
Lila hanya mengangguk dan tersenyum.
"Baik, kalau begitu Kakak antar Lila sekalian pulang," pamit Zen pada Jira dan Zafa.
Untuk pertama kalinya Lila dan Zen berada dalam satu mobil berdua. suasana canggung di dalam mobil itu sangat terasa mengiringi perjalanan mereka sore hari ini.
"Bisa kita bicara dulu sebelum pulang?" tanya Zen membuka suara.
Lila hanya mengangguk.
__ADS_1
Zen memarkirkan mobilnya di dekat taman umum.pada sore hari biasanya para pengunjung yang ramai sudah mulai meninggalkan taman untuk kembali pulang.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari beton berhiaskan keramik sambil mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka tempati.
"Kita duduk disini," ajak Zen menemukan bangku kosong.
Lila hanya diam mengikuti Zen yang sudah duduk terlebih dahulu di bangku taman.Semenit terlewatkan begitu saja karena tak ada dari mereka berdua yang memulai untuk bicara.keduanya sama-sama bingung harus memulai dari mana obrolan ini.
"Sebaiknya kita berkenalan dulu," Zen membuka suara,tapi matanya menatap lurus kedepan. "Saya Davin Zen, biasa dipanggil Zen.Saya dan Jira adalah saudara sepupu.umur saya 31 tahun."
Lila berusaha menahan tawanya mendengarkan Zen yang kaku saat memperkenalkan diri. "Seperti anak SD tampil di depan kelas saat pertama kali masuk sekolah," ucap Jira untuk pertama kalinya bicara pada Zen.
Zen hanya tersenyum kikuk.
Lila mengulurkan tangannya pada Zen. "Aku Lila Andriani, biasa dipanggil Lila,usia ku 23 tahun."
Zen memalingkan wajahnya menatap Lila,membalas uluran tangan wanita yang akan menjadi calon istrinya itu.
"Awalnya aku berusaha menolak, aku berharap kamu akan menolak perjodohan ini. tapi saat aku menatap mata kak Jira, seolah-olah aku dapat merasakan apa yang dirasakannya.perhatian, sayangnya dan cintanya yang begitu tulus untuk seorang saudara membuat aku tidak dapat menolak lagi. bahkan ia sampai bersimpuh agar aku mau menikah dan memberikan cinta serta kebahagian untuk saudaranya," tutur Lila menjelaskan dengan tatapan yang lurus ke taman memperhatikan beberapa anak-anak yang masih asik bermain.
Zen mengangguk. "Saat kita sampai di rumahnya tadi, aku berencana untuk menolak perjodohan ini. tapi saat aku mendengar pembicaraannya dengan Ayah, aku juga tidak dapat menolak niat baiknya. saat aku kembali ke depan aku hanya berharap kamu yang akan menolak perjodohan ini."
"Sebelumnya aku minta maaf,maksud aku menolak perjodohan ini karena kita tidak saling kenal dan -"
"Tidak saling cinta," potong Zen.
Lila mengangguk. "Tapi kak Jira bilang jika aku ingin dicintai maka aku harus belajar mencintai."
Zen menghela nafas. "Lalu, bagaimana kedepannya kamu akan memulai hubungan ini? jujur ini pertama kali aku bicara dengan seorang perempuan selain Jira."
Lila memalingkan wajahnya kesamping menatap pria yang akan menjadi suaminya satu bulan lagi.
"Kita jalani saja! aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk mu dan juga aku akan belajar untuk mencintai agar pernikahan ini menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuk ku."
__ADS_1
Zen mengangguk. "aku juga akan belajar menjadi seorang suami yang baik untuk kamu dan akan belajar mencintai."
Lila bangkit dari duduknya lalu berdiri di depan Zen yang masih saja tatapannya mengarah lurus kedepan. entah apa yang dilihatnya di taman itu.mungkin ia belum berani menatap wajah wanita yang kini sudah di depannya.
"Baiklah,karena kita sudah sepakat ayo kita pulang Mas," ajak Lila mengulurkan tangan.
"M-mas?" tanya Zen gugup. pasti ia sangat gugup.Mendengar panggilan baru dari Lila ada sedikit getaran di hatinya.
"Sebagai calon istri yang baik,aku akan mulai memanggil kamu Mas, agar lebih sopan," jelas Lila.
Zen mengangguk setuju.ia menerima uluran tangan dari Lila.tujuan selanjutnya adalah mengantar Lila pulang menuju kontrakannya.
"Kamu ngontrak disini?" tanya Zen saat mereka sudah sampai di depan kontrakan Lila.
"Ia Mas, memangnya kenapa? jelek ya!?"
"Tidak, maksudku apa gaji yang diberikan perusahaan Zafa tidak sanggup untuk menyewa 1 apartemen kecil?"
Lila tersenyum, menandakan bahwa ia tidak masalah untuk tinggal di kontrakan yang sederhana ini. "Aku lebih suka hidup sederhana Mas, juga menggunakan uang hanya untuk kebutuhan saja, jadi sisanya bisa ditabung.dimana pun kita tinggal yang penting nyaman dan juga lingkungan sekitar sini orangnya baik dan ramah, mereka juga suka bersosialisasi."
Zen hanya mengangguk paham. " Baiklah, saya pulang dulu, besok pagi aku akan antar kamu kerumahnya Lila, dan sore harinya kita akan pergi mencari rumah baru."
"ia Mas, hati-hati."
🌾🌾🌾
Malam ini Zafa dan Jira lebih memilih untuk langsung masuk kamar setelah menyantap makan malam. Jira yang duduk di atas kasur menyandar pada sandaran ranjang sedang menikmati acara di televisi sedangkan Zafa memilih untuk tiduran di atas paha istrinya sambil mengajak calon buah hati mereka bicara sesekali ia juga merasakan pergerakan dari si kecil yang masih di dalam perut Jira.
"Sayang, besok aku akan pergi survei gedung baru perusahaan kita nanti. apa kamu mau ikut?" tanya Zafa masih asik dengan perut buncit Jira.
"Ngak.besok aku akan mulai mempersiapkan pernikahan kak Zen. aku juga akan mengajari Lila untuk siap menjadi seorang istri."
"Boleh, tapi kamu jangan capek-capek.oh ya persiapan acara peresmian JIZA Company tinggal seminggu lagi," jelas Zafa bangkit dan duduk di samping istrinya.
__ADS_1