
...Bab 99. Bienvenue à Paris (Selamat Datang Di Paris)...
Mengingat salah satu kota populer di dunia rasanya tak lengkap bila tak menyebut Paris sebagai salah satunya. Ibukota Prancis ini memang terkenal dengan berbagai kesan dan keindahan yang ditawarkannya, berikut dengan destinasi populernya tersendiri.
Terletak di Sungai Seine, di Utara Prancis, tak mengherankan bahwa wilayah ini memiliki panoramanya tersendiri. Bahkan banyak orang menyebut Paris sebagai kota romantis dengan berbagai hal yang ada di sekitarnya.
Paris dikenal sebagai kota yang romantis karena terdapat beragam landmark romantis di kota ini. Seperti misalnya menara Eiffel dan Le Pont Des Arts. Selain itu, ada banyak bangunan monumen yang bercahaya di kota tersebut.
Paris kerap menjadi salah satu pilihan tempat untuk berbulan madu bagi banyak pasangan yang telah menikah. Hal ini semakin didukung dengan suasana Paris yang memang tak kalah indah serta memberikan kesan yang romantis.
Sama hal nya dengan Ardo dan Gloria, yang memilih Paris sebagai tempat mereka mengukir kenangan serta menikmati waktu kebersamaan mereka sebagai pasangan yang baru menikah.
Tiba di Bandar Udara Internasional Charles de Gaulle setelah menempuh perjalanan selama 15 jam lamanya, Ardo dan Gloria disambut seorang supir serta seorang asisten yang telah dipercayakan keluarga Anggara untuk membantu mereka selama berada di Paris.
"Bienvenue à paris monsieur et madame Anggara (selamat datang di Paris Tuan dan Nyonya Anggara)," sapa supir yang berkewarganegaraan Prancis sembari meraih koper Ardo dan Gloria. Menggeret dua koper tersebut, membawanya menuju tempat parkir. Dimana mobil yang akan mereka tumpangi tengah terparkir.
"Merci, Antonio (terimakasih, Antonio)," balas Ardo sembari melangkah bersama menuju tempat parkir sambil menggandeng Gloria.
"Selamat datang di Paris Tuan dan Nyonya Ardo. Saya Glen, yang akan membantu Tuan dan Nyonya selama berada di sini," sapa Glen, pria keturunan Indonesia sembari mengiringi langkah Ardo dan Gloria.
"Terimakasih, Glen."
Sampai di tempat parkir, Glen membukakan pintu mobil untuk tuan dan nyonya nya. Sedangkan Antonio bergegas mengambil tempat di depan kemudi setelah menyimpan koper ke dalam bagasi.
Ardo dan Gloria pun segera naik ke mobil. Sejurus kemudian, mobil tersebut terlihat meninggalkan pelataran parkir.
...
Tiba di vila, Ardo dan Gloria disambut oleh dua orang pelayan yang siap membantu dan melayani selama mereka berada di kota ini.
Sebuah vila di Saint Tropez ini telah disiapkan keluarga untuk mereka berbulan madu. Vila yang terletak 2,3 KM dari pusat kota ini memiliki taman belakang yang sangat asri dan menenangkan.
Gloria sedang duduk di bawah pohon, menikmati semilirnya angin yang menyejukkan serta pemandangan yang memanjakan mata, saat Ardo datang dan merangkul pundaknya dari belakang.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Ardo mesra, menopang dagunya di puncak kepala Gloria.
Gloria tersenyum. "Hm ... Aku sangat menyukainya. Opa sangat pandai memilih tempat."
"Tempat ini sama persis seperti yang aku inginkan. Apa Opa punya indera ke enam ys? Dia sangat mengerti keinginan cucunya ini." Sembari mengurai rangkulan, lalu mengambil duduk di sisi meja lainnya. Bersebelahan dengan Gloria.
Bersamaan dengan itu, seorang pelayan datang menyajikan teh hangat dan camilan. Pelayan itu pun kembali setelah menuangkan teh ke dalam cangkir tuan dan nyonya nya.
"Silahkan!" seru Ardo mempersilahkan sang istri menikmati teh hangatnya lebih dulu.
__ADS_1
Gloria mengulas senyum manisnya. Kemudian meraih cangkir nya, mulai menyesap teh tersebut perlahan setelah menghirup aromanya terlebih dahulu.
Ardo pun melakukan hal yang sama. Menghirup wangi aroma teh tersebut sebelum akhirnya mulai menyesapnya. Menikmatinya dengan hati senang.
...
Memulihkan tenaga untuk persiapan perjalanan wisata esok hari, Ardo dan Gloria memilih bercengkrama di atas tempat tidur.
Ardo menyandarkan punggung di sandaran tempat tidur. Sedangkan Gloria bersandar punggung di dada bidang Ardo. Bersembunyi di antara lengan kekar yang merengkuhnya dalam pelukan hangat.
Ditangan Ardo sebuah buku terbuka. Layaknya hendak menidurkan seorang anak kecil, Ardo membacakan sebuah dongeng seorang pangeran dan putri untuk Gloria.
"Pada suatu hari ..." Ardo mulai membacakan sebuah cerita, sementara Gloria mendengarkan.
Sepanjang Ardo bercerita, sesekali Gloria mendongak. Menatap wajah suaminya sembari mengulum senyum.
Tak henti ia mengucap syukur dalam hati, berterimakasih karena Tuhan telah menghadirkan seorang Richardo ke dalam hidupnya.
Bila mengingat-ingat kembali masa lalu, dimana ia kerap kali mendapat kekerasan dari mantan suaminya. Bahkan ia dijadikan wanita bayaran demi keserakahan mantan suami akan uang.
Mengingat kembali hal itu membuat rasa syukurnya bertambah berkali-kali lipat memiliki suami seperti Ardo. Seorang pria rupawan, yang memiliki kelembutan juga kasih sayang. Yang dilimpahkan hanya untuknya.
Ia merasa hidupnya saat ini pun bagaikan di negeri dongeng. Ardo adalah seorang pangeran yang dikirim Tuhan untuknya.
"Akhirnya mereka pun hidup bahagia untuk selama-lamanya. Tamat." Ardo menutup dongeng sebelum tidur dengan akhir yang bahagia.
"Jadi, sepanjang aku bercerita, kamu tidak memperhatikan?" tanya Ardo.
"Aku memperhatikan dengan baik."
"Memperhatikan wajahku?"
Gloria mengangguk. Tanpa malu ia mengakui.
"Memangnya ada apa dengan wajahku?"
"Tampan!" Kata itu meluncur cepat dari mulut Gloria, tak terkontrol. Sebab memang sedari tadi ia hanya memperhatikan paras rupawan suaminya itu.
Ardo tertawa kecil mendengarnya. "Apakah selama ini kamu tidak menyadari kalau suamimu ini sangat tampan?"
Gloria mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian mengangguk, sekedar untuk mencandai Ardo saja.
Bila ditanya, sebetulnya sejak pertamakali bertemu pun ia menyadari bila Ardo memiliki paras yang tampan. Namun ia seringkali menyangkalnya. Sebab saat itu ia masih belum memiliki perasaan terhadap Ardo.
"Ha ha ha ..." lagi-lagi Ardo tergelak melihat tingkah Gloria.
"Apa kamu tahu? Kamu itu sangat menggemaskan." Dicubitnya manja kedua pipi Gloria. Sampai Gloria meringis.
__ADS_1
"Sakit, Sayang." Gloria bermanja, memasang wajah sebal. Yang malah terlihat makin menggemaskan di mata Ardo.
"Kalau yang ini, tidak akan terasa sakit. Kamu akan menikmatinya, Sayang." Dengan napas yang mulai terasa berat, Ardo mendekatkan wajahnya perlahan. Yang disambut Gloria dengan memejamkan matanya.
Sapuan hangat bibir Ardo pun terasa di permukaan bibirnya. Menyesap lembut penuh kasih. Menghadirkan gelenyar aneh, yang mulai membuainya dalam hangatnya sentuhan.
Gloria sedikitpun tak memberi perlawanan ataupun penolakan. Sebab ia tahu, bila Ardo akan sangat berhati-hati menyalurkan hasratnya.
Hingga malam kian merangkak, dalam kamar bercahaya temaram itu kini yang terdengar hanyalah dua desah saling bersahutan merdu, berpadu di udara.
Dua insan tengah saling berlomba mendaki puncak asmara.
"Terimakasih, Sayang," ucap Ardo mengecup kening Gloria begitu permainan usai. Dengan napas yang masih memburu, ia kemudian merebahkan diri di samping Gloria. Merangkul pinggang Gloria, membawanya lebih merapatkan diri. Kemudian menarik selimut, menutupi tubuh mereka yang masih polos.
"Glori, apa kamu tahu? Kamu seperti sebuah keajaiban untukku. Kehadiranmu merubah seluruh hidupku. Kamu satu-satunya wanita yang membuatku jatuh cinta," ungkap Ardo.
"Gombal."
"Aku serius. Kamu satu-satunya wanita yang membuatku gila. Selama ini aku tidak pernah berhubungan serius dengan wanita manapun, selain sebatas teman ranjang. Tapi sejak aku bertemu denganmu, semuanya berubah. Aku menjadi egois. Akh ingin memilikimu walaupun aku tahu kamu milik orang lain. Apakah itu bukan gila namanya?"
"Entahlah."
"Sekarang katakan, apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?"
"Em ... Em ..." Gloria berlagak berpikir keras menjawab pertanyaan Ardo.
"Selain tampan, apa lagi yang kamu suka dariku? Hah?"
"Em ... Apa ya?" Gloria merotasi bola matanya, sok berpikir. Mencari-cari alasan yang membuatnya tertarik dengan pesona Ardo.
Jangan ditanya lagi. Banyak hal yang membuatnya jatuh cinta pada Ardo. Bukannya tak ingin mengatakannya, namun ia hanya ingin membuat Ardo penasaran.
"Ayolah, sayang. Apa suamimu ini tidak memiliki kelebihan lain yang membuatmu menyukaiku?" tuntut Ardo tak sabaran.
"Ada. Kamu punya banyak kelebihan. Salah satunya adalah ... Kamu itu bau."
"Apa?" Ardo terlonjak. Bangun cepat mengungkung tubuh Gloria.
Sementara Gloria tertawa-tawa melihat wajah terkejut Ardo.
"Apa kamu bilang tadi? Aku ini bau?"
Menahan tawanya, Gloria mengangguk. Membuat Ardo memicing tajam. Namun kemudian ia menggelitiki pinggang Gloria tanpa henti. Sebagai bentuk hukuman.
"Awas kamu ya? Aku tidak akan berhenti menggelitikimu sampai kamu kelelahan tertawa," ucap Ardo.
"Ampun. Ampun, Sayang. Aku hanya bercanda."
Malam semakin merangkak. Di dalam kamar itu terdengar suara gelak tawa Ardo dan Gloria yang saling bercanda ria.
__ADS_1
Bersambung