
Bab 87. Serangan Balik
BRAK!
Suara dobrakan pintu terdengar. Mengagetkan Bary, menggagalkan aksinya.
"Angkat tangan mu, Bary!"
Dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap tiba-tiba berdiri diambang pintu yang terbuka lebar, dengan senjata mengarah kepada Bary.
Bary terkejut, refleks memutar tubuhnya. Tetapi tak mematuhi perintah. Cengkeraman di leher Gloria pun otomatis terlepas.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Gloria terbatuk-batuk begitu cekikan jemari Bary terlepas. Akhirnya ia bisa bernapas lega, meski tenggorokannya sedikit terasa sakit. Rupanya tidak salah ia menuruti permintaan Ardo ketika ia meminta ijin Ardo untuk ke rumah Bary. Sebab beberapa berkas yang ia butuhkan ada di rumah itu.
Ardo tidak mengijinkannya pergi sendiri, dengan alasan takut bila bahaya masih mengintai. Namun Ardo tidak memberitahu bila Bary telah dibebaskan. Ardo malah menawarkan untuk menemaninya ke rumah itu. Bahkan Ardo menepikan mobilnya sedikit menjauh dari rumah Bary.
Namun tak ia sangka, Ardo malah membawa serta petugas kepolisian untuk berjaga-jaga. Rupanya karena hal inilah, sehingga Ardo begitu menghkhawatirkannya.
"Angkat tanganmu, dan jatuhkan pisau yang ada di tanganmu," titah seorang petugas memperingatkan.
Bary tak lantas menuruti perintah. Ia justru memandangi petugas dengan sorot mata nyalang penuh amarah.
Kedatangan petugas kali ini sungguh membuatnya bingung dan bertanya-tanya. Bukankah Gloria datang seorang diri? Lalu dari mana datangnya petugas itu?
"Buang pisau yang ada di tanganmu itu. Jika tidak, kami tidak akan segan-segan menembak," ujar petugas kembali memperingatkan.
Namun Bary masih tak mengindahkan. Ia malah melempar senyum sinis, lalu membuang muka.
"Sialan," umpat Bary. Ia masih dibuat kebingungan oleh kedatangan petugas tersebut. Entah siapa yang melaporkan rencana jahatnya ataukah memang Gloria yang meminta pengawalan.
Pasalnya, tak seorang pun yang mengetahui rencananya selain dirinya sendiri dan Reina saja.
Atau mungkinkah Reina yang telah membocorkan rencananya?
Bisa jadi!
"Bary, buang pisau yang ada di tanganmu itu lalu angkat tanganmu. Ini yang terakhir kali kami memperingatkan." Perlahan petugas mulai munghampiri, dengan dengan senjata yang masih mengarah kepada Bary.
Bary masih saja tak mengindahkan. Ia malah nekat kembali mendekati Gloria, lalu menempelkan pisau itu di leher Gloria. Membuat Gloria ketakutan. Sehingga petugas lebih waspada.
Di luar rumah terdengar suara derum mobil.
__ADS_1
"Kalian mendekat, maka perempuan ini akan mati!" seru Bary malah mengancam.
"Aw!" pekik Gloria saat Bary semakin menekan pisau itu ke lehernya.
"Glori!" Ardo tiba-tiba masuk, menatap Gloria penuh kecemasan juga panik. Bagaimana tidak, Bary malah menodong Gloria dengan pisau. Membuat nyawa Gloria berada dalam bahaya.
"Ternyata kamu biang keroknya." Bary menyeringai, menatap penuh benci kepada Ardo.
"Apa kamu yang membawa petugas-petugas sialan ini?" tanya Bary remeh. Masih dengan posisi menodongkan pisau di leher Gloria.
Ardo menarik sudut bibir, membentuk seringai meremehkan Bary.
Beruntung Ardo bisa memanfaatkan kekuasaannya untuk mengancam Reina. Membuat Reina ketar-ketir juga ketakutan. Sehingga dibawah ancamannya, Reina akhirnya membocorkan rencana Bary yang ingin menuntut balas kepada Gloria. Dengan cara akan melenyapkan Gloria dari muka bumi ini.
Tentu saja hal itu membuat Ardo cemas setengah mati. Ardo memutar otak cepat demi menemukan cara untuk menyerang balik Bary dan melumpuhkannya. Bila perlu, ia ingin menjebloskan pria itu kembali ke dalam jeruji besi.
Untungnya, Gloria menghubunginya. Meminta ijin kepadanya untuk mendatangi rumah Bary. Guna mengambil berkas-berkas yang dibutuhkan. Sehingga ia bisa menemukan cara untuk menangkap basah Bary. Sekaligus memberi bukti nyata kepada petugas soal rencana jahat Bary.
Dan kini, inilah yang terpampang di depan mata. Bary tidak akan bisa lagi mengelak. Ia telah tertangkap basah dengan bukti telak.
"Bary, jangan coba-coba kamu melukai Glori. Jika tidak, aku bisa melakukan hal yang lebih buruk padamu," seru Ardo memberi peringatan.
Namun Bary malah tertawa-tawa. "Ha ha ha ... Ardo, Ardo. Teman macam apa kamu ini, yang suka merebut istri temannya sendiri. Kamu itu kepa rat, tidak lebih dari seorang baji ngan yang tega merusak rumah tangga temannya. Padahal kamu itu orang berada, punya tampang lumayan, tapi kenapa kamu malah suka makan teman."
"Seharusnya hal itu menjadi urusan kita berdua. Tidak perlu sampai melibatkan Glori. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Glori, aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup Bary." Ardo bukan sekedar mengancam. Ia bahkan sanggup mempertaruhkan nyawa demi Gloria dan demi si buah hati yang sedang dikandung Gloria.
"Ha ha ha ..." Bary malah tertawa-tawa mendengar ancaman Ardo. Sehingga tanpa sadar, ia menarik tangannya yang tengah menodongkan pisau itu dari leher Gloria. Ia berdiri menghadap Ardo dan petugas sambil berkacak pinggang dengan angkuhnya. Seolah tak ada satu hal pun yang membuatnya takut.
"Bary, turuti perintah kami. Buang pisau di tanganmu itu," titah petugas tidak menyerah. Namun Bary masih saja tak mengindahkan. Perdebatan itu sedikit mengalihkan perhatian Bary.
Kesempatan itu digunakan Gloria untuk menjauh perlahan. Gloria beringsut, perlahan-lahan mengambil langkah menjauh sebelum ketahuan oleh Bary.
Sementara Ardo dan petugas tetap waspada penuh. Masih dengan senjata yang mengarah kepada Bary.
Namun naas. Bary mengetahui, dengan cepat ia memutar tubuh. Kembali menghampiri Gloria. Menarik pergelangan Gloria kasar, hendak menyeretnya keluar dengan kembali menempelkan pisau itu di leher Gloria. Membuat Gloria ketakutan, menahan napasnya kuat.
"Bary!" seru Ardo memekik lantang, saking panik dan takut bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan kepada Gloria.
"Bary, jatuhkan pisau itu. Jika tidak..." namun petugas tidak menuntaskan kalimatnya lantaran Bary menyela dengan cepat.
"Jangan berani mendekat jika tidak ingin Glori mati di tanganku," ancam Bary sambil menyeret Gloria menjauh dengan pisau menempel di lehernya. Bary hendak membawa Gloria keluar dari rumah. Ia berpikir, dengan membawa kabur Gloria akan semakin memudahkannya untuk menuntaskan rencananya.
__ADS_1
"Minggir!" seru Bary lantang, meminta diberi akses keluar.
"Jangan ada yang berani mendekat. Jika tidak, nyawa Glori melayang detik ini juga," ancam Bary sekali lagi.
Petugas dan Ardo yang berdiri di ambang pintu itu pun menyingkir perlahan dengan terpaksa demi keselamatan Gloria. Tetapi bukan berarti tidak waspada.
Bary telah berhasil menyeret Gloria keluar dari rumah. Di depan mobil Ardo terparkir. Bary memutar tubuh, menarik tuas pintu mobil sport merah itu terbuka.
"Masuk!" titah Bary mendorong tubuh Gloria. Memerintah Gloria masuk ke mobil itu.
Gloria menurut, demi keselamatannya. Namun hati was-was, jantung berdebar tak karuan. Belum lagi, dilihatnya Ardo mulai mendekat perlahan. Memanfaatkan keadaan saat posisi Bary membelakangi.
Ardo hanya memanfaatkan saat Bary lengah. Begitu dekat, Ardo langsung menarik kuat bahu Bary. Membuat Bary terkejut. Lalu tiba-tiba saja ...
BUG
Satu pukulan kuat mendarat di wajah Bary. Pukulan itu tak mampu terelakkan, hingga membuat Bary terjatuh. Bahkan pisau di tangannya pun terlepas.
Ardo sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia nekat meski Bary tengah bersenjata tajam. Di belakangnya ada petugas yang selalu waspada.
Ardo menyerang Bary bertubi-tubi, tanpa henti. Membuat Bary kewalahan, hingga tak diberi kesempatan untuk melawan.
Jangankan melawan, menangkis serangan Ardo pun ia tak sempat. Sebab Ardo menyerangnya buas, tanpa ampun.
Bary jatuh tersungkur berkali-kali. Lengkap dengan hidung dan bibir yang berdarah-darah. Bary hendak melawan serangan Ardo saat dua petugas malah menghampiri dan menahannya.
"Itu akibatnya kalau kamu berani menyakiti Glori," ucap Ardo di sela napasnya yang tersengal kelelahan.
Meski sudah tak berdaya, Bary masih saja memperlihatkan wajah tak suka penuh amarahnya. Namun hal itu tak membuat Ardo gentar.
Petugas hendak memborgol pergelangan Bary, saat tiba-tiba dengan sekali gerak cepat, Bary merebut senjata milik salah seorang petugas saat lengah. Lalu mengarahkan senjata tersebut ke arah Ardo.
"Kamu pikir kamu sudah menang, kepa rat?" Bary menyeringai mengarahkan pistol kepada Ardo sembari menjauh perlahan-lahan, hendak melarikan diri.
"Jangan ada yang mendekat. Jika tidak si kepa rat itu akan mati." Bary mengancam. Hingga petugas menghentikan langkah, urung sejenak untuk meringkus Bary. Walau bagaimana pun nyawa Ardo berada dalam bahaya.
Bary terlalu nekat. Akal jernihnya tak berfungsi lagi. Lantaran dikuasai amarah dan dendam, hingga ia sanggup berbuat lebih meski membahayakan nyawanya sendiri.
Lalu tanpa terduga, tiba-tiba saja ...
DOR
__ADS_1
Bersambung