Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 43. Uji Adrenalin Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Bab 43. Uji Adrenalin Yang Sesungguhnya


Usai makan malam, Gloria tengah bersiap, mencatut diri di depan cermin. Ia baru saja membaca pesan yang dikirimkan Ardo di ponselnya. Yang mana Ardo mengajaknya pergi ke bazar di lapangan kota.


Ia tidak mengiyakan, tidak pula menolak. Namun ia merasa senang. Bahkan tanpa perintah, ia mulai bersiap-siap. Berdandan secantik yang ia bisa, mengenakan dress terbaik yang ia bawa.


Ia tersenyum-senyum sendiri di depan cermin. Memandangi pantulan dirinya, yang ia sendiri sebetulnya merasa heran. Ia berdandan untuk siapa?


Ia semakin tersenyum manakala mengingat beberapa jam lalu Ardo membantunya. Menggantikannya memotong sayuran. Dari yang terlihat saat itu, Ardo tampak telah terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti itu. Tidak terlihat sedikitpun kekakuan dalam setiap gerakannya. Padahal, Ardo berasal dari keluarga berada. Yang biasanya, untuk segala keperluannya, telah ada yang menyiapkan.


Namun Ardo tidak terlihat seperti seorang anak manja. Ardo cukup cekatan berada di dapur untuk ukuran anak orang kaya.


Bukankah Ardo itu cukup menarik?


Oh, tidak. Sangat menarik malah.


Apa?


Sangat apa tadi?


Tidak, tidak, tidak.


Ia menggeleng, menghalau segala pikiran yang mulai merasuk. Yang mencoba mencuri perhatiannya diam-diam, ingin membuatnya terkesan, lalu pada akhirnya berhasil mencuri hatinya.


Walau hati kecilnya, sebetulnya tak memungkiri, ia nyaman berada di dekat Ardo. Namun ia tak ingin menjadi wanita yang terlalu mudah  takluk. Benteng kokoh yang ia bangun hampir roboh. Ia akui, pesona Ardo seperti peluru, yang melesat tajam menembus benteng kokohnya. Lalu menembus mengenainya, dan hampir melumpuhkannya.


"Kamu ikut Glori?" tanya Leni yang tiba-tiba masuk dengan dandanan seksinya. Malam-malam begini, pergi ke lapangan dengan pakaian seksi, apakah tidak terlalu berlebihan? Untuk apa pula Leni berpakaian seperti itu? Apakah untuk menarik perhatian Ardo?


Isssh ... Dasar!


Ia memandangi tampilan Leni dari cermin. Ditelisiknya tampilan itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Norak!


Itu yang terlintas di benaknya. Seketika ia jadi merasa cem ...


Eh, eh, bukan ... Bukan ...


Bukan itu.


"Iya," sahutnya datar.


"Kamu perginya bareng Mama ku saja. Aku bareng Kak Ardo."


Sontak Gloria memutar tubuhnya. Apa-apaan ini? Bukankah Ardo yang mengajaknya pergi bersama? Lalu mengapa ia harus pergi bersama Tante Chika? Jadi, percuma dong ia berdandan?


Tidak, tidak, Gloria. Buang perasaan itu jauh-jauh darimu.


Sebetulnya, ia sudah merasa kesal. Namun demi menampik perasaan memalukan itu, ia redam kekesalannya sebisa mungkin.


"Ya sudah. Aku duluan ya?" Leni keluar kamar setelah menggunakan parfum yang wanginya sampai menusuk-nusuk hidung.


Gloria hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Jujur, ia sudah tidak berminat lagi pergi ke bazar. Lebih baik ia berdiam diri saja di rumah.


Ia lantas keluar kamar hanya untuk memantau situasi. Jika memungkinkan, ia akan ikut. Tetapi jika tidak, ia mungkin tidak akan ikut. Meski Ardo yang mengajaknya.


"Eh, Nak Glori. Kamu juga ikut?" tanya Chika yang sudah rapi datang dari arah kamarnya.


Gloria cukup menyunggingkan senyumnya sebagai jawaban. Sebab ia pun masih ragu.


"Ayo, kita bareng-bareng."


"Saya ... Saya ambil tas dulu, Tante," kilahnya.


"Ya sudah. Kalau gitu, Tante tunggu di depan ya?"

__ADS_1


"Iya." Meski ragu, ia mengayunkan langkahnya lesu menuju teras rumah. Dimana Chika tengah menunggunya.


Sampai di ambang pintu, ia malah disambut oleh pemandangan yang membuatnya kecewa. Di sisi mobil yang terparkir di pekarangan rumah, dua sejoli tengah ...


Mungkinkah hal itu yang mereka lakukan?


Sebab yang tampak di depan matanya adalah punggung Leni. Sementara Ardo ...


Ardo tengah memegangi wajah Leni. Jika dilihat-lihat, sangat jelas bila mereka sedang berciuman.


Astaga!


Sontak ia memutar tubuhnya. Bersamaan dengan rasa sakit yang mulai menusuk perlahan. Ardo, pria itu sungguh sangat pandai mempermainkan perasaannya. Baru beberapa jam lalu, ia dibuai oleh kata-kata manisnya. Dan kini pria itu malah memberinya kekecewaan yang teramat.


Dan lagi, pemandangan yang ia saksikan itu adalah pemandangan yang membuatnya sakit hati.


Tak ingin menyaksikan pemandangan menjijikkan itu lebih lama lagi, ia pun memilih kembali ke kamar. Diayunkannya langkahnya lebar-lebar. Tak peduli lagi meski Leni terdengar memanggilnya.


"Glori ... Buruan ..."


Bodo amat. Mood nya hancur sehancur-hancurnya. Ia memilih mengurung diri di dalam kamar. Menyandarkan punggung di balik pintu kamar, mencoba menetralkan degup jantung yang berpacu lantaran amarah.


Ardo sungguh keterlaluan. Berapa banyak wanita yang sering Ardo permainkan seperti ini? Sungguh bodoh ia bila termakan rayuan Ardo begitu mudahnya. Yang jelas-jelas Ardo hanya mempermainkannya.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu mengagetkannya. Ia lantas membuka pintu itu.


"Kamu jadi ikut tidak? Ditunggu Kak Ardo tuh," ucap Leni berwajah kesal.


"Tidak. Aku tidak ikut."


"Bener? Nanti nyesal loh."


"Iya. Aku tidak ikut."


"Tidak, Leni. Aku sudah terbiasa di tinggal sendiri."


"Ya sudah. Aku pergi dulu. Kasihan Kak Ardo nungguin. Bye Glori ..." Setengah berlari Leni beranjak dari hadapannya.


Ia kembali menutup pintu kamarnya. Lalu mengambil duduk di tepian tempat tidur. Biarlah ia sendiri bertemankan sepi. Itu lebih baik daripada harus menahan kesal berlebih. Yang nanti malah merusak hatinya. Hatinya baik-baik saja bila tak menyaksikan pemandangan seperti pemandangan yang ia saksikan beberapa saat lalu.


Ia hendak membaringkan tubuhnya saat terdengar kembali suara ketukan pintu.


Tok Tok Tok


"Leni, sudah aku bilang aku tid..."


Ia mengira Leni kembali hendak mengajaknya. Namun begitu pintu terbuka, bukan Leni yang berdiri di hadapannya. Melainkan orang yang telah membuatnya kesal dan kecewa.


"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Ardo.


"Maaf, aku mengantuk. Aku mau istirahat," sahutnya ketus. Ini pertamakali nya ia berkata ketus kepada Ardo.


"Keluar dulu."


"Tidak."


"Keluar dulu. Banyak yang harus kita bicarakan."


"Tidak." Ia bersikukuh tak ingin menuruti permintaan Ardo.


"Baiklah, kalau begitu aku yang masuk."


"Ap ..." Belum sempat ia mencetuskan kalimat sanggahannya, Ardo telah menerobos masuk ke dalam kamar. Lalu mengunci pintu kamar. Seketika ia pun dibuat panik.

__ADS_1


"Tolong keluar dari kamar ini. Gimana kalau Leni atau Tante Chika melihat kita berdua di kamar ini?" pintanya hendak membuka pintu kamar. Namun Ardo malah menyandarkan punggungnya pada pintu kamar. Hingga tak memberinya akses meraih handel pintu.


"Kamu baca pesanku atau tidak?" tanya Ardo.


Ia lantas menggeleng. "Tidak," kilahnya.


"Aku bukan pria bodoh, Glori. Kamu membaca pesanku. Kamu tahu tidak, aku menunggumu sejak tadi."


"Bukannya Leni yang akan pergi bersamamu?"


"Kata siapa?"


"Kata Leni. Bukannya kalian juga sedang berciuman tadi, saat aku ke teras?"


"Apa? Ci ... Ci apa tadi?" Ardo malah mulai menggodanya, sembari menghampirinya perlahan.


"Emm ... Emm ... Ci-ciuman," ulangnya terbata.


"Ha ha ha ..." Dan Ardo malah tergelak mendengarnya. Ia bahkan geli melihat wajah cemburu Gloria.


"Itu yang aku lihat," belanya lantaran tak ingin Ardo menertawainya. Lalu menganggapnya cemburu.


Iya


Cemburu


Bukankah sikapnya saat ini tak ubahnya seseorang yang sedang cemburu?


"Mata Leni kelilipan. Dan aku hanya membantu meniup matanya," ucap Ardo.


"Tapi kan ada Tante Chika. Kenapa tidak minta tolong saja pada Tante Chika."


"Memangnya kenapa kalau dia minta tolong padaku?"


"Em ..." Gloria tidak tahu harus menjawab apa. Dan malah jantungnya yang kini berdetak kencang manakala Ardo semakin mendekat. Bahkan tak menyisakan jarak sedikitpun.


"Kamu cemburu, Glori?" tanya Ardo lirih menatapnya sayu.


Gloria mendongak, membalas tatapan Ardo. Dan tatapan itu pun seketika mulai menghanyutkannya. Seiring dengan perasaannya yang mendayu-dayu.


Di dalam kamar ini hanya ada mereka berdua. Bagaimana jika Leni atau Tante Chika memergoki mereka. Ia tak ingin membuat keributan. Ia pun tak ingin bila tuan rumah menilainya buruk.


"Ti-tidak. Aku tidak cemburu."


"Lalu?" Ardo semakin mendekatkan wajahnya. Membuat Gloria harus menahan napasnya kuat.


"Aku hanya kesal saja."


"Kesal juga cemburu, Glori."


"Tidak. Aku tidak cemburu. Kamu salah." Ia hendak menjauh dari Ardo saat tiba-tiba Ardo menarik lengannya kuat. Lalu satu tangan Ardo dengan cepat meraih tengkuknya. Lalu Ardo membenamkan bibirnya tiba-tiba.


Gloria tak bisa lagi menghindar. Sebab Ardo mulai melu mat bibirnya. Menyesapnya dalam, penuh kelembutan. Yang seketika membuatnya terhanyut. Ia tak kuasa menolak sentuhan lembut Ardo.


"Glori, ijinkan aku mengenalmu lebih dekat lagi. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu," ucap Ardo melepas sejenak tautan bibirnya.


Gloria menatap lekat wajah Ardo. Yang sejujurnya, ia memiliki perasaan yang sama.


"Bolehkan aku ..."


Ia mengulas senyum manisnya sebelum Ardo menyelesaikan kalimatnya. Senyumnya sudah merupakan jawaban atas pertanyaan Ardo. Yang membuat Ardo bahagia.


Kembali Ardo membenamkan ciumannya lembut. Yang mendapat balasan dari Gloria.


Dalam sekejap Ardo mampu membuatnya melayang. Bagai ia tak berpijak di bumi. Bahkan kini ia lupa dengan keadaan. Keadaan dimana mereka kini tengah berada. Ardo mengajaknya bermain dalam uji adrenalin yang sesungguhnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2