
Bab 96. Jangan Cemburu
Dengan percaya diri Ardo melebarkan langkah menyusuri lobi kantor. Menaiki lift khusus para petinggi perusahaan, Ardo sampai di lantai 5. Dimana ruangan sang ayah berada.
Ceklek
"Kejutan ..."
Begitu pintu terbuka, Ardo malah disambut dengan suara pekikan Leona. Yang berdiri menyambutnya dengan buket bunga di tangannya.
"Ini bunga untuk Kak Ardo." Leona menyodorkan bunga itu ke tangan Ardo dengan wajah sumringah.
"Lebay." Alih-alih berterimakasih, Ardo malah meledek sembari menyambar bunga itu dari tangan Leona.
"Anggap saja bunga itu sebagai ucapan selamat dariku atas pernikahan Kak Ardo."
"Pagi Pak Presdir," sapa Ardo sembari mengambil duduk di depan Dicko. Sambil memangku buket bunga.
Dicko mengangsurkan sebuah map begitu Ardo duduk. "Dibaca, dipelajari, dan pahami. Itu adalah target yang harus kamu capai bulan ini."
"Aku pikir tiket bulan madu." Ardo malah berceloteh menerima map tersebut.
"Kalau aku berhasil mencapai target? Hadiah apa kira-kira yang bisa aku dapat?" tanyanya kemudian sembari menyandarkan punggung.
Dicko mengurai senyum, lalu melirik Leona. "Fokuslah dulu pada pekerjaanmu. Jangan dulu memikirkan soal hadiahnya. Karena jika kamu gagal, kemungkinan besar kamu akan dipindahkan ke kantor cabang. Dan kamu akan tinggal terpisah dengan istrimu."
Ardo menelan salivanya kasar. Ia tahu ayahnya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Sementara Leona tersenyum-senyum geli melihat raut ketakutan Ardo. Bukan takut dipindahkan ke kantor cabang. Tetapi lebih takut bila harus terpisah dari istri tercintanya.
Ardo mendesah panjang. "Kalau begini jadinya, aku benar-benar tidak akan bisa berbulan madu."
"Sabar Kak. Dan tetap semangat ya?" Leona memberi semangat sembari mengangkat tangan kanannya dengan kepalan tinju.
"Aku yakin, Kak Ardo pasti bisa," sambung Leona meyakinkan.
Ardo mencebik. Sedikit kesal dan kecewa terhadap sang ayah. Karena menjadi anak semata wayang, tak serta merta membuat segalanya mudah baginya. Untuk mendapatkan keinginannya, ia harus bekerja keras terlebih dahulu.
...
Memasuki ruangannya, Ardo dibuat terkejut. Semua anggota tim nya sudah berada di ruangan itu dengan buket bunga di tangan salah seorang diantara mereka. Dari luar ruangan pun sebetulnya ia sudah bisa melihat bila staff nya tengah berkumpul di dalam ruangannya. Namun yang membuatnya terkejut adalah kehadiran Ellena di antara mereka.
"Hai El?" Leona yang mengekor di belakang Ardo langsung menyapa sembari membawa langkah menghampiri.
Ellena tersenyum. "Hai," balasnya menyapa.
"Selamat ya Pak Ardo atas pernikahannya," ucap Joni sembari menghampiri dengan buket bunga. Lalu menyodorkannya kepada Ardo.
Berkas serta buket bunga dari Leona ia berikan kepada staff nya yang lain. Untuk kemudian menerima buket yang disodorkan Joni kepadanya.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Ardo.
"Oh ya, aku punya berita penting. Brand akan mengeluarkan koleksi terbaru. Jadi aku mengharapkan kerjasama kalian dengan baik. Kita harus bekerja keras mencapai target penjualan bulan ini. Jika kita berhasil mencapai target bulan ini, aku akan memberikan bonus buat kalian semua," sambung Ardo menjelaskan.
"Waaah ... Benar Pak Ardo? Bapak serius?" tanya Hilda penasaran. Walau sejujurnya ia sempat merasa kecewa juga cemburu, karena ternyata atasannya yang tampan rupawan itu menjalin kasih dengan mantan rekan kerjanya. Lalu berujung menikahinya. Jika ditanya, ia benar-benar cemburu. Namun akhirnya hanya bisa mengikhlaskan pelan-pelan.
Ardo menarik senyumnya. "Aku serius."
Prok Prok Prok
Suara tepukan tangan memenuhi ruangan. Semua staff sangat senang mendengarnya.
"Jadi, mulailah bekerja. Kerahkan semua kemampuan kalian." Ardo memberi semangat, sekaligus meminta staff nya secara halus untuk meninggalkan ruangannya.
"Baik, Pak. Kami akan bekerja semampu kami. Kalau begitu kami permisi dulu, Pak." Mereka pun beranjak keluar dari ruangan itu satu per satu. Menyisakan Leona dan Ellena.
Ardo kemudian menghampiri mejanya, lantas mengambil duduk di belakang meja kerjanya.
"Kak Ardo," panggil Leona sembari mengambil duduk di depan Ardo.
"Ayo El, duduk di sini," ajak Leona menoleh sejenak kepada Ellena yang masih berdiri di seberang.
Ellena tak lantas mengikuti ajakan Leona, sebelum Ardo sendiri yang mempersilahkan. Ia sadar diri, bila ia hanyalah seorang tamu. Meski kedatangannya ke kantor hari ini untuk urusan pekerjaan.
Royale telah mengontraknya sebagai Brand Ambassador. Untuk urusan itulah ia datang hari ini ke kantor. Karena kata Leona, pemotretan akan segera dilakukan.
"Oh maaf, aku sampai lupa. Silahkan duduk Ellena." Ardo mempersilahkan sembari mengulas senyum kepada Ellena.
"Bukannya kamu di bagian keuangan? Kenapa kamu masih berkeliaran di sini?" Pertanyaan tersebut Ardo tujukan kepada Leona.
"Di sini aku bebas, bisa masuk ke bagian manapun yang aku mau. Termasuk di divisi Kak Ardo. Leona gitu loh." Leona mengibas rambut panjangnya. Menyombongkan diri diberi kebebasan oleh sang kakek.
"Kalau begitu, di tempat ini kamu tidak sedang bekerja. Tapi kamu hanya bermain-main. Sekarang katakan, ada keperluan apa kamu mengikutiku sampai ke ruanganku?"
"Aku hanya mau menemani Ellena saja Kak. Bukankah kalian harus membicarakan masalah kontrak? Juga tentang pemotretan?"
"Bukannya masalah kontrak sudah selesai ya? Untuk masalah pemotretan itu menjadi urusan staff ku. Jadi biar mereka yang mengkonfirmasi masalah jadwal pemotretannya dengan Ellena." Ardo menerangkan dengan jelas.
"Apa Kak Ardo sudah tahu kalau Ellena ini adalah sepupunya Glori?"
"Kalau soal itu aku sudah tahu."
"Oh, begitu ya?"
"Ardo ... Emm ..." Ellena memilah, mencari kata yang tepat, serta menyusun kalimat yang rapi di kepala untuk menyampaikan ucapan turut berbahagianya yang belum sempat terucap di hari pernikahan Ardo dan Gloria. Sebab pada saat itu, perasaan cemburu masih mendominasi. Dan sekarang, ia sudah bisa merelakan perlahan-lahan.
"Ada yang ingin kamu sampaikan? Silahkan," ucap Ardo.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Aku tahu, Loly adalah wanita yang terbaik untuk kamu. Aku hanya berharap, kamu tidak akan pernah menyakitinya. Dia adalah wanita yang baik." Walaupun perasaan cemburu itu masih tersisa, namun ia menyadari, bila ia tidak memiliki alasan lagi untuk membenci Gloria. Sebab satu kebenaran baru ia ketahui, bila Gloria tidak menaruh benci kepadanya sedikitpun. Gloria hanya sempat merasa kecewa, disaat ia membutuhkan dukungan keluarga, mereka malah menjauh.
__ADS_1
"Aku tahu. Untuk itulah aku memilih Glori. Karena aku tahu dia adalah wanita yang aku butuhkan dan aku cari selama ini." Ardo mengulas senyumnya teringat istri tercintanya.
...
Usai bekerja Ardo langsung pulang ke rumahnya. Jika dahulu ia memilih mampir ke tempat-tempat favoritnya, namun kini berbeda. Ia sadar bila sekarang ada istri yang sedang menunggunya di rumah.
Memasuki rumah, sembari membuka kancing teratas kemeja dibalik blazernya, Ardo menyapukan pandangan. Mencari-cari sosok sang istri. Berharap seperti dalam drama-drama yang sering ditonton ibunya, bila sang istri akan menyambutnya sepulang bekerja.
Namun yang ia temui, Gloria malah asik tertawa-tawa di ruang tengah bersama sang ibu sambil melihat-lihat album foto masa kecil Ardo.
"Eh, Nak, kamu sudah pulang?" tanya Aruna begitu menyadari kehadiran Ardo.
Sontak Gloria mengangkat pandangan. Dan mendapati wajah suram suaminya.
"Aku pikir kamu akan menyambutku di depan pintu," ucap Ardo kecewa.
"Dia sedang hamil, tidak baik berdiri di depan pintu terlalu lama. Mama yang minta dia untuk tidak menunggumu pulang." Malah Aruna yang menyahuti ucapan Ardo. Membuat Ardo menekuk bibir, sedikit kecewa tak disambut oleh Gloria.
"Bukannya menyambut suami malah asik sama mertua." Ardo memilih beranjak, memperlihatkan dengan jelas kekecewaannya.
Aruna dan Gloria malah tersenyum-senyum melihat tingkah merajuk Ardo. Aruna pun memberi kode kepada Gloria untuk menyusul Ardo ke kamar.
Di dalam kamar, Ardo menaruh tas nya di atas tempat tidur. Ia hendak membuka blazernya saat sepasang tangan lembut tiba-tiba membantu melepas blazer itu dari tubuhnya.
"Kenapa tidak menghabiskan waktumu saja seharian dengan mertuamu itu?" Ardo kesal. Sembari berbalik menghadap Gloria.
"Jangan cemburu pada ibumu sendiri."
"Siapa yang cemburu?" Ardo memutar bola mata jengah.
Gloria tahu apa yang membuat Ardo merajuk. "Mama hanya menunjukkan foto-foto masa kecilmu padaku. Dan ternyata di situ ada fotoku juga."
"Oh ya? Kenapa aku baru tahu sekarang?"
"Makanya jangan suka merajuk. Tampangmu sangat lucu kalau kamu merajuk seperti ini."
"Padahal aku sangat berharap, kamu menyambutku di depan rumah saat aku pulang bekerja, seperti istri-istri yang lain." Sembari meraih pinggang Gloria, melingkarkan kedua lengannya. Sambil menatap penuh damba.
"Kalau istrimu ini, akan menyambutmu dengan cara yang berbeda." Sembari membuka tautan kancing kemeja Ardo satu per satu.
Ardo mengulas senyum menerima perlakuan agresif dari Gloria. Memang inilah yang ia harapkan. Disambut istri dengan cara yang berbeda.
Kemeja telah ditanggalkan dari tubuh Ardo. Perlahan Gloria pun membawa jemarinya menyusuri dada bidang Ardo. Memainkan jemarinya di sana. Membuat sisi Ardo yang lain terbangun, dan terpancing. Lalu tak sabar menginginkan lebih dari Gloria.
Gloria pun mendekatkan wajahnya perlahan. Refleks, Ardo memejamkan matanya. Namun tiba-tiba ...
"Kamu bau keringat. Sekarang kamu mandi, dan aku akan menyiapkan makan malam untuk kita berdua," bisik Gloria.
Sontak Ardo membuka matanya, lalu mendesah kecewa. Padahal ia sungguh berharap lebih. Kapan lagi ia bisa melihat Gloria seagresif ini. Namun Gloria malah mempermainkannya.
__ADS_1
Bukannya meminta maaf atau membujuk, Gloria justru tersenyum-senyum sembari beranjak keluar kamar.
Bersambung