
Bab 55. Siksaan
Bary masih dengan kemurkaannya. Belum melepas cengkeramannya dari leher Gloria. Bary seakan tak peduli dengan Gloria yang semakin kesulitan bernapas. Malah semakin mencekik Gloria kuat.
Gloria berusaha sekuat tenaga membebaskan diri. Namun tenaganya tak cukup kuat dibanding tenaga Bary. Sementara pasokan oksigen dalam paru-paru kian menipis.
Semua persendiannya terasa lemas, sekujur tubuhnya kian melemah. Bukan hanya menipis, ia bahkan telah kehabisan napas. Tangannya yang memegangi pergelangan tangan Bary pun perlahan terlepas. Kelopak matanya mulai terpejam.
Melihat hal itu, barulah Bary melepas cengkeraman tangannya. Tubuh Gloria pun melorot perlahan, terjatuh di lantai. Gloria terbatuk-batuk akibat cengkeraman kuat Bary menekan tenggorokannya.
Bary berjongkok, menjambak rambut panjang Gloria hingga kepala Gloria mendongak. Gloria meringis kesakitan.
"Aw! Bary, tolong lepaskan," pinta Gloria disela rintihan sakitnya.
"Berani sekali kamu melanggar semua perkataanku, Glori. Katakan, apa yang sudah kamu lakukan dengannya? Hah? Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?" Bary menyentak, meninggikan nada suara. Ia semakin terbakar api amarah yang tersulut oleh perbuatan Gloria. Ditariknya kuat rambut Gloria. Hingga Gloria semakin kesakitan.
Anehnya, meski jiwa raganya tersakiti, tak setetes air mata pun jatuh dari pelupuk mata Gloria. Siksaan Bary sudah menjadi santapannya setiap hari semenjak awal pernikahan. Dan bila Bary mengambil nyawanya detik ini pun, ia telah mempersiapkan diri. Mungkin memang hal itu lebih baik. Daripada ia harus hidup berkalang duka, bergelimang nestapa, bermandikan nelangsa.
Bukankah ia hanyalah sebatang kara di dunia ini? Jadi alangkah baiknya bila ia ikut menyusul kedua orangtua nya yang telah lebih dulu berbahagia di surga.
Hidup bersama Bary hanyalah penjara kehidupan baginya. Sementara impiannya untuk hidup berbahagia bersama Ardo, sangat mustahil terwujud. Ibarat mengharapkan setetes air hujan di tengah kemarau panjang. Walau langit runtuh sekali pun, meski ia menangis darah tak henti, Ardo tidak akan pernah mungkin bisa menjadi miliknya.
"Kenapa kamu tidak pernah menghargai usahaku, Glori. Aku sudah bersusah payah melawan ego ku, merubah kebiasaanku. Aku berusaha memperbaiki kesalahanku. Hanya demi kamu, demi kamu, Glori. Semua aku lakukan untukmu. Hanya untukmu!" Bary kembali membentak dengan wajah merah padam semakin dikuasai amarah. Bary tak peduli meski Gloria semakin kesakitan oleh cengkeraman kuat pada rambutnya.
"Lepaskan."
"Jadi selama ini kamu berbohong padaku? Katakan, siapa Ardo sebenarnya."
"Di-dia ..."
"Katakan Glori!"
"Dia atasanku."
"Atasanmu?"
Gloria mengangguk susah payah. Ia berusaha meraih tangan Bary yang menjambak rambutnya.
"Sekarang, katakan padaku, sudah sejauh mana hubungan kalian berdua? Apa yang sudah kalian lakukan? Apakah kamu sudah ..." Bary memindai tubuh Gloria. Ditariknya paksa kemeja Gloria sampai kancingnya terlepas. Hingga menampakkan bagian tubuh Gloria yang masih terbungkus rapi dibalik si kain berenda hitam.
"Menyerahkan tubuhmu?" sambung Bary menatap nyalang bola mata Gloria.
"A-aku mencintainya." Lebih baik Gloria jujur daripada Bary mengetahuinya dari orang lain. Terserah seperti apa tanggapan dan reaksi Bary. Bahkan kekejaman Bary hari ini pun akan ia terima. Meski nyawa taruhannya.
__ADS_1
PLAK!
PLAK!
Tamparan keras mendarat di kedua pipi Gloria. Sangat keras hingga meninggalkan bekas memerah di kedua pipi itu. Gloria meringis kesakitan mendekap kedua pipi yang memerah. Sudah sewajarnya bila Bary marah. Sebab ini adalah kesalahannya.
"Aku akan membunuhmu, Glori!" Bary memekik kencang, sangat memekakkan telinga. Dipenuhi oleh amarah yang menggunung. Berkobar membara seperti api yang siap membakar jiwanya. Kesalahan Gloria kali ini teramat fatal. Tak bisa dimaafkan. Membuat amarahnya telah berada di titik puncaknya.
Gloria meringkuk, memeluk lutut ketakutan. Bary telah berada di puncak amarahnya. Tidak ada yang bisa Gloria lakukan untuk meredam kemarahan Bary. Maka biarlah Bary melampiaskan amarahnya. Hari ini, detik ini meski teramat menyiksa jiwa raganya.
Bary mulai melayangkan tangan di udara, hendak menghakimi Gloria, saat tiba-tiba terdengar dering ponsel.
Cepat Bary merogoh ke dalam tas Gloria. Mengambil ponsel Gloria yang berdering dari dalam sana. Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan dengan jelas nama Ardo sebagai penelepon. Yang justru membuat amarah Bary kian berkobar. Tatapan tajamnya laksana tombak terhunus menembus jantung sampai berdarah-darah.
PRAK
Bary membanting kuat ponsel Gloria hingga hancur berserakan. Amarah yang kini menguasai Bary kian memuncak, menuntut pelampiasan.
"Aku tidak menyangka, kamu berani melakukan ini padaku, Glori. Perbuatanmu ini tidak bisa aku maafkan. Berhenti dari pekerjaanmu sekarang juga, atau ..." Rahang Bary mengetat. Bary mengepalkan kedua tinjunya, menatap tajam Gloria dengan kilatan amarahnya.
Bary lantas menutup pintu kamarnya. Lalu melepas ikat pinggangnya.
Gloria semakin meringkuk, memeluk erat kedua lututnya. Apapun yang akan Bary lakukan hari ini, akan ia terima. Apalah dayanya, melawan pun tak kuasa. Ia hanya bisa pasrah, meski nyawanya berada di ujung tanduk.
____
Ardo menghembuskan napas panjang begitu sambungan telepon terputus. Gloria menolak panggilannya. Yang berarti bahwa Gloria memang sedang menghindarinya saat ini.
Jujur, Ardo kecewa. Teramat sangat kecewa. Entah apa sebabnya hingga Gloria mulai menjauhinya seperti ini. Sungguh, perlakuan Gloria yang terkesan mendadak seperti ini secara tidak langsung telah mematahkan langkahnya untuk terus maju. Memperjuangkan Gloria hingga menjadi miliknya.
Gloria telah membangun kembali benteng kokohnya. Memberi Ardo sinyal, bilamana hubungan mereka tak kan mungkin bisa diperjuangkan. Dengan menjauhnya Gloria merupakan pertanda bahwa ia pun dituntut melakukan hal yang sama. Yaitu menjauhi Gloria.
Jika memang itu yang diinginkan Gloria, mau tidak mau, dengan berat hati ia harus menurut. Walau sebenarnya ia tak ingin. Hatinya terkoyak. Jiwa petualangnya tercoreng. Sebab ia mengambil langkah mundur dengan berat hati.
Menjelang malam Ardo pun pulang ke rumah dengan berwajah sendu. Ia melangkah lesu memasuki ruang tamu, melewati ruang tengah. Namun langkahnya terhenti begitu satu kakinya mulai menapaki anak tangga.
"Ardo, kamu baru pulang?" tanya Dicko.
Ardo menoleh, memandangi sang ayah yang tengah duduk di sofa bersama tamu yang datang malam ini. Dipandanginya satu per satu tamu yang tampak tak asing lagi baginya. Yang tengah memandanginya dengan senyuman.
Diantara tamu itu, ada sesosok yang berwajah jelita. Yang sedikit menarik perhatiannya.
Ellena.
__ADS_1
Gadis cantik itu menatapnya berbinar. Dengan senyuman menawan yang terukir di bibirnya.
"Ardo, kamu sudah pulang Sayang?" Aruna datang dari arah dapur. Menghampiri sang putra yang masih berdiri di bawah anak tangga.
"Kebetulan kamu sudah pulang, jadi makan malamnya bisa kita mulai saja," sambung Aruna mengukir senyum merekah memandangi Sheila dan Randa bergantian.
"Iya kan Sayang?" tambahnya beralih memandangi Dicko.
"Makan malam?" gumam Ardo bingung. Sebab tidak biasanya ayah dan ibunya mengadakan jamuan makan malam seperti ini.
"Iya, Papa mengundang Dokter Randa dan keluarga makan malam bersama keluarga kita. Yah, hitung-hitung sekedar untuk menyambung tali silaturahmi saja. Mumpung Dokter Randa dan keluarga ada di kota ini. Iya, kan Sayang?" terang Aruna melempar pandangan kepada Dicko.
"Iya, benar Ardo." Dicko bangun dari duduknya, menghampiri Ardo.
Sementara Randa, Sheila, dan Ellena pun beranjak dari duduknya. Menghampiri Ardo yang masih berada di tempatnya.
"Ardo, Om sangat senang bisa bertemu kamu lagi. Waaah ... Om tidak menyangka, kamu sudah sebesar ini sekarang. Tampan lagi," ujar Randa sebagai kalimat sapaan sekaligus pembuka obrolan dengan Ardo.
Ardo mengulum senyum.
"Oh ya, masih ingat Om kan?" celoteh Randa.
"Masih dong Om."
"Kalau putri Om, masih ingat juga?"
Ardo melirik Ellena sejenak. Yang tersenyum menatapnya.
"Kalau Elle sudah pasti ingat banget dengan Ardo. Malah hampir sepanjang hari Elle ini nanyain Nak Ardo terus. Iya kan Elle?" goda Sheila mengerling ke arah Ellena yang tersenyum malu-malu.
_____
Sementara di tempat berbeda. Di waktu yang sama.
Gloria meringkuk, memeluk lutut di bawah guyuran shower. Wajah dan tubuhnya yang dipenuhi lebam dan luka-luka kecil, menjadi pertanda situasi seperti apa yang baru saja ia lewati. Situasi mencekam yang hampir merenggut nyawanya.
Meski jiwa raganya tersiksa, Gloria tidak peduli. Mungkin itu lebih baik, daripada Bary melampiaskan kemarahannya kepada Ardo. Ia hanya tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Ardo.
Sedari tadi, ketika Bary menyiksanya, tak setetes pun air matanya jatuh berderai. Namun disaat hati dan pikirannya mengingat Ardo, air mata itu jatuh berderai begitu saja tanpa permisi. Tanpa mampu ia cegah.
Ia tak kuasa jika seandainya Bary melakukan sesuatu yang buruk terhadap Ardo. Jadi, biarlah ia yang menanggung amarah Bary.
Bersambung
__ADS_1