Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 68. Kejutan Yang Tak Menyenangkan (1)


__ADS_3

Bab 68. Kejutan Yang Tak Menyenangkan (1)


Gloria masih mematung, terkejut atas apa yang dilakukan Ardo kepadanya saat ini. Ardo hendak menyuapinya potongan pertama kue ulang tahunnya. Yang seharusnya Ardo berikan untuk orang terkasihnya, yaitu ibu atau ayahnya.


Namun yang terjadi sungguh mengejutkan, Ardo malah datang kepadanya. Mengangsurkan sepotong kue ke depan wajahnya, hendak menyuapinya sambil tersenyum menatapnya.


Gloria tidak tahu harus berbuat apa. Jujur, ia merasa risih juga malu diperlakukan Ardo istimewa dari tamu yang lain. Ia mendapat potongan kue pertama Ardo, yang berarti bahwa ia adalah orang yang paling Ardo kasihi.


Bila ditanya, ia tersanjung, ia terharu. Akan tetapi, ia sadar diri. Bahwa ia bukanlah orang yang pantas mendapatkan perlakuan istimewa itu.


Ia memberi isyarat melalui tatapan mata, bahwa ia merasa risih juga canggung. Serta mempertanyakan tentang apa yang Ardo lakukan saat ini. Tetapi Ardo malah semakin melebarkan senyuman.


"Ayo, buka mulutmu." Ardo meminta, tak menghiraukan berpasang-pasang mata yang tertuju kepadanya. Ada yang menatap heran, bingung, marah, bahkan tak suka.


Gloria tak langsung menurut. Menyapukan pandangan, bergulir dari satu ke yang lainnya. Gloria merasa tatapan tamu-tamu seolah menghakiminya. Mengatainya genit dan tak tahu malu. Tersirat dari sorot mata yang terlihat.


Salah satu diantaranya ada Ellena. Pandangan Gloria terhenti pada Ellena yang menatapnya tak suka, penuh benci. Ellena berdiri diantara Sheila dan Randa yang memandanginya dengan dahi mengerut.


"Perempuan itu sepertinya aku kenal." Randa bergumam merasa mengenali perempuan yang berdiri di depan Ardo.


"Siapa perempuan itu?" Opa Danu pun ikut mempertanyakan hal yang sama.


"Dicko, siapa perempuan yang sedang bersama cucuku itu? Sepertinya Papa pernah melihatnya. Apakah dia pacarnya Ardo?" sambung Opa Danu.


"Kenapa kalian tidak memberitahuku kalau cucuku sudah punya pacar?" tambah Opa Danu menggulir pandangan pada Dicko yang berdiri di sampingnya.


Menghela napasnya panjang, menghembuskannya perlahan kemudian. Sembari Dicko memikirkan, memilih kalimat yang pantas untuk menyampaikan informasi tentang Ardo yang telah memiliki kekasih. Tetapi sayangnya, masih menjadi milik orang.


"Aruna?" Opa Danu meminta Aruna menjawab pertanyaannya.


Aruna pun sama saja, bingung harus memulainya dari mana.

__ADS_1


"Bram? Kamu pamannya. Seharusnya kamu tahu." Bukannya Opa Danu tidak suka melihat cucunya dekat dengan seorang wanita. Namun menurutnya, belum waktunya bagi Ardo untuk menjalin hubungan. Sebab Ardo tengah ia persiapkan untuk memegang tongkat estafet bisnis keluarga.


Kabar tentang kelakuan sang cucu sewaktu tinggal di luar negeri pun telah sampai ke telinganya. Ia termasuk salah satu yang mendesak Dicko agar sang cucu kembali ke pangkuan. Akan jauh lebih baik bila cucunya berada dekat dalam pengawasan.


"Nanti Papa tanyakan saja langsung pada orang yang bersangkutan," sahut Bram tak ingin memperkeruh suasana. Karena bagi Bram, Ardo itu sudah dewasa. Dia sudah pasti mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.


Bram lebih mempercayai ponakannya, berkaca dari pengalaman dan masa lalu. Ia tahu, antara Dicko dan Ardo itu memiliki banyak persamaan. Salah satu diantaranya adalah, sungguh-sungguh dalam mencintai. Maka, bila Ardo telah menemukan tambatan hatinya, dia tidak akan pernah melepaskan. Sama seperti Dicko. Ia hanya ingin melihat, sejauh mana kesungguhan Ardo. Juga apakah takdir pun akan berpihak kepada Ardo.


"Ardo itu sudah dewasa Pa. Wajar jika sekarang dia punya pacar. Lagipula usianya sudah cukup untuk menikah. Iya kan, Sayang?" Clara menimpali omongan Bram. Karena baginya, Ardo memang sudah pantas untuk menikah di usianya yang telah matang.


Opa Danu membuang napasnya kasar sembari memperhatikan pemandangan yang membuat banyak mulut mencibir berbisik. Serta mengundang banyak pandangan tak suka.


Terlebih diantara mantan rekan kerja Gloria. Yang tak henti-hentinya mencibir Gloria. Mengatai Gloria wanita gatal, wanita peselingkuh, hingga wanita materialistis. Bahkan ada yang sempat mengatai Ardo adalah perusak rumah tangga orang. Pria yang senang menggauli istri orang. Padahal di luaran sana ada banyak perempuan-perempuan cantik yang mau dengannya.


Cibiran-cibiran yang terdengar itu meski samar, namun tertangkap indera pendengaran Dicko. Yang membuat hatinya memanas, sesak menahan amarah. Seketika ingatannya pun melambung kembali ke masa-masa lampau. Dimana ia melakukan hal yang sama. Yaitu mencintai istri orang.


Apakah ini adalah balasan atas perbuatannya dahulu? Yang telah sengaja merebut Aruna dari Bram, serta menyakiti hati Bram? Sehingga semesta memberinya balasan setimpal melalui putranya?


Semesta mengijinkan hal ini terjadi agar ia tahu bilamana perbuatannya dahulu kala itu tidak benar dan teramat mencoreng nama baik keluarga. Terlebih merusak citra diri sendiri.


Dicko menghembuskan napasnya pelan. Sembari meraih Aruna, melingkarkan lengan di pundak Aruna.


Aruna pun melingkarkan lengan kanannya di pinggang Dicko. Dan membawa tangan kirinya mengusap lembut dada bidang Dicko.


"Sabar ya Sayang. Aku tahu putra kita salah. Maafkan aku yang terlalu memanjakannya," ucap Aruna mengetahui bila sang suami sebetulnya murka akan perbuatan Ardo. Namun kasih sayang terhadap sang putra masih mampu meredam kemurkaan, meski tak sepenuhnya. Setidaknya Dicko mampu mengendalikan amarahnya.


"Mungkinkah ini adalah balasan atas perbuatanku dulu? Aku telah menyakiti banyak orang. Terlebih Bram." Tiada guna lagi menyesali apa yang terjadi. Yang telah berlalu biarlah berlalu. Dibalik semua itu memiliki hikmah yang bisa dipetik.


"Jangan berkata seperti itu Sayang. Apapun yang telah terjadi, itu sudah takdir. Hm?" Aruna menyandarkan kepala di dada bidang Dicko setelah mengukir senyum menatap sang suami.


....

__ADS_1


"Glori." Lirih Ardo memanggil dengan tangan kanan yang masih terulur hendak menyuapi Gloria.


'Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja.'


Ucapan manis Ardo itu masih terngiang di telinganya. Memberinya sedikit keberanian. Hingga akhirnya ia menurut, membuka mulutnya, menerima sepotong kue dari suapan Ardo.


Ardo mengulum senyum menatapnya. Lalu tanpa disangka, sebuah kecupan berlabuh di keningnya. Membuat banyak mata terbelalak. Lalu mulut terdengar bertanya-tanya.


"Siapa sih perempuan itu? Beruntung sekali dia mendapat potongan kue pertama dari Ardo. Yang artinya dia adalah orang yang paling Ardo sayangi." Wajar bila banyak yang bertanya. Sebab hubungan Ardo dan Gloria belum terendus. Terkecuali oleh kerabat dan orang-orang tertentu.


Diantara tamu yang membelalak menyaksikan hal itu, ada dua orang tamu yang memandang tak suka, bahkan benci.


Ellena. Perempuan cantik itu terlihat tengah menahan kesal dan cemburu melihat Ardo menunjukkan kasih sayangnya kepada Gloria di depan banyak orang. Hatinya memanas, iri juga dengki tak mendapat perlakuan serupa dari pria yang ditaksirnya.


Salah seorang lagi ada Reina. Yang juga menampakkan raut wajah serupa. Memandang sinis sambil mengarahkan kamera ponselnya mengabadikan pemandangan tersebut.


"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Gloria begitu Ardo menyudahi kecupan. Gloria merasa risih menjadi pusat perhatian saat ini.


"Sudah ku katakan, Glori. Kamu sangat berharga bagiku. Kamu adalah separuh jiwaku," ucap Ardo lirih setulus hati. Yang membuat sepasang mata indah Gloria mulai berkaca-kaca.


Sungguh, betapa Gloria terharu mendengar ungkapan hati Ardo. Hingga akhirnya meluruhkan butiran-butiran bening di pipinya, membasahi wajahnya.


"Aku sa-"


Namun sayangnya kalimat yang hendak diucapkan Gloria harus menggantung di udara. Sebab tiba-tiba terdengar suara bariton menggema memenuhi ruangan.


"Ardo!" seru Bary berang berapi-api dengan kilatan amarah yang siap menyambar.


Serentak, semua pasang mata pun tertuju ke arah pintu masuk ballroom. Dimana Bary tengah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang teramat sulit diartikan.


Ini merupakan sebuah kejutan yang tak menyenangkan di hari istimewa Ardo.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2