Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 59. Yang Aku Minta


__ADS_3

Bab 59.Yang Aku Minta


"Maaf, Ellena. Tapi setahu Om, Ardo sudah datang ke kantor sejak pagi. Mungkin dia masih ada urusan sebentar," ucap Dicko saat Ellena ia minta menunggu Ardo di ruangannya.


Ellena datang ke kantor untuk urusan kontrak kerja sama dengan TRF sebagai Brand Ambassador Royale. Mengingat tidak lama lagi peluncuran mode terbaru brand Royale akan diadakan. Rancangan mode nya telah rampung, dan saat ini produksi pun tengah berjalan.


Begitu produksi telah selesai, dan produk siap diluncurkan ke pasaran, terlebih dahulu perkenalan terhadap produk pun perlu dilakukan. Dengan Ellena sebagai model brand.


Ellena sudah sangat berantusias, dengan semangat berapi-api. Namun semangat itu harus padam lantaran orang yang membuat semangatnya berkobar justru tak ditemuinya siang ini.


"Bisakah kamu menunggunya sebentar lagi?" tanya Dicko meminta kerelaan waktu Ellena.


Ellena tersenyum. "Bisa, Om. Kebetulan hari ini jadwal saya kosong. Syuting iklannya di tunda sampai minggu depan."


"Maafkan Ardo. Mungkin saja dia punya urusan yang mendesak."


"Tidak apa-apa, Om. Saya bisa menunggu."


"Oh ya, apa kalian sudah membuat janji sebelumnya?"


Ellena tampak malu-malu. Sebab sejujurnya kedatangannya ke kantor hari ini atas kemauannya sendiri. Tidak ada pembicaraan dengan Ardo sebelumnya.


"Tidak, Om. Kata Ardo saya bisa datang kapan saja. Kapan pun saya punya waktu. Dan kebetulan waktu luang saya ya hari ini." Alasan yang diberikan Ellena cukup masuk akal. Mengutip dari pembicaraan mereka terdahulu.


.....


Atas saran Meli, seorang dokter kulit, istri sahabatnya, Irfan. Ardo membeli beberapa obat dan salep untuk mengobati luka dan lebam di tubuh Gloria.


Tak lupa ia mampir ke gerai ponsel untuk membelikan ponsel yang baru untuk Gloria. Sebab kata Gloria ponselnya rusak, sudah tidak bisa digunakan lagi.


Setelahnya ia membeli makanan cepat saji serta minuman dingin untuk ia bawa ke hotel. Dimana Gloria tengah menunggunya.


"Gimana, Fan. Kira-kira apa yang aku rencanakan bisa terlaksana?" tanya Ardo melalui sambungan telepon. Sembari menaruh kantong belanjaan di meja sofa. Kemudian menghampiri Gloria yang telah terlelap. Mengambil duduk di tepian tempat tidur. Menatap pilu paras lebam Gloria.


"Tidak bisa, Do. Terkecuali bila korban memberi kuasa padamu untuk melaporkannya." Terdengar suara Irfan menyahuti ucapan Ardo dari seberang.


"Oh, begitu ya. Ya sudah, nanti aku akan menghubungimu lagi. Sorry sudah mengganggu waktumu." Ardo memutus sambungan telepon. Lalu menyimpan kembali ponsel ke dalam saku.

__ADS_1


Ardo mengulurkan tangan, hendak menyentuh wajah Gloria saat Gloria membuka mata.


"Kamu dari mana saja?" tanya Gloria.


"Kita makan dulu yuk. Kamu pasti lapar kan?" Ardo mengulum senyum meski hati pilu melihat keadaan Gloria. Ingin sekali ia melindungi wanita yang ia cintai, namun entah bagaimana caranya.


Sebelumnya Ardo telah menghubungi Irfan, menanyakan perihal kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dialami Gloria. Sekiranya ia bisa membantu. Akan tetapi semua hal rupanya memiliki aturan. Tidak semua hal bisa berjalan seperti keinginannya. Termasuk dalam hal melaporkan kasus KDRT yang dialami Gloria.


Meski ia telah melihat langsung bagaimana kondisi memilukan Gloria, namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Terkecuali bila ia membujuk agar Gloria sendiri mau melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib.


Gloria tersenyum, lalu bangun dari pembaringan. Turun dari tempat tidur itu mengikuti langkah Ardo menuju sofa di sudut kamar. Dimana beberapa paper bag telah berada di atas meja.


Gloria mendudukkan diri di samping Ardo. Yang tengah mengambil satu paper bag berlogo apel tergigit, mengeluarkan isinya.


Sebuah ponsel canggih dengan harga fantastis Ardo berikan untuknya.


"Pakai ini. Tinggal tekan angka satu maka kamu akan langsung terhubung denganku." Sembari membuka kantong yang berisi makanan.


"Untuk apa ini?" Sebuah pertanyaan konyol yang tidak seharusnya Gloria tanyakan. Sebab anak kecil saja tahu apa fungsi barang tersebut.


"Untuk berkomunikasi. Kamu pikir untuk apa?" Sambil menata makanan yang ia beli di depan Gloria. Serta membuka minuman kemasan agar Gloria tak perlu repot-repot lagi membukanya.


"Oh ya, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Gloria ragu. Sebab mungkin tanggapan Ardo akan berbeda bila ia melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba. Namun rasa penasarannya tak terbendung lagi. Mengingat sosok yang sempat ia lihat tengah bersama Ardo tempo hari itu adalah sosok yang ia kenal.


"Mau bertanya soal apa?"


"Emm ..." Gloria tampak berpikir sejenak. Menimbang-nimbang kalimat seperti apa nanti yang ingin ia utarakan agar tak menyinggung Ardo nantinya.


Sembari mengunyah, Ardo menatap Gloria. "Mau bertanya soal apa? Cepat tanyakan sebelum aku berubah pikiran. Mumpung mood ku sedang baik."


"Kamu kenal Ellena?" Pertanyaan itu pun akhirnya terlontar. Yang mungkin saja membuat Ardo beranggapan bila ia sedang cemburu.


"Kamu kenal dia?" Alih-alih menjawabnya, Ardo malah balik bertanya. Ia baru teringat akan raut berbeda Gloria saat bertemu Ellena tempo hari. Yang menyiratkan seolah mereka saling mengenal.


"Bukannya aku yang bertanya tentang itu?"


Ardo menghela napas sejenak. "Dia putri dari teman Papa."

__ADS_1


"Jadi Dokter Randa itu adalah teman ayahmu?"


Ardo mengernyit begitu mendengar pertanyaan Gloria. Ditatapnya lekat wajah Gloria. Menelisik dalam raut wajah itu yang terlihat berbeda kala pertanyaan itu terlontar.


Gloria salah tingkah menerima tatapan Ardo. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?"


"Kamu kenal ayahnya Ellena? Padahal aku tidak menyebut namanya tadi. Itu artinya kamu juga mengenal Ellena?" telisik Ardo ingin tahu.


Gloria mengangguk pelan. Apa gunanya ia menutupi hal itu. Bukan bermaksud menyembunyikan, hanya saja ia tak ingin terlalu membuka tentang siapa dirinya. Bahkan sewaktu melamar pekerjaan di TRF pun ia tidak mencantumkan nama lengkapnya.


"Dokter Randa adalah adik dari ibuku," tuturnya pelan.


"Berarti dia pamanmu? Dan Ellena adalah ..."


"Saudara sepupuku," sela Gloria.


"Oooh ... begitu ya." Ardo manggut-manggut. Kini ia tahu arti rona berbeda Gloria saat bertemu Ellena beberap waktu lalu. Jika begitu, berarti Gloria tidak sendirian. Gloria masih memiliki kerabat dekat.


"Oh ya, apa setelah ini aku bisa pulang?" tanya Gloria kemudian.


"Tidak. Kamu akan tetap berada di hotel ini sampai aku menemukan tempat tinggal yang baru untukmu."


"Te-tempat tinggal?"


Ardo mengangguk santai sembari melanjutkan kembali makannya. Sementara Gloria terlihat tak tenang. Banyak hal yang membuatnya cemas juga ketakutan. Terlebih soal Bary.


"Aku juga akan mencarikan seorang pengacara hebat untuk membantumu mengurus perpisahanmu dengan laki-laki itu. Aku tidak bisa menunggu lama. Kamu terlalu lama menunda waktu. Aku hanya takut bila sesuatu yang buruk terjadi padamu nanti. Dan aku tidak berada di dekatmu untuk melindungimu. Dan hanya cara ini yang bisa aku lakukan."


Ardo terlalu nekat menahan istri orang. Memang niatnya mungkin ingin membantu. Namun cara yang digunakan Ardo tetap lah salah. Sebab Ardo telah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan rumah tangga orang.


"Aku minta padamu tolong percayalah padaku. Apapun akan aku lakukan untukmu. Termasuk memperjuangkanmu," sambung Ardo menatap sayu.


Entah Gloria harus merasa senang ataukah justru ketakutan lah yang terus melanda. Sebab Bary tidak akan tinggal diam bila dipermainkan seperti ini. Terlebih Ardo terlalu campur tangan dengan kehidupan orang lain.


Walau bagaimana pun Bary masih berstatus suami Gloria. Yang harus ia patuhi setiap perkataan dan perintahnya.


"Aku akan menunggu kehadiranmu malam ini. Karena malam ini adalah malam yang istimewa bagiku. Jangan pikirkan apapun, karena aku sudah menyiapkan segalanya untukmu," ucap Ardo mengulum senyum tipis menatap Gloria.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2