Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 56. Makan Malam


__ADS_3

Bab 56. Makan Malam


"Oh ya, kalau tidak berhalangan, besok kami akan mengadakan perayaan ulang tahunnya Ardo. Kalian nanti datang ya?" ucap Aruna sembari mengambilkan lauk untuk Dicko.


"Makasih, Sayang," ucap Dicko sembari tersenyum.


"Sama-sama, Sayang," balas Aruna mengulum senyum manisnya.


"Kalian berdua itu masih saja sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Mesra. Aku jadi iri deh," celoteh Sheila melihat kemesraan Aruna dan Dicko. Yang baginya terlihat sama seperti saat pertama mereka menjalin hubungan.


Sheila dan Randa, sebagai sahabat sepasang suami istri itu, merupakan saksi hidup akan perjalanan cinta mereka.


Aruna dan Dicko tersenyum mendengar pujian Sheila.


"Oh ya, kamu bilang ulang tahunnya Ardo, Run?" Sheila teringat ucapan Aruna sebelumnya.


"Iya, besok malam. Jangan lupa datang ya?"


"Tentu. Elle ku ini diundang juga kan?" Sheila mengerling ke arah Ardo. Yang tampak tenang menikmati makan malamnya.


Dari tampangnya saja Ardo terlihat tenang. Tetapi sesungguhnya, pikirannya sedang kalut. Gloria memenuhi pikirannya saat ini. Membuatnya resah hingga dilanda kecemasan. Memikirkan bagaimana keadaan Gloria saat ini. Serta teramat sangat ingin tahu penyebab perubahan sikap Gloria yang mendadak.


"Kalian sekeluarga dong, Sheila. Kami akan sangat senang kalau kalian bisa hadir di perayaan itu. Soalnya, ini untuk pertamakali kami mengadakannya sejak Ardo pulang," sahut Aruna.


"Gimana Beib, kamu punya waktu tidak?" Sheila beralih menatap Randa, suaminya.


"Akan aku usahakan. Untuk sahabat terbaikku ini, apa sih yang tidak?" sahut Randa kemudian menyudahi makan malamnya.


"Terima kasih, Randa," ucap Dicko mengulum senyum.


"Ellena gimana?" Randa beralih kepada Ellena yang juga telah menyudahi makan malamnya.


Gadis jelita itu meraih gelas air minum. Meneguk air minum itu perlahan sambil melirik Ardo yang tengah menunduk meski telah selesai dengan makan malamnya.


"Kalau Elle jangan ditanya lagi. Waktunya banyak kalau untuk Ardo. Iya kan Elle?" Sheila malah menggoda Ellena. Yang membuat Ellena terkejut, lalu terbatuk-batuk.


"Minumnya pelan-pelan dong Beb." Sheila mengelus-elus pundak Ellena yang duduk di sebelahnya.


"Mommy apaan sih?" Ellena salah tingkah, menaruh kembali gelas ke meja. Matanya masih mencuri-curi pandang ke arah Ardo.


"Daddy mu nanya, apa kamu punya waktu hadir di perayaan ulang tahun Ardo besok."


"Punya lah Mom. Besok jadwalku kosong."


"Bener?"

__ADS_1


Ellena mengangguk, mengulum senyum manisnya. Yang otomatis membuat Sheila kegirangan.


"Thankyou Beb. Mommy seneng banget deh."


"Makasih banyak loh kalian sudah mau menyempatkan waktu. Padahal, aku tahu kalian itu sangat sibuk," ucap Aruna.


Obrolan-obrolan yang terdengar itu sedikitpun tak mengusik lamunan Ardo yang kian melambung, memikirkan perihal hubungannya dengan Gloria.


Siapa sangka, tantangan yang diberikan Leona malah semakin menyeretnya jauh. Jauh ke dalam hubungan yang tidak seharusnya. Taruhannya bersama Leona justru membuatnya menjadi pengganggu rumah tangga orang lain.


Awalnya ia hanya sekedar bermain-main saja. Sekedar ingin membuktikan kemampuannya. Setelah ia berhasil memenangkan tantangannya, serta keinginannya untuk mengerjai Leona terlaksana, ia akan berhenti mengganggu Gloria.


Namun, seiring waktu berjalan, semakin ia mengenal Gloria. Ia semakin ingin memiliki Gloria. Bila ia berhasil memisahkan Gloria dari suaminya nanti, itu sudah merupakan pencapaian terbesar dalam sejarah petualangannya bermain wanita.


Akan tetapi Gloria adalah wanita yang berbeda. Ia sendiri terkadang masih merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Niat awalnya hanya ingin bermain-main, tak ingin Leona meremehkan kemampuannya menaklukkan wanita.


Namun disaat ia melibatkan serta perasaan dalam upayanya meluluhkan Gloria. Justru membuat perasaannya terhadap Gloria semakin kuat. Bukan hanya ingin memisahkan Gloria dari suaminya saja, ia bahkan ingin merebut Gloria. Lalu menjadikannya miliknya seorang.


Sungguh gila!


Memang!


Ia memang sudah gila, karena Gloria. Gara-gara Gloria. Kegilaannya kian menjadi. Bahkan semakin membutakan akal sehatnya.


Lalu hari ini, setelah Gloria kembali menjauhinya. Membuatnya menyadari perasaannya terhadap wanita itu. Bukan hanya cinta, melainkan ia teramat mencintai Gloria.


Iya.


Ardo menyadari itu sekarang. Memikirkan saat Gloria tengah bersama Bary, diam-diam menghadirkan cemburu di hati. Terkadang pun membuatnya resah dan gelisah. Terlebih saat Gloria lebih memilih pulang bersama Bary, sungguh membuatnya sakit hati.


"Sebelum terlambat, aku ingin mengucapkannya sekarang. Selamat ulang tahun ya Ardo," ucap Ellena saat mereka tengah mengobrol berdua di tepian kolam renang. Begitu makan malam usai. Dan berganti dengan ngobrol santai di taman belakang rumah.


Ardo menoleh, menatap Ellena yang duduk di samping. Tersenyum malu-malu membalas tatapannya.


"Oh, makasih." Ardo membalas senyuman Ellena. Sejujurnya, Ardo memiliki ketertarikan terhadap Ellena. Cantik dan berkelas. Tipe wanita yang memenuhi standar kriterianya.


Akan tetapi, meski menatap Ellena dari jarak dekat seperti ini, entah mengapa sedikitpun tidak menghadirkan getaran di hatinya.


Ardo terpaku menatap lekat paras Ellena. Menelisik dalam, mencari makna ketertarikannya terhadap gadis itu. Yang ternyata tak lebih dari sekedar mengagumi semata. Semakin lama ia menatap, justru paras manis Gloria lah yang kian terbayang di pelupuk mata. Seiring debaran dalam dada yang hadir kala mengingatnya.


"Oh ya, kata Leona kamu pernah kirim salam padaku?" tanya Ellena memberanikan diri. Terdorong oleh ketertarikannya terhadap Ardo.


Ardo terhenyak. Menoleh sejenak, menghindari tatapan berbinar Ellena. Yang sejujurnya, membuat paras Ellena semakin cantik dikala matanya berbinar dengan wajah berseri-seri. Namun sayangnya sedikitpun tak membuat hatinya berdebar.


"Leona bilang begitu?" Ardo hanya tak menyangka, Leona berkata bohong kepada Ellena. Lantaran ingin menjodoh-jodohkannya dengan Ellena.

__ADS_1


Ellena tersenyum, menundukkan pandangannya sejenak.


"Jujur, aku sangat senang mendengarnya. Andai itu memang benar." Ellena tak memungkiri, bukan hanya tertarik, tetapi ia telah memiliki rasa terhadap Ardo.


"Ellena, maaf. Aku permisi sebentar." Ardo beranjak, menjauhi Ellena. Ia lantas merogoh kantong celana, mengambil ponsel untuk menghubungi Gloria.


Namun berkali-kali panggilannya tak pernah tersambung. Ponsel Gloria tidak aktif. Membuat kecemasan yang melanda kian membuatnya runyam. Runyam akan kegelisahan mengingat wanita yang ia cintai saat ini tengah bersama suami sah nya.


Ia menghembuskan napas berat. Debaran yang menggila dalam dada berusaha ia redam. Agar pikirannya tak semakin kacau. Bahkan serasa membuatnya tak waras.


______


Gloria telah selesai mengganti pakaiannya. Ia melangkah pelan keluar dari kamar, hendak ke dapur untuk membuat makan malam. Sepulang kantor, sampai Bary menyiksanya, perutnya belum terisi. Sedari tadi perutnya keroncongan.


Begitu tiba di dapur, ia malah mendapati sepiring nasi dan semangkuk sup hangat telah tersaji di atas meja makan.


"Makanlah dulu. Sejak tadi kamu belum makan kan?" Bary datang mengagetkannya. Menghampirinya, lalu menuntunnya mendekati meja makan.


"Makanlah dengan tenang. Jangan pikirkan apa pun." Bary menarik satu kursi, mendesaknya untuk duduk. Kemudian Bary meninggalkannya sendiri di meja makan itu.


Segala pikiran buruk yang berkecamuk memenuhi kepala, ia singkirkan sejenak. Demi kenyamanan mengisi si perut yang tengah berdemo meminta jatahnya.


Setelah menyelesaikan makannya, ia hendak kembali ke kamarnya. Saat tiba-tiba tangan kekar Bary mencekal lengannya. Lalu mengajaknya duduk di sofa.


Ia menurut saja, tak memberikan perlawanan sedikitpun. Walau sejujurnya ia masih merasa takut berdekatan dengan Bary.


Namun ketakutan itu terbendung oleh sikap peduli yang Bary perlihatkan saat ini. Bary mengambil salep dari kotak P3K. Lalu mulai mengoleskan pada lukanya.


"Sejujurnya, sulit bagiku memaafkan perbuatanmu Glori. Aku sakit hati dan tidak terima dikhianati seperti ini," ucap Bary sambil mengobati luka-luka Gloria.


"Tapi, bisakah kamu menghargai usahaku?" Bary menatap lekat Gloria yang tengah menatapnya takut.


"Saat kamu jauh dariku, aku mulai menyadari perasaanku. Bahwa aku membutuhkanmu. Aku butuh kamu di sisiku, sebagai istriku," sambung Bary setulus hati mengungkap perasaannya.


Jika ditanya, sebetulnya Bary pun tak ingin menyiksa Gloria. Namun pengkhianatan Gloria sangat menyakiti perasaannya. Bahkan mencoreng harga dirinya sebagai suami. Gloria berani bermain api disaat ia ingin memperbaiki segalanya.


"Maafkan aku." Entah bagaimana Gloria harus menanggapi ungkapan hati Bary. Sebab sesungguhnya ia teramat ingin berpisah dari Bary.


"Glori, aku minta padamu berhentilah dari pekerjaanmu. Mulai sekarang, semua kebutuhanmu itu menjadi tanggung jawabku."


"Ta-tapi ..."


"Tidak ada tapi-tapian. Aku bilang berhenti, ya berhenti. Jika tidak, aku bisa menyiksamu lebih dari ini. Dan aku tidak bisa menjamin, kalau aku tidak akan melampiaskan amarahku ini pada laki-laki itu. Paham?" sentak Bary. Membuat Gloria terpaku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2