Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 72. Sepenggal Cerita


__ADS_3

Bab 72. Sepenggal Cerita


Drama yang terjadi beberapa saat lalu mengundang banyak omongan miring dari tamu undangan yang menyaksikan. Yang merusak citra keluarga Anggara.


Bagaimana tidak, Richardo, seorang calon penerus bisnis keluarga Anggara. Sekaligus cucu kesayangan serta kebanggan kakek tersayang, mengencani seorang wanita yang berstatus telah menikah. Dengan kata lain, istri orang.


Hal tersebut jelas telah mencoreng nama baik keluarga. Dan secara tak langsung telah memberi sebuah julukan mencemooh terhadap Ardo. Yaitu Perampas Bini Orang. Atau istilah yang sering dipakai, yaitu PEBINOR. Sangat memalukan bukan?


"Kayaknya aku pernah bertemu laki-laki itu. Di mana ya kira-kira?" gumam Teddy memasang tampang mikir keras. Mencoba mengingat-ingat di mana kiranya ia pernah bertemu Barry. Sedari tadi ia dan Shanti layaknya penonton setia. Yang diam terpaku di tempat sambil memperhatikan drama yang terjadi beberapa saat lalu.


"Laki-laki yang mana Pah?" tanya Shanti yang mendengar gumaman sang suami.


"Laki-laki yang ngamuk-ngamuk tadi. Kayaknya aku pernah ketemu. Tapi lupa di mana."


"Masa sih? Papah kenal laki-laki itu?"


Teddy memperdalam ingatan. Menggali kembali memorinya. Padahal baru beberapa jam lalu mereka bertemu.


"Gini nih kalau sudah tua. Bawaannya suka pikun," celoteh Shanti tersenyum-senyum melihat tingkah suaminya yang berlagak sok mikir. Dengan ekspresi wajah serius yang malah terlihat lucu di matanya.


"Aha!" Teddy memekik tiba-tiba. Membuat Shanti tersentak kaget.


"Papah ih ngagetin aja," sungut Shanti berwajah cemberut.


"Aku ingat. Laki-laki itu suaminya Gloria."


"Iya, memang. Berarti dari tadi Papah tidak memperhatikan dengan baik? Laki-laki itu suami si perempuan yang dikencani Ardo. Perempuan cantik yang tadi memperlihatkan da danya. Papah gimana sih?"


"Iya, aku tahu. Aku baru menyadari kalau perempuan itu adalah putrinya Darma."


"Darma? Siapa itu?"


"Sahabatnya Pak Dicko. Kamu tidak tahu." Sambil mengibaskan tangannya.


"Pak Bram memintaku mencaritahu tentang perempuan itu. Saat aku ke rumahnya, aku hanya bertemu suaminya. Laki-laki yang ngamuk-ngamuk tadi itu," sambung Teddy.


"Terus, Papah sudah memberitahu Pak Bram soal putrinya Darma itu?"


Teddy menggeleng.


"Ya sudah kasih tahu saja sekarang. Nanti malah lupa lagi. Papah itu kan sudah pikun."

__ADS_1


"Tapi Pak Bram bukannya sudah pergi menemani Ardo?"


"Kalau gitu kasih tahu Pak Dicko. Sama saja kan?"


"Ya sudah. Kamu tunggu di sini, aku ke sana dulu." Kemudian beranjak. Sembari celingukan, menyapukan pandangan, mencari-cari sosok Dicko diantara orang-orang yang mulai meninggalkan ballroom tersebut.


Namun sayangnya, Teddy tidak menemukan Dicko maupun Aruna diantara orang-orang.


Malam yang sama, di tempat yang berbeda.


Ardo telah selesai dimintai keterangan perihal laporan Bary mengenai penculikan. Lebih tepatnya, membawa kabur istri orang.


Berkat keterangan dari Gloria selaku korban penculikan, Ardo ditetapkan tidak bersalah. Justru Bary lah yang kini tengah dihujani berbagai pertanyaan terkait laporan yang diajukan Gloria mengenai tindak kekerasan dalam rumah tangga yang sering Bary lakukan terhadap Gloria.


Bary yang semula berniat memenjarakan Ardo, justru dirinya sendiri lah yang kini terancam hukuman penjara.


Berdasarkan Pasal 44 ayat 1, yang berbunyi, Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp.15.000.000 (lima belas juta rupiah). Sumber, google.


Bary terkena batunya sendiri. Ibarat kata, senjata makan tuan. Maksud hati ingin memenjarakan Ardo, justru dirinya sendiri yang malah terkena getahnya.


Sementara Gloria pun masih dimintai keterangan perihal laporan tindak KDRT yang dilaporkannya. Sebelum berlanjut kepada visum dokter terkait aduannya.


"Do, sorry Do. Kita datangnya telat nemenin Lu. Habisnya nih ..." ucap Donal lalu menjitak kepala Brian.


"Aw, sakit Donal bebek," sungut Brian mengelus kepalanya dengan wajah meringis kesakitan.


"Si kutu kupret ini lagi nganterin pacarnya pulang. Jadinya kita ke sini telat. Sorry ya, Do?" sambung Donal disela napasnya yang terengah-engah.


"Tidak apa-apa. Makasih kalian masih menyempatkan waktu," ucap Ardo.


"Gara-gara kamu tuh kita telat ke sini nemenin Ardo." Donal masih saja kesal. Hendak menjitak kembali kepala Brian.


"Eits. Jangan sembarangan menjitak. Mendingan kamu temani tuh," Brian melirik Bary di meja seberang dengan ekor matanya. "Bukannya dia itu teman kamu juga?" sambungnya.


"Aaah ... biarin aja dia sendiri. Lagian pake ngelaporin Ardo segala. Eh, tapi Do. Kok Lu bisa pacaran sama bininya sih? Gimana ceritanya?" Donal merasa penasaran tentang persolan asmara temannya yang satu itu. Yang tak pernah dibuka Ardo kepada teman-temannya. Ardo terkesan merahasiakannya. Wajar bila ia Donal penasaran.


"Panjang ceritanya. Nanti saja aku cerita."


"Bukannya cewek itu primadona di club nya Bary? Kayaknya aku pernah lihat cewek itu." Brian mengamati Gloria yang duduk di meja seberang, bersebelahan dengan Bary. Mereka berdua masih dimintai keterangan.


Bram yang masih berdiri diantara mereka, menyimak obrolan itu sambil sesekali menggulirkan pandangannya kepada Gloria.

__ADS_1


"Oh iya, bener. Cewek itu yang sering ditawar-tawari Bary kepada pelanggan khusus clubnya. Aku juga pernah lihat cewek itu. Ternyata cewek itu bininya. Ck, ck, ck ... Bary kok tega ya menjadikan bininya sendiri cewek bayaran. Parah tuh si Bary," ucap Donal memandangi Gloria.


"Bukannya Bary pernah nawarin cewek itu ke Lu Do?" sambung Donal bertanya. Menggulir pandangan kepada Ardo kemudian.


Ardo tak menjawab. Dipandanginya Gloria yang tengah duduk sambil menundukkan wajahnya di depan petugas. Ditemani Reva yang duduk di sebelah Gloria sambil mengusap-usap punggung Gloria dibalik jas yang menutupinya.


Ada perasaan lega pada akhirnya Gloria mau melaporkan perbuatan Bary. Akan tetapi ia pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat keadaan memilukan Gloria.


Namun keadaan itu pun membuatnya tak ingin berhenti memperjuangkan. Bukan karena iba, tetapi karena ia telah jatuh sedalam-dalamnya pada pesona Gloria.


"Jadi kalian kenal perempuan itu?" tanya Bram memandangi Donal dan Brian bergantian.


"Kurang kenal sih, Om. Cuma, saya pernah mendengar kalau Bary menikahi seorang perempuan yatim piatu. Jujur, walau Bary itu teman saya, tapi saya belum pernah melihat bini nya. Katanya sih, Bary menikahinya bukan karena cinta," terang Donal mengingat-ingat kembali alasan yang pernah Bary ungkap kepadanya dahulu. Alasan mengapa Bary menikah diam-diam. Dan hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya. Termasuk ia sendiri.


"Oh ya? Lalu?" Bram merasa tertarik mendengar cerita Donal mengenai Gloria. Yang dinikahi Bary diam-diam bukan berdasarkan cinta. Namun akhirnya malah dipacari oleh ponakannya sendiri.


"Orangtua perempuan itu meninggal dalam kecelakaan. Lalu meninggalkan hutang yang banyak. Semua aset sudah disita oleh bank, tapi masih belum bisa menutupi hutangnya. Nah, untuk melunasi sisa hutang, perempuan itu terpaksa menerima tawaran Bary buat jadi bini nya. Dengan kesepakatan kalau Bary akan melunasi sisa hutangnya. Aku tidak menyangka, ternyata perempuan itu ya si cewek itu." Donal mengarahkan telunjuknya kepada Gloria.


"Dengar-dengar sih, dulunya dia anak orang berada. Bokap nyokapnya pengusaha. Tapi karena kecelakaan yang merenggut nyawa mereka, akhirnya usaha mereka bangkrut," tambah Donal lagi. Yang semakin mengundang rasa penasaran Bram. Sebab cerita tentang orangtua Gloria terdengar mirip dengan cerita tentang Darma Dharmawan. Sahabat serta mantan relasi bisnis mereka.


Mungkinkah bila Gloria itu adalah ...


"Hanya itu yang kalian tahu? Apa kalian juga tahu siapa orangtuanya?" tanya Bram.


Donal dan Brian menggeleng.


"Tidak, Om. Tapi setahu saya dia itu anak tunggal. Gitu sih kata Bary," ucap Donal.


"Namanya kalian pasti tahu kan?"


"Kenapa tanya kita, Om. Tanya saja tuh sama Ardo. Ardo yang paling tahu." Donal meringis, menggaruk kepalanya sembari menunjuk Ardo dengan dagunya.


Bram terkekeh. Merasa lucu telah menggali informasi mengenai Gloria. Yang sedari awal membuatnya penasaran.


"Ardo, apa kita pulang sekarang? Atau masih ada yang ingin kamu ..."


"Ardo." Suara Dicko memanggil menyela kalimat Bram seketika.


Serentak mereka menoleh, memandangi Dicko dan Aruna yang melangkah terburu-buru menghampiri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2