Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 62. Gaun Terindah


__ADS_3

Bab 62. Gaun Terindah


"Sedang cari gaun untuk siapa?" tanya gadis itu lalu mensejajarkan diri dengannya. Ikut mengamati sebuah gaun yang diperlihatkan pelayan butik dengan senyum terkembang.


"Yang itu juga cantik," ucap Ellena menunjuk sebuah gaun di tangan kiri pelayan butik.


"Dua-duanya cantik. Tinggal selera kamu saja yang menentukan," tambah Ellena kembali tersenyum menatap Ardo.


Pelayan butik menggantung kembali gaun-gaun itu pada tempatnya setelah Ardo memberi isyarat meminta waktu sebentar.


"Boleh aku tahu untuk siapa gaun cantik itu?" Ellena tak bisa membendung rasa penasarannya. Sebab yang ia tahu, seperti kata Leona bahwa Ardo belum mempunyai seseorang yang spesial di hatinya. Jadi, melihat Ardo tengah memilih-milih gaun, mengundang rasa ingin tahunya. Benarkah Ardo masih sendiri, ataukah justru telah memiliki sang pujaan hati?


Ardo mengulum senyum, menoleh menatap sepasang mata indah Ellena. Yang berbinar indah menatapnya.


"Someone special (seseorang yang spesial)," sahut Ardo tanpa ragu lagi.


"Who is she (siapa dia)?" Sorot mata yang semula berbinar, memancarkan sinar-sinar kasih itu kini meredup. Dugaan Ellena ternyata benar. Ardo sudah memiliki seseorang yang istimewa. Yang telah mengisi hati Ardo. Maka terlambat sudah baginya untuk memasuki kehidupan Ardo.


"Seseorang yang tidak pernah berharap lebih. Seseorang yang tidak pernah menuntut apa pun. Seseorang yang mampu membuat akal sehatku tidak lagi berada pada tempatnya. Dia ..." Ah, mengapa pula ia tiba-tiba merasa rindu. Padahal belum lama ia meninggalkannya. Tetapi rindu mendesak serasa menyesakkan dada. Apakah ini yang namanya Bucin? Sebab tak sedetik pun ia tanpa memikirkannya. Ardo telah dibuat candu oleh Gloria.


Ellena mengernyit, merasa bingung dengan ucapan Ardo.


"Istimewa sekali ya orang itu? Dia sangat beruntung bisa memilikimu."


Ardo terkekeh. "Oh ya? Menurut kamu begitu?"


Ellena mengangguk. Masih menatap Ardo dengan senyuman. Namun sejujurnya deraan kekecewaan terasa mulai menerpa.


"Dia pasti sangat cantik. Sampai kamu memujanya seperti itu," tebak Ellena. Mencoba memancing Ardo agar Ardo mengakui siapa gerangan perempuan yang telah berhasil mencuri hatinya.


Padahal kata Leona, Ardo ini termasuk tipe pria yang suka pilih-pilih. Tidak terkecuali dalam urusan asmara. Tidak pada sembarangan perempuan ia melabuhkan hati. Dan jika ada perempuan yang terpilih, yang berarti perempuan itu adalah perempuan yang hebat. Yang mampu menaklukkan hati seorang Ardo si petualang hati.


"Ya, kamu benar. Dia sangat cantik. Karena ibuku memang yang paling cantik di dunia," kelakar Ardo tertawa kecil. Yang membuat Ellena pun ikut tertawa karena merasa tertipu oleh ucapan Ardo.


Padahal Ellena mulai merasa cemburu saat mengetahui telah ada orang lain yang mengisi hati Ardo. Rupa-rupanya ia keliru.

__ADS_1


"Ya ampun, aku pikir yang kamu maksud itu adalah ..." Ellena merasa enggan menyebut Ardo telah memiliki kekasih.


'Yang teristimewa harus menjadi yang paling istimewa. Aku hanya ingin memberinya kejutan. Tunggu sampai malam nanti, sampai aku memberimu kejutan, maka kamu tidak akan pernah meragukanku lagi." Ardo membatin, tersenyum tipis dengan hati berdebar kala membayangkan Gloria.


Ardo sudah tak sabar ingin melihat wajah bahagia Gloria disaat ia membuka terang-terangan perihal hubungannya dengan Gloria. Tak peduli meski Gloria masih terikat tali pernikahan dengan Bary. Toh, tidak lama lagi Gloria dan Bary akan berpisah. Hanya tinggal menunggu waktunya saja. Ia yakin, secepatnya Irfan pasti akan menemukan seorang pengacara handal untuknya. Yang bisa membantunya untuk urusan perpisahan Gloria dan Bary.


"Tapi bukankah ibumu seorang desainer? Beliau pasti bisa membuat gaun yang jauh lebih indah," ucap Ellena.


Ardo terdiam sesaat, dengan pikiran mulai mengelana. Yang dikatakan Ellena seperti angin segar baginya. Mungkin ide yang terbersit tiba-tiba bisa membantunya. Meminta sang ibu untuk membuat satu gaun di waktu mepet seperti ini, tidak lah mungkin. Tetapi ibunya mungkin bisa membantu memilihkan gaun terindah untuknya.


"Kamu benar. Ibuku itu yang paling hebat. Terimakasih sudah memberiku ide."


"Maksud kamu? Memberimu ide? Bukankah kamu ingin membeli gaun untuk ibu mu?"


"Kamu sendiri? Kamu ingin membeli gaun juga?" Ardo malah balik bertanya alih-alih menjawab pertanyaan Ellena.


Kedatangan Ellena ke butik ini memang untuk membeli gaun yang akan ia kenakan di pesta ulang tahunnya Ardo malam nanti. Tetapi Ardo tidak perlu mengetahuinya.


Ellena mengulum senyum. Ia masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Ardo. Namun pesan yang masuk ke ponsel membuat keinginannya terbendung. Sebab urusan pekerjaan jauh lebih penting. Kalau hanya ingin mengobrol dengan Ardo, mungkin nanti. Saat ia dan Ardo benar-benar punya waktu luang.


"Oh ya, maaf ya Ardo. Sebenarnya aku masih ingin mengobrol banyak denganmu, aku juga ingin sekali membantu memilih gaun untuk ibumu. Tapi waktu tidak mengijinkan. Tadi aku sempat mampir di kantormu, dan sayangnya kamu tidak ada. Rupanya kamu juga sibuk untuk perayaan pesta ulang tahunmu malam nanti." Ellena sengaja menyinggung perihal kedatangannya ke kantor. Agar Ardo setidaknya sedikit merasa bersalah.


"Maaf, Ellena. Lain kali aku akan meluangkan waktu," sambung Ardo seolah ia tak pernah memiliki waktu luang. Sok super sibuk.


Ellena mengulum senyum memaklumi kesibukan Ardo. Setelah berpamitan Ellena lantas segera meninggalkan salon itu setelah gaun yang ia inginkan telah berpindah ke paper bag untuk ia bawa pulang.


Berdasarkan ide yang terbersit berkat obrolannya dengan Ellena. Ardo pun menghubungi ibundanya tercinta via video call. Ia hanya ingin meminta bantuan ibunya untuk memilihkan gaun terbaik untuknya. Untuk ia berikan kepada sang dambaan hati yang tengah menunggu dengan penuh pengharapan.


.....


Bary pulang ke rumah dengan kobaran amarah yang membakar jiwanya. Membuatnya lupa akan segalanya. Bahkan janjinya kepada Gloria untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Kegagalannya dalam upaya perbaikan diri itu pun disebabkan oleh Gloria sendiri. Istri yang sengaja bermain-main api dengannya.


Bary hendak memasuki kamarnya dari depan terdengar suara ketukan pintu. Disertai suara seorang pria memanggil-manggil.


"Permisi, ada orang di rumah?"

__ADS_1


Bary mengernyit kemudian membawa langkah menuju ruang tamu. Ia lantas membuka pintu. Menampakkan seorang pria paruh baya tengah berdiri di depan pintu itu dengan sebuah kertas kecil di tangannya.


"Anda siapa?" tanya Bary bingung.


"Maaf, apakah Gloria tinggal di rumah ini?" tanya Teddy santun sebagaimana seorang tamu.


"Iya."


"Gloria Putri Dharmawan?"


"Iya. Anda ini siapa?" Bary mencurigai gelagat Teddy. Pasalnya, selama ia menikahi Gloria, belum pernah ada yang datang mencari Gloria. Jadi kedatangan Teddy sedikit mengundang kecurigaannya.


"Maaf, kalau boleh tahu, anda ini siapa?" tanya Teddy tak mengindahkan pertanyaan Bary akan siapa dirinya. Mana mungkin juga Teddy memberitahu Bary bila kedatangannya hanya ingin memastikan keadaan Gloria atas perintah keluarga Anggara. Susah payah Teddy menemukan alamat dan informasi tentang Gloria.


"Aku suaminya. Memangnya kenapa?" sahut Bary ketus.


Teddy tersenyum kikuk. Tak ingin maksud kedatangannya diketahui oleh Bary.


"Kebetulan saya ini sahabat lama almarhum Pak Dharmawan. Saya baru kembali dari luar kota. Dan saya baru mengetahui kabar kematian beliau. Dan kedatangan saya kemari hanya ingin menyampaikan belasungkawa kepada putri beliau. Apakah saya bisa bertemu dengan Gloria?" kilah Teddy.


.....


Sementara itu, di kamar hotel, Gloria terkesima memandangi sebuah gaun cantik dalam kotak hitam yang diantarkan oleh seorang pelayan hotel.


Ia bahkan terkejut oleh kedatangan seorang Make Up Artist profesional ke kamarnya. Yang katanya telah diminta langsung oleh Ardo untuk mendandaninya secantik mungkin.


"Kenalkan, aku Nindi," ucap Nindi mengulurkan tangan kanan sembari tersenyum ramah.


"Gloria," balas Gloria begitu menyambut uluran tangan Nindi.


"Aku yang akan mendandani kamu untuk sebuah pesta spesial malam ini. Ardo yang memintaku langsung. Kebetulan, pacarku adalah sahabatnya Ardo. So, gimana kalau kita mulai saja sekarang?" ujar Nindi panjang lebar kemudian menggeret koper peralatan tempurnya. Menaruhnya di atas meja kemudian membukanya.


"Ardo yang memintamu?" tanya Gloria sungkan. Sebab ia merasa minder dengan lebam di wajahnya.


"Iya. Dia memintaku mengubah kamu menjadi Cinderella yang paling cantik malam ini."

__ADS_1


Gloria berdebar. Jadi inilah sulap yang dimaksud Ardo. Akan seperti apa kira-kira penampilannya dengan gaun terindah yang dikirimkan Ardo untuknya?


Bersambung


__ADS_2