Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 37. Demi Misi


__ADS_3

Bab 37. Demi Misi


Entah ini hanya perasaannya saja atau memang Ardo sudah tidak peduli lagi kepadanya. Hadirnya Leni membuat suasana terasa berbeda. Sekali lagi Gloria harus menahan kesal lantaran kelakuan gadis itu yang suka seenaknya.


Ia adalah tamu di rumah Leni. Meski ia adalah bawahan Ardo, tidak seharusnya Leni memperlakukannya seperti ini. Sebagai pendatang di kota ini, ia tentu tidak tahu menahu tentang arah jalan serta kondisi jalanan kota ini. Tetapi Leni malah memintanya menjadi supir. Lagipula, untuk apa Leni ikut-ikutan melakukan peninjauan bersama mereka.


Memasuki salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, Gloria berjalan di belakang Ardo dan Leni yang bergelayut manja di lengannya Ardo.


Lagi-lagi, gadis itu tak ubahnya seorang anak kecil yang bermanja-manja kepada ayahnya. Lihat saja sikapnya yang sok manja itu. Dan Ardo, mengapa pula pria itu malah diam saja diperlakukan Leni seperti itu. Apakah Ardo menyukai Leni?


Sampai di outlet Royale yang berada di lantai dua, Gloria memilih mengeluarkan tablet pintar untuk mencatat poin-poin penting yang didapat dari pembicaraan Ardo dengan manajer outlet. Sedangkan gadis itu, Leni, tengah sibuk memotret Ardo menggunakan ponselnya.


Hah, kelakuan gadis itu sungguh membuat Gloria muak. Tingkahnya layaknya seorang perempuan genit yang suka menggoda lelaki.


Isssh ... Menyebalkan!


"Kak, Kak Ardo lihat ke sini. Senyum ya?" pinta Leni genit sambil mengarahkan kamera ponselnya kepada Ardo yang tengah serius mengobrol dengan Yuni, manajer outlet Royale di pusat perbelanjaan itu.


Sementara Gloria yang tengah berdiri di samping Ardo terkejut melihat tingkah Leni. Yang baginya sudah terlewat batas.


Lalu Ardo? Bagaimana caranya menyikapi tingkah kekanakan Leni?


Tak ia sangka, Ardo malah menuruti permintaan Leni. Ardo menoleh ke arah Leni, lalu menyunggingkan senyum manisnya.


Cekrek


Leni berhasil mengabadikan gambar Ardo yang sedang tersenyum.


"Makasih Kak," ucap Leni girang.


Huh, memang sungguh menyebalkan. Gloria kesal. Namun tak ingin menampakkannya di wajahnya. Sebab hal itu bisa membuat Ardo salah paham. Ardo mungkin akan mengira bahwa ia sedang cemburu.


"Sekarang ini banyak sekali bermunculan produk-produk tiruan yang dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Tidak terkecuali produk kita. Bukan hanya dari desainnya saja, bahkan dari pemilihan bahannya hampir menyerupai," terang Yuni begitu Ardo kembali menoleh kepadanya.


"Baiklah, akan aku pikirkan bagaimana caranya menaikkan kembali angka penjualan kita. Dalam waktu dekat ini kita akan meluncurkan produk terbaru, jadi mungkin untuk produk yang tersisa ini mungkin akan kita berikan diskon besar-besaran."


"Seperti Special Prize gitu ya Pak? Biar terdengar keren. Padahal produk lama."


"Ya, mungkin seperti itu. Dan jangan lupa, manfaatkan sosial media yang ada untuk menjual produk kita."


"Kak, foto bareng ya?" Leni menggamit manja lengan Ardo sembari menyandarkan kepalanya di pundak Ardo. Serta tangan kanannya bersiap mengambil gambar menggunakan kamera ponselnya.


"Senyum ya Kak?" pinta Leni manja.


Ardo menghembuskan napasnya kesal. Sangat tergambar di raut wajahnya jika ia kesal dengan kelakuan Leni. Tetapi demi misi meluluhkan Gloria, terpaksa ia turuti saja permintaan gadis itu.


Sekali lagi Ardo menyunggingkan senyumnya ke kamera ponsel Leni. Bila diperhatikan sekilas, mereka terlihat seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


Iiiih ... Menyebalkan sekali.


Gloria kesal juga melihat kelakuan Leni yang sangat kekanakan sekali. Bahkan gadis itu terlalu agresif. Tingkahnya itu tak ubahnya perempuan genit penggoda lelaki.


Loh, loh, loh, apa ini? Apakah ia cemburu? Bukankah kesal itu juga merupakan sebagian dari perasaan cemburu?


Ah, tidak mungkin!


Berkali-kali Gloria menyangkal perasaannya sendiri. Tidak mungkin bila ia cemburu terhadap Leni. Gadis kecil yang sok kegenitan.


_____


Lelah melakukan peninjauan pasar di tiga mall yang ada di kota itu, Ardo meminta Leni menunjukkan dimana tempat yang paling bagus untuk melepas lelah. Dan Leni membawa mereka ke pantai. Di sana mereka memilih sebuah kafe pinggir pantai.


"Kak Ardo, kita ke sana yuk," ajak Leni menunjuk tepi pantai dimana banyak muda mudi yang tengah bergandengan tangan menyusuri sepanjang garis pantai, ada pula yang sedang bermain ombak, dan ada pula yang sedang duduk-duduk diatas hamparan pasir putih sambil berswafoto.


"Kamu mau ikut?" tanya Ardo memandangi Gloria.


Gloria menggeleng. "Tidak. Makasih," ucapnya sambil mengaduk orange jus yang baru saja disajikan pelayan.


"Ya sudah."


"Untuk apa mengajak Glori Kak Ardo. Nanti malah momen kita rusak gara-gara dia." Leni bersungut manja, mengerucutkan bibirnya sok merajuk. Seolah dia benar-benar kekasihnya Ardo.


Astaga.


Dasar genit!


"Ayo, Kak. Kita foto-foto lagi ya?" Leni beranjak dari duduknya. Ditariknya lengan Ardo, memaksanya mengikutinya ke tepi pantai.


Mungkin ini hanya perasaan Gloria saja. Tetapi dari yang terlihat, Ardo seperti enggan menuruti permintaan Leni. Sangat kentara dari gestur yang Ardo tampakkan.


Ardo sempat melirik Gloria sebelum beranjak ke tepi pantai. Di tepi pantai itu, lagi-lagi Leni mengajaknya berfoto-foto.


Gloria memperhatikan tingkah mereka berdua yang benar-benar terlihat seperti sepasang sejoli. Ada rasa sakit dalam dada kala melihat Leni bermanja-manja pada Ardo. Dan Ardo pun membalas tingkah manja Leni. Terkadang ia menyesali mengapa menyetujui syarat konyol Ardo kalau toh malah Ardo sendiri yang menjauhinya.


Tak ingin berlarut-larut dalam kekesalannya sendiri, Gloria memilih kembali ke mobil yang terparkir di bawah pohon yang rindang, tak jauh dari kafe. Hari menjelang sore, mungkin sebentar lagi juga mereka pulang.


Memilih bersandar di bagian depan mobil sambil memandangi hamparan laut mungkin lebih baik daripada harus melihat tingkah kekanakan dua anak manusia yang layaknya sepasang kekasih itu.


Di depan sana tersaji pemandangan yang lebih indah dibanding pemandangan yang menyebalkan itu. Ia tengah mengamati sunset saat tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.


"Pemandangannya indah?"


Sontak ia menoleh. Namun salah tingkah begitu tatapannya bertemu tatapan Ardo yang entah sejak kapan pria itu ikut bersandar di sampingnya.


Mungkin lantaran lamunannya yang mulai melambung jauh, hingga ia tak menyadari kehadiran Ardo.

__ADS_1


"Memang indah. Tapi tidak seindah yang ada di depan mataku," sambung Ardo sembari menatap lekat wajah Gloria. Membuat Gloria semakin salah tingkah.


"Sejak tadi kamu diam saja. Boleh aku tahu kenapa?" tanya Ardo.


Ia menghela napas. "Tidak kenapa napa. Hanya merasa capek saja," sahutnya datar. Lalu memalingkan muka, menghindari tatapan Ardo yang mulai menghanyutkannya.


"Oh ya? Apa kita pulang saja sekarang?"


"Tanya Leni dulu. Mungkin dia masih belum mau pulang."


"Loh, kenapa harus tanya Leni?"


"Mungkin saja dia masih mau bermesra mesraan. Sayang, suasananya terlalu nyaman kalau dilewatkan."


"Maksudnya? Bermesraan gimana?" Ardo mendekatkan wajahnya perlahan. Semakin dekat hingga hembusan napas hangatnya terasa menerpa kulit. Bahkan helaan napasnya terdengar jelas di telinga Gloria. Membuat degup jantung Gloria tak karu-karuan.


"Emm ..." Gloria gugup. Bukankah Ardo mulai menjauhinya? Mengapa pria itu malah kembali mendekat?


"Leni ... Leni itu ..." Oh my god. Gloria harus menjawab apa? Sungguh ia gugup. Bahkan ia tak bisa memikirkan alasan yang tepat.


"Leni kenapa?" tanya Ardo lirih.


Begitu lirih Ardo bertanya dekat dengan telinganya. Hingga ia merinding jadinya. Gloria semakin gugup saja. Bahkan ia mulai berkeringat dingin. Didekati Ardo itu serasa seperti didekati oleh makhluk halus.


Iya.


Makhluk halus berwajah tampan. Yang membuat Gloria berdebar-debar, hingga tubuh mulai gemetaran dan berkeringat dingin. Bahkan bulu romanya pun mulai meremang.


"Leni itu ... Bu-bukankah Anda me-menyukai ..." Gloria bahkan sampai tergagap.


"Siapa bilang?"


"Sangat terlihat dari gestur Anda."


"Oh ya? Lalu kenapa?"


"Ti-tidak kenapa napa kok. Saya ... Saya ... Hanya ..."


"Kamu cemburu?" tebak Ardo.


Sontak Gloria menoleh. Tak disangka Ardo belum menjauhkan wajahnya. Sehingga, begitu Gloria menoleh, batang hidungnya hampir saja bersentuhan dengan batang hidung lancip Ardo.


Seketika, Gloria menahan napasnya kuat. Ia pun mulai dibuat tegang.


"Kamu cemburu?" Ardo mengulang pertanyaan yang sama. Lalu Gloria harus menjawab apa?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2