
Bab 77. Menemui Dokter
"Loly, tolong jawab pertanyaan Paman dengan jujur."
Gloria menelan ludah dalam-dalam. Ia semakin gugup juga ketakutan.
"Siapa yang terakhir kali berhubungan denganmu. Suamimu atau Ardo?"
Mere mas jari-jemarinya resah, Gloria gemetaran. Keringat dingin pun mulai mengucur dari dahinya.
Bila ia tak jujur, apa kelak yang akan terjadi? Dan apabila ia jujur, bagaimana nanti tanggapan pamannya?
"Loly, asal kamu tahu. Paman sungguh menyesal baru mengetahui orangtuamu sudah meninggal. Dan sekarang kamu adalah tanggung jawab Paman. Paman hanya ingin kamu hidup bahagia," ucap Randa dengan wajah sedih. Menyesali mengapa dahulu ia terlalu menuruti keinginan istrinya, yang tak ingin ia berada lagi di sekitar keluarganya.
"'Tolong katakan yang jujur pada Paman, siapa ayah bayi itu?" tanya Randa sekali lagi memperjelas maksud pertanyaannya.
Gloria semakin gugup. Takut bila ia salah menduga.
"Kamu hamil Loly. Paman perlu tahu siapa ayah bayi itu. Agar Paman bisa meminta pertanggungjawabannya. Demi masa depan kamu dan bayimu."
Mendengar ucapan Randa, sepasang mata indah Gloria mulai berkaca-kaca. Ada perasaan haru menyeruak, yang tak mampu ia bendung ketika tahu bila dalam rahimnya ada janin yang tumbuh, buah cintanya dengan Ardo. Akan tetapi, akankah Ardo mengakui bila ia utarakan hal ini kepada Ardo?
"Loly," desak Randa. Ingin Gloria berkata jujur, tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi.
"A-Ardo Paman." Dengan perasaan takut Gloria akhirnya mengakui.
"Kamu yakin?"
"Iya, aku yakin, Paman."
"Kamu tidak berbohong kan, Loly?"
Gloria menggeleng. Disertai bulir-bulir air mata yang berjatuhan. Sebagai luapan perasaan haru juga sedih disaat yang bersamaan.
"Apakah Ardo sudah tahu kalau kamu hamil?"
"Belum, Paman. Ardo tidak tahu samasekali kalau aku sedang hamil."
Randa menghela napasnya panjang. "Kalau begitu biar Paman yang memberitahu Ardo tentang keadaan kamu sekarang. Ardo harus tahu dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya."
Cepat Gloria menggeleng, lalu menahan tangan Randa yang hendak menghubungi Ardo begitu ponsel berada di tangan.
"Jangan, Paman. Tolong jangan beritahu Ardo," pinta Gloria memelas dengan derai air mata yang kian membasahi wajahnya.
Aruna, ibunya Ardo, telah memohon kepadanya agar ia sudi meninggalkan Ardo demi masa depan Ardo sendiri. Tidak mungkin ia memberitahu Ardo tentang keadaanya bila restu tak pernah terucap untuknya. Mungkin saja keluarga Ardo tidak akan mempercayai bila bayi yang ia kandung adalah anaknya Ardo.
__ADS_1
Sebab bagi mereka, ia hanyalah seorang wanita gampangan. Yang terlalu mudah termakan bujuk rayu lelaki. Lalu pada akhirnya tanpa berpikir panjang, terdorong oleh hawa nafsu, menyerahkan tubuh dengan mudahnya.
"Kenapa, Loly? Bukankah Ardo ayah dari bayi yang kamu kandung? Jadi Ardo dan keluarganya harus tahu. Kalau kamu takut, biar Paman yang memberitahu keluarganya. Paman akan menemui keluarganya untuk meminta tanggung jawab Ardo."
"Tidak. Tolong jangan beritahu keluarganya. Aku mohon Paman."
"Tapi kenapa Loly? Apa kamu mau kelak bayi itu lahir tanpa seorang ayah? Lagipula, Paman yakin. Kalau suamimu tahu tentang ini, dia tidak akan pernah memaafkanmu Loly. Suami mana yang bisa menerima istrinya dihamili oleh laki-laki lain. Apa kamu mau suamimu itu memperlakukanmu lebih buruk lagi?"
Gloria menggeleng dengan isak tangis yang tertahan.
"Lalu kenapa kamu tidak ingin mereka tahu tentang kehamilanmu? Ayahnya Ardo itu adalah sahabat Paman. Paman bisa merundingkan ini dengan ayahnya Ardo."
Kembali Gloria menggeleng. Isak tangisnya semakin menjadi, tak tertahankan lagi. Batinnya pilu, kian nelangsa bila mengingat tali asmaranya dengan Ardo tak mungkin bertaut. Bila restu terlalu sulit diraih.
Kenyataan hubungannya dengan Ardo saja sudah cukup menjadi pukulan telak untuk keluarga Ardo. Yang berdampak pada nama baik serta kehormatan keluarga Anggara.
Lalu bagaimana mungkin ia memberitahu keluarga itu bila dalam rahimnya kini telah tumbuh janin, yang akan menjadi bagian dari keluarga tersebut?
Bukan hanya akan dipermalukan saja, tetapi keluarga itu akan menjadi cemoohan. Keluarga Anggara adalah keluarga terhormat, yang terjaga nama baiknya sejak dahulu kala. Gloria tak ingin merusak nama baik keluarga itu.
Hal memalukan ini sudah tentu akan menjatuhkan kehormatan keluarga Anggara dalam sekejap mata. Kabar buruk akan berhembus, bila sang cucu kebanggan keluarga itu telah menghamili istri orang.
Sungguh perbuatan yang memalukan bukan?
Lalu ke manakah ia harus menyembunyikan wajahnya bila seisi dunia mencemoohnya?
Isak tangis pilu Gloria terdengar kian menyayat hati. Menggores kalbunya hingga perih serasa kian menusuk.
"Tidak, Paman. Tolong jangan beritahu mereka. Aku ini bukan wanita yang pantas untuk Ardo. Aku hanya tidak ingin merusak masa depan Ardo. Lagipula, keluarganya tidak akan mungkin merestui hubungan kami," ucap Gloria disela isak tangisnya.
"Tapi, Loly..."
"Tolong Paman. Aku mohon," sela Gloria cepat memasang wajah memelas. Menghiba agar Randa memahami akan situasi yang sedang ia hadapi saat ini. Tidak mungkin ia mengharapkan tanggung jawab Ardo, sedang ia masih berstatus istri orang.
Randa hanya bisa membuang napasnya kasar. Sungguh Randa tidak mengerti dengan jalan pikiran Gloria. Bila Gloria menginginkan, ia bahkan bisa meminta Dicko menikahkan Ardo dengannya. Bila perlu ia akan turun tangan untuk memisahkan ponakannya itu dari suami bejatnya.
"Biar aku sendiri yang akan mengatakannya langsung pada Ardo bila waktunya tiba," tambah Gloria mencoba meyakinkan Randa.
Randa pun hanya bisa menuruti keinginan Gloria. Tetapi bukan berarti ia membiarkan. Ia akan turun tangan bila saatnya telah tiba. Walau bagaimanapun, ia bertanggung jawab akan masa depan keponakannya.
....
Gloria tersenyum bahagia memandangi layar monitor yang menampilkan gambar janin yang masih berukuran kecil. Ia hampir tak percaya, Tuhan mengijinkannya menjadi seorang ibu. Hal yang sungguh membuatnya bahagia. Namun sayangnya, keadaan tak mengijinkan ia berbahagia.
Dengan berat hati ia harus menyembunyikan kabar gembira ini dari orang yang ia cintai.
__ADS_1
"Usia kandungan Bu Gloria empat minggu. Di usia kehamilan ini sangat rentan ya, Bu. Untuk itu ibu hamil disarankan banyak-banyak beristirahat. Hindari melakukan aktifitas berat, konsumsi makanan yang sehat, dan bila perlu hindari stress. Karena hal itu bisa berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin," terang Silvia, dokter kandungan. Setelah pemeriksaan USG usai dilakukan.
Bukan hanya bahagia, Gloria berdebar-debar mengetahui kenyataan ini. Diusapnya lembut perutnya yang masih tampak rata.
Sementara Randa, ikut menyimak dengan baik.
"Saya akan resepkan vitamin serta obat untuk mengurangi mual. Jangan lupa dikonsumsi rutin. Juga, ibu Bu Gloria harus rutin melakukan kontrol untuk mengetahui tumbuh kembang bayi Ibu. Kalau bisa ditemani suami, sebagai bentuk dukungan terhadap ibu hamil," tambah Silvia, tersenyum menatap Gloria.
Sayangnya, senyum yang semula terukir indah di wajah Gloria harus memudar begitu mendengar dokter Silvia menyebut kata 'suami'.
"Dok, apakah..." Randa hendak mengajukan pertanyaan saat ponsel yang tersimpan dalam sakunya tiba-tiba berdering. Membuat pertanyaan yang hendak ia ajukan menggantung di udara.
"Maaf, Dok. Saya permisi sebentar." Beranjak dari duduknya, Randa berdiri sedikit menjauh. Menjawab telepon yang masuk dari sahabatnya.
"Kamu di mana? Aku ada di ruanganmu sekarang." Terdengar suara Dicko dari seberang.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja Randa berpikiran ingin menemui Dicko diam-diam tanpa sepengetahuan Gloria. Siapa tahu, bila ia sendiri yang memberitahu, Dicko bisa memahami.
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Memutus sambungan telepon cepat, Randa kemudian menghampiri Gloria.
"Loly, Paman ke ruangan Paman sebentar ya? Ada teman Paman datang berkunjung."
"Iya, Paman."
"Setelah selesai, kamu langsung ke ruangan Paman saja. Paman tunggu kamu."
"Iya, Paman."
"Oh ya, Dok. Saya titip ponakan saya sebentar." Setelah berpamitan, bergegas Randa membawa langkah menuju ke ruangan pribadinya. Dimana sahabatnya sedang menunggu.
"Maaf, sudah lama menunggu?" tanya Randa begitu memasuki ruangan. Lalu mengambil duduk di balik meja kerjanya.
Dicko mengulum senyum. "Lumayan."
"Ada apa lagi kali ini? Sudah lama kamu tidak pernah datang langsung menemuiku."
"Kepalaku sakit. Sebenarnya hanya sakit kepala biasa. Tapi istriku terlalu khawatir. Sampai-sampai dia ngotot, ingin aku menemuimu langsung."
"Aruna tidak ikut?"
"Dia ke toilet sebentar."
"Oh ya, Dicko. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin aku bicarakan denganmu. Apakah aku boleh meminta waktumu sebentar?"
Bersambung
__ADS_1