
Bab 53. Menjauhimu
Berwajah sendu Gloria mengambil duduk di balik kubikelnya. Setelah hampir satu jam lamanya ia bagai pesakitan yang tengah dihakimi di ruangan Kepala Desainer.
Ucapan Aruna masih terngiang di telinganya. Yang memintanya untuk menjauhi Ardo. Dengan alasan untuk menyelamatkan sang putra dari perbuatan tidak terpuji, yaitu merusak rumah tangga orang lain. Aruna tidak ingin sang putra mengganggu ketentraman kehidupan rumah tangga Gloria, yang kata Gloria tidak ada masalah dalam rumah tangganya. Yang berarti pula bahwa rumah tangga Gloria sedang baik-baik saja.
Ia menghembuskan napasnya resah. Dipandanginya sejenak makhluk indah penghuni ruangan berdinding kaca itu, yang tampak fokus pandangannya pada layar laptop.
Sejujurnya, menjauhi Ardo terasa berat untuknya. Terlebih, disaat perasaannya telah bersemi indah dalam dada. Disaat bunga-bunga cinta telah bermekaran dan tumbuh bersemi di dalam sanubarinya.
Meninggalkan Ardo disaat hati telah saling terpaut kuat, sesungguhnya sulit dan menyakitkan. Tetapi, mau bagaimana lagi?
Ia tak berdaya upaya. Tidak pula memiliki hak untuk mempertahankan hubungannya. Mengingat ia bukanlah wanita yang tepat bukan pula wanita yang pantas berada di sisi Ardo. Menjadi pendamping hidup Ardo, hanyalah mimpi baginya. Mimpi yang tidak akan pernah bisa terwujud sampai kapanpun.
Perahu cintanya harus karam sebelum berlabuh, bahkan sebelum sempat ia mendayung. Ia dipaksa harus merelakan cintanya berakhir menyedihkan.
Sepulang kantor, ia tak langsung menemui Ardo yang kini sedang menunggunya di samping minimarket yang tidak jauh dari kantor. Beberapa pesan Ardo telah masuk di ponselnya. Namun ia enggan membuka apalagi membalasnya.
Setelah beberapa pesan tak ia gubris, panggilan masuk ikut menyusul. Ia telah berdiri di depan pintu masuk, menunduk memandangi layar ponsel yang menampilkan Ardo Calling.
Dipandanginya saja layar ponsel itu, tanpa ada niat untuk menjawab panggilan yang masuk.
"Glori, pulang bareng yuk." Reva menepuk pundak Glori, mengagetkannya dari lamunan yang hampir melambungkannya.
"Aku ada jemputan hari ini," balas Glori ragu. Sebab sejujurnya ia tak ingin Bary datang menjemputnya. Mau pulang bersama Ardo pun, rasanya tidak mungkin. Aruna telah meminta kepadanya agar sebisa mungkin ia menghindari dan menjauhi Ardo. Walupun sebenarnya sulit, jika mereka masih berada dalam satu tempat pekerjaan. Mustahil ia bisa menghindari Ardo.
"Jemputan? Siapa?" Reva terkejut, membuka kelopak mata lebar-lebar.
"Bary."
"Oh ya? Kok tumben?"
Gloria mengulas senyum. Tidak ada tanggapan atas keterkejutan Reva. Wajar bila Reva terkejut mendengarnya. Sebab sedari awal pernikahan, Bary tidak pernah sekalipun memperlakukannya dengan baik. Selayaknya memperlakukan seorang istri. Sikap Bary terhadap Gloria ia nilai terlalu kejam. Dan sekarang Bary memperlihatkan perubahannya, sungguh membuat Reva sulit mempercayainya.
"Oh ya, Glori. Aku boleh bertanya sama kamu?" Wajah Reva terlihat cemas. Sebetulnya Reva pun dibuat resah oleh gosip yang mulai beredar diantara rekan-rekannya.
"Boleh."
Reva merapat, untuk berbisik di telinga Gloria.
__ADS_1
"Apa benar kamu punya hubungan dengan Pak Ardo?"
Gloria tersentak, menoleh cepat menatap Reva tajam. Apa yang ia cemaskan belakangan ini ternyata terjadi juga. Bahkan sebelum ia menjalin hubungan dengan Ardo pun, rekan-rekannya selalu menjadikannya bahan gosip yang gurih. Bagaimana jadinya bila rekan-rekannya mengetahui hubungannya dengan Ardo nanti?
Sudah pasti, ia akan menjadi bahan olokan. Sementara Ardo sendiri akan memburuk reputasinya bila ketahuan menjalin hubungan dengan bawahan dari kalangan rendah. Bahkan telah berstatus istri orang.
Tidak!
Hal seperti itu tidak boleh terjadi. Ardo tidak boleh menanggung malu karena menjalin hubungan dengannya. Reputasi Ardo tidak boleh hancur karena dirinya.
"Tidak. Memangnya kamu dapat kabar dari mana?"
"Ada yang bilang kalian berdua masuk ke dalam gudang. Di dalam sana kalian berdua lama keluarnya. Maaf ya Glori ... Memangnya apa yang kalian lakukan di dalam gudang?"
Astaga!
Siapa yang menyebar berita itu? Apakah memang benar ada orang yang sempat melihat saat Ardo menyeretnya memasuki gudang? Lalu apakah ada pula yang melihat perbuatan Ardo terhadapnya di dalam gudang itu?
Bagaimana bila semua orang tahu, perbuatan tak terpuji yang mereka lakukan di dalam gudang. Bisa-bisa, reputasi Ardo benar-benar hancur. Dan dirinya bisa dipastikan akan dijadikan bahan cemoohan.
Sungguh memalukan. Mengapa bisa sampai seperti ini?
Padahal impiannya hanya sederhana. Yaitu hidup bahagia bersama orang yang dicintai. Namun agaknya, Ardo bukanlah orang yang tepat.
"Siapa?" tanya Reva ingin tahu.
"Bukan siapa-siapa." Tingkah laku Gloria mendadak berubah. Reva bisa melihat itu.
Gloria semakin gugup saat dilihatnya di seberang mobil sport berwarna merah menepi. Bersamaan dengan itu ponselnya kembali berdering.
"Itu bukannya Pak Ardo ya?" ucap Reva memandangi mobil sport merah di seberang dengan kaca jendela diturunkan. Menampakkan Ardo yang tengah menoleh ke arahnya sambil menempelkan ponsel ke telinga.
"Iya, itu Pak Ardo." Reva membenarkan ucapannya sendiri.
Panggilan kedua Gloria abaikan. Hingga menyusul panggilan ketiga. Glori pun akhirnya menerima panggilan yang masuk dari Ardo. Namun ia tak bersuara. Demi menghindari kecurigaan Reva. Walau bagaimanapun Reva tidak harus tahu segalanya tentangnya, meski Reva adalah satu-satunya sahabat dekatnya.
"Apakah kamu tahu satu hal yang paling aku benci di dunia ini?" tanya Ardo dari seberang.
Gloria membisu, menelan ludah dalam-dalam. Bila ditanya, sungguh ingin sekali ia menghampiri. Namun ucapan Aruna beberapa jam lalu masih terngiang di telinganya.
__ADS_1
"Menunggu," sambung Ardo.
Gloria masih membisu. Tak ingin menyahuti setiap kalimat Ardo.
"Kayaknya Pak Ardo ngeliatin kamu deh Glori," tebak Reva mengamati Ardo sedari tadi.
"Tidak. Kamu salah," bantah Gloria masih dengan mode ponsel menempel di telinga.
"Masa sih?" Reva semakin mengernyit, mengamati Ardo di kejauhan. Dari hasil pengamatannya, Gloria dan Ardo terlihat seperti sedang saling menghubungi. Walaupun Gloria diam seribu bahasa.
"Tolong jangan buat aku menunggu, Glori," ucap Ardo lagi.
Gloria masih enggan membalas ucapan Ardo. Sungguh ia tak tahu harus berkata apa. Keinginannya untuk bersua harus ia kubur dalam-dalam.
"Rasanya sangat sesak bila harus menahan rindu. Kenapa aku merasa, kamu mulai menghindariku?"
Gloria sungguh tak tahu harus berkata apa. Sejujurnya, ia pun merasakan sesak di dada. Sesak bila harus menahan rindu. Namun, apalah daya, ia bukanlah wanita yang pantas merindukan pria itu.
Genangan air yang serasa menjebol pelupuk matanya, sebisa mungkin ia menahannya. Tak ingin semakin mengundang kecurigaan Reva. Biarlah perasaannya ia kubur dalam-dalam.
____
Sementara di dalam ruangan Direktur Utama, Dicko tengah mengobrol dengan Aruna saat Bram datang menemuinya.
"Ada apa?" tanya Dicko begitu Bram mendudukkan diri di sofa. Berhadapan dengan Dicko dan Aruna yang saling menggenggam tangan.
"Aku sudah memulai mencari tahu tentang putrinya Darma. Aku sudah meminta Teddy mencari info sebanyak mungkin," ucap Bram.
"Oh ya? Aku sampai lupa tentang itu."
"Kalau sudah ada perkembangan, tolong secepatnya kamu beritahu aku. Setidaknya, kita tahu tentang keadaan putrinya Darma. Apakah dia baik-baik saja atau tidak," sambung Dicko.
"Kasihan Loly. Sudah ditinggal orang tua, terlilit hutang pula. Kasihan sekali kan Sayang, dia itu sebatang kara. Malah harus menanggung hutang yang ditinggalkan orang tuanya. Aku berharap, Kak Teddy bisa segera menemukannya," ujar Aruna menimpali.
"Kalau seandainya ketemu, apa kamu masih berniat menjodohkan Ardo dengannya?" tanya Bram.
"Ya ... Tergantung. Kalau dia masih sendiri, kenapa tidak?"
"Tapi, kalau seandainya dia sudah memiliki pasangan, apalagi sudah menikah, mana mungkin aku menjodohkan mereka. Lagipula, belum tentu Ardo mau. Iya kan?," sambung Aruna menatap Dicko dan Bram bergantian.
__ADS_1
"Berhenti menjodoh-jodohkan anak. Hal itu belum tentu berhasil. Berkacalah dari pengalaman. Jadi, biarkan Ardo memilih jodohnya sendiri. Karena hanya dia yang paling tahu, apa yang terbaik untuknya," ucap Dicko mengulum senyum menatap sang istri.
Bersambung