Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 84. Cemburu


__ADS_3

Bab 84. Cemburu


Dengan begitu percaya diri Ardo mengutarakan niatnya gamblang. Tak lagi memandang bahkan tak peduli status Gloria yang masih menjadi istrinya Bary.


Randa yang mendengarnya terbengong-bengong sendiri di ruang tamu rumah saat menerima kedatangan Ardo, mengantarkan Gloria pulang.


Padahal semula Randa sempat berpikiran untuk menemui keluarga Ardo secara langsung. Untuk merundingkan masalah hubungan Ardo sendiri dengan Gloria. Yang telah terlampau melangkah jauh. Hingga keadaan Gloria saat ini tidak bisa diabaikan.


"Jadi, orangtuamu sudah mengetahui ini?" tanya Randa memastikan lamaran yang diutarakan Ardo beberapa saat lalu.


"Iya, Paman. Orangtua saya sudah tahu semuanya," sahut Ardo melirik Gloria kemudian, yang tengah menggelayut manja pada lengannya. Senyuman manis Gloria pun menyambutnya.


"Padahal Paman sudah berencana untuk menemui orangtuamu untuk membicarakan hal ini. Tapi malah kamu yang lebih dulu. Oh ya, apa orangtuamu juga sudah tahu kalau Loly ini ponakannya Paman?"


Ardo mengulum senyum, lalu mengangguk. "Sudah. Mereka sudah tahu semuanya."


"Syukurlah. Tapi, bagaimana dengan status Loly? Bukankah dia masih terikat pernikahan dengan suaminya? Apa hal itu tidak masalah dengan keluargamu?"


"Masalah itu, Uncle Bram yang akan membantu Glori mengurus segala keperluannya, Paman."


"Paman juga bisa kok membantu Loly. Untuk masalah yang satu itu, biar itu menjadi utusan Paman. Bukankah Paman adalah keluarganya? Akan jauh lebih baik bila dari pihak keluarganya yang membantu. Jadi tidak perlu lagi merepotkan uncle mu," tawar Randa utuk urusan perpisahan Gloria dengan Bary. Dengan alasan untuk menghindari omongan orang.


"Asalkan Paman tidak keberatan."


"Oh tentu saja tidak. Paman justru sangat senang, Loly bisa menemukan pasangan yang tepat seperti nak Ardo ini." Lega akhirnya ponakan tersayangnya menemukan seorang calon pendamping yang tepat. Sebab hatinya sungguh teriris bila mengingat perlakuan buruk suami Gloria yang tidak pernah menghargainya.


"Makasih ya Paman?" ucap Gloria tersenyum haru menatap Randa. Yang dibalas Randa pun dengan tersenyum haru juga bahagia.


Namun sayangnya, ada seseorang yang sungguh tidak merasa senang mendengarkan percakapan mereka di ruang tamu rumah itu.


Ellena.

__ADS_1


Gadis cantik itu sedari tadi memasang wajah masam. Ia yang sedang duduk di ruang TV tentu saja masih bisa menangkap dengan jelas percakapan ayahnya dengan Ardo dan Gloria.


Ada rasa sakit hati mendengarnya. Lagi-lagi Gloria sungguh beruntung. Masih berstatus istri orang saja malah sudah ada yang melamarnya. Betapa beruntungnya nasib Gloria.


Berbeda jauh dengan nasibnya. Ia yang seorang model cantik jelita saja masih belum menemukan seorang pendamping. Dari setiap pria yang mendekatinya, tak seorang pun yang menarik hatinya. Justru yang tidak mendekatinyalah yang menarik hatinya.


Semisal Ardo. Pria rupawan yang telah menawan hatinya sejak pertemuan pertama. Tetapi sayangnya, malah telah menjadi milik orang. Yaitu saudara sepupunya sendiri.


Iiiiiih ... Ellena sungguh kesal. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Dan hanya bisa menahan geram sambil meremas kuat bantal sofa yang dipeluknya.


Ellena sungguh cemburu!


...


Selesai dengan obrolannya Ardo pamit pulang.


Gloria hendak ke kamarnya melewati ruang TV. Namun langkahnya harus terhenti sejenak, saat suara-suara sumbang mulai terdengar.


"Emang dasar tidak tahu malu ya? Sudah punya suami, eh, malah nerima calon suami. Kira-kira ditaruh di mana ya tuh muka. Kok tidak ada malu-malu nya." Sinis dan sadis Ellena menggubris. Merasa tak senang juga tak terima. Pria yang ditaksirnya malah melamar istri orang.


Sudah terlalu sering kuping Gloria mendengar cibiran-cibiran serupa. Sehingga untuk cibiran Ellena, ia tak terlalu menanggapi. Sebab ia paham, bila Ellena hanya sedang cemburu saja.


"Mungkinkah pakai pelet? Karena tidak mungkin laki-laki sempurna seperti dirinya malah memilih calon janda," cibir Ellena lagi.


Gloria yang mendengarnya malah tersenyum. Sangat kentara bila gadis itu sedang cemburu.


"Asal kamu tahu. Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali aku meminta dia untuk menjauhiku. Aku tahu aku ini siapa. Aku tahu aku tidak pantas menjadi pendamping hidupnya. Tapi apalah dayaku. Semakin aku berusaha menjauh, dia malah semakin mendekat." Merasa geli mendengar cibiran Ellena, Gloria akhirnya membalas. Dan malah membuat Ellena semakin sakit hati.


Saking kesal juga sakit hati, Ellena pun bangun berdiri. Kemudian menyeret langkah, meninggalkan ruang TV tanpa berpaling muka sekali pun. Sungguh ia kesal setengah mati. Mengapa Ardo malah memilih si calon janda tersebut.


Bukannya marah atau pun tersinggung, Gloria justru tersenyum geli melihat tingkah Ellena. Yang di matanya, masih kenak-kanakan.

__ADS_1


Gloria masih ingat betul bagaimana cemburunya Ellena bila ia mendapat mainan baru. Entah itu dari orangtuanya ataupun dari tetangga juga relasi-relasi bisnis ayahnya kala itu.


Padahal Ellena bukan putri dari orang yang berkekurangan. Tetapi masih saja Ellena merasa cemburu kepadanya. Bahkan setelah beranjak dewasa pun, sifat kekanakan Ellena masih terbawa-bawa.


Gloria tidak sakit hati dengan cibiran Ellena. Ia justru merasa kasihan. Selain mengikuti jejak ibunya, tujuan lain Ellena memilih menjadi seorang model adalah agar ia menjadi pusat perhatian.


Sembari menggeleng, Gloria membawa langkah menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang TV. Dengan perasaan geli mengingat tingkah lucu Ellena yang sedang cemburu, Gloria tersenyum-senyum sendiri.


...


Sementara di lain tempat.


CRANK ...


Bunyi gelas pecah yang dilempar kuat ke dinding itu terdengar hampir memekakkan telinga. Pecahan gelas tersebut berhamburan ke mana-mana.


"Sialan. Sungguh sialan kalian," pekik Bary kencang, menggema di seisi ruangan.


Kilauan beling yang disirami cahaya lampu itu hampir menyilaukan mata. Namun tidak dengan mata Bary yang berkilat tajam. Sorot matanya menampakkan aura mengerikan. Yang telah diselimuti oleh kobaran api amarah.


Bary menggeram, mengetatkan rahang, mata menyalak tajam, sambil mengepalkan tinjunya kuat.


Kobaran api amarah yang menguasai, hampir saja membakar jiwanya yang dipenuhi dendam. Dendam kepada orang-orang yang telah berani bermain api dengannya.


Bahkan cemburu buta telah menutup mata hatinya. Membekukan rasa di jiwanya. Hingga tak ada lagi rasa yang tersisa untuk Gloria selain dendam kesumatnya.


"Jangan harap kamu bisa memilikinya Ardo kepa rat. Aku akan mengirimnya ke neraka sebelum kamu sempat memilikinya. Baru setelah itu, aku juga akan mengirimmu. Silahkan kamu menyusul cintamu itu ke neraka," geram Bary mengepalkan tinjunya kuat. Lengkap dengan sorot mata menyalak tajam.


Bary telah meminta Reina untuk melaksanakan perintahnya. Hanya dengan menakut-nakuti Reina saja, ia bisa memanfaatkan wanita murahan itu dengan mudahnya.


"Aku tidak akan memberimu ampun, Glori. Kamu sudah mengkhianatiku. Maka kamu harus menanggung akibatnya."

__ADS_1


Bary menyeringai sinis. Sejumlah rencana telah tersusun rapi di kepala. Hanya tinggal menunggu waktu eksekusinya saja.


Bersambung


__ADS_2