Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 74. Temu Kangen


__ADS_3

Bab 74. Temu Kangen


"Andai saja Darma masih hidup, Papa ingin menjodohkan Ardo dengan putrinya." Sudah kebiasaan Opa Danu sedari dulu kala yaitu suka menjodoh-jodohkan anak. Meski anak-anaknya telah dewasa, terkadang Opa Danu masih merasa gamang bila anak-anaknya malah salah dalam memilih jodoh. Tidak terkecuali terhadap sang cucu.


Baru-baru ini terbukti kecemasannya, bila sang cucu kesayangan keliru dalam menjalin hubungan. Lalu pada akhirnya malah salah dalam memilih jodoh. Hampir menyerupai apa yang pernah terjadi kepada putra tertuanya dahulu, Dicko.


Untuk itulah, hingga pada masa sekarang, Opa Danu masih meyakini bila menjodohkan anak masih menjadi pilihan yang terbaik. Dibanding salah dalam memilih. Seperti Ardo misalnya. Yang malah mengencani istri orang ketimbang gadis-gadis belia yang masih single.


"Ehem ehem." Bram berdehem. Bermaksud mengingatkan Opa Danu akan kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lampau. Yaitu menjodohkan anak.


"Ardo itu sudah dewasa, Pa. Artinya dia sudah bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Dia tahu tahu mana yang terbaik untuk dirinya." Bukan maksud Bram membela hubungan terlarang Ardo. Akan tetapi, mengingat persoalan rumah tangga Gloria yang sering mendapatkan kekerasan dari suaminya, ia sudah mengira bahwa rumah tangga Gloria tidak harmonis. Wajar bila masalah datang mengganggu.


"Dan istri orang itu adalah yang terbaik untuknya? Begitu maksud kamu?" Opa Danu sedikit kesal beradu argumen dengan Bram. Yang terkesan membela hubungan Bram.


"Itu hanya status, Pa. Dan status itu bisa berubah sewaktu-waktu. Papa lupa dengan apa yang pernah terjadi padaku dan Aruna dulu?"


Opa Danu salah tingkah. Tak bisa membantah kenyataan dahulu kala. Bram mengulum senyum melihat tingkah Opa Danu yang malah terlihat lucu di matanya.


"Buat apa bawa-bawa masa lalu. Masa lalu itu tidak bisa dijadikan sebagai patokan. Apalagi dijadikan cerminan. Masa lalu, ya masa lalu. Tidak ada kaitannya dengan apa yang terjadi sekarang. Belum tentu apa yang terjadi di masa lalu itu akan sama dengan apa yang terjadi sekarang. Intinya, Ardo harus mencari wanita yang tepat untuk dijadikan pasangan. Bukan malah istri orang," cetus Opa Danu kesal. Kemudian beranjak meninggalkan Bram yang tersenyum-senyum memandangi punggung ayahnya.


Bagi Bram, ayahnya itu masih sama saja seperti dahulu. Memiliki ketakutan akan masa depan keluarganya. Untuk itulah Opa Danu sering bersikap tegas menerapkan prinsip-prinsip keluarga. Namun sayangnya, terkadang ketegasannya seringkali diabaikan.


Dan nyatanya, ketakutan Opa Danu selalu teratasi dengan baik sampai saat ini.


.....


Sembari menyetir, Randa tak henti memikirkan wanita cantik seusia putrinya, Ellena di pesta ulang tahun Ardo beberapa jam lalu. Hati kecilnya tak henti membisikkan bila wanita itu adalah kerabat yang ia kenal. Kerabat dekatnya yang telah lama tak bersua.


Wajah wanita itu begitu mirip dengan wajah ponakan satu-satunya yang tak pernah lagi bertemu dengannya sewaktu usia ponakannya beranjak remaja.


"Gimana keadaan Ardo sekarang ya, Beib? Kasihan Ardo. Gara-gara perempuan itu Ardo sekarang di penjara. Kenapa juga sih, Ardo berhubungan dengan perempuan itu. Padahal ada banyak gadis-gadis cantik, terhormat, yang lebih jelas asal-usulnya dibanding perempuan itu. Ardo bisa mendapatkan yang lebih, contohnya Elle nya Mommy ini. Eh, dianya malah kecantol wanita yang sudah bersuami." Sheila menyemburkan kekecewaannya atas perempuan pilihan Ardo.


Di jok kedua, Ellena memalingkan wajah, memandang keluar jendela mobil. Menatap kosong, terbawa angan yang kian melambung. Pemandangan di pesta ulang tahun Ardo beberapa saat lalu masih terbayang di pelupuk mata. Yang menghadirkan kekecewaan teramat dalam dada. Serta sakit hati yang membuat kebencian semakin bertumbuh dan berakar dalam hatinya.


Saudara yang Ellena benci sedari kecil hingga kini masih saja menjadi penghalang untuk setiap keinginannya.


Saudara yang Ellena sebut Loly itu selalu saja menjadi saingannya. Semenjak kecil, Loly selalu mendapatkan perhatian yang lebih. Entah itu dari teman, tetangga, saudara, bahkan daddy nya.


Semenjak kecil, Loly selalu menjadi anak yang lebih menyenangkan dibanding dirinya. Banyak yang menyukai Loly. Termasuk sepasang suami istri, sahabat ayah Loly dahulu sangat menyukai Loly. Bahkan istri dari sahabat ayah Loly itu ingin sekali menjodohkan Loly dengan putranya. Padahal daddy nya pun adalah sahabat baik sepasang suami istri tersebut. Tetapi mereka malah lebih menyukai Loly.


Hal itulah yang membuat Ellena tidak menyukai Loly. Iri hati dan dengki telah menumbuhkan kebenciannya. Yang telah berakar sampai saat ini.


"Ardo sudah dibebaskan," ucap Randa sambil menyetir. Tak mengalihkan fokusnya dari jalanan.


"Oh ya?" Sheila menoleh, membulatkan matanya.

__ADS_1


"Aku dapat kabar dari Dicko."


"Oooh ... aku pikir Ardo bakal jadi tahanan. Tapi, memang bukan salah Ardo sih. Yang salah perempuan itu tuh." Sheila menunjuk dua orang perempuan yang sedang berdiri di tepian jalanan. Tak jauh dari kantor polisi yang mereka lewati.


Randa menoleh sejenak. Lalu kembali fokus pada jalanan.


"Sudah tau punya suami, eh malah kegatel an sama bujang. Dasar perempuan jaman sekarang. Tidak pernah merasa puas dengan milik sendiri," sambung Sheila mencemooh.


"Hati-hati kalau ngomong. Kamu itu juga perempuan. Dan kamu juga punya anak perempuan," ucap Randa memperingatkan.


"Kenapa harus Loly?" gumam Ellena tanpa sadar.


Gumaman Ellena itu tertangkap oleh indera pendengaran Randa. Yang mendadak menghentikan mobilnya di tepian jalan.


"Beib, kenapa berhenti sih?" tanya Sheila menatap kesal.


Namun Randa tak menanggapi. Randa malah menoleh ke belakang, memandangi Ellena yang tak terganggu saat ia menepikan mobil.


"Ellena," panggil Randa.


Ellena tak menggubris. Gadis itu masih asik dengan lamunannya. Hingga Randa pun kembali memanggil dengan menaikkan nada suaranya.


"Ellena."


Ellena tersentak. Dipandanginya daddy nya yang menatap penuh tanya kepadanya.


"Apa katamu tadi? Tolong kamu ulangi."


"Yang mana Dad?"


"Yang baru saja kamu sebut."


"Yang mana sih Dad? Aku tidak mengerti."


"Apa kamu sudah bertemu dengannya?"


"Dengan siapa?" Ellena kebingungan. Sebab ia tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan.


"Loly."


Ellena terhenyak. Ia salah tingkah. Lalu kebingungan harus menjawab apa.


"Ellena, kamu bertemu Loly di mana?" desak Randa. Membuat Ellena semakin salah tingkah.


"Emm ... Di ... Si pesta ulang ta ..." namun Ellena tak menuntaskan kalimatnya. Lantaran tatapan tajam mengancam Sheila tertuju kepadanya.

__ADS_1


Sheila memberi kode kepada Ellena melalui mata agar Ellena tidak mengatakan kepada daddy nya tentang Loly.


Namun sayangnya terlambat. Walaupun Ellena tidak menuntaskan kalimatnya Randa mengetahui apa yang hendak dikatakan oleh Ellena. Sehingga mendadak Randa menjalankan kembali mobilnya. Memutar balik, mengambil arah yang berlawanan.


Sheila mendumel kesal. Sesekali memelototi Ellena. Sheila jengkel karena Ellena memberitahu tentang Loly berada di pesta ulang tahunnya Ardo. sheila tahu hal itulah yang hendak diberitahu Ellena.


Ellena tak menghiraukan tatapan tajam melotot Sheila. Ellena lebih memilih kembali memfokuskan pandangannya ke luar jendela mobil.


....


Gloria dan Reva masih menunggu taksi yang telah mereka pesan via aplikasi itu di tepian jalan, tak jauh dari kantor polisi. Sampai Mercedes Benz berwarna putih tiba-tiba menepi di depan mereka.


Dari dalam mobil tersebut, turun seorang pria paruh baya berkacamata. Menghampiri, menatap haru kepada Gloria.


"Loly?" sapa pria paruh baya tersebut. Yang tidak lain adalah Randa.


Gloria tidak terkejut melihat Randa. Sebab sudah beberapa kali ia melihat Randa. Hanya saja Randa yang tidak mengenalinya.


Sedangkan Reva menatap bingung. Bergantian menggulir pandangannya kepada Randa dan Gloria.


"Kamu Loly kan?" tanya Randa memastikan.


"Namanya Gloria, Pak. Kalau boleh tahu, Bapak ini siapa ya?" malah Reva yang menyahuti lantaran tak ada respon dari Gloria.


"Saya pamannya. Loly, ternyata ini kamu, Nak?" Randa memindai Gloria dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Ada perasaan haru menyeruak begitu menyadari bila perempuan yang ia lihat beberapa jam lalu di pesta ulang tahun Ardo itu ternyata adalah keponakannya sendiri.


Gloria mengangguk pelan, sembari mengulum senyum. "Iya, Paman. Ini aku, Loly."


Sebab perasaan haru yang teramat, Randa meraih Gloria ke dalam pelukannya. Meluapkan cinta dan kasihnya teruntuk kerabat yang ia kasihi.


"Maafkan Paman, Nak. Paman tidak mengenalimu lagi. Oh ya, kamu ikut Paman ya?"


.......


Sementara itu, di sebuah kamar hotel.


Ardo merasa tak tenang bila tak memastikan sendiri keadaan Gloria. Untuk itulah ia memutuskan kembali ke hotel. Ia mengira Gloria telah kembali ke hotel. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Gloria, tetapi tak ada jawaban. Anehnya, suara dering ponsel justru terdengar berada di dalam kamar tersebut.


Diatas tempat tidur itu sebuah ponsel tergeletak. Ardo membuang napasnya kasar. Kemudian meraih ponsel yang ditinggalkan Gloria.


Bersambung


Menuju ending malah makin lelet updatenya😔


Semoga othor bisa menyelesaikan cerita ini secepatnya ditengah-tengah kepadatan aktifitas real life.

__ADS_1


Semangat💪


__ADS_2