
Bab 48. New Ambassador
"Di-Dia ..." Terbata Gloria menjawab pertanyaan Bary. Otaknya bekerja cepat, memikirkan alasan yang masuk akal tentang siapa Ardo di perusahaan ini.
"Apa dia juga bekerja di perusahaan ini?" Bary menelisik tajam. Tentu saja ia tak ingin wanitanya di dekati pria lain. Apalagi bila ia sampai kehilangan. Berbeda dengan pria lain, entah mengapa ia begitu cemas bila menyangkut Ardo.
"Perusahaan sedang mengusulkan dia menjadi Brand Ambassador yang baru. Tapi, itupun bila dia setuju." Hanya ide itu yang terlintas di benaknya. Masih terbilang masuk akal bila berkaitan dengan perusahaan mode.
Bary menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan, "semoga saja dia menolak," gumamnya risau. Berharap Ardo menolak tawaran perusahaan. Yang padahal kenyataannya Ardo merupakan cucu pemilik perusahaan serta putra Dirut perusahaan tersebut. Ia akui Ardo memiliki paras yang rupawan.
"Tapi, jika seandainya Ardo menerima tawarannya, itu artinya kamu harus berhenti bekerja di perusahaan ini. Aku hanya tidak mau, kalian saling bertemu satu sama lain, mengerti?" sambung Bary memberi peringatan.
Mengangguk patuh, Gloria tak ingin mengundang emosi Bary yang berusaha Bary kubur dalam-dalam demi bisa menjalin hubungan yang baik dengannya. Yaitu sebuah hubungan yang layak disebut sebagai suami istri.
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Pulang nanti, aku jemput. Jika memang kamu lembur, kabari aku. Pukul berapa pun, aku akan tetap datang menjemputmu," ucap Bary tak ubahnya pria posesif yang terlampau over protective.
Kembali mengangguk patuh, Gloria kemudian melangkah masuk setelah Bary berpamitan.
____
Memutar handel pintu lalu mendorongnya terbuka. Menampakkan ayah dan ibunya tengah mengobrol dengan tamu penting di sofa sudut ruangan. Ardo membawa langkahnya masuk menghampiri. Kedatangannya mengalihkan atensi ayah dan ibunya.
"Kamu sudah datang, Sayang," sapa Aruna menyunggingkan senyum memandangi sang putra.
"Ardo, Papa mau mengenalkan kamu pada seseorang," kata Dicko sembari bangun dari duduknya.
"Kamu masih ingat Tante Sheila kan?" tanya Dicko meraih pundak Ardo begitu Ardo mendekat padanya.
"Mungkin," sahut Ardo acuh.
"Ardo, ini Tante Sheila, istrinya Dokter Randa, temannya Papa. Kamu pasti ingat Dokter Randa kan?" tanya Aruna sembari bangun dari duduknya.
"Ingat kalau yang itu."
"Jadi ini Ardo, Run?" Wanita paruh baya yang masih terlihat jelas garis-garis kecantikannya itu berdiri, menatap berbinar sembari menyunggingkan senyum termanisnya. Wajahnya yang rupawan, yang pernah wara-wiri di layar kaca pada masanya dahulu terlihat sumringah begitu Ardo melihat ke arahnya.
Ardo masih ingat wajahnya, namun tidak dengan namanya. Wanita paruh baya yang bernama Sheila itu tidak datang seorang diri. Sheila datang bersama seorang wanita muda yang tampak tak terusik dari benda pipih berperanti canggih di tangannya.
"Iya, Sheil. Ini Ardo," sahut Aruna.
__ADS_1
"Wah wah waaah .... Ternyata sudah sebesar ini?" Sheila memindai Ardo dari ujung kaki hingga unjung kepala sambil berdecak kagum.
Sementara si wanita muda, masih menunduk menatap benda pipih di tangan.
"Tampan pula," sambung Sheila.
Ardo mengulum senyum sambil sesekali melirik si wanita muda.
"Ardo, ini Tante Sheila Amanda, teman Papa. Kamu pasti tahu, dahulu, perusahaan pernah menggunakan beliau sebagai Brand Ambassador produk kita. Nah, kebetulan, tidak lama lagi kita akan mengenalkan mode terbaru kita. Dan perusahaan berencana untuk menggunakan putrinya Tante Sheila ini sebagai New Ambassador brand kita," terang Dicko mengutarakan maksud meminta Ardo datang menemuinya.
"New Ambassador? Seharusnya itu tugasku dalam menentukan siapa yang akan dijadikan Brand Ambassador. Tentu saja berdasarkan pertimbangan banyak hal, demi keuntungan perusahaan. Kenapa Papa tidak membicarakan hal ini sebelumnya denganku?"
"Jadi kamu meragukan pilihan Papa?"
Ardo mengendikkan bahu, "entahlah."
Dan si wanita muda yang tengah asik dengan gawai nya itu pun akhirnya terusik.
"Sombong sekali kamu," tukas si wanita muda mendongak menatap tajam Ardo. Tak terima bila dipandang remeh.
Ucapan tajam si wanita muda itu sontak membuat semua menoleh kepadanya.
Wanita muda itu pun bangun dari duduknya. Netra tajamnya masih tak lepas dari wajah Ardo. Wanita itu menatap lekat wajah Ardo tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
"Ardo, kenalkan, ini putrinya Tante Sheila," ucap Aruna.
"Elle, tarik kembali ucapanmu. Itu tidak sopan namanya, Baby," ucap Sheila.
Namun wanita muda itu malah mengukir senyum menatap Ardo. Yang membuat Ardo tertegun menatap paras cantiknya.
Wanita tinggi semampai, berkulit putih bersih, berambut cokelat keemasan itu sungguh sangat memanjakan mata bila dipandang. Dari angka nol sampai sepuluh mungkin wanita itu berada di angka sembilan. Hampir mendekati sempurna.
Ardo pun menyunggingkan senyumnya menatap wanita itu. Wanita kriterianya. Cantik mempesona. Kecantikannya menurun dari ibunya yang mantan seorang model.
"Jadi kamu yang bernama Ardo?" tanya si wanita muda.
"Rasanya wajahmu tidak asing lagi bagiku," sambung si wanita yang semakin melebarkan senyumnya dengan tatapan berbinar. Kemudian mengulurkan tangan kanannya ke depan Ardo.
"Ellena Tabita Giovano. Panggil saja Ellena," ucap Ellena masih dengan tangan terulur.
__ADS_1
Ardo tak langsung meraih uluran tangan Ellena. Dipandanginya lekat paras cantik Ellena yang telah mencuri perhatiannya dalam sekejap. Wanita yang memiliki kecantikan hampir setara Gigi Hadid itu masih mengukir senyum kepadanya. Senyum yang membuat kecantikannya bertambah berkali-kali lipat. Hingga membuatnya terpesona.
"Aku temannya Leona," sambung Ellena.
Barulah Ardo mengingat siapa Ellena. Wanita yang hampir dijadikan Leona sebagai target taruhan berikutnya. Kini ia menyesali mengapa menolak tawaran Leona dahulu bila taruhannya adalah wanita cantik dan berkelas seperti Ellena. Wanita yang lebih pantas bersanding dengannya dibanding Gloria.
Ah, Gloria. Mengapa pula tiba-tiba ia merindukan wanita itu.
"Richardo," sembari meraih uluran tangan Ellena, menggenggamnya erat, menatap sorot matanya lekat. Sorot mata indah yang mampu membius setiap kaum Adam yang menatapnya. Tidak terkecuali dirinya. Yang terpaku menatap sorot mata itu. Untuk sejenak, Gloria menghilang dari kepala dan pelupuk matanya. Tergantikan oleh sosok nan jelita yang menduduki standar tertinggi dalam penilaiannya pada kecantikan seorang wanita.
"Ehem, ehem." Deheman Sheila menyentak keduanya dari pancaran pesona masing-masing yang mulai menjerat. Buru-buru mereka melepas genggaman, lalu menarik uluran tangan masing-masing.
"Sebenarnya, Papa mau meminta Ellena untuk menemuimu langsung di ruanganmu. Tapi karena kebetulan Ellena datang bersama ibunya, jadi apa salahnya kita mengobrol di sini. Oh ya, silahkan duduk." Dicko mengambil duduk. Disusul oleh yang lainnya.
Obrolan santai itu pun berlangsung cukup lama. Tak ada obrolan menyangkut kontrak Ellena sebagai Brand Ambassador mendatang. Hanya sekedar obrolan sebagai temu kangen teman lama yang lama tak bersua.
Dalam obrolan itu, ada netra yang saling menatap kagum dengan berbinar. Pesona yang terpancar dari keduanya amat silau hingga mampu menembus dinding hati. Lalu menumbuhkan rasa ketertarikan.
Sepasang netra yang saling bertaut antara Ardo dan Ellena membuat Sheila, tersenyum-senyum. Lalu berbisik ke telinga Ellena. Yang membuat Ellena tersenyum malu-malu. Lalu menunduk menyembunyikan semburat merah di paras jelitanya.
_____
"Kapan pun Ellena punya waktu, dia bisa datang mendiskusikan perihal kontrak dengan Ardo langsung," ucap Dicko ketika Sheila dan Ellena berpamitan. Di depan pintu ruangan Dicko, mereka masih mengobrol. Seolah obrolan panjang lebar di dalam ruangan beberapa saat lalu masih belum cukup memuaskan.
Senyum manis merekah itu belum jua memudar dari wajah Ellena. Meski sikapnya terkadang terkesan cuek, namun bila begitu bertatapan dengan Ardo baik tanpa sengaja maupun ia yang sengaja menggulir pandangan pada Ardo, seulas senyumnya terbit tak terkontrol.
Ardo adalah pria yang menarik dengan sejuta pesonanya. Tak terkecuali Ellena, yang semula enggan bertemu Ardo saat Leona beberapa kali menawarinya untuk memperkenalkannya dengan Ardo. Namun begitu bertemu langsung, tersirat sejumput penyesalan dalam dada, mengapa tidak sedari awal ia menuruti tawaran Leona. Bila saja ia tahu bahwa Richardo yang sering di sebut Leona adalah pria yang memenuhi standar kriteria idamannya.
"Iya. Mereka juga sudah saling tuker-tukeran nomor. Kalau soal itu kan mereka bisa membicarakannya kapanpun dan di manapun. Terserah, gimana nyamannya mereka," tutur Sheila menyiratkan sesuatu yang hanya dipahami oleh orang tua.
"Kalau menyangkut pekerjaan, mereka tetap harus mendiskusikannya di kantor," ucap Dicko seakan tahu maksud Sheila yang menjurus ke arah pengenalan lebih dekat.
"Ya sudah, kalau begitu, kami pamit dulu. Terima kasih banyak telah mempercayakan Elle ku sebagai Brand Ambassador. Semoga Elle ku ini bisa mengemban tugas dengan baik."
Di seberang, tak jauh dari tempat mereka berdiri, Gloria yang hendak ke ruangan Dicko mengantar laporan hasil penelitian pasar di kota MA tiga hari kemarin, memilih menghentikan langkahnya begitu netranya menangkap sosok-sosok yang familiar tengah berbincang dengan atasannya.
Sosok-sosok itu menerbitkan raut yang berbeda di wajah Gloria. Tangannya mengepal kala melihat Ellena tersenyum-senyum menatap Ardo.
Bersambung
__ADS_1