Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 82. Tak Terduga


__ADS_3

Bab 82. Tak Terduga


Di lain tempat.


BRAK!


Bunyi dentam pintu yang dibanting kuat tersebut mengagetkan Reina yang tengah berbaring diatas sofa dengan wajah ditutupi masker. Serta kedua kelopak mata yang ditutupi irisan ketimun.


Reina tersentak, lalu refleks bangun dari posisi berbaringnya. Matanya melotot begitu melihat sosok yang tiba-tiba telah berdiri di hadapannya saat ini. Dilepasnya masker yang menutupi wajahnya.


"Ba-Bary? Ka-kamu sudah bebas?" Reina mulai ketakutan. Bergegas ia bangun, mengambil jarak menjauh dari Bary yang perlahan mendekat. Disertai tatapan tajam penuh intimidasi.


Bary menyeringai, tersenyum sinis menatap Reina. Kemudian mengambil duduk di sofa, tempat Reina berbaring sebelumnya.


Tidak percuma ia merayu-rayu Asih. Bahkan menuruti keinginan Asih, hanya agar sang ibu mau membebaskannya dari penjara. Dengan bantuan pengacara serta uang jaminan yang tidak sedikit jumlahnya, ia pun dibebaskan. Namun dengan beberapa syarat yang tak boleh dilanggar.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Reina was-was, mulai memasang gaya waspada. Bary adalah manusia yang tidak terduga. Ia menjaga jarak dengan maksud untuk menjaga dari tindakan Bary yang tidak terduga dan luput dari kewaspadaannya.


"Aku mau kamu melakukan sesuatu untukku," ucap Bary sembari merogoh kantong jaketnya.


"Aku tidak mau. Urusan diantara kita sudah selesai. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Aku sudah memberi mu apa yang kamu mau. Kamu sudah berhasil mempermalukan Ardo kan? Bahkan kamu sudah berhasil memenjarakannya. Dan sekarang kamu sudah bebas. Apa Glori sudah mencabut laporannya?"


"Siapa bilang kepa rat itu di penjara sekarang?"


"Bu-bukannya kalian dibawa ke kantor polisi?" Reina semakin ketakutan begitu netranya menangkap sebuah benda kecil yang dikeluarkan Bary dari kantong jaketnya.


"Lakukan sesuatu untukku. Jika tidak ..." Sembari menyandarkan punggung, memangku sebelah kakinya, Bary membuka belati lipat ditangan. Yang ia keluarkan dari kantong, untuk menakuti Reina.


Kilatan tajam belati itu semakin membuat Reina ketakutan. Menelan ludahnya dalam-dalam, Reina mengambil langkah mundur perlahan. Memberi jarak cukup jauh antara dirinya dengan Bary.


"A-apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Reina ketakutan. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Wajahnya bahkan terlihat pucat.


Bukannya menjawab pertanyaan Reina, Bary malah bangun dari tempat duduknya. Perlahan menghampiri Reina dengan senyuman sinisnya. Sambil mengusap-usap belati.


"Lakukan sesuatu untukku!" tegas Bary meminta sembari menunjukkan belati. Membuat Reina semakin ketakutan.


"Me-melakukan apa?"


Bary menyeringai sinis. "Aku Mau kamu..."


...


"Loly?" Opa Danu mengerutkan dahi menatap Gloria.


"Iya, Loly. Dia ini adalah..."


"Aruna? Ardo?" Tiba-tiba Dicko datang dan menyela kalimat Aruna. Yang hendak memberitahu siapa Gloria sebenarnya.


Dicko tidak datang seorang diri. Bersamanya ada Bram dan juga Teddy. Seusai meeting mereka langsung ke Tempat Pemakaman Umum, hendak berziarah. Menuruti permintaan Opa Danu, yang mendadak ingin berziarah ke makam Darma.


"Sedang apa kalian di tempat ini?" sambung Dicko bertanya.

__ADS_1


"Begini sayang. Aku..."


"Bukan kamu. Tapi mereka." Dicko menggulir pandangan kepada Gloria dan Ardo.


Di sebelah Dicko, berdiri Teddy yang mengerutkan dahi begitu melihat Gloria. Sebab ia merasa seolah pernah melihat Gloria.


"Itu bukannya..." GumamTeddy mengetuk-ngetukkan telunjuk di dahinya.


"Oh iya, benar. Duh, sampai lupa." Teddy menepuk jidatnya begitu mengingat yang hendak diberitahukannya kepada Bram beberapa jam lalu, namun sering tertunda.


"Ardo. Siapa yang mengijinkan mu menemui perempuan itu?" kembali Dicko melempar tanya kepada Ardo. Disertai tatapan tak suka. Ia bahkan kecewa terhadap sang putra.


Namun berbeda dengan Ardo. Ia justru membalas tatapan sang ayah sambil tersenyum. Sebab ia tahu, bila ayahnya mengetahui siapa Gloria sebenarnya, sudah pasti respon yang ayahnya berikan tidak akan jauh berbeda dengan ibunya.


"Kak Dicko sebaiknya jangan terlalu keras terhadap Ardo. Ardo itu sudah dewasa." Setengah berbisik, Bram menepuk lembut pundak Dicko.


Dicko menoleh, menatap Bram yang malah tersenyum kepadanya.


"Aku seperti kehilangan sosok kakakku yang sebenarnya. Mana kakakku yang dulu? Yang selalu tenang menghadapi masalah. Yang berpikiran lebih terbuka. Yang sangat pandai mengendalikan emosi. Coba, sekali saja, Kak Dicko berada di posisinya Ardo saat ini." Sengaja Bram menyindir, agar Dicko mampu melihat sisi positif dari setiap permasalahan yang datang menghampiri.


Dicko membuang napasnya pelan. Apa yang dikatakan Bram tidak ada salahnya. Ia sangat tahu bagaimana rasanya bila hubungan tak mendapat restu dari orangtua.


"Pak. Pak Bram." Teddy menghampiri, mengambil jarak paling dekat dengan Bram.


"Perempuan yang sedang bersama Ardo itu bukannya putrinya Pak Darma ya?" bisik Teddy di telinga Bram. Hingga membuat Bram tersentak.


"Maksud kamu?" Bram menoleh cepat. Menajamkan tatapan serta pendengaran.


Bram pun mengikuti kemana telunjuk Teddy mengarah. Dengan dagu mengerut dipandanginya Gloria.


"Dia itu putrinya Pak Darma." Teddy mengulang ucapannya.


"Yang benar kamu?"


"Iya, Pak. Dari tadi saya ingin memberitahu soal ini ke Pak Bram. Tapi gagal melulu."


Sebab kesal Bram menepuk kuat lengan Teddy. "Kenapa baru sekarang kamu kasih tahu saya? Harusnya kamu tuh maksa ngomong. Gimana sih?"


"Mana berani saya membantah Pak Bram. Apalagi memotong pembicaraan Pak Bram."


"Kamu ini." Bram kesal, hampir saja ia kembali memukuli lengan Teddy jika saja Teddy tidak memasang gaya menangkis.


"Ardo," panggil Opa Danu. "Sepertinya kamu memang sudah tidak menghargai Opa mu ini. Kamu selalu saja berbuat semaumu. Sekali lagi kamu membuat Opa kecewa. Opa sungguh sangat kecewa padamu." Semburat kekecewaan tergambar jelas di wajah Opa Danu. Membalikkan badan, Opa Danu hendak meninggalkan tempat itu.


"Papa mau ke mana?" tanya Clara berupaya mencegah. Sebab bisik-bisik Bram dan Teddy tertangkap indera pendengarannya meski samar terdengar.


"Papa mau pulang, lalu mau ke mana lagi?"


"Tapi, Pa ..." Clara hendak menyusul langkah Opa Danu saat tiba-tiba terdengar suara Bram memanggil.


"Papa, tunggu dulu. Bukankah Papa ingin tahu tentang putrinya Darma?"

__ADS_1


Sontak langkah Opa Danu terhenti. Lalu berbalik, memaku pandangan kepada Bram. Yang mengurai senyum manisnya begitu bertemu pandang.


Ucapan Bram mengalihkan pandangan semua orang seketika. Semua pasang mata pun tertuju kepada Bram.


"Memangnya kamu sudah mendapatkan informasi tentangnya?" tanya Opa Danu malah meragukan Bram.


Bram mengangguk. Lalu menunjuk ke arah Gloria. "Seharusnya Papa tanya dulu, apa yang dilakukan perempuan itu di makamnya Darma."


Opa Danu mengerutkan dahi. Begitupula dengan Dicko.


"Setiap orang yang datang ke makam ya sudah pasti datang untuk berziarah. Memangnya untuk apa lagi?" balas Opa Danu terkesan tak peduli.


"Kenapa tidak tanya sekalian ada hubungan apa dia dengan Darma, sampai-sampai dia datang berziarah ke makamnya."


"Maksud kamu tuh apa sih, Bram? Jangan bertele-tele. Katakan sa..."


"Karena dia adalah putrinya Darma." Cepat Bram menyela ucapan Opa Danu. Hingga membuat Opa Danu terdiam. Begitu pun dengan Dicko.


"Jadi hal yang wajar jika seorang anak datang berziarah ke makam orangtua nya kan? Untuk itulah, kenapa dia ada di tempat ini," sambung Bram.


"Iya, Pa. Dari tadi saya ingin memberitahu hal ini ke Papa. Tapi Papa tidak memberi saya kesempatan." Aruna menimpali. Disertai senyum bahagianya. Karena pada akhirnya, kebenaran tentang Gloria telah terungkap.


Antara terkejut, shock, dan tidak percaya, berdiri termangu memandangi Gloria yang tengah menunduk. Opa Danu dan Dicko bahkan tak bisa berkata-kata mengetahui kebenaran tentang Gloria.


Karena ternyata, wanita berstatus istri orang yang sedang dipacari oleh Ardo adalah putri dari seorang Darma Dharmawan.


Tidak ada yang bisa menyangkal kebenaran dan kenyataan yang telah terpampang jelas di depan mata. Orang yang mereka cari selama ini, nyatanya adalah Gloria. Wanita yang tidak mendapatkan restu dari keluarga Anggara.


Lalu apa mau dikata, bila kenyataan kini berbanding terbalik. Restu belum jua terucap, sedangkan Ardo dan Gloria justru telah terlanjur menjalin kasih.


Namun status yang disandang Gloria, masihlah menjadi penghalang.


Lalu bagaimana tanggapan Opa Danu dan Dicko tentang kenyataan ini?


"Kenapa baru sekarang kamu memberitahu hal ini Bram? Aruna? Sejak kapan kalian tahu tentang ini?" tanya Dicko.


"Sejak sekarang. Baru beberapa saat lalu aku mengetahui hal ini. Kalau kalian tidak percaya, silahkan kalian tanyakan sendiri pada Loly," sahut Aruna.


"Tidak perlu. Walau bagaimanpun Ardo sudah bikin Papa kecewa." Opa Danu masih berada pada pendiriannya.


"Papa, tolong restui hubungan mereka," pinta Aruna memelas.


"Tidak!"


Aruna tersentak mendengar suara lantang Opa Danu. Yang jelas masih tak memberi restu.


Sementara Gloria semakin menunduk malu. Entah kemana ia harus menyembunyikan wajahnya. Ardo meraih pundak Gloria, mengelusnya lembut, sekedar memberinya kekuatan.


"Tidak akan Papa menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Jadi kenapa kita masih menunda-nunda waktu? Bukankah secepatnya mereka bersatu akan lebih baik?"


Ucapan Opa Danu yang tak terduga itu pun membuat semua orang tercengang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2