
Bab 92. Raja dan Ratu Sehari
Sudah merupakan hal yang lumrah bagi setiap pengantin merasakan debaran yang hebat manakala hari yang dinanti-nanti kini telah berada di depan mata.
Tidak terkecuali Ardo dan Gloria. Yang tengah berdebar-debar, kemudian gugup melanda. Di depan penghulu Ardo tengah diuji keberaniannya, ditantang jiwa lelakinya untuk bisa mengucapkan ijab kabul di depan banyak orang tanpa hambatan sedikitpun.
Dan bukan Richardo namanya bila nyalinya menciut ditengah tantangan. Dimana masa depannya akan dipertaruhkan.
Dalam sekali tarikan napas, ijab kabul pun terucap. Bebas tanpa hambatan, menghadirkan kelegaan dalam dada. Menerbitkan senyum bahagia di wajah semua orang.
Serangkaian prosesi tengah menunggu. Setelah ijab kabul, akan berlanjut ke resepsi pernikahan.
Di sebuah gedung pernikahan termegah, pesta pernikahan Richardo dan Gloria diselenggarakan meriah. Dihadiri oleh rekan, relasi, keluarga kedua belah pihak, teman dan sahabat, dewan direksi TRF, serta seluruh karyawan dan karyawati TRF tanpa terkecuali.
Diantaranya ada mantan rekan satu divisi Gloria dahulu. Mereka tak habis pikir, bahkan masih sulit mempercayai bila Gloria telah menjadi istri Richardo Anggara, atasan mereka.
Diantara mereka ada yang iri hati juga dengki. Pesta pernikahan yang diselenggarakan meriah di sebuah gedung termegah itu tentu saja akan membuat iri siapa saja yang melihatnya.
Terkecuali Reva. Yang justru merasa sangat bahagia bila sahabat satu-satunya telah dipertemukan dengan orang yang tepat. Yang akan mendampingi Gloria hingga menua nanti.
Dan diantara tamu-tamu undangan yang hadir, ada Ellena. Yang tengah mengobrol dengan Leona, teman serta sepupu Richardo. Pria yang ditaksir Ellena. Tetapi sayangnya, malah memilih sepupunya yang berstatus janda.
"Aku baru tahu loh, Ell, kalau Glori itu ternyata sepupu kamu. Sorry ya?" sesal Leona akan apa yang telah terjadi. Niat hatinya ingin menjodoh-jodohkan Ardo dengan Ellena. Namun ternyata, Ardo malah mencintai Gloria. Dan yang lebih mengejutkan adalah, bahwa Ardo ternyata telah dijodohkan sejak kecil dengan Gloria. Leona tentu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ellena mengulas senyum kecut. Penampilan memukaunya saat ini sayangnya tak mampu lagi memukau Ardo. Sebab Ardo telah menjadi milik orang.
"Oh ya, kamu mau tidak aku kenalkan dengan seseorang?" tawar Leona mengalihkan obrolan.
"Tidak! Tidak perlu repot-repot untukku!" Namun sayangnya, ditolak mentah-mentah oleh Ellena.
Leona meringis, merasa tak enak hati telah mengecewakan Ellena.
Ellena hendak beranjak saat tiba-tiba terdengar siulan genit seseorang dari depan, menghalangi jalannya. Ellena pun menarik kembali satu langkahnya.
__ADS_1
"Suit, suit, suit ... Mau ke mana Nona?" Dengan senyum dibuat semempesona mungkin, Donal datang menghampiri. Sepasang mata Elangnya memindai Ellena genit dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Sambil mulutnya berdecak kagum.
Pria kurus tinggi menjulang itu membuat Ellena meringis, memberi tatapan tak sukanya pada Donal. Yang tampil maksimal dengan tuksedo berwarna hitam. Penampilannya mirip sekali tukang sulap. Bukannya memukau Ellena, justru membuat Ellena eneg melihatnya.
Belum lagi rambut kribonya yang diberi pomade dan disisir rapi sampai padat. Ditambah lagi dengan kacamata tebal yang bertengger di hidung bangirnya. Sungguh membuat Ellena ngeri melihatnya.
"Teman Lu Leona?" tanya Donal tersenyum genit.
"Iya, Kak." Leona meringis. Sambil menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal.
"Cakep juga. Jadi ini nih, yang mau Lu kenalin?"
"Bu-" Belum sempat Leona menjawab, Ellena cepat menyelanya.
"Jadi si burung perkutut ini yang mau kamu kenalkan denganku?" Ellena menatap jijik Donal yang tersenyum-senyum kepadanya. Jika ditanya, sungguh ia tak tahan. Rasa-rasanya ia ingin muntah saat ini juga.
"Bu-buk-" Belum sempat Leona menuntaskan kalimatnya, Ellena telah lebih dulu meninggalkan tempat itu sambil berdecih.
"Cih, aku tidak sudi berkenalan dengan laki-laki seperti itu. Bukan tipeku!" Cepat Ellena membawa langkahnya meninggalkan Donal dan Leona. Dengan memasang mimik wajah jijik.
Sedangkan Leona tertawa-tawa garing melihat tingkah Donal yang kesal terhadap Ellena. Bukannya mendapat sambutan yang baik, Donal malah jadi bahan ejekan Ellena.
"Waaah ... Pengantinnya datang. Sahabatku memang sangat tampan. Iya kan Le?" puji Donal begitu netranya menangkap sepasang pengantin yang berjalan membelah para tamu undangan.
Sambil pengantin wanita menggamit mesra lengan pengantin pria, mereka melangkah perlahan di atas gelaran karpet merah dengan senyum menawan terukir di bibir.
Bak raja dan ratu sehari, Ardo dan Gloria menduduki singgasananya. Penampilan keduanya yang memukau, membuat semua pasang mata terpana.
Ardo dan Gloria memang sangat pantas bersanding di pelaminan. Selain karena mereka terlihat sangat serasi, tetapi juga karena perjalanan cinta mereka yang tidak mudah. Perjuangan keduanya dalam meraih restu pun akhirnya bermuara pada tempat yang seharusnya. Yaitu pelaminan.
Aura kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ardo dan Gloria itu pun menularkan aura yang sama kepada para tamu undangan. Yang tak henti berdecak kagum serta mengucap syukur akan terlaksananya pesta meriah ini tanpa hambatan sedikitpun.
Derai air mata bahagia membasahi wajah Aruna menyaksikan gagahnya Ardo berdiri di pelaminan dengan senyum mempesonanya. Serta betapa anggunnya Gloria yang terlihat bak bidadari jelita, berdiri mendampingi sang putra.
__ADS_1
Tak henti Aruna mengucap syukur, sebab sang putra telah dipertemukan dengan orang yang tepat. Yang akan menjadi teman hidupnya.
"Impianmu sudah menjadi kenyataan. Selamat ya?" ucap Dicko tersenyum bahagia, sembari meraih pundak Aruna. Melingkarkan lengannya serta mengelus lembut pundak sang istri.
"Seharusnya kamu kasih ucapan selamatnya buat Ardo dan Loly. Mereka sekarang sudah menjadi pasangan yang sah. Aku sangat bahagia. Makasih ya Sayang. Semua ini terjadi juga berkat kamu. Karena restu darimu, apa yang aku impikan kini menjadi kenyataan."
"Eits! Jangan lupakan aku. Semua ini bisa terwujud juga berkat diriku. Ada campur tanganku di dalammya." Bram datang menghampiri bersama Clara yang bergelayut mesra pada lengannya.
Paman dan bibi nya Ardo tersebut tampil tak kalah memukaunya dari Aruna dan Dicko.
Jangan lupakan Randa dan Sheila. Sahabat Dicko yang satu ini, yang juga merupakan kerabat terdekat Gloria, tak henti mengurai senyum bahagia. Karena pada akhirnya Gloria telah menemukan orang yang tepat menjadi pendamping hidupnya.
"Akhirnya kita menjadi besan ya? Padahal dahulu tidak pernah terpikirkan olehku," ucap Randa tersenyum bahagia. Namun tidak dengan Sheila. Wanita itu tersenyum getir. Sebab ada rasa iri melihat Gloria. Ardo yang dinilainya pantas bersanding dengan Ellena, malah menjatuhkan pilihan kepada Gloria.
"Tidak ada yang bisa melawan takdir. Semua ini sudah ditakdirkan Tuhan. Kita hanya harus mensyukurinya. Bukan begitu, Sayang?" ucap Dicko kemudian mengelus pundak Aruna.
Aruna tersenyum seraya mengangguk. "Untuk itu aku tidak pernah berhenti bersyukur. Tuhan sudah menyatukan putra dan putri kita dalam satu ikatan yang sakral. Jadi, tidak ada lagi yang membuatku khawatir. Justru sekarang aku sudah tidak sabar menanti hadirnya jagoan kecil kita," ucapnya sumringah dengan wajah berbinar-binar.
"Kalau soal yang satu itu, bukan hanya kamu saja Run. Kita semua ini bahkan sudah tidak sabar menunggu. Iya kan, Sayang?" Clara menimpali.
"Itu artinya kita ini menjadi kakek dan nenek dong. Apa kita sudah setua itu sekarang?" kelakar Bram. Yang mengundang gelak tawa bahagia mereka.
Sementara di seberang, Opa Danu tengah sibuk berbincang dengan relasi-relasinya. Tak henti pria tua itu membanggakan sang cucu serta cucu menantunya pada relasinya.
Seperti itulah potret kebahagiaan di pesta pernikahan Richardo dan Gloria. Yang menularkan aura positif kepada semua orang.
...
Serangkaian prosesi yang mereka lalui itu membuat Gloria lelah. Beruntung ia memiliki ibu mertua seperti Aruna. Yang memperhatikan kondisinya setiap saat. Melayani kebutuhannya setiap ia memerlukan. Sebab kondisinya yang tengah berbadan dua itu membutuhkan perhatian ekstra.
Gloria hendak meraih retsleting di balik punggung. Hendak membukanya saat tiba-tiba sebuah sentuhan terasa di pundaknya. Disertai bisikan sensual di telinganya terdengar.
"Mau aku bantu membukanya, Sayang?"
__ADS_1
Bersambung