
Bab 46. Perhatian Bary
"Begitu kita pulang nanti, aku mau, secepatnya kamu mengurus perpisahan mu dengannya," ucap Ardo.
Gloria terkejut. Sungguh terkejut. Ardo memintanya melakukan hal yang mustahil ia lakukan. Menggugat cerai Bary? Akankah semudah itu baginya?
Lalu, yang ia bayangkan adalah bagaimana reaksi Bary nantinya bila ia mengutarakan hal ini?
Oh, sudah pasti, reaksi Bary di luar ekspektasinya nanti. Bukan hanya menjadi singa lapar lagi, Bary mungkin akan berubah menjadi singa buas yang haus akan darah. Dan sudah barang tentu, dirinya lah yang akan menjadi korbannya.
Mengerikan!
Tidak!
Tidak mungkin ia membiarkan hal itu terjadi kepadanya.
Bukan hanya mengkhawatirkan dirinya seorang saja, ia pun khawatir, bahkan takut bila terjadi sesuatu terhadap Ardo. Pria yang kini telah mengisi kekosongan hatinya. Lebih tepatnya, pria yang ia cintai.
"Tidak perlu mencemaskan hal-hal yang belum terjadi. Percayalah kepadaku, apapun yang akan terjadi nanti, aku akan selalu ada di sampingmu. Akulah orang pertama yang akan melindungimu," ucap Ardo meyakinkan Gloria. Bahwa Gloria tidak sendiri.
Namun tetap saja, terlalu banyak hal yang membuatnya cemas. Salah satunya adalah, keluarga Ardo. Yang tidak akan mungkin mau menerima wanita seperti dirinya menjadi pendamping hidup Ardo. Yang bibit, bebet, dan bobotnya jelas.
Tidak seperti dirinya. Wanita yatim piatu, berkekurangan, bahkan telah berstatus istri orang. Dan jika ia berpisah dari Bary nanti, otomatis statusnya akan menjadi janda. Sebuah status yang mengundang banyak gunjingan orang. Bahkan status itu terlalu dipandang hina dalam masyarakat.
"Tapi, aku tidak yakin, akan semudah itu berpisah dari Bary."
"Kalau begitu, kenapa kita tidak jujur saja tentang hubungan kita?"
Sumpah ya, kira-kira manusia seperti Ardo itu terbuat dari apa? Mengapa pria itu tidak ada takut-takutnya sama sekali?
"Kamu gila ya?" Gloria membeliak tak percaya.
"Aku gila gara-gara kamu, Glori. Jadi aku butuh pertanggungjawaban mu." Dalam situasi seperti ini, Ardo malah bergurau.
"Tanggung jawab seperti apa?" Bukannya Glori menanggapi gurauan Ardo. Namun, bila tidak diladeni, pria itu malah akan semakin menjadi.
"Serahkan dirimu kepadaku seutuhnya. Karena hanya kamu yang bisa membuatku menjadi pria yang sempurna."
Tuh kan? Dan Gloria hanya tersenyum. Ardo ini memang paling pandai merayu. Dan sejenak, ia melupakan topik pembahasan mereka saat ini. Yaitu, merencanakan perpisahan dengan Bary.
Ardo membawa sebuah kotak beludru berwarna hitam ke depan wajah Gloria. Sebuah kotak yang berisikan gelang yang indah.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Gloria memandangi kotak tersebut.
"Hadiah dariku untukmu." Ardo hendak membuka kotak itu, saat tiba-tiba terdengar suara Leni yang memanggil-manggil Gloria.
Sontak, mereka gelagapan. Lalu cepat beranjak dari duduknya masing-masing. Berbahaya bila Leni melihat mereka berduaan di ruang tamu seperti ini.
"Sedang apa kalian di ruang tamu?" tanya Leni bingung begitu melihat Ardo dan Gloria datang dari arah ruang tamu.
"Aku hanya ingin mencari udara segar. Eh, malah bertemu Glori di ruang tamu," kilah Ardo cepat agar Leni tidak menaruh curiga.
"Iya. Aku sedang menerima telepon di ruang tamu," tambah Gloria. Kemudian bergegas menuju kamar Leni, meninggalkan Ardo yang terus memandangi punggungnya sampai menghilang dibalik daun pintu kamar yang menutup.
"Ya sudah, Kak. Aku juga mau istirahat. Capek. Selamat malam Kak Ardo." Leni menyusul Gloria.
Ardo hanya bisa membuang napas pelan. Kali ini ia gagal memberikan hadiah untuk Gloria. Mungkin nanti, setelah mereka kembali ke kota asal esok hari. Masih ada hari lain untuk ia bisa memberikan kejutan kepada Gloria.
________
Tiga hari berada di luar kota menjadi tiga hari yang paling mengesankan bagi Ardo. Sebab usahanya dalam tiga hari itu membuahkan hasil yang memuaskan. Sungguh pencapaian yang luar biasa serta di luar ekspektasinya.
Sebelumnya ia mengira, terlalu sulit meluluhkan hati Gloria. Bahkan semula ia berpikir, dengan Gloria mau membuka hati untuknya saja, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Namun, sungguh tak disangka. Bukan hanya berhasil meluluhkan hati Gloria, ia bahkan berhasil menaklukkan wanita itu. Lebih tepatnya, berhasil menidurinya.
Sebuah fakta dan kesimpulan baru ia dapatkan dari tiga hari itu, yaitu, bahwa Gloria tidak berbeda dari wanita kebanyakan. Yang pernah ia gauli sebelumnya. Tidak terkecuali Gloria, yang begitu mudahnya luluh oleh bujuk rayu lelaki.
Ardo pulang ke rumahnya dengan hati riang gembira. Gembira karena telah berhasil menjawab tantangan Leona. Yang artinya, tiga hari lagi, dimulai dari sekarang, Leona harus mengenakan kostum Mickey Mouse di hari ulang tahunnya nanti. Ia sudah tak sabar menanti hari itu tiba.
______
Bertolak dari bandara, Gloria tiba di rumahnya pukul 11.30. Begitu sampai di rumah, ia malah disambut oleh bunyi pisau yang beradu dengan papan talenan. Bersamaan dengan aroma khas yang menyeruak dari dapur mencuri indera penciumannya.
Ia lantas menyimpan koper di dalam kamarnya. Lalu membawa langkahnya pelan menuju dapur. Dimana sebuah pemandangan super duper langka tersaji di depan matanya cuma-cuma.
Tak ingin percaya, tetapi itulah yang tampak di matanya saat ini. Yaitu, Bary sedang memasak. Entah untuk siapa. Bukankah itu adalah pemandangan yang langka?
Cukup lama ia tertegun memandangi Bary yang terlihat maskulin dengan celemek hitam yang dikenakannya. Meski hanya bisa melihatnya dari arah samping, namun tampilan Bary yang tak biasa itu cukup membuatnya terlihat mempesona.
Mungkin di mata wanita lain. Namun tidak di matanya. Sebab baginya, Ardo lah yang paling mempesona.
"Kamu sudah sampai?"
__ADS_1
Pertanyaan Bary pun membuatnya tersentak. Pria itu melepas celemek, menggantungnya kembali pada tempatnya, lalu datang menghampirinya. Sembari mengulas senyum manisnya.
Tidak seperti saat didekati Ardo, didekati Bary itu rasanya seperti didekati oleh seekor singa kelaparan. Yang melihatnya laksana seekor anak domba yang siap jadi santapannya.
Merinding, sekaligus mengerikan. Seperti itulah perasaannya saat ini.
"Kenapa tidak mengabariku begitu kamu tiba di bandara. Kan aku bisa menjemputmu?" ucap Bary sambil tersenyum.
Sungguh, ini adalah pemandangan yang sangat langka baginya. Sebelumnya, Bary tidak pernah bersikap seperti ini terhadapnya. Perubahan sikap Bary kali ini, bukannya membuatnya senang, ia justru semakin cemas tak karuan. Sebab mungkin, hal itu adalah salah satu trik Bary untuk menjeratnya, lalu mendorongnya ke jurang nista. Lalu pada akhirnya, kembali menjadikannya seorang wanita bayaran. Pemuas naf su para lelaki bejat berkantong tebal.
"Oh ya, apa kamu sudah makan?" tanya Bary lembut.
Gloria menggeleng. "Belum." Namun hati was-was.
"Kalau begitu, ayo kita makan sama-sama. Aku sudah memasak untukmu. Semoga saja sesuai dengan seleramu."
"Kenapa kamu melakukan ini?" Sungguh, Gloria sangat penasaran dengan perubahan Bary yang baginya terkesan mendadak. Bahkan perubahan Bary ini sangat drastis.
"Salah jika aku memberikan perhatian kepada istriku?" Wajah tersenyum Bary berubah sendu.
"I-istri?" Gloria hanya bisa menelan ludahnya sepat. Jantungnya bahkan hampir copot lantaran takut.
"Iya. Kamu adalah istriku. Mulai sekarang, aku ingin pernikahan kita menjadi pernikahan yang seharusnya. Mulai sekarang, aku akan menjadi suamimu. Aku akan memberikan hak mu sebagai istri. Dan aku akan memenuhi kewajibanku sebagai suami."
"Ma-maksudnya?" Ia berpura-pura tidak mengerti maksud Bary.
"Mulai sekarang, aku akan belajar mencintaimu Glori. Aku berharap, kamu pun melakukan hal yang sama. Mari kita sama-sama belajar. Belajar untuk saling mencintai."
Apakah ini mimpi?
Tolong bangunkan Gloria dari mimpi ini.
Apa gerangan yang membuat Bary berubah seperti ini?
Cinta?
Benarkah karena cinta?
Lalu bagaimana dengan cintanya terhadap Ardo?
Bisakah ia mengutarakan niatnya untuk berpisah dari Bary, bila Bary telah merubah sikapnya seperi ini?
__ADS_1
Bersambung