Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 63. Amarah Dicko


__ADS_3

Bab 63. Amarah Dicko


Malam hari di kediaman Dicko Adiguna Anggara.


Ardo tengah mencatut diri di depan cermin. Merapikan rambut menggunakan pomade, merapikan setelan semi formalnya kemudian. Ia telah siap untuk menghadiri sekaligus menyambut tamu undangan pesta ulang tahunnya.


Ia tengah tersenyum menatap pantulan dirinya yang terlihat tampan paripurna saat Dicko masuk ke kamarnya dan menghampiri.


"Ardo, Papa mau bicara sebentar," ucap Dicko menghunus tatapan tajamnya. Kasus salah kamar di hotel beberapa jam lalu masih menyisakan tanya dan kemarahan baginya. Sehingga membuatnya tak bisa membiarkan sang putra berbuat semaunya. Membawa kabur istri orang bukankah merupakan perbuatan yang tak bermoral?


Ardo bersikap acuh tak acuh. Enggan meladeni ayahnya. Ia malah mengambil langkah hendak menjauh.


Baru beberapa jam lalu Ardo mengetahui bila sang ayah ternyata mengawasinya. Saat ia hendak keluar untuk membeli keperluan Gloria. Tanpa sengaja ia melihat Andre, asisten ayahnya tengah berbicara dengan resepsionis. Sehingga mengurungkan langkahnya, lalu memperhatikan gelagat Andre dari balik dinding.


Ia lantas mulai menduga-duga, mengira-ngira maksud kedatangan Andre ke hotel yang sama. Ia tak ingin mencurigai, namun hati kecilnya berkata lain. Sehingga timbul ide untuk cek out dari kamar sebelumnya, lalu berpindah kamar. Kemudian ia berpesan kepada resepsionis untuk tidak memberitahu siapapun di kamar mana ia berada.


"Maaf, Pa. Aku sedang buru-buru. Ini adalah malam yang spesial untukku. Mungkin tamu undangan sudah banyak yang berdatangan." Ada sedikit kekecewaan Ardo atas sikap sang ayah. Yang secara diam-diam memata-matainya. Membuatnya jadi tak leluasa beraktifitas. Sebab gerak-geriknya senantiasa di awasi.


"Ardo, dengarkan Papa dulu." Dicko mulai mendesak lantaran Ardo tak mengindahkan. Ardo kembali membawa langkahnya hendak keluar kamar. Namun langkahnya terhenti begitu Aruna datang.


"Ardo, kamu sudah siap, Nak? Aunty Clara baru saja menelepon Mama. Katanya tamu undangan sudah mulai berdatangan. Ayo Sayang, nanti kamu telat." Aruna menggandeng lengan Ardo. Mengajaknya keluar kamar.


Pesta ulang tahun Ardo diadakan di sebuah restoran berbintang. Yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah. Sehingga Aruna mengajak Ardo bergegas menuju tempat terlaksana pesta ulang tahunnya.


"Aruna, tunggu sebentar!" seru Dicko bernada suara meninggi. Sehingga otomatis menghentikan langkah Aruna karena keterkejutannya mendengar seruan tak biasa Dicko. Yang semula selalu bernada lembut kepadanya, kini suara itu terdengar nyaring bagai kilat menyambar-nyambar. Membuatnya terpaku dengan segala tanya.


Dicko melangkah menghampiri.


"Apa kamu tahu apa yang baru saja dilakukan putra kesayanganmu itu?" ucap Dicko dengan amarah tak tertahankan begitu berhadapan dengan Aruna dan Ardo. Yang terlihat enggan menatapnya.


Ardo sudah bisa menebak penyebab kemarahan Dicko. Sebab Andre merupakan asisten setia, yang selalu memberi informasi akurat kepada sang ayah. Dan sudah barang tentu, hubungannya dengan Gloria telah terendus.

__ADS_1


"Kelakuan putramu itu sudah terlewat batas. Dia sudah tidak menghormati lagi aturan-aturan dalam keluarga kita," sambung Dicko menghunus tatapan tajam menikam kepada Ardo. Yang berpaling muka enggan menatap ayahnya.


"Sayang apa maksud kamu? Tolonglah, ini malam yang spesial untuk Ardo. Kalau memang ada yang perlu dibicarakan, nanti setelah acara malam ini selesai," ucap Aruna cukup terkejut melihat amarah yang tiba-tiba mencuat. Sebab tak biasanya Dicko terlihat semarah ini.


"Kamu tahu tidak seperti apa kelakuannya sekarang? Jauh lebih parah dari apa yang sering dia lakukan sewaktu dia tinggal di Amerika."


Ardo masih membisu. Tak ingin menanggapi amarah ayahnya.


"Sayang, tolonglah. Jangan sekarang. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sudah beberapa kali kita sering melewatkan hari seperti ini. Jadi tolong, kita bicarakan nanti saja ya?" Aruna masih berusaha membujuk. Sebetulnya ia juga sudah mengetahui soal hubungan asmara sang putra dengan wanita yang sudah berstatus istri orang.


Akan tetapi, mengingat hari ini adalah hari ulang tahun sang putra, ia pun membendung sejenak segala kegelisahan yang membuatnya tak tenang. Ia masih berusaha menaruh kepercayaan terhadap sang putra. Bila sang putra kesayangan tidak akan berbuat melebihi batas.


"Kasih tahu Papa, di mana kamu sembunyikan perempuan itu?" tanya Dicko menggulir tatapan tajam kepada Ardo.


Ardo mendesah, masih enggan membalas tatapan Dicko.


Sedangkan Aruna terkejut mendengar pertanyaan Dicko. Setahunya, wanita yang bernama Gloria itu telah memenuhi permintaannya untuk menjauhi dan meninggalkan Ardo. Yang berarti pula bahwa hubungan mereka telah berakhir.


Ia tahu persis, hal yang dilakukan Ardo akan mengundang kemurkaan berbagai pihak. Terlebih dari pihak suami Gloria. Yang tidak akan terima dengan pengkhianatan istrinya.


Hal serupa pernah terjadi kepadanya. Yang menimbulkan keributan, menciptakan perpecahan, hingga akhirnya berujung dengan perpisahan. Sebuah perpisahan yang menyisakan luka dan kepedihan yang mendalam.


Ia hanya tak ingin, putra satu-satunya menjadi penyebab petaka bagi orang lain.


"Ardo. Jawab pertanyaan Papa." Dicko menyentak dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Membuat darahnya mendidih hingga kepala serasa mau pecah.


Ardo pun akhirnya memberanikan diri menatap ayahnya. Yang telah dirasuki amarah, menatapnya tajam setajam hunusan tombak yang mampu menembus jantung.


"Aku tidak menyembunyikannya. Tapi aku menyelamatkannya." Meski Ardo pun mulai terpancing emosi, namun ia masih berusaha bersikap tenang. Walau bagaimanapun yang sedang ia hadapi adalah orang yang paling ia hormati.


"Jadi benar? Kamu masih berhubungan dengan perempuan itu?" Aruna menatap kecewa bercampur sedih. Rupanya sang putra telah melangkah jauh. Bahkan berani menyembunyikan istri orang.

__ADS_1


"Menyelamatkan katamu? Apakah membawa kabur dan menyembunyikan istri orang itu termasuk menyelamatkan? Menyelamatkan dari apa? Dari kelakuan burukmu itu? Ardo, tolong jangan bikin malu keluarga. Opa mu akan sangat marah bila mengetahui hal ini.


Jika Papa tahu kelakuan kamu masih belum berubah, lebih baik Papa jodohkan saja kamu dengan perempuan pilihan Papa. Itu jauh lebih baik daripada kamu menjalin hubungan dengan istri orang." Dicko berang berapi-api. Sungguh kelakuan sang putra tak bisa ia terima. Ia tak ingin kesalahannya di masa lampau terulang kembali melalui sang putra. Ia sudah tahu persis seperti apa resiko yang akan dihadapi sang putra kelak.


Aruna membekap mulut tak percaya dengan kenyataan yang ia hadapi. Rupanya ia telah keliru dengan menaruh kepercayaan terhadap Ardo. Walaupun ia tahu Ardo telah melakukan kesalahan. Melanggar nilai-nilai serta prinsip dalam keluarga yang telah Dicko terapkan semenjak dahulu kala. Bahkan jauh sebelum Ardo lahir ke dunia.


"Salah jika aku melakukan ini? Kalian tidak tahu seperti apa kehidupan rumah tangganya. Sedikitpun dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Apakah salah jika aku ingin membahagiakannya?"


"Salah. Apa yang kamu lakukan ini sangat salah. Di luar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik yang bisa kamu dapatkan. Kenapa harus dia? Apa kamu mau merusak rumah tangga orang lain? Sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ardo.


Papa memang memberi kamu kebebasan dalam memilih. Tapi bukan berarti kamu bebas mengencani istri orang. Jangan pernah berharap Papa mau merestui hubungan kalian. Karena sampai kapanpun, itu tidak akan pernah terjadi."


"Tapi aku mencintainya. Suka tidak suka, Papa dan Mama harus memberiku restu." Ardo tak ingin mengalah. Dan tak ingin mundur dari langkah yang ia ambil. Yang telah terlampau jauh melebihi batas yang ia patok sebelumnya.


Ini bukan lagi sekedar menjawab tantangan. Namun ia dihadapkan pada tantangan yang sesungguhnya. Ia akui, memperoleh restu untuk hubungan terlarangnya itu tidak mudah. Terlalu terjal jalan yang harus ia daki. Terlalu banyak aral melintang yang harus ia lewati.


Namun tekadnya sudah bulat, ingin memperjuangkan cintanya.


"Jangan pernah bermimpi, Ardo. Mimpimu itu tidak akan pernah menjadi kenyataan."


"Akan aku buktikan pada kalian, apa yang aku lakukan ini tidak salah. Kami saling mencintai. Dan aku tidak peduli apa kata orang, bahkan apa kata dunia. Aku akan tetap memperjuangkan cintaku." Ardo masih tak mau mengalah. Tekadnya malah semakin kuat. Menguatkan hati dan cintanya. Yang terlalu dinilai salah oleh banyak orang.


"Kami tidak perlu bukti. Karena apapun yang kamu lakukan itu salah."


"Oh ya?" Ardo menyeringai menatap ayahnya.


"Lalu apakah yang Papa lakukan dulu itu juga tidak salah? Papa pikir aku tidak tahu perbuatan Papa dahulu yang merebut Mama dari Uncle Bram?"


"Ardo!" sentak Bram yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu menatap Ardo tajam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2