
Bab 80. Panggil Aku Mama
Beberapa saat sebelumnya.
"Asal kamu tahu, aku sangat bahagia, Glori. Sangat, sangat bahagia. Hadirnya anak itu, yang berarti bahwa Tuhan memberi kita peluang untuk bisa bersama. Hm?" sambung Ardo dengan luapan perasaan bahagianya.
Senyuman manis pun terukir di bibir Gloria. Yang disambut dengan kecupan hangat berlabuh di keningnya.
"Aku pikir kamu tidak akan percaya dan tidak akan mau mengakui anak ini. Maaf, aku sudah meragukanmu," ucap Gloria begitu Ardo menyudahi kecupan. Perasaan yang semula mengganjal, membuatnya berprasangka buruk itu pun akhirnya tercurah. Memberinya kelegaan.
"Asal kamu tahu, Glori. Justru aku percaya padamu bila kamu tidak akan berbohong padaku. Aku percaya, buah cinta kita sedang tumbuh di dalam sana." Sembari mengulurkan tangan, meraih perut Gloria, mengusapnya lembut.
"Dia yang akan menjadi jalan untuk kita bersatu. Tuhan menitipkannya, agar kita berdua merawat juga menyayanginya kelak saat dia lahir nanti. Kita akan merawatnya bersama sebagai ayah dan ibunya," sambung Ardo mencondongkan tubuh, lebih merapatkan diri. Jemari kanannya telah meraih wajah Gloria, mengusapnya lembut. Kemudian menelusup perlahan diantara helaian rambut, meraih tengkuk Gloria dan mulai menekannya perlahan-lahan.
Ucapan manis Ardo terdengar hangat menyentuh hatinya. Gloria sungguh terharu juga bahagia. Respon Ardo terhadap kehamilannya ternyata jauh dari dugaannya. Yang semula ragu, bahkan yakin bila Ardo tidak akan mau mengakui anak yang sedang ia kandung.
Bukan tanpa alasan Gloria meragu. Sebab ia bukan lah wanita single yang dikencani Ardo. Ia adalah wanita yang telah bersuami, yang sedang menjalin hubungan gelap dengan Ardo. Wajar bila ia berprasangka bila Ardo tidak akan mau mengakui anak yang sedang ia kandung.
"Aku mencintaimu, Ardo," lirih Gloria dengan sepenuh hati. Mengungkap perasaan syahdu yang membuatnya berdebar-debar.
Untuk pertamakalinya kalimat itu terucap dari bibir Gloria. Membuat Ardo tertegun sesaat. Namun kemudian melabuhkan kecupan di bibir manis Gloria.
Bukan kecupan singkat, melainkan kecupan yang berbalas lembut. Saling menyesap, mencerup dalam, saling mencurahkan kasih dan perasaan di jiwa.
"Terimakasih karena kamu sudah menjaganya dengan baik, Sayang," ucap Ardo tersenyum lembut begitu menyudahi kecupan.
Gloria malah tertawa mendengar panggilan baru Ardo untuknya. "Apaan sih? Manggil-manggil sayang, kedengarannya malah aneh tau." Mengerucutkan bibir, Gloria sebetulnya senang mendengarnya. Hanya saja ia malu, dan hanya bisa menutupi rasa malunya dengan sikap setengah memprotes.
"Makanya harus dibiasakan mulai dari sekarang. Nanti kalau kita sudah menjadi suami istri, tidak akan terasa kaku lagi."
Baru digombali seperti itu saja wajah Gloria telah bersemu merah. Semburat malu sangat jelas tergambar dari wajahnya.
"Oh ya, kamu mau tidak menemaniku ke suatu tempat. Aku sudah lama tidak ke sana. Sekalian aku ingin memperkenalkan kamu sebagai calon pasangan hidupku," pinta Gloria.
"Ke mana?"
"Ke suatu tempat dimana kedua orangtuaku tinggal selama ini."
__ADS_1
Ardo sudah menduga tempat yang ingin didatangi Gloria adalah makam kedua orangtuanya. Namun yang tidak Ardo duga sebelumnya bila makam tersebut adalah makam Darma Dharmawan serta istrinya, Maharani Ayu.
"Glori?"
"Iya?"
"Siapa kamu sebenarnya?"
Gloria terdiam sejenak mendengar pertanyaan Ardo. Gloria hendak menjawab pertanyaan tersebut saat tiba-tiba terdengar suara lembut seorang wanita memanggil namanya.
"Loly?"
Sontak Gloria menoleh, memandangi seorang wanita paruh baya cantik, yang perlahan datang menghampiri.
Aruna.
Perasaan cemas membuat Aruna berinisiatif membuntuti Ardo diam-diam. Berkali-kali Ardo mereject panggilannya, membuatnya gerah juga geram. Sehingga tanpa sepengetahuan Ardo, ia membuntuti ke mana mobil Ardo pergi.
Ketika mobil Ardo berhenti di tempat pemakaman umum, hati Aruna diliputi kecemasan juga tanya.
Aruna terus membuntuti dari belakang. Dengan jelas kedua matanya menyaksikan saat Gloria bersimpuh diantara dua makam, melangitkan doa untuk kedua orang tuanya. Kemudian menaruh buket bunga di kedua makam tersebut. Yang telah dibeli Gloria sewaktu dalam perjalanan.
Aruna terhenyak juga terkejut begitu menyadari bila makam yang ada di hadapan Gloria adalah makam Darma dan Rani. Sepasang suami istri, mantan relasi serta sahabat suaminya.
Namun yang lebih mengejutkannya adalah, wanita yang bersimpuh di depan makam tersebut adalah wanita yang telah ia minta agar menjauhi putranya. Wanita yang dinilainya tak pantas mendampingi putranya.
Akan tetapi kenyataannya, wanita tersebut adalah wanita yang belakangan ini sangat dirindukannya. Bukan hanya rindu, ia bahkan telah menganggap Gloria seperti anaknya sendiri. Sebab pertalian batin yang sempat tertaut sewaktu Gloria masih bayi.
"Loly? Ka-kamu Loly?" tanya Aruna bergetar begitu berada dekat dengan Gloria. Perasaan haru mendadak menyeruak, serta mata mulai berkaca-kaca. Ada penyesalan dalam dada, mengapa ia mengabaikan kata hati kecilnya.
Bukan hanya Gloria, bahkan Ardo terkejut melihat kedatangan Aruna ke makam tersebut.
"Mama ngapain ke sini?" tanya Ardo.
"Mama mengikuti kalian karena Mama cemas," sahut Aruna tanpa berpaling muka dari Gloria.
Sementara Gloria, ia merasa heran mengapa Aruna memanggilnya Loly. Dari manakah Aruna mengetahui nama panggilannya sewaktu kecil dulu?
__ADS_1
"Tolong jawab pertanyaan saya. Siapa Darma dan Rani bagimu?" tanya Aruna beralih kepada Gloria.
"Mereka adalah ayah dan ibu saya, Tante."
Serasa ia tak bisa bernapas lagi saat ini begitu mendengar jawaban Gloria. Aruna hanya bisa menyesali mengapa ia tak mengenali gadis kecil yang sempat mencuri hatinya dahulu.
"Berarti kamu Loly?" Sungguh Aruna teramat sangat penasaran tentang kebenaran jati diri Gloria. Wajahnya berseri-seri tatkala Gloria mengukir senyum di wajahnya.
Gloria mengangguk dengan wajah tersenyum. "Iya, Tante. Saya Loly."
Sontak Aruna membekap mulutnya tak percaya. Sungguh ia sangat terkejut. Hingga perasaan haru kian menyeruak, membuat mata berkaca-kaca. Lalu pada akhirnya, air mata yang terbendung itu pun jatuh berderai.
Refleks, terdorong oleh perasaan haru, cepat Aruna meraih Gloria. Membawanya ke dalam pelukan eratnya. Sambil ia menangis tersedu-sedu.
"Maafkan Mama ya sayang. Maafkan Mama yang tidak mengenalimu. Mama sangat merindukanmu, Loly," ucap Aruna mencurahkan segenap perasaan di jiwa. Yang membuatnya terharu, bahkan bahagia disaat yang bersamaan.
Gloria terkejut, lalu hati bertanya-tanya kala menerima perlakuan demikian dari seorang wanita yang sebelumnya pernah memintanya untuk menjauhi Ardo. Kini wanita itu memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu.
Sama halnya dengan Ardo. Yang bahkan lebih dari terkejut saat melihat ibundanya memeluk Gloria sambil menangis. Bahkan yang lebih mengejutkannya adalah, ibundanya menyebut dirinya mama bagi Gloria.
Melepas pelukan, sembari menyeka air matanya, Aruna memindai Gloria dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan mata berbinar-binar.
"Mama sungguh tidak menyangka, orang yang selama ini Mama rindukan, ternyata sudah berada di depan mata."
Gloria malah mengerutkan dahi. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa gerangan hubungannya dahulu dengan Aruna.
"Ma-maaf, Tante. Saya sungguh tidak mengerti. Sa..."
"Panggil Mama. Mulai sekarang, kamu harus memanggil saya, Mama." Aruna menyela cepat ucapan Gloria. Hingga Gloria hanya bisa tertegun dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Kamu Loly nya Mama. Loly kecil Mama. Kamu mungkin lupa dengan Mama. Tapi Mama tidak pernah melupakanmu," tambah Aruna semakin berbinar-binar.
Hingga sukses menjatuhkan bulir-bulir air mata yang menggenang di pelupuk mata dan membasahi wajah ayu Gloria.
"Mama?" gumam Gloria penuh haru.
Bersambung
__ADS_1