Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 60. Menahan Godaan


__ADS_3

Bab 60. Menahan Godaan


Menunggu berjam-jam tak membuahkan hasil, Ellena memutuskan pulang. Yang sedang ia tunggu-tunggu sedari tadi tak jua menampakkan batang hidungnya. Sampai membuatnya resah hingga kesal.


Yang lebih kesal lagi adalah sang ayah, Dicko. Mendengar apa yang diinformasikan Andre, yang sempat membuntuti Ardo. Membuat Dicko geram, setengah mati menahan amarah yang mulai merasuk.


Padahal jauh sebelumnya Dicko pernah menasihati sang putra agar lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan.


"Mereka masih berada di hotel sejak pagi tadi," tutur Andre memberi informasi tentang Ardo.


"Jadi itu alasannya kenapa dia belum sampai juga di kantor." Gurat amarah mulai kentara dari rahang Dicko yang mengetat. Ia menyayangkan kelakuan sang putra yang belum juga berubah walaupun sudah berkali-kali ia menasehati. Kesalahannya adalah belum pernah ia bertindak keras terhadap sang putra. Ketegasannya seringkali diabaikan. Ia pun tak ingin menyalahkan Aruna yang terlalu memanjakan sang putra.


"Kamu sudah mencoba menghubunginya?" tanya Dicko kemudian.


"Sudah, Pak. Tapi handphone Pak Ardo tidak aktif."


"Di hotel mana mereka sekarang?"


.........


"Kamu lebih mirip boneka panda kalau seperti ini," kelakar Ardo sambil mengolesi salep pada lebam di wajah Gloria. Lebam di area mata membuat Ardo menyamakan Gloria seperti boneka panda. Ia tersenyum-senyum mengingat bagaimana rupa boneka panda dengan bulatan hitam besar di sekitar mata. Seperti itulah penampakan Gloria saat ini.


Candaan Ardo itu pun membuat Gloria cemberut. Namun sukses menghiburnya. Sebab untuk pertamakalinya suasana seolah mencair. Tak ada ketegangan berlebih di dalamnya. Meski sesungguhnya Bary masih menjadi sumber kekhawatiran nomor satu.


"Ish ... tidak lucu, tau. Gimana aku datang ke pesta ulang tahunmu kalau wajahku seperti ini," sungut Gloria berwajah sebal nan manja.


"Soal itu kamu tidak perlu khawatir. Serahkan semuanya padaku. Dan Cinderella yang buruk rupa ini akan berubah menjadi Cinderella yang paling cantik dengan caraku." Mungkin Gloria lupa bila di jaman seperti sekarang ini banyak teknik yang bisa digunakan untuk menutupi noda di wajah. Salah satunya adalah dengan menggunakan riasan make up. Dan Ardo sudah meminta bantuan Nindi, pacar Brian. Nindi adalah seorang MUA profesional, yang jasanya sering digunakan oleh kalangan-kalangan artis tertentu.


"Memangnya kamu bisa sulap?" canda Gloria tersenyum menatap Ardo.


"Oh bisa dong. Apa sih yang tidak bagi seorang Richardo. Jangankan sulap, aku bahkan bisa membuatmu ..." Namun kalimat Ardo menggantung di udara begitu ia menurunkan pandangan. Memandangi area sekitar wilayah da da yang membuatnya harus menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Rupa-rupanya Gloria telah salah mengira. Suasana yang ia pikir tak ada ketegangan, mencair seperti lelehan es, berubah menjadi suasana panas bagai berdiri dibawah teriknya mentarai.


Awalnya Ardo hanya ingin mengobati lebam dan luka-luka kecil di bagian tubuh Gloria. Akan tetapi, meski tubuh itu tak semulus biasanya, namun masih memiliki daya pikatnya tersendiri. Yang mampu membuat haarat di jiwanya mulai bergejolak.


Tubuh bagian atas Gloria yang terbuka di depan matanya dan hanya menyisakan si kain hitam berenda itu membuat Ardo harus setengah mati menahan pergolakan batinnya. Antara mengobati dan menyerbu, lalu menerkam. Sungguh sebuah perjuangan yang hebat dalam menundukkan ego di tengah godaan yang kian merayu.


Tangan Ardo bahkan sampai gemetar begitu mengolesi salep pada bagian da da Gloria. Padahal ini bukan yang pertamakalinya Ardo menyentuh bagian itu.


Mendadak suasana pun terasa canggung. Bagi Ardo, entah bagi Gloria. Sebab perang batinnya antara membiarkan dan menerkam membuatnya gelisah tak menentu. Jiwa lelakinya telah terusik, namun tak bisa ia bertindak seenaknya. Walaupun mangsa telah tersaji di depan mata.


Kondisi si mangsa yang membuat Ardo setengah mati harus menahan keinginannya. Padahal api asmaranya telah berkobar membakar jiwanya yang dahaga. Niat yang sempat terbersit ingin menerkam di setiap keadaan pun harus urung lantaran kondisi Gloria yang memilukan hati.


"Membuatku apa?" tanya Gloria polos. Sebab memang ia tak tahu maksud kalimat Ardo. Yang sesungguhnya akan terdengar usil bahkan mungkin ca bul bila diteruskan.


'Membuatmu lupa akan duniamu. Aku akan membawamu terbang melayang bersamaku, Glori.' Ardo hanya bisa membatin menyuarakan keinginannya saat ini. Yang sayang harus terbendung oleh keadaan.


"Ada apa?" tanya Glori melihat Ardo tiba-tiba terdiam memandangi da danya.


Ardo menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Lalu menoleh sejenak. Demi menghalau segala macam pikiran jahat yang mulai datang mengganggu.


Sungguh pria mana yang bisa menahan diri dalam situasi dan kondisi seperti saat ini?


Oh my God!


Ardo mati-matian menahan gejolak hasratnya. Susah payah menundukkan egonya. Bila saja kondisi Gloria tidak seperti ini, mungkin saja ia sudah menerkamnya sedari tadi.


"Kamu kenapa?" tanya Gloria lagi sebab tak ada sahutan dari Ardo atas pertanyaan sebelumnya.


"Sebaiknya kamu istirahat. Aku harus menelepon seseorang." Setelah melabuhkan satu kecupan hangat di kening Gloria, menyelimuti Gloria, Ardo kemudian turun dari tempat tidur menuju sofa. Ia mendudukkan diri sembari meraih ponsel yang tergeletak di meja sofa itu.


..........

__ADS_1


Sebab urusan yang tak bisa ditunda sehingga Bary mengijinkan Gloria pergi seorang diri ke kantor. Dengan alasan ingin menyerahkan surat pengunduran diri.


Sudah lebih dari satu jam Bary menunggu di pelataran parkir. Berharap Gloria segera menemuinya yang sengaja datang untuk menjemput.


Bukankah menyerahkan surat pengunduran diri itu tidak akan memakan waktu terlalu lama seperti ini?


Lalu mengapa Gloria malah belum menampakkan batang hidungnya? Ke manakah Gloria?


Keresahan dan kegelisahan Bary semakin sesak memenuhi dada manakala ia baru teringat betapa susahnya ia menghubungi Gloria sekarang. Kini ia menyesali telah merusak ponsel Gloria. Sehingga malah ia sendiri lah yang dibuat susah.


Bary hendak mengemudikan kembali mobilnya saat terdengar suara ketukan pada kaca jendela mobilnya. Bary pun menurunkan kaca jendela tersebut.


"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Reina membungkuk begitu bary menurunkan kaca jendela.


"Tidak bisa. Aku sibuk, tidak punya waktu bicara denganmu," tolak Bary angkuh. Bertemu Reina sama saja bertemu kesialan baginya. Ia tahu betul apa tujuan Reina bila datang menemuinya.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Padahal aku mau memberitahumu soal istri tersayangmu itu." Reina sudah menyiapkan senjata andalannya untuk menyerang Bary. Dan bila Bary menolak memenuhi permintaannya, ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk memprovokasi Bary. Sehingga keinginannya bisa berjalan mulus tanpa hambatan.


"Katakan ada apa dengan Glori," ucap Bary begitu mereka berada di sebuah kafe tak jauh dari kantor.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan Bary, Reina malah mengangsurkan ponsel ke depan Bary.


"Apa ini?" Bary mengernyit menatap layar ponsel yang tengah memutar sebuah video berdurasi pendek. Yang menampilkan Ardo tengah menyeret paksa Gloria lalu mendesak Gloria naik ke mobil. Sejurus kemudian mobil sport merah mulai bergerak meninggalkan area parkir khusus.


"Lihat baik-baik. Apa perlu aku perjelas?"


Bary pun meraih ponsel itu dan melihat ulang tayangan videonya. Yang serta merta menyulut api amarah di jiwanya. Pantas saja sejak tadi ia menunggu, namun Gloria tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Rupa-rupanya Gloria memang sengaja bermain api.


"Kurang ajar," geram Bary mengepalkan tinjunya erat. Matanya berkilat tajam menampakkan amarah yang kian tak tertahankan.


"Aku bisa memberitahumu di mana Gloria sekarang berada. Asalkan kamu mau memenuhi permintaanku. Di dunia ini tidak ada yang gratis Bary, Sayang." Reina tersenyum sinis. Beruntung ia sempat menguping pembicaraan Dicko dan Andre yang memberitahu di hotel mana Gloria dan Ardo sekarang berada. Sehingga ia bisa memanfaatkan informasi itu untuk mendapatkan lebih.

__ADS_1


Reina yang saat itu hendak menunjukkan kepada Dicko rekaman yang ia punya malah ia mendapatkan informasi lebih yang bisa ia manfaatkan.


Bersambung


__ADS_2