Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 57. Mengundurkan Diri


__ADS_3

Bab 57. Mengundurkan Diri


Kalimat Bary semalam terus terngiang di telinganya. Membuatnya cemas hingga ketakutan. Bukan hanya mencemaskan keselamatannya seorang, melainkan keselamatan Ardo. Ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Ardo gara-gara ulahnya.


Pagi-pagi sekali Gloria berangkat ke kantor. Dengan mengenakan pakaian tertutup, mulai dari atasan hingga bawahan ia mengenakan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Terkecuali bagian leher. Untuk bagian tersebut ia tutupi menggunakan syal berwarna pink pastel bermotif bunga.


Sementara rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Mungkin sedikit terlihat aneh, di pagi buta seperti ini, bahkan mentari pun masih malu-malu menyembulkan sinarnya. Ia mengenakan kaca mata hitam untuk suatu alasan tertentu.


Sengaja ia datang sepagi ini, agar orang-orang kantor tidak akan mengenalinya. Juga berharap orang-orang tidak akan melihat tanda-tanda aneh di tubuhnya. Yang memperlihatkan dengan jelas sebuah kondisi memilukan yang ia alami.


Mengamati keadaan diam-diam layaknya seorang pencuri, Gloria memasuki ruangan berdinding kaca. Dimana makhluk terindah penghuni ruangan tersebut belum menampakkan bayangannya.


Dari dalam tas kecilnya, ia mengeluarkan sebuah amplop putih. Amplop itu ia letakkan di atas meja. Kemudian ia bergegas keluar dari ruangan itu. Sembari mengamati keadaan sekitar, ia pun keluar dari ruangan divisi. Beruntung, satu pun rekannya belum ada yang datang. Sehingga ia bisa keluar dengan aman.


Sampai di loby, ia justru terkejut saat melihat sesosok familiar tengah melangkah pelan sambil menunduk menatap layar ponsel di tangan. Sosok yang ia kira tidak akan ia temui sepagi ini. Namun nyatanya sosok itu malah datang lebih awal.


Ia panik. Tak ingin sosok itu mengenalinya, ia lantas menundukkan wajah sedalam-dalamnya ketika berpapasan dengan orang itu. Rambut panjangnya yang tergerai, sebagian menutupi wajahnya. Setidaknya sedikit aman bersembunyi dibalik helaian nya. Berharap sosok itu tidak akan mengenalinya. Sehingga ia bisa meninggalkan tempat itu dengan aman.


Sosok itu, Richardo, menoleh sejenak ketika berpapasan dengannya. Ardo mengernyit, merasa aneh dengan penampilannya, tetapi tidak mengenalinya. AIhasil, ia pun bisa keluar dari gedung itu dengan aman. Tanpa ada yang bisa mengenalinya.


...


Richardo.


Ia sengaja datang lebih awal karena pikiran suntuknya semalam membuatnya tak bisa tidur. Ia berharap Gloria pun datang lebih awal, sehingga keresahannya pupus. Setidaknya ia mengetahui keadaan Gloria saat ini. Apakah wanita itu sedang baik-baik saja.


Sejak kemarin, ponsel Gloria sangat sulit dihubungi. Membuatnya tak tenang, gelisah tak menentu. Sampai detik ini pun, ia masih tak bisa mengalihkan pikirannya, segala syakwasangka nya terhadap Gloria.


Keresahannya pun bertambah menjadi berkali-kali lipat manakala ia mendapati sebuah amplop putih tergeletak manis di atas mejanya.


Diraihnya amplop itu. Mengeluarkan isinya lalu membacanya. Yang membuatnya terkejut bukan kepalang. Dan seketika memberi rasa sakit dalam dada. Diremasnya kuat kertas itu dengan amarah yang mulai merasuk.


Ia tak menyangka Gloria melakukan hal ini. Mengundurkan diri dari pekerjaan ia rasa bukanlah solusi yang tepat bila memang Gloria sangat ingin menjauhinya.

__ADS_1


Tidak bisa!


Gloria tidak bisa melakukan ini. Yang berarti bahwa wanita itu lebih memilih hubungan mereka berakhir. Ia tidak bisa menerima ini begitu saja. Sebelum Gloria memberikan penjelasan.


Ia pun bergegas keluar dari ruangannya. Bila ia mendapati amplop itu telah berada di atas mejanya, artinya Gloria datang ke kantor.


Ia semakin mempercepat langkahnya. Berharap Gloria masih berada di sekitar, belum terlalu jauh meninggalkan area perkantoran.


Dalam kepanikannya, sembari mencari, ia pun teringat pada seorang wanita berpenampilan aneh yang berpapasan dengannya beberapa saat lalu.


Penampilan dan gelagat wanita itu terlihat sangat aneh sekaligus mencurigakan. Wanita itu tampak seperti tengah menghindari seseorang. Mungkinkah wanita itu adalah ...


...


Gloria masih berdiri di seberang jalan tak jauh dari area perkantoran. Ia baru saja memesan taksi online melalui sebuah aplikasi saat tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram kuat lengannya. Yang membuatnya terkejut.


Sontak ia menoleh. Dan mendapati Ardo yang tengah mencengkeram lengannya dengan wajah tak bersahabat. Pria itu seperti tengah menahan amarah.


"Tolong lepaskan," pinta Gloria menarik lengannya. Namun kekuatannya tak cukup bisa melawan kekuatan Ardo.


Saat pertamakali bertemu Gloria di toilet waktu itu pun, Ardo pernah melihat tanda-tanda serupa pada salah satu bagian tubuh Gloria. Ardo sudah mengetahui persis siapa gerangan yang telah melakukan hal sekeji itu terhdap Gloria.


"Ikut aku, kita harus bicara," pinta Ardo.


"Tidak. Aku tidak mau."


"Sayangnya aku tidak menerima penolakanmu." Ardo tak peduli meski Gloria meronta. Berusaha membebaskan diri. Ardo menarik Gloria paksa. Menyeretnya, memaksa wanita itu mengikuti langkahnya sampai ke tempat parkir. Dimana mobil sport merahnya terparkir manis di tempat parkir pribadi.


"Lepaskan aku. Kumohon," rengek Gloria berwajah memelas. Namun sedikitpun tak mendapat tanggapan dari Ardo.


Ardo malah mendesak Gloria naik begitu pintu mobil ia buka. Di dorongnya kuat Gloria sampai Gloria naik ke mobil itu akhirnya. Kemudian ia memacu mobilnya keluar dari area parkir pribadi.


Sebuah kamera ponsel lagi-lagi merekam mulai dari Ardo menyeret paksa Gloria, memaksa Gloria masuk ke mobil, hingga saat mobil sport merah itu meninggalkan area kantor.

__ADS_1


Diam-diam, sebuah pajero hitam mengikuti mobil Ardo. Karena terlalu terfokus pada keadaan Gloria sehingga Ardo tidak menyadari bila dirinya tengah dibuntuti. Diam-diam ada yang mengawasi setiap gerak-geriknya.


Ardo menepikan mobilnya begitu memasuki area parkir sebuah hotel berbintang. Yang membuat Gloria semakin memberontak melihat dimana gerangan Ardo kini membawanya.


"Tolong lepaskan aku. Aku harus pulang. Bary sedang menungguku," rengek Gloria kembali begitu Ardo membukakan pintu mobil untuknya.


"Sudah ku katakan, aku tidak menerima penolakanmu Glori. Ikut aku atau aku akan melakukan hal diluar dugaanmu."


"Untuk apa kita datang ke sini. Tolong ijinkan aku pulang."


"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pulang." Ardo terus menarik pergelangan Gloria. Menyeretnya memasuki hotel.


Ardo tidak melepaskan genggamannya dari pergelangan Gloria meskipun kini ia tengah memesan satu kamar di meja resepsionis.


Tak ingin mengundang perhatian orang-orang yang nantinya akan berpikiran yang bukan-bukan terhadapnya, Gloria pun akhirnya memilih diam. Tidak melakukan perlawanan lagi.


Ardo menghempas kasar tubuh Gloria ke tempat tidur begitu mereka memasuki kamar hotel yang berada di lantai tiga.


Gloria terhuyung lalu terjatuh di atas tempat tidur. Ia hendak bangun, namun dengan cepat Ardo telah berada di atas tubuhnya. Mengungkungnya, mengunci pergerakannya.


Ia hendak melawan saat jemari Ardo malah mulai melepas tautan kancing kemejanya satu per satu. Napas Ardo terdengar memburu. Namun ada yang berbeda dengan sorot matanya. Bukan sorot mata yang terselimuti gairah. Melainkan sorot mata yang memancarkan kecemasan juga penyesalan yang teramat.


Ardo terdiam begitu bagian tubuh Gloria terpampang jelas di depan matanya. Matanya pun mulai berkaca-kaca mendapati pemandangan mengenaskan itu tersaji untuknya.


Bagian tubuh Gloria yang biasanya mulus tanpa cela itu kini dipenuhi lebam dan luka-luka kecil. Yang membuat genangan air di pelupuk matanya jatuh berderai pada akhirnya.


"Kalau kamu berpikir bisa pergi jauh dariku, kamu salah. Aku akan terus mengikutimu walau sampai ke ujung dunia sekalipun, Glori," ucap Ardo dengan rintikan air matanya menatap tubuh mengenaskan Gloria.


Gloria membisu, mengalihkan tatapannya dari Ardo. Buliran air mata Ardo jatuh di pipinya. Membuatnya tak ingin menatap wajah Ardo. Sungguh ia tak tega menyaksikan Ardo dalam keadaan terluka seperti itu.


"Kamu boleh pergi ke manapun yang kamu mau. Tapi jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku. Karena aku tidak akan pernah bisa tanpamu, Glori." Bibir Ardo bergetar mengutarakan hal yang membuat perih di hatinya.


"Perlu kamu tahu, aku menerima pengunduran dirimu, tapi tidak dengan kamu menjauhiku. Paham kamu?" tegas Ardo menatap Gloria tajam dengan mata sembabnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2