Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 36. Pura-Pura Cuek


__ADS_3

Bab 36. Pura-Pura Cuek


Sampai di kediaman Almarhumah Oma Windi, sekali lagi Gloria harus menahan kekesalannya melihat kelakuan Leni. Gadis itu masih saja bergelayut manja di lengan Ardo, mengajak Ardo masuk ke dalam rumah.


"Jangan lupa, kopernya Kak Ardo bawa ke dalam," seru Leni memandang remeh Gloria.


Gloria hanya bisa membuang napasnya kasar. Lalu diraihnya koper Ardo juga kopernya sendiri. Ia menggeret dua koper itu sekaligus, membawanya ke dalam rumah.


Sementara Ardo sedikitpun tidak mempedulikannya. Ia berjalan bersama Leni yang selalu setia bergelayut manja pada lengannya. Sesekali Ardo terlihat menyunggingkan senyumnya kepada Leni. Yang membangkitkan rasa cemburunya tanpa sadar.


What?


Membangkitkan apa itu tadi?


Cem ... Bukan, bukan itu. Ia hanya kesal, sedari tadi, sejak keberangkatan mereka sampai mereka tiba di kota ini Ardo cuek padanya. Sangat berbeda dengan sikap Ardo sebelum-sebelumnya. Dan entah mengapa perubahan sikap Ardo itu malah membuatnya kecewa.


Di ruang tengah rumah itu, seorang wanita paruh baya sudah menunggu. Wanita itu menyunggingkan senyumnya menyambut kedatangan mereka.


"Mama, aku sudah pulang," ucap Leni menghampiri wanita paruh baya itu.


"Selamat datang di rumah kami. Bagaimana perjalanannya?" tanya wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah Chika, ibunya Leni.


"Lumayan," jawab Ardo.


"Kamu pasti Nak Ardo kan?" tebak Chika menunjuk Ardo.


Ardo tersenyum. Ia berpura-pura mengedarkan pandangannya memperhatikan sekitar. Padahal yang ada ia justru melirik Gloria yang tengah menggeret koper. Lalu menaruh koper itu tak jauh dari sofa.


"Eh, eh, kopernya dibawa saja ke kamar tamu," titah Leni begitu melihat Gloria hendak mengambil duduk di sofa itu.


Gloria tak jadi duduk. Diraihnya kembali kopernya untuk ia bawa ke kamar tamu. Namun suara cempreng Leni mengurungkan niatnya. Belum sempat ia mengayunkan langkahnya, suara cempreng itu terdengar menusuk hati.


"Kopernya Kak Ardo, bukan koper kamu. Kak Ardo yang akan tidur di kamar tamu. Sedangkan kamu tidur di kamarku."


"Iya. Akan aku bawa ke kamar tamu." Gloria pun hanya bisa menuruti perintah tuan rumah itu. Meski sebetulnya ia sudah sangat kesal dengan sikap Leni. Dan lagi, Ardo malah diam saja seakan tak peduli lagi padanya.


Memangnya apa yang terjadi dengan Ardo? Mengapa sikapnya berubah sampai sedrastis ini? Apa karena hingga detik ini ia belum juga memberikan jawabannya sampai-sampai Ardo mengacuhkannya seperti ini?


Ia hanya bisa menahan kekecewaan terhadap sikap Ardo. Lagipula, ia tak punya hak menuntut perhatian pria itu. Bukankah ia sendiri yang menolak Ardo? Bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali. Sehingga mungkin, Ardo sudah menyerah.


Tetapi, bukankah Ardo memberinya syarat konyol baru-baru ini? Apakah itu artinya Ardo masih belum menyerah? Lalu mengapa Ardo malah mengacuhkannya?

__ADS_1


Aaaaah ... Gloria sungguh bingung dibuatnya. Ia kesal, lalu hanya bisa mendengus melihat sikap Ardo yang tak peduli lagi kepadanya.


Loh, loh, loh. Mengapa ia malah sakit hati seperti ini? Mungkinkah ia pun sebenarnya mulai memiliki perasaan yang sama terhadap Ardo?


Ah, entahlah.


"Oh ya, kenalkan ..." Chika mengulurkan tangannya seraya mengulas senyum manisnya. "Tante Chika. Oh ya, gimana kabar Mama dan Papa mu?" tanyanya.


"Baik Tante." Sembari menyambut uluran tangan Chika.


"Mama Papa mu sudah memberitahu Tante soal kedatanganmu. Sebelum kamu tiba, Tante sudah menyiapkan makan siang untuk kamu. Ayo, kita langsung saja. Nanti keburu dingin. Mumpung makanannya masih hangat."


"Iya." Ia melirik sejenak Gloria yang berwajah muram  melangkah lesu keluar dari kamar tamu. Sejujurnya, ingin sekali ia membantunya. Tetapi mengingat waktu yang ia patok terlalu singkat, jadi ia harus memanfaatkan keadaan sebaik mungkin. Dan Leni mungkin akan menjadi ide terbaik untuk membuat Gloria menyadari perasaannya.


"Len, ajak sekalian temannya Nak Ardo," titah Chika saat melihat Leni malah menggamit lengannya Ardo, mengajaknya ke meja makan.


"Tidak perlu Ma. Nanti juga dia datang sendiri ke meja makan."


Namun dugaan Leni ternyata salah. Bukannya Gloria menyusul mereka ke meja makan, wanita itu malah mengambil duduk di sofa, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Gloria memilih bermain ponsel daripada menyusul ke meja makan. Lagipula, ia tidak terlalu lapar. Sehingga menyendiri di sofa itu mungkin lebih baik daripada harus melihat tingkah kenakan Leni yang sok manja terhadap Ardo.


Sementara di meja makan itu, Ardo tengah cemas menunggu kedatangannya. Namun Ardo berusaha bersikap santai, seolah tak peduli. Sesekali ia melempar pandangan kepada Gloria yang duduk diam di sofa yang tak jauh dari ruang makan.


Baru saja ia memikirkan caranya, Chika telah lebih dulu menghampiri Gloria.


"Loh, kok kamu malah duduk di sini? Ayo, ikut Tante. Kita makan siang dulu. Setelah ini kalian mau meninjau pemasaran Royale kan? Jadi kamu perlu tenaga. Ayo, Nak Ardo sedang menunggu," ajak Chika.


"Tapi Tante, saya tidak lapar." Entah mengapa hatinya mencelos mengingat betapa cueknya Ardo kali ini. Mengapa pula pria itu begitu cepat berubah. Apa perubahannya itu karena Leni?


Ia akui, Leni adalah gadis yang menarik, energik, juga agresif. Mungkin tipe perempuan seperti Leni lah yang disukai Ardo.


"Jangan bilang begitu. Itu tandanya kamu menolak. Dan itu artinya kamu tidak menghargai tuan rumah."


"Maaf, Tante. Saya tidak bermaksud seperti itu."


"Makanya ikut Tante, yuk. Kita makan sama-sama. Tidak usah malu, anggap saja kami ini keluarga mu sendiri." Sembari mengulas senyum manisnya.


Pada akhirnya Gloria menurut. Ia lantas bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Chika menuju meja makan. Ia mengambil duduk di depan Ardo. Sedangkan Leni duduk di sebelah Ardo. Gadis itu melayani Ardo antusias. Mulai dari menuang nasi di piring Ardo, mengambilkan lauk untuknya, serta menuang air minun untuk Ardo.


Sekilas tingkah Leni terlihat seperti seorang istri yang baik. Dan lagi, Ardo malah diam saja. Seakan Ardo nyaman akan perlakuan berlebihan Leni. Apakah Ardo menyukainya? Mengapa pemandangan itu malah membuat dadanya serasa sesak?


"Oh ya, Kak, selama Kak Ardo di sini, aku akan melayani Kak Ardo dengan baik. Aku bekerja di outlet Royale. Dan Uncle sudah mempercayakan Kak Ardo padaku. Aku siap menemani kemanapun Kak Ardo pergi," ujar Leni bersemangat.

__ADS_1


Ardo hanya tersenyum sembari mengangguk. Namun lirikan matanya masih tertuju kepada Gloria. Yang berwajah suram, tampak tak bersemangat, dengan lesu mengisi piringnya yang kosong.


"Oh ya, nama mu siapa Nak?" tanya Chika memandangi Gloria.


"Gloria Tante."


"Nama mu mengingatkan Tante pada seorang anak perempuan. Ibunya Ardo sering sekali menceritakan soal anak itu ke Tante. Saking senangnya dia dengan anak itu."


Gloria tersenyum mendengar ungkapan Chika. Senyumannya itu membuat sepasang mata Ardo tak pernah lepas darinya. Ardo menatapnya lekat. Pemandangan itu seperti sebuah pemandangan langka, yang begitu tersaji, tak ingin ia melewatkan pemandangan langka itu.


"Oh ya, usiamu berapa sekarang?"


"24 tahun."


"Anak itu pasti sudah sebesar kamu sekarang. Dulu, ibunya Ardo sering video call an dengan Tante kalau sedang menggendong anak itu. Katanya, kalau anak itu besar nanti, akan dia jodohkan dengan Ardo."


Gloria kembali tersenyum. Membuat sepasang mata Ardo kian lekat menatapnya.


"Tapi sayang, mungkin memang bukan jodohnya kali. Rencana ibunya Ardo tidak pernah berhasil sampai sekarang. Ada saja hambatannya. Tapi itu, hanya keinginan ibunya Ardo saja. Sedangkan ayahnya tidak pernah menanggapinya serius."


"Kok, Tante masih ingat cerita itu? Nama anak itu saja Mama sudah lupa," ucap Ardo menengahi.


"Ingatan Tante ini masih kuat. Tante ingat betul nama anak itu Gloria. Tapi nama lengkapnya Tante lupa. Mama mu sering memanggilnya Loly bukan?"


Ardo mengangguk. "Iya."


"Dia itu putri sahabat Papa mu."


"Kenapa Mama malah ingin menjodohkan aku, sedangkan Papa tidak menyukai perjodohan?"


"Mungkin karena Mama mu sangat ingin mempunyai seorang anak perempuan. Bisa jadi karena itu."


Ardo manggut-manggut. Dan lirikannya kembali kepada Gloria yang tampak tenang menikmati makanannya.


Entah mengapa mendadak hatinya berdebar-debar kala menatap Gloria. Lalu timbul satu ide dalam benaknya.


"Loly." Iseng saja Ardo memanggil nama itu. Lalu tak disangka, Gloria menoleh, menatapnya sayu. Seolah merespon kala Ardo memanggil nama itu.


'Aku berharap kamu adalah Loly ku.' batin Ardo sembari mengulas senyum tipis menatap Gloria.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2