
Bab 42. Membuatmu Terkesan
Hari ke dua mereka berada di kota ini. Ini adalah hari terakhir mereka melakukan peninjauan pemasaran. Hanya tinggal dua pusat perbelanjaan saja yang harus mereka datangi, sebelum mereka kembali ke kota asal esok hari nanti. Yang berarti, hanya tinggal dua hari saja waktu bagi Ardo untuk membuat Gloria takluk kepadanya.
Ardo telah berhasil selangkah. Hanya tinggal selangkah lagi sebelum Gloria benar-benar membuka diri terhadapnya. Tidak mengapa status mereka saat ini hanyalah teman saja. Siapa tahu dari teman biasa akan menjadi teman spesial. Hanya tinggal menunggu waktu saja.
Setelah lelah melakukan peninjauan di dua outlet Royale yang berada di dua pusat perbelanjaan yang berbeda, mereka pun pulang ke rumah di sore hari.
Sampai di rumah, mereka mendapati Chika tengah memasak makan malam untuk mereka. Melihat Chika hanya tidak ada yang membantu, Gloria langsung menawarkan diri membantu. Karena kebetulan, ia juga bisa memasak.
"Saya bantu ya Tante?" tawar Gloria sembari meraih satu celemek yang tergantung di sudut dinding. Lalu mengenakannya.
"Tidak perlu Nak Glori. Kamu kan capek habis turun lapangan. Tante sudah biasa kok di dapur sendirian," tolak Chika halus.
Di rumah ini Chika tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Ia sudah terbiasa melakukan pekerjaannya seorang diri. Sudah seminggu ini suaminya berada di luar kota untuk urusan pekerjaannya. Baru tadi pagi mengabarkan akan pulang esok hari nanti jika tidak berhalangan.
"Tidak apa-apa, Tante. Pekerjaan saya saat turun lapangan juga cuma mencatat saja. Tidak terlalu banyak membuang tenaga."
"Ya sudah. Tolong kamu potong-potong sayurnya ya?"
"Iya." Segera ia meraih kentang, wortel, kol untuk ia potong-potong dalam ukuran kecil. Dimulai dari wortel terlebih dahulu.
Sementara di seberang sana, Ardo mengambil duduk di sofa ruang tengah yang tak jauh dari dapur. Begitu Ardo duduk, Leni pun ikut-ikutan mengambil duduk di samping Ardo. Jarak duduk Leni terlalu dekat sehingga menimbulkan kesan bahwa mereka adalah sepasang sejoli.
Ditambah lagi, sikap Leni yang sok manja dan sok mesra, membuat setiap orang yang melihat kedekatan mereka sudah pasti akan mengira bahwa mereka benar-benar sepasang sejoli.
Leni menggamit manja lengan Ardo, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Ardo. Bukannya Ardo membiarkan tingkah berlebihan Leni. Sudah beberapa kali Ardo mencoba menjauhi Leni sejak dari mall tadi. Hanya saja Leni yang tidak pernah jengah, dan selalu saja menemukan alasan untuk mendekat.
"Kak Ardo, nanti malam, di lapangan kota ada bazar
Kita ke sana yuk. Sekalian kita cari oleh-oleh untuk Aunty dan Uncle," ajak Leni.
"Tidak. Aku capek. Malam ini aku mau istirahat saja di rumah."
"Tidak akan lama kok Kak. Temani aku mencari oleh-oleh untuk Aunty. Ya?"
Ardo menatap Leni sejenak. Lalu melirik Gloria yang tengah memotong sayuran, namun tak fokus. Sesekali Gloria melirik-lirik sejenak ke arahnya. Raut wajah wanita itu berubah drastis. Seperti sedang menahan kesal.
__ADS_1
"Baiklah." Ardo menyetujui ajakan Leni begitu saja. Namun lirikan matanya masih tertuju kepada Gloria.
"Beneran Kak? Kak Ardo serius mau pergi bersamaku ke bazar?"
"Iya."
"Aww!"
Bersamaan dengan jawaban Ardo terdengar pekikan Gloria yang kesakitan di dapur. Sontak Ardo bangun dari duduknya, yang otomatis membuat rangkulan Leni pada lengannya terlepas. Ia lalu bergegas ke dapur menghampiri Gloria yang tengah memegang jari telunjuk kirinya yang berdarah.
"Kan sudah Tante bilangin, tidak usah membantu Tante. Begini kan jadinya? Ya sudah, Tante ambilkan kotak P3K dulu." Chika bergegas ke kamar, hendak mengambil kotak P3K.
"Kalau tidak bisa bekerja di dapur, tidak perlu sok repot membantu," ucap Ardo sembari meraih jemari Gloria yang terluka. Hendak membersihkan darahnya.
Ucapan Ardo yang bernada meremehkan itu sontak membuat suram raut wajah Gloria. Ditariknya kasar jemarinya dari genggaman Ardo yang tak sempat membersihkan darahnya menggunakan tisu yang ia ambil dari kotak tisu yang terletak tak jauh dari tempat Gloria memotong sayuran.
"Tidak perlu repot-repot membantu. Aku bisa sendiri. Luka seperti ini tidak ada apa-apanya buatku. Aku sudah terbiasa terluka," cetus Gloria dengan ketusnya. Entah ia bermaksud menyindir Ardo ataukah kalimat itu adalah sebagai ungkapan perasaan cemburunya.
Yang malah membuat Ardo merasa geli. Namun tak ingin menampakkannya di depan Gloria. Ia ingin melihat, sejauh mana kecemburuan Gloria terhadapnya. Ia ingin membuat Gloria berada di puncak kecemburuannya, sehingga dengan mudahnya ia bisa memasuki kehidupan wanita itu.
"Ya sudah, kalau kamu memang tidak mau diobati. Lagipula, kita ini hanya teman biasa. Dan seorang teman tidak harus selalu membantu temannya. Iya kan?" sindir Ardo menyeringai tipis.
Teman biasa?
Ish, sikap seperti apa pula yang Ardo tunjukkan kali ini? Bukankah semalam ia sudah menerima Ardo menjadi temannya? Lalu mengapa Ardo kembali bersikap seperti ini? Gloria hanya bisa membuang napasnya kesal.
"Kamu kenapa sih Glori?" Leni ikut-ikutan nimbrung di dapur. Gadis cerewet itu sedang sibuk dengan ponselnya. Dipandanginya saja jemari Gloria yang terluka tanpa ada niat membantu.
"Cuma keiris gitu doang, bentar lagi juga sembuh. Tidak usah terlalu manja," ucap Leni tak peduli. Kemudian gadis cerewet itu beranjak dari dapur sembari menerima panggilan telepon.
"Hai Beb ... Pa kabar?" sapa Leni berlalu dari hadapan Gloria.
Berganti dengan Chika yang datang membawa kotak P3K.
"Sini Nak, biar Tante obatin," tawar Chika sembari membuka kotak itu.
"Tidak usah Tante. Biar saya sendiri saja," tolak Gloria halus.
__ADS_1
"Benar bisa sendiri? Tapi jari kamu masih berdarah loh."
"Tidak apa-apa, Tante. Saya bisa kok sendiri. Saya sudah sering terluka seperti ini sejak saya belajar memasak sendiri. Jadi, untuk luka kecil seperti ini, sudah biasa." Ia tersenyum getir. Sebab memang, semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, ia sudah terbiasa memasak sendiri. Ia dipaksa oleh keadaan untuk bisa melakukan segala hal sendiri.
"Ya sudah. Tapi cepat diobati ya, nanti infeksi." Chika pun kembali melanjutkan pekerjaannya menggoreng ayam.
"Iya, Tante."
Gloria lantas membuka kran air, membasuh tangannya dengan air mengalir. Ia kemudian mengambil plester luka, lalu membalut lukanya hati-hati.
Ia hendak melanjutkan pekerjaannya memotong sayuran, saat Ardo menghampirinya, berdiri di belakangnya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Ardo setengah berbisik dekat kupingnya. Napas hangat Ardo begitu terasa menerpa kulit lehernya sehingga membuat bulu roma nya meremang.
Ardo gagal membantu Gloria mengobati lukanya. Mungkin dengan membantu Gloria menggantikan pekerjaannya memotong sayuran, akan membuat Gloria terkesan kepadanya. Bila Gloria terkesan, bukankah jalannya akan semakin terbuka lebar?
Saat ini, status mereka hanyalah teman biasa, bila berada di luar kantor. Siapa tahu, setelah ini statusnya naik satu peringkat. Dari teman biasa menjadi teman spesial.
"Tidak perlu. Aku ..."
"Sekali-sekali dengarkanlah temanmu ini," sela Ardo sembari membuka ikatan celemek di balik punggung Gloria. Perlahan ia juga melepaskan celemek itu dari Gloria.
Begitu celemek terlepas, Ardo malah membawa kedua tangannya bertumpu pada meja. Sehingga membuat pergerakan Gloria terkunci.
Gloria membeku di tempatnya, di tengah kungkungan kedua lengan Ardo. Tubuhnya mulai bereaksi bila berada dekat dengan Ardo. Gejala yang serupa dengan serangan jantung itu pun kembali menyerangnya. Tubuh gemetaran, berkeringat dingin, lengkap dengan degup jantung yang bertalu-talu.
Sekali lagi, didekati Ardo itu rasanya seperti didekati makhluk halus. Sehingga membuat sekujur tubuhnya merinding jadinya.
"Aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Sebentar malam, aku akan mengajakmu pergi ke bazar. Jadi, simpan tenagamu itu untukku," bisik Ardo. Dan Gloria malah menundukkan wajahnya malu.
"Mungkin bagimu, aku ini hanya teman biasa. Tapi bagiku, kamu itu lebih dari teman. Bukan sekedar teman spesial, tapi kamu adalah wanita teristimewa di hatiku," tambah Ardo. Yang otomatis membuat wajah Gloria bersemu merah.
Gloria tersenyum malu-malu. Ia tundukkan wajahnya dalam-dalam, berharap Ardo tidak melihat reaksi wajahnya akan ucapan Ardo yang membuat hatinya menghangat. Ia terbuai dengan ucapan manis Ardo. Yang serta merta menggetarkan hatinya.
Ardo tersenyum dibalik punggung Gloria. Sama halnya dengan Gloria, yang tersenyum malu-malu dengan wajah tertunduk.
Reaksi Gloria yang tak biasa itu apakah merupakan pertanda, bahwa Ardo telah berhasil membuat Gloria terkesan?
__ADS_1
Lalu apakah jalannya akan semakin terbuka lebar untuk menaklukkan wanita itu?
Bersambung