Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 70. Membuka Aib


__ADS_3

Bab 70. Membuka Aib


"Tunggu!" Gloria berjalan menghampiri. Dalam kepala ia berpikir, mungkin sudah saatnya ia membuka aib rumah tangganya sendiri, meski memalukan. Agar semua orang tahu penyebab ia lebih memilih Ardo dibanding suaminya sendiri.


Semua hal memiliki konsekuensinya. Termasuk pengakuan yang hendak ia tuturkan kali ini. Tak peduli meski aib memalukan terbuka lebar. Tak peduli meski harga dirinya menjadi cemoohan.


Segala sesuatu memiliki masanya. Memiliki batasannya. Tidak terkecuali kesabarannya yang tengah diujj. Sudah sampai pada masanya, telah habis batas kesabarannya. Cukup sudah ia menerima semua ini.


"Tunggu dulu, Pak. Saya juga mau membuat laporan," ucap Gloria mulai memberanikan diri. Cukup sudah ia ditindas. Ditindas oleh nafsu dan keserakahan Bary.


Dua petugas saling bertukar pandang.


"Silahkan." Salah seorang petugas mempersilahkan.


Gloria menelan ludah, berupaya mengumpulkan keberanian. Tak ia pedulikan reaksi berlebih Bary yang memandangnya dengan delikan tajam menikam. Diremasnya jari-jemarinya demi mengatasi gugup juga menyembunyikan tangannya yang mulai gemetaran.


Sementara Ardo memandangi Gloria penuh tanya.


Di seberang, Ellena memandang sinis. Ia sungguh merasa iri melihat Ardo membuka hubungan mereka di depan banyak orang. Namun yang ia sayangkan, Ardo malah lebih memilih wanita yang sudah bersuami ketimbang gadis single seperti dirinya.


"Ellena, perempuan itu bukannya ..." Sheila mengernyit mengamati Gloria di seberang.


Samar-samar Sheila teringat tentang kerabat dari suami tercintanya. Kerabat yang sempat menentang sang suami untuk memperistri seorang model seperti dirinya. Sehingganya, ia kerap melarang sang suami untuk berkumpul bersama keluarga bila keluarga sedang mengadakan arisan keluarga. Randa menjadi satu-satunya yang jarang sekali hadir dalam acara kumpul keluarga tersebut. Dengan dalih kesibukannya sebagai seorang dokter.


Sheila tidak menyukai bila ada yang meremehkannya.


"Itu bukannya Loly?" Sheila berbisik di telinga Ellena demi menghindari Randa mendengar ucapannya.


"Mommy baru nyadar ya? Mommy pikir siapa?" Ellena menjeling kesal. Lebih kesal lagi melihat Ardo ditahan gara-gara Gloria. Karena ulah Gloria, yang sudah tahu bersuami masih saja menjalin hubungan dengan pria lain.


"Cantik banget soalnya. Pangling Mommy. Sudah lama Mommy tidak pernah melihatnya lagi. Mommy pikir bidadari dari mana gitu." Sheila menyengir, menggaruk tengkuk begitu mendapat tatapan kesal Ellena. Yang tak terima ibunya malah memuji Gloria.


.


"Sebaiknya kita ke kantor saja jika Anda ingin membuat laporan," ucap petugas melihat Gloria kebingungan. Mungkin juga ketakutan. Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya yang menegang.


Gloria menggeleng. "Tidak. Saya ingin mengungkap sesuatu sekarang. Sesuatu yang sudah lama saya sembunyikan," ucapnya memberi tatapan tajam kepada Bary. Yang dibalas Bary dengan delikan mengancam.


"Silahkan," ucap petugas.

__ADS_1


Menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan kemudian. Gloria mengumpulkan keberanian. Nekat, itu pilihan terakhirnya. Meski ia tahu resiko yang harus ia terima. Tetapi mau bagaimana lagi. Ia tak mau Ardo yang terus dipersalahkan.


"Ardo tidak pernah membawa saya kabur. Tapi, saya sendiri yang mau ikut dengannya. Saya yang memohon padanya agar dia mau membawa saya pergi jauh dari suami yang sering memperlakukan saya buruk." Gloria mengambil napas sejenak. Memberi jeda sembari menggulir pandangan kepada Ardo. Memandang wajah Ardo, memberinya sedikit keberanian atas apa yang hendak ia ungkap. Yaitu perihal rumah tangganya yang tak harmonis.


Ardo menyimak, menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Gloria.


Sementara yang lain, saling bertukar pandangan. Sembari mencibir berbisik, mencemooh Gloria yang tengah menjadi pusat perhatian saat ini.


"Ardo tidak pernah berniat membawa kabur apalagi menculik saya. Justru Ardo lah yang selalu menyelamatkan saya dari perlakuan buruk suami saya," ucap Gloria, lalu menggulir pandangan kepada Bary. Yang mendelik kepadanya. Mencoba menakutinya melalui tatapan tajam penuh pengancaman.


"Silahkan langsung saja pada intinya. Apa yang ingin Anda laporkan," ucap petugas demi memangkas waktu. Sebab masih banyak tugas menunggu yang harus segera diselesaikan.


"Saya sering menerima perlakuan buruk suami saya. Saya hanya ingin melaporkan perbuatan suami saya yang selalu melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Saya hanya ingin meminta keadilan dan perlindungan atas keselamatan diri saya."


Pengakuan Gloria membuat Bary kalang kabut, panik juga gelisah. Gloria dengan sengaja membuka aib rumah tangganya sendiri. Dan dengan sengaja menjatuhkan nama baiknya.


"Apakah Anda punya bukti tindak KDRT yang dilakukan suami Anda?"


Gloria melirik sejenak Bary yang terlihat salah tingkah, juga gelisah. Dengan tampang kesal menahan amarah. Sesekali Bary menampakkan seringai penuh pengancaman kepadanya. Dengan maksud menakutinya, agar ia tidak membeberkan perihal persoalan rumah tangga mereka. Yang sedikitpun tidak ada keharmonisan di dalamnya.


Menghela napasnya panjang, Gloria lalu menggulir pandangannya kepada Ardo. Yang menggeleng pelan saat jemarinya perlahan mulai bergerak menyusuri punggung. Hendak meraih retsleting di balik punggung itu.


Sementara Ardo menahan napas akan kenekatan Gloria, Bary justru semakin kalang kabut dibuatnya. Terlebih saat jemari Gloria yang telah memegangi retsleting itu dilihatnya perlahan mulai bergerak turun.


Bary memaksa otaknya untuk berpikir cepat, bagaimana caranya menghentikan Gloria dari kenekatannya hendak mempertontonkan di depan banyak orang tanda-tanda kebengisannya terhadap Gloria.


"Glori! Jangan gila kamu!" sentak Bary memelototi Gloria.


Namun Gloria tak mempedulikan Bary yang kerap memberikan ancaman kepadanya melalui sorot matanya yang tajam penuh aura mengerikan. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanyalah menyelamatkan nama baik Ardo.


Di seberang, Randa terhenyak begitu mendengar Bary memanggil nama Gloria. Dahinya mengerut, memfokuskan pandangan kepada Gloria. Berusaha mengenali wanita itu meski hati kecil berkata yang sejujurnya. Namun Randa masih berusaha menajamkan ingatan. Mencari memori tentang kerabat yang telah lama ia tinggalkan.


Sementara yang tengah menjadi pusat perhatian, masih tak merubah jalan pikirannya. Gloria masih meyakini bahwa hanya inilah satu-satunya cara yang ia miliki. Cara untuk melumpuhkan lawan. Sebab sebenarnya ia tidak memiliki keberanian.


Bila ia melakukan ini di depan banyak orang, terlebih ada petugas yang mengawasi. Setidaknya bisa menyelamatkannya dari amukan Bary. Laki-laki itu tidak akan mungkin menyerangnya di depan banyak pasang mata yang menyaksikan.


Ardo kembali menggeleng saat bagian belakang gaun Gloria mulai terbuka sedikit demi sedikit.


"No (jangan)" Ardo hanya bisa mengucap kata itu dengan gerakan bibirnya. Berharap Gloria menurutinya. Sebab yang akan dilakukan Gloria akan sangat memalukan nantinya.

__ADS_1


"Bukti apa yang ingin Anda perlihatkan?" tanya petugas. Masih dalam posisi memegangi Ardo yang tengah diborgol kedua tangannya.


SRET


Dalam sekali tarikan, gaun Gloria terbuka. Memperlihatkan dengan jelas bagian atas tubuhnya yang hampir dipenuhi tanda-tanda merah bekas cambukan. Serta luka-luka kecil yang belum mengering.


Sontak hal itu membuat semua mata terbelalak tak percaya.


"Oh my God (ya Tuhan)."


"Ya ampun ... Kasihan sekali dia."


"Apa suaminya yang melakukan itu padanya? Jahat sekali."


Cuitan-cuitan itu terdengar dari tamu-tamu undangan. Pemandangan mengenaskan itu telah tersaji di depan mata mereka.


Dari pintu masuk, Reva yang datang terlambat pun tak kalah tercengangnya melihat sahabatnya tengah menjadi tontonan.


"Ya ampun Glori, apa yang kamu lakukan." Reva panik, mencari-cari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuh Gloria.


Ardo sungguh tak suka Gloria memperlihatkan bagian tubuhnya di depan banyak orang seperti itu. Ardo marah, wajahnya memerah kesal dengan tindakan Gloria.


"Lepaskan aku!" sentak Ardo memerintah. Sambil mengangsurkan kedua tangannya yang diborgol kepada petugas. Meminta agar borgolnya dilepas.


"Lepaskan aku!" sentak Ardo panik. Ingin segera menolong Gloria dari sorot mata yang menikam, memaku memandanginya bagai tontonan menarik. Yang tersaji gratis namun menghibur.


"Maaf, Pak. Tidak bisa," tolak petugas.


"Apa kalian hanya akan melihatnya saja tanpa ada niat membantunya?" sentak Ardo tak sabar.


"Cepat lepaskan aku!" Ardo geram, tidak ada yang tergerak hatinya ingin menutupi tubuh Gloria.


Petugas pun hendak membuka borgol di tangan Ardo, saat tiba-tiba seseorang menghampiri Gloria. Lalu melepas jas yang dikenakannya untuk menutupi tubuh Gloria.


Ardo terdiam, terpaku di tempat. Tak percaya melihat Dicko, melepas jas nya untuk Gloria.


Walau bagaimanapun, pemandangan seperti itu tidak sepantasnya dipertontonkan di depan banyak orang. Terlebih lagi, yang sedang dipertontonkan adalah aib rumah tangga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2