
Bab 38. Ingin Memilikimu
"Kamu cemburu?" tebak Ardo.
Sontak Gloria menoleh. Tak disangka Ardo belum menjauhkan wajahnya. Sehingga, begitu Gloria menoleh, batang hidungnya hampir saja bersentuhan dengan batang hidung lancip Ardo.
Seketika, Gloria menahan napasnya kuat. Ia pun mulai dibuat tegang.
"Kamu cemburu?" Ardo mengulang pertanyaan yang sama. Lalu Gloria harus menjawab apa?
Sementara tatapan Ardo menelisik liar setiap lekuk paras Gloria. Lalu terhenti di bibir merah merekahnya, yang sedari tadi menggodanya. Namun berusaha ia menahan gejolak hasratnya.
"Jawab Glori," tuntut Ardo.
Glori masih belum bisa bernapas lega selama wajah Ardo berada dekat dengan wajahnya. Bahkan untuk menjawab pertanyaan Ardo saja ia masih tak berani. Karena memang tidak ada jawabannya. Ia sendiri bahkan masih belum memahami perasaannya. Apakah ia kesal dengan tingkah Leni, atau memang benar ia cemburu.
Tidak mungkin!
Tidak mungkin ia cemburu. Dan lagi-lagi, Gloria hanya bisa menyangkal perasaannya sendiri.
Ia hendak menarik mundur wajahnya, ingin menjauhi wajah Ardo. Namun cepat tangan Ardo telah meraih tengkuknya. Menekannya, lalu menahannya begitu sapuan hangat bibir Ardo telah mendarat tanpa sempat ia menghindar.
Karena terkejut, ia mendorong pelan dada Ardo. Tetapi Ardo malah menahan tangannya. Membawanya ke belakang punggung, menahannya agar ia tak bisa memberontak. Sementara Ardo semakin melu mat bibirnya kuat.
Ardo tak peduli keadaan. Ardo terus saja melakukan aksinya meski jantung Gloria serasa menggedor-gedor dinding dadanya. Begitu kencang detak jantungnya, aliran darahnya berdesir-desir, ia pun kini mulai gemetaran.
Sementara Ardo menikmati ciumannya, Gloria justru dibuat cemas berlebihan. Ia cemas jikalau Leni tiba-tiba datang dan melihat apa yang mereka lakukan. Lalu gadis kecil itu merajuk, alhasil Ardo nantinya malah akan membujuk gadis itu.
Ish, Gloria tak ingin hal itu terjadi. Bukan tak ingin Leni sakit hati, tetapi ia tak ingin Ardo membujuk gadis centil itu.
Tidak!
Ia tak ingin Ardo melakukannya.
Sehingga, yang bisa ia lakukan saat ini adalah merespon ciuman Ardo. Ia membalas setiap lum atan lembut Ardo mengikuti insting perasaannya. Perasaan yang mulai hadir dalam dada namun ia masih belum menyadarinya.
Ia tengah dibuat terhanyut oleh ciuman lembut itu, seolah ia pun menginginkannya. Namun tiba-tiba saja Ardo sendirilah yang malah mengakhirinya. Membuatnya kecewa, lalu rasa sakit pun perlahan mulai menusuk. Ia kecewa karena Ardo mengakhiri ciumannya, padahal ia masih menginginkannya.
__ADS_1
Entah mengapa.
Seakan Ardo tengah mempermainkannya saat ini. Dalam sekejap Ardo mampu membuatnya terhanyut. Namun dalam sekejap, Ardo kembali menghempasnya.
Ia hanya bisa menghela napasnya pelan, lalu menundukkan wajahnya. Tak ingin Ardo melihat raut kekecewaan di wajahnya.
"Kak Ardo."
Tiba-tiba saja suara Leni terdengar begitu jelas. Entah dari mana datangnya gadis itu. Kehadirannya itu seperti seekor nyamuk. Seekor nyamuk berdenging yang akhirnya sukses merusak suasana.
"Ini Kak jagung bakarnya," ujar Leni sembari menyodorkan jagung bakar ke tangan Ardo.
"Kok lama?" tanya Ardo. Pria itu seperti sudah mengetahui kedatangan Leni.
"Antriannya panjang Kak. Banyak banget pembeli, hampir saja aku tidak kebagian."
Ardo mengangguk. Ia memang sengaja meminta Leni membelikannya jagung bakar. Sebab dilihatnya tempat pedagang jagung bakar itu sedang ramai. Mungkin dengan menyuruh Leni, lebih tepatnya membuat Leni menjauh sebentar, ia bisa punya kesempatan untuk mendekati Gloria.
Saat sedang bersama Leni, perhatiannya malah tertuju kepada Gloria. Ia tidak benar-benar cuek. Ia pun tidak sedang menjauhi Gloria. Ia hanya ingin melihat reaksi Gloria, agar ia tahu apa yang harus ia perbuat selanjutnya.
Tak disangka, dengan memanfaatkan Leni, justru membangkitkan perasaan cemburu Gloria. Namun sayangnya, Gloria masih belum menyadari perasaannya sendiri. Sehingga Ardo memutuskan kembali mendekat. Dengan tujuan, membuat Gloria mengakui perasannya.
"Makasih," ucap Gloria datar.
"Bilang makasihnya seperti tidak tulus saja," celetuk Leni berwajah masam melirik Gloria.
"Tidak tulus gimana maksudnya?" tanya Gloria sedikit kesal.
"Biasanya kalau orang bilang terimakasih itu pakek senyum. Senyum Non. Tahu senyum kan?" Leni mengembangkan senyumannya semanis mungkin. Seolah tengah memberi contoh kepada Gloria.
Bukannya tersenyum, Gloria malah menghela napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan. Diliriknya Ardo yang tengah menatapnya lekat. Menunggu senyuman itu terukir di bibir Gloria.
Namun Gloria malah membuang muka. Memusatkan kembali perhatiannya pada bentangan lautan luas di depan sana. Ia tak menggubris celetukan Leni. Entah mengapa, ia merasa kesal bila melihat gadis centil itu.
Sikap acuh Gloria itu justru membuat Ardo kecewa. Gloria menunjukkan sikap kurang sopan, seperti tidak menghargai Leni. Dan hal itu pun jelas memancing kekesalan Leni.
"Eeeh, dibilangin malah cuek. Emang dasar kamu ya, tidak punya sopan santun. Kamu itu sombong apa gimana sih? Orang lagi ngomong, eh dianya malah buang muka. Itu tandanya kamu tidak menghargaiku. Aku heran, kok bisa sih Kak Ardo punya karyawan seperti kamu yang tidak tahu etika," Kembali Leni mencibir Gloria.
__ADS_1
Dan Ardo malah diam saja. Tidak berpihak kepada salah satu diantaranya. Ia malah merasa penasaran bagaimana cara Gloria meladeni dan menyikapi cibiran Leni.
Kembali Gloria menghela napas panjang. Ucapan Leni memang terdengar tajam dan menyinggung. Tetapi ia menyadari itu bukan salah Leni bila berpikiran buruk tentangnya. Leni hanya merasa tak dihargai olehnya saja.
Maka dari itu, untuk menanggapi ocehan tajam Leni, Gloria hanya bisa menuruti kemauan Leni.
"Maaf, aku tidak bermaksud bersikap kurang sopan terhadapmu. Pikiranku sedang kacau saja saat ini. Maafkan aku ya," ucap Gloria memalingkan muka, memandangi Leni yang berwajah masam.
Leni memberi isyarat, meminta Gloria untuk tersenyum. Lalu Gloria bisa berbuat apa lagi selain menuruti permintaan gadis centil itu.
Gloria menyunggingkan senyum manisnya tepat di depan wajah Ardo. Namun tatapannya tertuju kepada Leni. Sementara Ardo yang duduk disampingnya sambil menatap wajahnya, hanya bisa tertegun. Ia terpaku di tempat, terpesona oleh senyuman manis itu untuk pertamakali nya tersaji di depan matanya.
Tak bisa ia memungkiri, sungguh ia mengagumi wanita yang satu ini. Wanita yang terlalu irit bicara, kurang pintar bergaul, namun berparas cantik dan berhati lembut. Walau terkadang terlihat dingin dan kaku.
"Nah, gitu dong. Apa susahnya sih tersenyum. Lagian, senyum itu adalah ibadah yang dinilai pahala. Jadi, mulai sekarang, sering-seringlah tersenyum kalau mau banyak pahala. Oke?"
Gloria mengangguk, masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Tak disangka, gadis centil itu ternyata baik hati juga. Walau terkadang ia merasa gadis itu menyebalkan.
"Beautiful (cantik)," ucap Ardo lirih, namun terdengar jelas oleh Gloria. Reflek, tatapan Gloria beralih kepada Ardo. Yang sontak mengembangkan senyumnya begitu Gloria menatapnya.
"I want you (aku menginginkanmu)," tambahnya.
"Apa?" Seakan ucapan Ardo tak terdengar oleh Gloria.
"Jadilah milikku, Glori."
"Anda sudah gila."
"Aku gila juga gara-gara kamu. Jadi, kamu harus bertanggung jawab. Paham?" Ardo pun beranjak, bergegas naik ke mobil tanpa peduli reaksi Gloria akan ucapannya. Di dalam mobil ia tersenyum penuh arti.
"Ayo naik. Tunggu apa lagi, kita pulang sekarang," titah Ardo.
"Tunggu jagung bakarnya habis dulu Kak Ardo," protes Leni.
"Tidak. Kita pulang sekarang."
Leni dan Gloria pun hanya bisa menurut. Mereka bergegas naik ke mobil. Kali ini Ardo yang mengambil alih setir. Sedangkan Leni duduk di jok sebelahnya. Gloria hanya bisa mengalah dengan mengambil duduk di jok kedua.
__ADS_1
Dengan begitu, Ardo bisa memperhatikan Gloria dari balik kaca spion.
Bersambung