
Bab 75. Mencoba Memahami
Hingga malam telah larut, Gloria masih belum kembali ke hotel tempatnya menginap. Membuat Ardo jengah menunggu. Sehingga mau tidak mau Ardo harus bertandang langsung ke rumah dimana Gloria tinggal selama ini.
Namun, hal serupa pun ia temui. Rumah itu gelap gulita. Kosong melompong tak berpenghuni.
Ardo resah, gelisah tak menentu. Entah dia harus menghubungi siapa untuk mencaritahu keberadaan Gloria. Di waktu selarut ini tidak mungkin Gloria masih berada di kantor polisi. Sementara kata petugas, setelah dimintai keterangan, Gloria diperbolehkan pulang.
Ponsel Gloria ada padanya. Ingin menghubungi Reva, ia pun tak punya nomor ponsel Reva. Sedangkan dalam kontak ponsel baru Gloria, hanya ada kontaknya seorang.
Kecewa tak mendapati Gloria baik di hotel maupun di rumah Bary, Ardo memilih pulang ke rumah. Ia melangkah lesu, pelan menaiki anak tangga satu per satu.
Baru saja kakinya menapak pada anak tangga terakhir, terdengar suara Dicko memanggil. Menyusul dengan rentetan pertanyaan.
"Ardo, dari mana saja kamu?"
"Papa kira kamu sudah pulang lebih dulu tadi bersama uncle mu. Lalu sekarang kamu dari mana? Pergi ke mana kamu?"
Membuang napasnya kasar, Ardo memutar tubuhnya. Dipandanginya saja ayahnya, enggan menjawab rentetan pertanyaan itu.
"Apa kamu pergi untuk menemui perempuan itu?"
"Kenapa Papa merasa sekarang kamu berubah? Papa sangat kecewa dengan perubahan kamu ini. Sangat kecewa, Ardo. Papa pikir, dengan memulangkanmu ke Indonesia adalah pilihan yang terbaik. Tapi ternyata Papa salah. Kelakuan kamu malah jauh lebih parah." Dicko mencoba melembutkan nada suaranya, meski ucapannya terdengar menusuk hati.
Ardo berpaling muka sejenak. Kemudian membawa kakinya menuruni anak tangga perlahan. Lalu berhenti di depan ayahnya dalam jarak yang cukup dekat.
Ardo menghela napas, meniupkannya perlahan. Lalu menoleh, menatap dingin ayahnya.
"Aku memang pergi menemuinya. Lantas kenapa?" Ardo malah menantang ayahnya. Tak ada ketakutan tergambar di wajahnya.
"Mulai sekarang Papa akan lebih tegas terhadap kamu. Sejak mengenal perempuan itu, kamu sudah banyak berubah. Kamu sudah tidak menghormati dan menghargai orangtuamu lagi. Perempuan itu hanya membawa dampak buruk bagi kamu."
"Dia itu wanita yang baik. Kalian hanya belum mengenalnya saja." Ardo bersikap santai menanggapi setiap pertanyaan Dicko.
Kalimat serta sikap Ardo mengingatkan Dicko akan dirinya terdahulu. Putranya itu adalah cerminan dirinya. Dahulu ia pun mengambil sikap yang sama ketika banyak orang mencemooh serta memandang rendah Aruna ketika menjalin hubungan dengannya.
Bagi banyak orang kala itu Aruna adalah wanita tidak tahu malu, tidak punya harga diri karena menjalin hubungan dengan saudara dari mantan suaminya.
Mamun cinta mengalahkan segalanya, membutakan mata hati serta akal pikirnya. Sebab yang terpenting baginya kala itu adalah kebahagiaan dan impiannya. Yaitu hidup menua bersama orang terkasihnya.
Akan tetapi, kembali lagi pada sebuah realita yang ada. Bila memang sudah berjodoh, apa mau dikata. Tidak semua orang diberi kemudahan, tidak semua orang diberi jalan yang mulus untuk meraih angan dan mimpinya.
Ada yang harus mendaki. Ada yang harus bersusah payah memanjat bahkan merobohkan tembok yang tinggi demi bisa mewujudkan impiannya. Termasuk diantaranya adalah Ardo.
"Ardo, Papa sudah memutuskan untuk mengirim kamu kembali ke Amerika,"ucap Dicko sedikit menekan nada suaranya agar terdengar serius dengan ucapannya.
__ADS_1
Ardo malah terkekeh. Menertawakan ide bulus ayahnya untuk memisahkannya dari Gloria. Cara seperti itu klise baginya. Cara usang, yang sudah menjadi celana tua. Sudah tak berlaku lagi baginya.
Ardo adalah pria dewasa. Yang lebih mengetahui apa yang diinginkannya.
"Kuno." Sembari mengibaskan tangan kanannya. Kemudian berbalik, kembali menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah cepat.
"Ardo," panggil Dicko.
Ardo tak menghiraukan. Ia terus melangkah, menaiki anak tangga. Bahkan menoleh pun enggan.
"Dengarkan Papa dulu."
BRAK
Namun yang terdengar hanyalah bunyi dentam pintu yang dibanting kuat.
Dicko membuang napas panjang. Tak ada cara lain lagi yang bisa ia lakukan untuk menghentikan Ardo dari kegilaannya.
Sama persis seperti dirinya dahulu, bila ia merenung. Tidak ada yang salah dengan cinta. Sebab cinta adalah persoalan hati. Namun yang menjadi soal hanyalah status.
Bila dipikir-pikir, tidak ada yang rumit. Yang rumit hanyalah restu yang sulit terucap.
....
Sementara di lain tempat, di waktu yang sama, di satu sudut kota.
Sebuah kamar bercat putih berpadu dengan abu-abu tua tersebut menimbulkan kesan dinamis, serta memberi kenyamanan.
"Sebaiknya kamu istirahat sekarang. Kamu pasti capek kan?" Randa datang membawa sebuah selimut untuk Gloria.
"Terimakasih, Paman." Sembari mengulum senyum begitu menerima selimut.
"Besok kita ke rumah sakit. Luka-lukamu itu harus diobati. Kalau tidak, nanti infeksi."
Gloria mengangguk.
"Sebenarnya banyak sekali yang ingin Paman tanyakan sama kamu. Paman ingin ngobrol panjang sama kamu. Tapi mungkin lain kali saja. Sekarang kamu istirahat saja dulu. Dan untuk sementara ini kamu tinggallah di sini bersama Paman. Bahkan untuk seterusnya pun Paman tidak keberatan. Paman malah senang kamu tinggal bersama Paman."
"Terimakasih, Paman."
Ada rasa haru menyeruak, serasa sesak memenuhi ruang dada. Tatkala menatap wajah sang paman. Ingin sekali Gloria bercerita tentang kesedihannya selama ini. Saat ia ditinggalkan seorang diri, tak ada kerabat serta keluarga yang memanjangkan tangan untuk membantunya.
Sementara di lain tempat. Masih di waktu yang sama.
Bersandar di dada bidang Dicko sudah menjadi kebiasaan ternyaman bagi Aruna. Semenjak dahulu hingga kini. Dada itu masih menjadi tempat ternyaman juga terhangat baginya untuk menyandarkan lelah, berbagi keluh kesahnya dalam menjalani rutinitas yang terkadang membuat penat.
__ADS_1
Hanya bersandar di dada itu serta menerima belaian lembut sang suami terasa menenangkan juga menyenangkan.
"Sayang," lirih Aruna memanggil. Sembari meraih satu tangan Dicko, menyelipkan jari jemari lentiknya di sela-sela jemari kokoh Dicko.
"Hm?" sahut Dicko singkat.
"Kalau dilihat-lihat, kasihan juga perempuan itu." Aruna teringat akan luka-luka di tubuh Gloria. Yang menghadirkan rasa iba dalam dada. Serta miris menyaksikan masih ada suami yang memperlakukan buruk istrinya. Bahkan perlakuan buruk yang Gloria terima dari suaminya bisa-bisa mengancam nyawanya. Sungguh pilu hati Aruna bila mengingatnya. Sebab sesungguhnya ada rasa tak tega bila melihat penderitaan Gloria.
"Maksud kamu?"
"Coba deh kamu ingat-ingat, kira-kira Ardo itu seperti siapa?" Aruna mencoba membangkitkan kembali ingatan akan kisah masa lalu mereka yang penuh perjuangan untuk menyatukan cintanya.
"Kamu ini sebenarnya mau ngomong apa? Atau kamu sengaja mau menyindirku?"
Aruna terkekeh, lalu mengecup punggung tangan Dicko. "Tidak, bukan seperti itu, sayang."
"Lalu?"
"Ardo itu sama persis seperti dirimu. Yang tidak pernah mundur dan tidak pernah menyerah memperjuangkan aku. Padahal saat itu kamu tahu statusku. Siapa aku dalam keluargamu."
"Perjelas apa maksudmu. Tidak perlu mengungkit kisah masa lalu."
Aruna menghela napas sejenak. Dicko sebetulnya memahami kemana arah omongan Aruna. Namun ia ingin mendengarnya langsung.
Bila Aruna mengingatkannya akan kesamaan yang dimiliki Ardo dengannya, yang berarti bahwa Ardo tidak salah dalam memilih wanita.
Antara Ardo dan dirinya memiliki hampir banyak kesamaan. Diantaranya adalah sungguh-sungguh dalam mencintai. Bila hati telah tertawan pada satu hati, maka sulit untuk untuk berpindah ke lain hati.
Hal itulah yang mungkin ingin Aruna utarakan. Sebagai bentuk permohonan agar ia mencoba memahami situasi yang tengah mereka hadapi saat ini.
"Dari yang aku lihat, sepertinya perempuan itu adalah perempuan yang baik. Dia cantik, ramah, dan ..." Ada sesak kembali mengisi ruang dalam dada kala bayangan Gloria hadir di pelupuk mata Aruna. Lalu mendadak hati ikut berdebar-debar aneh. Seolah Aruna telah mengenal Gloria jauh sebelumnya
"Kok aneh ya, sayang?" ucap Aruna.
"Aneh kenapa?"
"Aku merasa seolah aku pernah dekat dengan perempuan itu. Melihat wajahnya membuatku merasa tenang. Seperti ..." Aruna menebak-nebak dan mencoba memahami perasaannya saat ini.
"Seperti apa?"
"Seperti aku pernah menyayangi perempuan itu."
"Itu mungkin hanya perasaanmu saja. Yang terlahir dari rasa iba mu terhadap perempuan itu. Itu wajar, karena kalian sama-sama perempuan."
"Sayang, kenapa kita tidak mencaritahu dulu tentang perempuan itu?"
__ADS_1
Bersambung